Rabu, 16 September 2015

Harapan Saya di HUT Lalu Lintas ke-60



Sumber: TMC Polda Metro Jaya

“Mah Oisi...! Oisi…!”

Pak Polantas….
Anak saya selalu antusias melihatmu berada di tengah jalan raya. Tanpamu, kami mungkin tidak akan cepat sampai ke tujuan karena macet. Putra bungsu saya yang baru berusia tiga tahun itu memang sangat mengenali seragammu. Kedua kakaknya memakai seragam Polisi setiap hari Kamis, saat duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Si Tengah malah bercita-cita ingin menjadi Polisi. 


Pak Polantas….
Melihatmu berdiri di tengah jalan raya di bawah matahari yang terik, membuat saya terenyuh. Saya bisa merasakan perjuanganmu mengurai kemacetan, berdiri berjam-jam di bawah sinar matahari dengan tangan terentang. Terutama bila lalu lintas sedang sangat padat, kau harus bersabar mengaturnya dan menghadapi berbagai tingkah polah pengendara. Bila tak ada kau, tak bisa dibayangkan bagaimana kacaunya lalu lintas, dengan kendaraan yang berebut mengambil jalan demi agar bisa cepat sampai ke tujuan.


Pak Polantas….
Kehadiran Polantas memang sangat membantu untuk mengatasi kemacetan. Terakhir saya rasakan saat kembali dari mudik di kampung halaman. Kemacetan terjadi di sepanjang jalur mudik, meskipun sudah diusahakan untuk mengatasinya. Saya melihat dua orang Polantas mengarahkan pengendara untuk mengambil jalan alternatif yang baru dibuka. Mereka rela bertugas siang malam pada hari raya, demi mengatur lalu lintas. 

Pak Polantas….
Semoga Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang bekerja mengatur lalu lintas tetap semangat dan kuat menjalani hari-harinya di jalan raya. Tegas menghadapi para pengendara yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas, terutama pengendara motor yang ramainya minta ampun, terlebih lagi di pusat kota Jakarta. Tidak pandang bulu, siapa pun akan ditindak bila melanggar peraturan, sebagaimana adegan dalam video You Tube yang pernah beredar, tentang seorang suami yang menilang istrinya sendiri. 

Saya juga mengharapkan adanya sosialisasi yang lebih gencar, baik itu melalui media massa maupun terjun langsung ke masyarakat, mengenai peraturan lalu lintas. Ketersediaan personel Polantas yang memadai sangat dibutuhkan, karena terkadang di beberapa titik kemacetan tidak didapati personel Polantas. 



Demikian harapan saya kepada Polisi untuk memecahkan kemacetan lalu lintas. Selamat HUT Lalu Lintas ke-60, semoga semakin memenuhi harapan masyarakat kepada Polantas. 


Selasa, 08 September 2015

From Allah to Allah: Rezeki Itu Milik Allah

https://www.pinterest.com/pin/309552174360631780/
Sumber: Pinterest
"Saya nggak mau jadi ibu rumah tangga saja. Kalau suami meninggal atau kita bercerai, gimana? Siapa yang kasih makan saya dan anak-anak? Istri itu harus mandiri finansial supaya bisa punya uang untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa dengan suami." 


Seketika, kalimat itu buyar kala saya berhadapan dengan seorang wanita berusia 47 tahun yang datang ke rumah saya untuk mengisi pengajian. Wanita bersahaja itu datang jauh-jauh, cukup jauh dari komplek perumahan tempat tinggal saya, untuk memberi pengajian secara gratis. Ingat, gratis lho.... Nggak ada bayaran sepeser pun kecuali sajian makan siang yang saya berikan. Dia datang untuk menggantikan guru ngaji saya yang berhalangan. Sambil menunggu teman-teman lain, kami ngobrol-ngobrol.

