Tampilkan postingan dengan label Motivasi Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi Menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Desember 2015

Gramedia dan Dunia Digital, Melejitkan Mimpi!



Mataku terpaku pada logo yang terpampang di sampul buku yang kupegang. Entah sudah berapa buku yang kulihat selalu memakai logo itu di atas kanan sampulnya. GM atau Gramedia. Logo yang sama kudapati kala aku memasuki toko buku besar di kotaku. Toko buku Gramedia. Aku membesar bersama Gramedia, kecintaanku kepada buku-buku semakin menjadi setiap kali kususuri deretan buku terbitan Gramedia yang menerbitkan naluri. Sebagai pembaca, tak sedikit buku-buku terbitan Gramedia yang menginspirasiku untuk menulis, terutama novel. 


Aku membaca novel-novel lokal karya penulis-penulis legendaris Gramedia seperti Mira W, Maria A. Sardjono, V. Lestari, Remy Silado, sampai Hilman. Karya Remy Silado seperti Kembang Jepun dan Ca Bau Kan benar-benar membekas, membuatku ingin menulis seperti beliau. Kusisihkan uang sakuku setiap bulan demi membeli novel-novel itu, bagiku itu adalah investasi. Aku juga membaca karya para penulis populer yang ngetop di awal tahun 2000-an, seperti Albertiene Endah, Dewi Sekar, Primadonna Angela, Okki Madasari, dan banyak lagi nama yang membuatku bermimpi menerbitkan buku di Gramedia. Novel-novel impor yang diterbitkan Gramedia pun telah banyak yang kulahap: John Grisham, JK. Rowling, Sydney Sheldon, Agatha Christie, dan lain-lain. Kisah-kisah yang mereka tuliskan memberikan inspirasi tak bertepi kepadaku, sehingga aku dapat mengembangkan imajinasi yang kutuliskan ke dalam novel-novelku sendiri. Memang,  novel-novelku belum sesempurna mereka, itulah mengapa aku masih harus terus membaca karya para penulis kenamaan Gramedia agar dapat menyusul jejak mereka. 


Namun, melihat namaku tercetak di sampul buku Gramedia ibarat panggang jauh dari api. Telah ratusan buku Gramedia yang kubaca dan telah kucoba mengirimkan beberapa printout naskahku ke Gramedia, semua dikembalikan dengan sukses. Sementara, kulupakan niatan menerbitkan buku di Gramedia. Cukuplah aku berdiri sebagai pembaca, hingga anak-anakku pun kuajari menjadi predator buku. Anak-anakku selalu senang saat kuajak ke toko buku Gramedia. Mereka berteriak kegirangan, lalu mulai berlarian memilah dan memilih buku-buku anak yang terpajang di rak-rak buku. Beberapa kali kujejakkan kaki di Gramedia, bukan sebagai pembaca, melainkan penulis yang sedang meluncurkan novel terbarunya. Bukan terbitan Gramedia. Namaku memang belum seterkenal penulis-penulis yang namanya kusebutkan di atas itu. Aku masih bermimpi bisa menerbitkan buku di Gramedia, bagaimana caranya kita lihat saja nanti. Aku percaya, Tuhan akan menjawab mimpi-mimpi kita bila kita mau terus berusaha. 

Tahun 2014, mimpi itu akhirnya terwujud. Novel pertamaku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pun terbit setelah melalui proses penerbitan selama beberapa bulan. Mataku berkaca-kaca melihat novelku memakai logo GM. Tak hanya itu, beberapa kali aku mendapatkan mention dari akun twitter dan facebook Gramedia yang mempromosikan novelku. Walaupun tak segencar penulis lain yang jauh lebih terkenal, aku bersyukur namaku pernah ada di dalam database penulis-penulis Gramedia. Zaman telah berubah. Teknologi berkembang cepat. Dunia digital telah memudahkan interaksi antara penerbit, penulis, dan pembaca. Gramedia dengan teknologi digitalnya berusaha memajukan para penulis dan mempererat interaksi dengan pembaca. Gramedia membuat lomba #ResensiPilihan dengan memilih resensi buku Gramedia terbaik setiap minggunya. Novelku pun diresensi oleh seorang penulis Gramedia juga, Riawani Elyta, dan berhasil menjadi resensi terbaik. 


