Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Desember 2015

Mencari Kebahagiaan

Assalamu'alaikum. Mumpung terbangun di dini hari gara-gara gigitan nyamuk, saya mau menuliskan sesuatu yang belakangan ini menjadi bahan renungan. Kalau soal kabar artis Korea yang cantik dan sedang menuju terkenal tapi bunuh diri sih bukan hal aneh. Cukup banyak artis Korea yang bunuh diri, meskipun dikaruniai kecantikan dan popularitas. Zaman ABG dulu, saya kepingin sekali berada di posisi artis-artis itu. Memiliki hidung yang mancung, kulit putih dan mulus, tubuh ramping, muncul di layar kaca, dan terkenal. Anehnya, kenapa malah mereka yang bunuh diri ya? Memang cape deh mengharapkan kesempurnaan dalam hidup. Saya pernah mengalami usaha memancungkan hidung dengan menarik-narik hidung, menggosok badan dengan batu apung supaya kulitnya putih, dan mematuti layar kaca berjam-jam hanya untuk menyesalkan mengapa saya nggak dilahirkan secantik artis? Untungnya, saya nggak bunuh diri. 




Kemudian, saya membaca tulisan seorang muslimah yang juga penulis dan blogger ngetop di blognya, mengenai alasannya melepas jilbab yang sudah dikenakannya selama 15 tahun. Kurang lebih dia mengatakan bahwa dia bahagia dengan pilihannya sekarang ini (melepas jilbab). Dia ingin mencari jati dirinya. Saya nggak akan menghakimi pilihannya untuk bahagia ya, karena bahagia itu relatif. Ada orang yang bahagia setelah mengisap narkoba, ada orang yang bahagia setelah semalaman dugem di diskotek bareng teman-temannya, ada orang yang bahagia setelah melakukan sodomi ke anak-anak laki-laki, dan banyak lagi. Kebahagiaan kalau menggunakan kacamata manusia memang bergantung pada manusia itu sendiri. Entah itu kebahagiaan yang positif maupun negatif.

Hidup memang tak selalu semanis waffle. Terkadang pahit seperti pare dan asam seperti rujak. Kalau sedang bahagia, seringnya kita lupa dengan Pemberi Kebahagiaan. Sebaliknya, kalau sedang kena pahitnya, baru deh kita ingat dan menyalahkan-Nya. "Ya Tuhan, kenapa sih nasib gue gini amat?" Begitulah manusia. Makanya aneh kan kenapa artis Korea yang cantik dan terkenal itu bisa bunuh diri, padahal banyak gadis lain yang ingin bisa berada di posisinya. Juga kenapa penulis dan blogger ngetop itu melepas jilbabnya, padahal banyak penulis dan blogger belum ngetop (seperti saya) yang "ngiri" dengan apa yang sudah diraihnya. Why???

Mencari kebahagiaan, katanya. Si artis Korea yakin bisa mendapatkan kebahagiaannya setelah bunuh diri. Si penulis dan blogger ngetop itu juga yakin bisa mendapatkan kebahagiaan dengan melepas jilbabnya. Jilbab di sini hal yang prinsip ya, karena dia sudah pakai selama 15 tahun. Beda dengan emak-emak yang pakai jilbab hanya kalau mau kondangan atau pergi jauh, tapi kalau ke warung depan masih berkibaran rambutnya.

Saya pernah membaca sebuah kutipan di buku yang bunyinya, "kebahagiaan itu harus dicari di mana pun berada." Untuk itulah saya berusaha mengusir kemalasan datang ke pengajian pekanan dan kebetulan rekan saya memberikan kultum dengan tema kebahagiaan. Bagi saya, itu kebahagiaan juga. Pas banget dengan yang sedang mengusik pikiran saya. Ada tujuh kebahagiaan dunia menurut Imam Al Ghazali, tapi saya cuma ingat empat saja nih. Harus buka buku catatan lagi. Empat saja dulu ya:

Pasangan yang Soleh/ah
Ini berarti suami/ istri. Mestinya pernikahan membuat kita bahagia, karena kita sudah nggak dikatain jomblo lagi. Hati tenang karena ada pasangan. Mau bobo juga udah nggak sendirian. Tapi kenapa banyak suami istri yang merasa nggak bahagia meskipun sudah menikah? Karena mereka belum mendapatkan pasangan yang soleh/ah. Bukan berarti lepas dari ujian. Memiliki pasangan yang soleh/ah juga masih akan diuji, tapi insya allah bisa dilewati dengan keteguhan iman karena saling mengingatkan. Ah, indahnya rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.

Anak yang Soleh/ah 
Punya anak yang soleh/ah juga menjadi penentu kebahagiaan. Coba kalau anaknya suka tawuran, suka membantah, tahu-tahu ngasih kabar menghamili anak orang (naudzubillahi!), pasti orangtuanya stres dan pusing kenapa punya anak seperti itu. Lain halnya kalau si anak itu penurut, baik, pintar, rajin membantu orangtua, rajin beribadah, orangtua pasti senang dan bahagia. Jadi, memiliki anak yang soleh/ah memang menjadi salah satu penentu kebahagiaan.