"Coba tebak, anak saya berapa, Bu?" tanyanya, ketika kami sedang ngobrol soal anak-anak. Saya sedikit mengeluhkan kondisi rumah yang berantakan karena anak-anak nggak bisa diam, lalu dia memaklumkan. Namanya juga anak-anak. Dia sudah berpengalaman karena anaknya lebih banyak dari saya.
"Ehm... empat?" (pikir saya, paling-paling cuma selisih satu).
"Masih jauh...."
"Tujuh...."
"Kurang... yang benar, delapan."
Mata saya membelalak. Masya Allah! DELAPAN?!
"Itu masih kurang, Bu. Ustazah Yoyoh (almarhumah Yoyoh Yusroh, mantan anggota DPR) saja anaknya 13. Jadi, saya ini belum ada apa-apanya," katanya, merendah. 

Setelah itu, mengalirlah cerita-ceritanya mengenai anak-anaknya sampai teman-teman saya datang dan acara mengaji pun dimulai. Di sela pengajian, wanita itu bercerita mengenai keluarganya. Dari situ saya baru tahu kalau suaminya sudah meninggal dunia! Meninggal karena kecelakaan motor, meninggalkan istri dan delapan anak, yang terkecil berusia 2,5 tahun dan sang istri, ya... wanita itu... seorang IBU RUMAH TANGGA. 

Ibu rumah tangga di sini maksudnya nggak kerja kantoran, tapi juga bukan pengangguran. Beliau aktif mengisi pengajian. Lalu, bagaimana kehidupannya setelah suaminya meninggal? Beliau nggak punya gaji, nggak kerja kantoran. Coba, gimana? Apa beliau lalu sengsara dan anak-anaknya putus sekolah? No. no, no....

Kalau saya mengingat kalimat pembuka di atas kok kayaknya mustahil ya seorang ibu yang nggak bekerja dan suaminya meninggal dunia, bisa bertahan hidup dengan delapan anak dan anak-anaknya bisa tetap kuliah. Mustahil itu... NGGAK MUNGKIN! 

"Bagi Allah, nggak ada yang nggak mungkin, Bu. Asal kita percaya sama Allah. Allah yang kasih rezeki, kan? Percaya saja sama Allah. Saya cuma yakin bahwa semua yang saya dapatkan selama ini adalah karena kebaikan-kebaikan saya dan suami semasa hidup. Saya cuma berbagi pengalaman ya, Bu, bukan mau riya. Memang, suami saya dulu itu orangnya pemurah. Kalau ada yang minta bantuan, dia akan kasih walaupun dia uangnya pas-pasan. Alhamdulillah, Allah kasih ganti. Sewaktu suami masih hidup, kami hidup sederhana. Rezeki suami itu dibagi ke orang-orang juga, padahal anak kami ada delapan. Suami nggak takut kekurangan....."

Kami menahan napas.....

"Hingga suami saya meninggal dunia... uang duka yang kami dapatkan itu... Masya Allah... jumlahnya 100 juta. Padahal, suami saya itu biasa-biasa saja, bukan orang penting. Uang itu langsung dibuat biaya pemakaman, tabungan pendidikan anak, dan sisanya renovasi rumah yang mau ambruk."

Dengar uang 100 juta dari uang duka saja, saya sudah kagum. 

"Saat renovasi rumah, saya serahkan saja ke tukangnya. Dia bilang, uangnya kurang. Saya lillahi ta'ala saja. Yang penting atap rumah nggak ambruk, karena memang kondisinya sudah memprihatinkan. Khawatirnya anak-anak ketimpa atap....."

Saya membayangkan, keajaiban apa lagi yang didapatkan oleh wanita itu?

"Nggak disangka. Begitu orang-orang tau kalau saya sedang renovasi rumah, mereka menyumbang. Bukan ratusan ribu, tapi puluhan juta! Sampai terkumpul 100 juta lagi dan rumah saya seperti bisa dilihat sekarang.... Sampai hari ini, saya masih dapat transferan uang dari mana-mana, Bu-Ibu. Saya nggak tau dari siapa aja karena mereka nggak bilang. Saya juga udah nggak pernah beli beras lagi sejak suami meninggal. Selalu ada yang kasih beras."