Respon para pembaca bukuku pun kini disampaikan melalui facebook, twitter, dan sosial media lainnya. Bandingkan dulu sebelum internet berjaya. Buku-buku hanya direspon melalui email. Aku pun tidak tahu bagaimana penerbit mempromosikan bukuku, kecuali dengan dipajang di toko buku-toko buku. Aku juga sering menerima pertanyaan dari para pembaca, bagaimana cara membeli bukuku. Seringkali mereka kesulitan membeli di toko buku, karena terlalu banyaknya buku yang berjejalan di rak-raknya. Sering juga bukuku belum ada di toko buku, sehingga mereka lelah mencari. Buku-buku terbitan Gramedia bisa dibeli di www.gramedia.com dan mendapatkan diskon pula, dibandingkan dengan membeli di toko buku. Gramedia cepat tanggap melihat kebutuhan pasar. Atas nama kepraktisan, kini banyak orang yang malas melangkahkan kaki ke toko buku. Gramedia membuat toko buku online untuk memenuhi permintaan pembaca yang malas ke toko buku, juga para pembaca yang kesulitan mengakses toko buku Gramedia.


Teman-temanku yang berada di ujung pulau, seperti Kalimantan, Sulawesi, pelosok Aceh, dan lain-lain, sangat diuntungkan dengan kehadiran toko buku online. Memang ada toko buku Gramedia, tetapi hanya di pusat kota. Pengalaman temanku yang tinggal di Kalimantan, dia harus menempuh perjalanan tiga jam untuk bisa mencapai toko buku Gramedia di kotanya. Belum lagi harga buku di toko tersebut jauh lebih mahal, karena mungkin ditambah dengan biaya transportasi antar pulau. Lebih baik membayar ongkos kirim dari Jakarta daripada membeli langsung di tokonya. Sebagai penulis sekaligus pembaca, aku sangat diuntungkan dengan transformasi Gramedia, yang tak hanya meluas di dunia nyata melainkan juga dunia digital.   

Minggu, 04 Oktober 2015

Menciptakan Peluang Baru dengan Menulis di Blog



Assalamu’alaikum. Sebenarnya dari awal bulan September sudah mau menuliskan tentang ini, tapi nggak sempet-sempet karena ada banyak lomba blog (jiyaaah….). Alhamdulillah, di awal bulan September, blog saya –akhirnya—mendapatkan anugerah “Blog of The Month” dari Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB). Jujur aja ya, siapa sih blogger yang nggak seneng dapat award begitu? Apalagi dari komunitas kece yang namanya sudah kondang. Saya juga sudah mengharapkannya dari sejak awardnya bernama Emak of the Month, karena saya sudah bergabung dengan KEB dari tahun pertama. Ternyata malah jodohnya di tahun ketiga.

Di situ juga kadang saya merasa bersyukur karena baru dapat awardnya sekarang. Coba kalau di tahun pertama, belum pantes kan ya, masih anak bawang. Sekarang pun saya masih harus banyak belajar, karena modal saya ngeblog ini “hanya” nulis. Saya belum pandai mengutak-atik blog dari segi teknisnya. Bahkan, mengganti header blog saja nunggu dapat gratisan dulu dari Mbak Fardelyn Hacky, hehehehe…. Ya, gimana dong, belum ada modal buat bayar Web Desain yang konon bayarannya dari RP 500 ribu sampai sekian. Ganti ke domain pribadi saja baru kurang lebih dua bulan lalu.  Jadi, sungguh saya berterimakasih kepada KEB karena sudah menjatuhkan award itu kepada saya. Tentunya banyak emak lain yang pantas menyandangnya.

Apa sih alasannya KEB memberikan award itu ke saya? Ngeblog aja belum becus. Kalau menurut penerawangan saya, kayaknya sih karena saya rutin ngeblog. Biarpun “bodoh”, nulis saja terus. Saya juga cukup sering menang lomba blog dan selain itu saya masih menulis buku. Makmin KEB “mungkin” menganggap itu “wow”, dan lagi saya punya tiga anak kecil-kecil tanpa bantuan pengasuh anak. Kapan nulisnya? Bagaimana cerita di balik postingan blog saya? 