Duh, nggak bisa nahan airmata deh jadinya....

Apa rahasianya?

"Berbuat baik kepada siapa saja, sekecil apa pun. Insya Allah ada balasannya. Rezeki itu milik Allah. Kalau Allah berkehendak, Dia akan kasih dari mana pun asalnya...." tutupnya. 

Rezeki itu milik Allah, siapa pun tidak boleh takabur. Bekerja bukanlah sarana menyombongkan diri bahwa hidup kita bakal terjamin karena bekerja. Yang menjamin hidup kita adalah Allah. Bekerja diniatkan untuk ibadah. Pembuka rezeki bisa datang dari mana saja, salah satunya dari berbuat kebaikan sekecil apa pun. Ucapan, "Kalau suami meninggal atau bercerai, siapa yang kasih makan saya dan anak-anak?" itu sama saja dengan sirik, atau menduakan Allah. Menganggap diri kita super, dengan kita bekerja, maka rezeki terjamin. Padahal, Allah yang kasih rezeki. Jika dulu Allah kasih rezeki melalui suami, besok Allah kasih lewat jalan lain. From Allah to Allah. 



 

Kursus Privat Menulis Novel Angkatan 3, Mau...?

Assalamu'alaikum. Alhamdulillah, sudah dari bulan Maret, saya dan Riawani Elyta membuka kursus privat menulis novel dan diikuti  belasan peserta. Nyaris setiap hari kami mendapatkan email konsultasi dari para peserta. Dua diantaranya kini sudah menyelesaikan novelnya dan siap dikirim ke penerbit. Yap, dari bulan Maret 2015 sampai Agustus 2015, hanya beberapa bulan saja, keduanya--yang benar-benar masih pemula--berhasil menyelesaikan satu novel perdana. 


Memang, menulis novel itu gampang-gampang susah. Gampang membacanya, paling hanya satu sampai dua jam saja, tapi susah menulisnya. Membutuhkan konsentrasi, konsistensi, dan motivasi yang harus ditumbuhkan setiap hari. Melalui Kursus Privat Menulis Novel "Smart Writer" angkatan tiga ini, kami menawarkan bimbingan menulis novel agar teman-teman yang serius ingin menjadi novelis, berhasil mewujudkan cita-citanya tersebut. 

Kami menyediakan pilihan paket kelas yang dapat disesuaikan dengan tujuan dan kemampuan budget Anda, harga belum berubah dari sejak Angkatan I, sebagai berikut :

Kelas standard, investasi Rp. 300.000,- waktu maksimal 2 bulan, peserta akan mendapatkan :

·         modul materi lengkap penulisan novel,
·         2 eks novel karya mentor yang bisa dipilih peserta,  bebas ongkir.
·         bimbingan khusus menyusun elemen-elemen penting dalam novel (premis, sinopsis, outline, karakter, setting, konflik, dll),

Kelas reguler, investasi Rp. 450.000,- waktu maksimal 4 bulan, peserta akan mendapatkan :

·         modul materi lengkap penulisan novel,
·         2 eks novel karya mentor yang bisa dipilih peserta, bebas ongkir.
·         bimbingan khusus menyusun elemen-elemen penting dalam novel, dan
·         bimbingan penulisan 5 bab novel,

Kelas eksklusif, investasi Rp. 650.000,-,waktu maksimal 6 bulan, peserta akan mendapatkan :

·         modul materi lengkap penulisan novel,
·         2 eks novel karya mentor yang bisa dipilih peserta, bebas ongkir.
·         bimbingan khusus menyusun elemen-elemen penting dalam novel, dan
·         bimbingan penulisan novel hingga selesai,

Kelas super eksklusif, investasi Rp. 900.000,- waktu maksimal 9 bulan, peserta akan mendapatkan :
·         modul materi lengkap penulisan novel,
·         2 eks novel karya masing-masing mentor yang bisa dipilih peserta, bebas ongkir.
·         bimbingan khusus menyusun elemen-elemen penting dalam novel,
·         bimbingan penulisan novel hingga selesai
·         editing,
·         rekomendasi penerbit yang tepat.