Kemarin, saya ketemu dengan sahabat yang sudah bersahabat dengan saya dari sejak saya masih menjadi penulis pemula, Kanianingsih. Yap, Kania ini menyertai saya saat baru merintis karier di dunia kepenulisan. Saat ngobrol-ngobrol itu, Kania sempat menyinggung soal lomba-lomba blog, lalu saya cerita deh tentang ngeblog ala saya. Saya bisa bertemu lagi dengan Kania juga karena sama-sama menghadiri sebuah acara blogger. Begini ceritanya:

Saya: “Sebenarnya aku tuh ngeblog cuma untuk bertahan. Supaya aku tetap nulis dan kualitas tulisanku nggak merosot gara-gara aku nggak nulis-nulis.”
Kania: “Masa sih? Udah eksis gitu kok masih bilang ngeblognya cuma untuk bertahan?”
Saya: “Eksis apa? Belum fullini eksisnya. Aku nulis tuh sesempatnya aja kok. Nggak ngoyo. Ikut lomba juga seikutnya, tapi ya itu entah kenapa Alhamdulillah kadang menang juga. Ikut even-even blogger juga sebulan sekali. Nanti insya Allah makin eksis kalau anak-anak udah masuk SD semua, hehehe….”

Saya dan Kania berjumpa lagi setelah menjadi blogger :-)
Mau percaya atau enggak, kenyataannya memang begitu. Saat kelahiran anak ketiga, saya sempat terpikir mau berhenti menulis dan ngeblog karena saya kira saya nggak bakal bisa nulis lagi sambil mengasuh bayi dan dua anak balita. Kemudian, si sulung dan si tengah masuk SD, saya makin harus fokus mengajari mereka. Saya sempat merasa bersalah karena sibuk menulis dan kurang perhatian ke anak-anak. Anak-anak memang bersama saya 24 jam, tapi saya sambi dengan mengetik. 

Saya inginnya jadi ibu yang fokus mendidik mereka, mengajari tentang apa saja, mengajak bermain, dan sebagainya.  Bukan ibu yang saat anaknya bermain, eh ibunya sibuk mengetik. Saat nggak fokus begitu, ada saja yang terjadi. Terutama, saya lelah harus tegang urat leher karena kesal. Pas lagi enak-enaknya ngetik, anak-anak menginterupsi. Entah si kecil pipis, kakak-kakaknya minta makan, kakak-adik berantem,  dan sebagainya. Saya bermain bersama anak-anak, tapi pikiran entah ke mana dan tangan nggak lepas dari gadget. Sampai anak-anak pernah ngomong, “Mama main hape terus….” 

Oke, sip. Saya putuskan untuk berhenti internetan via hape. Saya harus fokus ke anak-anak. Sudah lama  saya berhenti internetan via hape. Saya akan menulis semampu saya, sekadar untuk bertahan. Itulah tekad saya, setidaknya sampai anak-anak melewati usia emasnya. Dan ternyata, sungguh nggak disangka, saat kita berhenti mengejar sesuatu, sesuatu itu justru mengejar kita. Cerita di balik postingan blog saya itu sederhana saja. Saya menulis ketika anak-anak sedang sekolah atau sedang tidur. Kadang-kadang memang saya curi-curi waktu saat anak-anak sedang bermain, tapi itu hanya sesekali, nggak setiap hari seperti dulu.  

Biasanya, saya menulis pada waktu dini hari. Bukan begadang lho ya. Begadang itu nggak bagus. Saya tidur saat anak-anak tidur, jam 8, 9, 10 malam. Amat jarang saya tidur di atas jam 12. Nanti bangun lagi jam 1, 2, 3 pagi, lalu menulis. Saya sengaja isi kuota internet 2 GB untuk siang hari dan 12 GB untuk malam hari (jam 1 sampai 7 pagi). Otomatis, malam hari banyak banget ya kuotanya. Terdorong semangat internetan malam hari, saya bisa bangun di jam-jam itu. Sebelum menulis, salat Tahajud dulu supaya dilancarkan pikirannya oleh Allah.  Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan satu sampai tiga postingan. 

Salah satu hadiah lomba blog yang saya terima
Itupun nggak setiap hari bisa bangun. Kalau anak-anak sedang molor jam tidurnya, otomatis saya jadi susah bangun juga pada waktu dini hari. Saya sih nothing to lose saja. Memang, ada banyak lomba blog yang terlewatkan. Kalau diperhatikan, saya juga lebih sering ikutan menjelang DL, karena memang baru sempat menulis. Prinsip saya sederhana. Kalau rejeki, pasti Allah kasih jalan. Misalnya, walaupun kita nggak punya waktu nulis, tapi kalau hadiah lomba blog itu sudah jadi milik kita, dan kita memang niat mau ikutan, Allah akan kasih jalan untuk ikutan lomba itu. Sudah beberapa kali terbukti sama saya. Makanya, saya nggak neko-neko pengen nulis kayak si A atau B atau C yang postingan blognya keren-keren, nggak hanya tulisannya tapi juga gambarnya.

Untuk bisa bikin gambar ilustrasi di blog yang keren itu kan butuh skill dan waktu yang banyak. Bagi saya, yang penting untuk saat ini saya masih bisa konsisten menulis. Insya Allah, nanti ada waktunya saya punya kesempatan meningkatkan kemampuan ngeblog, di saat anak-anak sudah nggak mau mengekori ibunya terus. Ada sih usaha untuk meningkatkan kemampuan ngeblog dengan memperbaiki kualitas foto, baik itu menggunakan kamera hape yang lebih bagus dan diedit dengan aplikasi-aplikasi. Berkah ngeblog juga yang membuat saya bisa memiliki ponsel dengan kamera yang lebih baik dan perlahan belajar menggunakan aplikasi-aplikasi. 

Saya sering memfoto anak-anak untuk pendukung tulisan di blog, sampai-sampai mereka bosan hehehe… Kadang mereka suka rela difoto, bahkan menawarkan diri. “Mah, foto dulu, Mah…..” Si kecil malah keranjingan difoto, kalau ada tempat-tempat dengan latar yang bagus, dia minta difoto. Ya ampuun.. mirip mamanya banget xixix…. Tapi, kalau lagi males difoto, susah sekali mengambil gambarnya. Ya, namanya juga model gratisan. 

Untuk ide postingan, bisa dari mana saja, terutama dari lomba blog. APAAH? Iya, soalnya aktivitas menulis ini sudah saya jadikan profesi. Profesi ya harus menghasilkan. Saya menulis bukan hanya untuk iseng-iseng, karena nggak ada kerjaan, tapi menulis ini adalah pekerjaan saya. Makanya saya banyak menulis untuk lomba blog. Lain ya kalau orang sudah punya profesi lain yang menghasilkan (PNS atau karyawan swasta), mereka ngeblog untuk senang-senang saja atau berbagi. Itu bagus juga, tapi yang ngeblog untuk ikut lomba pun bukan berarti nggak bagus dan nggak mau berbagi. Tulisan buat lomba juga bisa untuk berbagi. Misalnya, lomba review gadget terbaru. Tulisannya itu kan bisa jadi informasi juga untuk pembaca yang mau beli gadget baru. 

Kadang-kadang saya juga nulis gratisan, alias bukan untuk lomba atau review berbayar. Apalagi kalau saya baru mendapatkan inspirasi, seperti tulisan saya yang berjudul “From Allah to Allah:Rezeki itu Milik Allah.” Saya nggak nyangka tulisan itu langsung ngehits dan banyak dibagikan, terutama di whatsapp. Waduuuh… saya sempat khawatir juga lho, karena tulisan itu kan terinspirasi dari seorang ustazah yang menggantikan tugas ustazah saya saat mengisi pengajian di rumah saya. Gimana coba kalau teman-teman saya juga membaca tulisan itu? Saya kan nggak minta izin sama ustazah tersebut untuk membagikan ceritanya di blog, toh saya nggak sebut nama dan identitasnya. Saya hanya terinspirasi dan ingin membaginya ke pembaca. 