Sistematika mentoring :

  1. Bimbingan privat penulisan novel dan komunikasi antara mentor dan peserta diselenggarakan melalui email. 
  2. Modul materi yang berisi bimbingan penulisan novel akan dikirim ke email peserta, dan peserta akan dibimbing untuk menulis novel sesuai tahapan-tahapan di dalam modul tersebut. (Contoh : tahap I Modul perumusan tema). 
  3. Setiap tahapan memiliki batas waktu yang harus diikuti oleh peserta. (Contoh : tahap I waktu maksimal dua minggu). Selanjutnya peserta mengirim hasil pengerjaan modul ke email mentor, mentor akan mengoreksi dan memberi masukan untuk diperbaiki. 
  4. Waktu untuk mentor mengoreksi dan memberi masukan, selambat-lambatnya seminggu setelah peserta mengirim hasil pengerjaan modul ke email mentor. 
  5. Waktu untuk peserta merevisi pengerjaan modul, maksimal satu minggu setelah mentor mengirim masukan perbaikan ke email peserta. Lewat dari waktu ini, bimbingan akan dilanjutkan ke modul berikutnya 
  6. Jika ada pertanyaan terkait materi, peserta boleh mengajukan pertanyaan ke email mentor : riawanielyta@gmail.com cc. leyla_hana@yahoo.com  
  7. Jika karena sesuatu alasan yang mendesak, waktu pengerjaan modul dan revisi tidak dapat memenuhi tenggat waktu yang telah ditetapkan, waktu akan diperpanjang sesuai kesepakatan dalam batas yang sewajarnya.

Dengan sistematika ini, peserta akan terpacu untuk melakukan tahap-tahap penulisan dengan runut, memiliki konsep penulisan yang matang, dan langsung praktek menulis novel di bawah bimbingan yang intensif.


Cara pendaftaran :

  • Transfer biaya sesuai tarif kelas yang dipilih ke :
Rekening bank Mandiri nomor 109-00-1340669-9 a/n. Riawani Elyta, atau BCA 3800530091 an. Riawani Elyta

  • Kirimkan bukti transfer beserta nama lengkap, alamat lengkap, nomor Hp ke email: riawanielyta@gmail.com  dengan subject: daftar_kelas(jenis kelas yang dipilih)_nulisprivat.  Modul akan dikirim ke email peserta paling lambat seminggu setelah masa pendaftaran selesai (9 September – 9 Oktober 2015).
  • Untuk kelas eksklusif dan super eksklusif, biaya dapat dicicil 3x selama proses bimbingan berlangsung.
  • Bimbingan privat akan langsung diberikan terhitung pada saat modul pertama dikirimkan.


Beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan (mohon dibaca baik-baik): 

Saya belum pernah menulis novel, apakah saya bisa mengikuti kelas ini?
Jawab :
Bisa. Tetapi dianjurkan untuk rajin membaca novel agar mengetahui unsur-unsur di dalam novel dan apa yang membuat sebuah novel enak dibaca.

Bagaimana sistem belajarnya? Apa terdapat kelas offline atau tatap muka langsung?
Jawab :
Semua proses belajar dilakukan secara online via email, mulai dari pengiriman modul, pengerjaan tugas, revisi, dan konsultasi. Untuk saat ini kami tidak mengadakan kelas offline.