TERNYATA…. Seorang teman mengaji saya juga membagikan cerita itu di WA! Aaargggh… rasanya mau tenggelam di dalam tanah. Tapi.. eh, dia membagikan cerita itu tanpa tahu kalau penulisnya adalah saya! Memang, di WA, BBM, dan facebook, cerita itu dibagikan tanpa link blognya. Walaupun akhirnya ada juga teman saya yang sadar kalau penulisnya itu saya, syukur Alhamdulillah saya nggak digugat sama yang empunya cerita, hehe…. Saya rasa, kalau cerita itu memang bagus dan menginspirasi, kita pasti dengan senang hati membaginya ke orang lain, bukan?

Ikut lomba blog, bagi saya adalah salah satu jalan untuk menciptakan peluang. Menjadi ibu rumahan bukan berarti nggak bisa punya penghasilan. Saya sudah merasakan banyak manfaat dari mengikuti lomba blog, bukan semata mendapatkan hadiah tapi juga jaringan, pertemanan, kemampuan ngeblog yang terus bertambah, kemampuan menulis yang meningkat, trafik blog meningkat, dan sebagainya. Jadi, kenapa harus gengsi mengikuti lomba blog? Saya suka heran dengan orang yang gengsian. Sepengetahuan saya, sifat gengsian itu menghambat langkah kita. Sama halnya dengan berwirausaha. Banyak orang yang rela menganggur daripada berjualan gorengan di pinggir jalan, padahal pedagang gorengan itu penghasilan bersihnya minimal Rp 300.000 per hari. Itupun sebelum ganti presiden dan dolar melambung. Saya nggak asal ngomong lho, tapi berdasarkan cerita adik saya yang pernah mengalihkan modal dagangnya ke pedagang gorengan. 

Setelah trafik blog meningkat, dengan sendirinya kita mendapatkan Job Review. Walaupun saya belum mendapatkan job review dengan nominal besar, tapi buat saya sih asyik-asyik saja bisa dapat barang gratisan atau voucher makan gratis. Sampai hari ini saya masih sering ikut lomba blog, karena saya belum pernah dapat hadiah puluhan juta dan liburan ke luar negeri (jadi target saya itu, hihihi…..). Buat kamu yang masih bingung mau nulis apa, ciptakan peluangmu dengan mengikuti lomba blog. Kalah menang nggak masalah. Kecewa sehari, lalu ikut lagi. Suatu hari nanti insya Allah kamu pasti bakal ngerasain seperti saya, kecanduan ikut lomba blog.


Selasa, 08 September 2015

Kursus Privat Menulis Novel Angkatan 3, Mau...?

Assalamu'alaikum. Alhamdulillah, sudah dari bulan Maret, saya dan Riawani Elyta membuka kursus privat menulis novel dan diikuti  belasan peserta. Nyaris setiap hari kami mendapatkan email konsultasi dari para peserta. Dua diantaranya kini sudah menyelesaikan novelnya dan siap dikirim ke penerbit. Yap, dari bulan Maret 2015 sampai Agustus 2015, hanya beberapa bulan saja, keduanya--yang benar-benar masih pemula--berhasil menyelesaikan satu novel perdana. 


Memang, menulis novel itu gampang-gampang susah. Gampang membacanya, paling hanya satu sampai dua jam saja, tapi susah menulisnya. Membutuhkan konsentrasi, konsistensi, dan motivasi yang harus ditumbuhkan setiap hari. Melalui Kursus Privat Menulis Novel "Smart Writer" angkatan tiga ini, kami menawarkan bimbingan menulis novel agar teman-teman yang serius ingin menjadi novelis, berhasil mewujudkan cita-citanya tersebut. 

Kami menyediakan pilihan paket kelas yang dapat disesuaikan dengan tujuan dan kemampuan budget Anda, harga belum berubah dari sejak Angkatan I, sebagai berikut :

Kelas standard, investasi Rp. 300.000,- waktu maksimal 2 bulan, peserta akan mendapatkan :

·         modul materi lengkap penulisan novel,
·         2 eks novel karya mentor yang bisa dipilih peserta,  bebas ongkir.
·         bimbingan khusus menyusun elemen-elemen penting dalam novel (premis, sinopsis, outline, karakter, setting, konflik, dll),

Kelas reguler, investasi Rp. 450.000,- waktu maksimal 4 bulan, peserta akan mendapatkan :

·         modul materi lengkap penulisan novel,
·         2 eks novel karya mentor yang bisa dipilih peserta, bebas ongkir.
·         bimbingan khusus menyusun elemen-elemen penting dalam novel, dan
·         bimbingan penulisan 5 bab novel,

Kelas eksklusif, investasi Rp. 650.000,-,waktu maksimal 6 bulan, peserta akan mendapatkan :

·         modul materi lengkap penulisan novel,
·         2 eks novel karya mentor yang bisa dipilih peserta, bebas ongkir.
·         bimbingan khusus menyusun elemen-elemen penting dalam novel, dan
·         bimbingan penulisan novel hingga selesai,

Kelas super eksklusif, investasi Rp. 900.000,- waktu maksimal 9 bulan, peserta akan mendapatkan :
·         modul materi lengkap penulisan novel,
·         2 eks novel karya masing-masing mentor yang bisa dipilih peserta, bebas ongkir.
·         bimbingan khusus menyusun elemen-elemen penting dalam novel,
·         bimbingan penulisan novel hingga selesai
·         editing,
·         rekomendasi penerbit yang tepat.

Sistematika mentoring :

  1. Bimbingan privat penulisan novel dan komunikasi antara mentor dan peserta diselenggarakan melalui email. 
  2. Modul materi yang berisi bimbingan penulisan novel akan dikirim ke email peserta, dan peserta akan dibimbing untuk menulis novel sesuai tahapan-tahapan di dalam modul tersebut. (Contoh : tahap I Modul perumusan tema). 
  3. Setiap tahapan memiliki batas waktu yang harus diikuti oleh peserta. (Contoh : tahap I waktu maksimal dua minggu). Selanjutnya peserta mengirim hasil pengerjaan modul ke email mentor, mentor akan mengoreksi dan memberi masukan untuk diperbaiki. 
  4. Waktu untuk mentor mengoreksi dan memberi masukan, selambat-lambatnya seminggu setelah peserta mengirim hasil pengerjaan modul ke email mentor. 
  5. Waktu untuk peserta merevisi pengerjaan modul, maksimal satu minggu setelah mentor mengirim masukan perbaikan ke email peserta. Lewat dari waktu ini, bimbingan akan dilanjutkan ke modul berikutnya 
  6. Jika ada pertanyaan terkait materi, peserta boleh mengajukan pertanyaan ke email mentor : riawanielyta@gmail.com cc. leyla_hana@yahoo.com  
  7. Jika karena sesuatu alasan yang mendesak, waktu pengerjaan modul dan revisi tidak dapat memenuhi tenggat waktu yang telah ditetapkan, waktu akan diperpanjang sesuai kesepakatan dalam batas yang sewajarnya.

Dengan sistematika ini, peserta akan terpacu untuk melakukan tahap-tahap penulisan dengan runut, memiliki konsep penulisan yang matang, dan langsung praktek menulis novel di bawah bimbingan yang intensif.


Cara pendaftaran :

  • Transfer biaya sesuai tarif kelas yang dipilih ke :
Rekening bank Mandiri nomor 109-00-1340669-9 a/n. Riawani Elyta, atau BCA 3800530091 an. Riawani Elyta

  • Kirimkan bukti transfer beserta nama lengkap, alamat lengkap, nomor Hp ke email: riawanielyta@gmail.com  dengan subject: daftar_kelas(jenis kelas yang dipilih)_nulisprivat.  Modul akan dikirim ke email peserta paling lambat seminggu setelah masa pendaftaran selesai (9 September – 9 Oktober 2015).
  • Untuk kelas eksklusif dan super eksklusif, biaya dapat dicicil 3x selama proses bimbingan berlangsung.
  • Bimbingan privat akan langsung diberikan terhitung pada saat modul pertama dikirimkan.


Beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan (mohon dibaca baik-baik): 

Saya belum pernah menulis novel, apakah saya bisa mengikuti kelas ini?
Jawab :
Bisa. Tetapi dianjurkan untuk rajin membaca novel agar mengetahui unsur-unsur di dalam novel dan apa yang membuat sebuah novel enak dibaca.