Kelas mana yang sebaiknya saya pilih, jika saya tidak pernah menulis novel sebelumnya?
Jawab :
Untuk semua peserta, baik yang sudah pernah menulis novel atau belum, harus mengambil paket kelas standar terlebih dulu, karena di kelas ini akan diberikan tips penting membangun pondasi dari sebuah novel.

Jika di tengah proses mengikuti kelas, karena sesuatu hal saya tidak bisa melanjutkan lagi, apakah biaya investasi akan dikembalikan?
Jawab :
Biaya investasi tidak akan dikembalikan. Oleh karenanya, semua peserta dianjurkan untuk mengambil kelas standar terlebih dulu, jika peserta merasa situasi dan kondisinya memungkinkan untuk melanjutkan ke kelas berikutnya, atau berkeinginan kuat menulis novelnya sampai selesai, silakan dilanjutkan dengan mengambil kelas regular, eksklusif, atau supereksklusif sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Jika saya tidak bisa menyelesaikan novel pada tenggat waktu yang telah ditetapkan, apakah saya masih berhak mendapat bimbingan?
Jawab :
Jangka waktu untuk masing-masing kelas sangat longgar dan fleksibel. Contohnya untuk kelas supereksklusif,  jangka waktunya adalah 9 bulan. Jika dalam tenggat waktu tersebut peserta tidak dapat menyelesaikan, akan diberi kelonggaran jeda waktu sesuai batas yang disepakati antara peserta dengan mentor. Jika lewat dari batas itu peserta masih ingin mendapatkan bimbingan dan pendampingan, maka peserta akan dikenai biaya extention sebesar Rp.100.000,-/bulan.



Profil Mentor
  
Kedua mentor (Leyla Hana dan Riawani Elyta) adalah penulis yang sudah terbukti menerbitkan novel-novelnya di penerbit-penerbit nasional ternama, seperti Gramedia Pustaka Utama, Gagas Media, Mizan, serta penerbit-penerbit lain yang buku-bukunya  bisa dibeli di toko buku-toko buku di seluruh Indonesia. 

Riawani Elyta

Telah menghasilkan 15 novel dan 2 buku duet non fiksi, diantaranya novel Hati Memilih, Yang Kedua (Bukune), A Cup of Tarapuccino(Indiva), A Miracle of Touch (Gramedia Pustaka Utama), The Coffee Memory (Bentang Pustaka),  Gerbang Trinil (Moka Media), Rahasia Pelangi (Gagas Media), dan lain-lain. Saat ini juga bertindak sebagai admin komunitas menulis online Be A Writer Community. Penghargaan lomba menulis yang pernah ia raih, antara lain: Pemenang I Resensi Buku Indiva (2008), Pemenang II Sayembara Cerber Femina (2008), Pemenang Harapan Sayembara Cerber Femina (2009), Pemenang Hiburan Feature Ufuk Dalam Majalah Ummi (2009), Pemenang Favorit Lomba Menulis Cerpen Remaja Rohto-Lip Ice (2010), Pemenang II Sayembara Novel Inspiratif Indiva (2010), Pemenang I Lomba Novel Remaja Bentang Belia (2011, bersama Shabrina WS), Pemenang Berbakat Lomba Novel Amore Gramedia (2012), dan Pemenang Unggulan Novel Inspiratif Indiva (2014). 



Leyla Hana

Telah menghasilkan 20 novel, 6 buku nonfiksi, dan beberapa buku antologi. Novel terbarunya adalah: Aku, Juliet (Penerbit Moka), Dag Dig Dugderan (Gramedia Pustaka Utama), dan Brisbane (DAR! Mizan). Penghargaan menulis novel yang pernah diperoleh adalah Juara II Sayembara Menulis Novel Remaja Gema Insani Press (2002) dan Juara III Sayembara Menulis Novel Inspiratif Pro U Media (2009). Pendiri komunitas penulis Be a Writer (@BAWCommunity) ini juga seorang blogger yang beberapa kali memenangkan lomba blog.