Bagaimana sistem belajarnya? Apa terdapat kelas offline atau tatap muka langsung?
Jawab :
Semua proses belajar dilakukan secara online via email, mulai dari pengiriman modul, pengerjaan tugas, revisi, dan konsultasi. Untuk saat ini kami tidak mengadakan kelas offline.

Kelas mana yang sebaiknya saya pilih, jika saya tidak pernah menulis novel sebelumnya?
Jawab :
Untuk semua peserta, baik yang sudah pernah menulis novel atau belum, harus mengambil paket kelas standar terlebih dulu, karena di kelas ini akan diberikan tips penting membangun pondasi dari sebuah novel.

Jika di tengah proses mengikuti kelas, karena sesuatu hal saya tidak bisa melanjutkan lagi, apakah biaya investasi akan dikembalikan?
Jawab :
Biaya investasi tidak akan dikembalikan. Oleh karenanya, semua peserta dianjurkan untuk mengambil kelas standar terlebih dulu, jika peserta merasa situasi dan kondisinya memungkinkan untuk melanjutkan ke kelas berikutnya, atau berkeinginan kuat menulis novelnya sampai selesai, silakan dilanjutkan dengan mengambil kelas regular, eksklusif, atau supereksklusif sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Jika saya tidak bisa menyelesaikan novel pada tenggat waktu yang telah ditetapkan, apakah saya masih berhak mendapat bimbingan?
Jawab :
Jangka waktu untuk masing-masing kelas sangat longgar dan fleksibel. Contohnya untuk kelas supereksklusif,  jangka waktunya adalah 9 bulan. Jika dalam tenggat waktu tersebut peserta tidak dapat menyelesaikan, akan diberi kelonggaran jeda waktu sesuai batas yang disepakati antara peserta dengan mentor. Jika lewat dari batas itu peserta masih ingin mendapatkan bimbingan dan pendampingan, maka peserta akan dikenai biaya extention sebesar Rp.100.000,-/bulan.



Profil Mentor
  
Kedua mentor (Leyla Hana dan Riawani Elyta) adalah penulis yang sudah terbukti menerbitkan novel-novelnya di penerbit-penerbit nasional ternama, seperti Gramedia Pustaka Utama, Gagas Media, Mizan, serta penerbit-penerbit lain yang buku-bukunya  bisa dibeli di toko buku-toko buku di seluruh Indonesia. 

Riawani Elyta

Telah menghasilkan 15 novel dan 2 buku duet non fiksi, diantaranya novel Hati Memilih, Yang Kedua (Bukune), A Cup of Tarapuccino(Indiva), A Miracle of Touch (Gramedia Pustaka Utama), The Coffee Memory (Bentang Pustaka),  Gerbang Trinil (Moka Media), Rahasia Pelangi (Gagas Media), dan lain-lain. Saat ini juga bertindak sebagai admin komunitas menulis online Be A Writer Community. Penghargaan lomba menulis yang pernah ia raih, antara lain: Pemenang I Resensi Buku Indiva (2008), Pemenang II Sayembara Cerber Femina (2008), Pemenang Harapan Sayembara Cerber Femina (2009), Pemenang Hiburan Feature Ufuk Dalam Majalah Ummi (2009), Pemenang Favorit Lomba Menulis Cerpen Remaja Rohto-Lip Ice (2010), Pemenang II Sayembara Novel Inspiratif Indiva (2010), Pemenang I Lomba Novel Remaja Bentang Belia (2011, bersama Shabrina WS), Pemenang Berbakat Lomba Novel Amore Gramedia (2012), dan Pemenang Unggulan Novel Inspiratif Indiva (2014). 



Leyla Hana

Telah menghasilkan 20 novel, 6 buku nonfiksi, dan beberapa buku antologi. Novel terbarunya adalah: Aku, Juliet (Penerbit Moka), Dag Dig Dugderan (Gramedia Pustaka Utama), dan Brisbane (DAR! Mizan). Penghargaan menulis novel yang pernah diperoleh adalah Juara II Sayembara Menulis Novel Remaja Gema Insani Press (2002) dan Juara III Sayembara Menulis Novel Inspiratif Pro U Media (2009). Pendiri komunitas penulis Be a Writer (@BAWCommunity) ini juga seorang blogger yang beberapa kali memenangkan lomba blog.