Gimana kalau nggak punya anak? Saya sedih juga melihat seorang nenek yang suaminya baru meninggal dunia. Mereka nggak bisa punya anak. Sekarang nenek itu tinggal sendirian, setiap hari duduk di tangga depan rumahnya sambil melamun. Sebaliknya, ada juga nenek tetangga saya yang sama juga nggak bisa punya anak. Bedanya, dia punya anak angkat. Anak angkatnya itu memilih tinggal di dekat rumah ibu angkatnya. Si anak angkat sudah punya dua anak. Jadilah nenek itu nggak kesepian karena anak dan cucu angkatnya itu tiap hari main ke rumahnya. Saya menyarankan kepada pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah dan belum punya anak, cobalah tengok panti-panti asuhan. Di sana banyak anak yang membutuhkan orangtua. Kasihan mereka nggak merasakan belaian dan pelukan orangtua. Mereka juga bisa menjadi anak yang soleh/ah dan bekal orangtua angkatnya untuk masuk surga.

Tetangga dan Lingkungan yang Baik
Banyak orang yang bunuh diri karena omongan atau hinaan orang lain. Itu berarti mereka memiliki lingkungan pergaulan yang nggak baik. Orang-orangnya suka menjatuhkan, menghina, menikung, mengkhianati, sehingga membuat stres dan kepikiran untuk bunuh diri. Jadi benar juga dong kalau kita memiliki teman, tetangga, dan berada di lingkungan yang baik itu bisa bikin kita bahagia. Enaknya punya tetangga yang suka kirim makanan, nggak pernah ngajakin berantem, selalu menjenguk saat kita sakit, dan lain-lain. Bahagia sekali rasanya.

Harta yang Bermanfaat
Punya banyak harta tapi dimakan sendiri itu rupanya nggak enak. Udah nggak kehitung deh orang kaya yang masih belum bahagia meskipun kekayaannya di mana-mana. Lain halnya kalau sebagian hartanya dikasih ke anak-anak yatim dan fakir miskin. Mereka akan mendoakan si pemberi agar selalu dikarunia kesehataan dan kebahagiaan. Doa orang miskin itu makbul. Kita hanya boleh iri pada dua orang, yaitu orang yang menghafal Al Quran dan orang kaya yang dermawan.

Semoga kita bisa meraih kebahagiaan yang sesuai dengan jalan yang lurus, sebagaimana tersurat dalam Quran Surat Al Fatihah yang setiap hari kita baca lebih dari 12 kali. Aamiin... Saat kita sedang makan pare, imbangilah dengan minum teh manis. Insya allah rasanya tetap semanis waffle. Maksudnya, saat kita sedang merasa tak bahagia, cobalah untuk mensyukuri nikmat yang sudah diberikan-Nya (dan bukan menjauhi-Nya), barangkali dari situ kita menemukan apa maksud penciptaan diri kita dan mengapa kita harus bahagia karenanya. 

Minggu, 06 Desember 2015

Pecel dan Sepercik Kenangan

Minggu lalu, saya menemukan satu botol sambel pecel yang masih tertutup rapat. Ah, ya sambel pecel itu hadiah dari seorang blogger yang mengadakan kuis. Sudah lama saya ingin membuat lalap pecel, tapi belum sempat-sempat. Di tukang sayur, saya sengaja membeli sayuran (bayam, kentang, tauge) untuk membuat lalap pecel. 


Lalap pecel adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Tengah. Almarhumah ibu saya sangat suka pecel. Sewaktu kuliah di Semarang, saya juga sering sarapan nasi pecel. Ada satu warung nasi pecel yang sangat laris sampai harus antri untuk bisa memakannya. Rasa sambal pecelnya juara! Sayang, si mbok pecelnya judes sangat. 

Jangankan tersenyum, kalau kami bertanya sesuatu saja, langsung disemprot. Yah, tidak apa deh, yang penting bisa makan nasi pecelnya. Artinya, tidak selalu sikap pedagang mempengaruhi kelarisan dagangannya. Walaupun si pedagangnya itu jutek, kalau dagangannya ngangeni, pasti dicari terus. Sama halnya dengan seorang penulis. Walaupun si penulis itu nyebelin, kalau bukunya bagus pasti dibaca orang. 

Dari si pedagang pecel itu saya belajar, yang utama adalah memperbaiki kualitas karya. Soal sikap, namanya juga manusia, kadang kita sudah bersikap baik pun masih dinilai jelek. Namun, akan lebih baik lagi kalau sikap dan karya kita sama-sama baik.

Dari pecel pula, saya tak mau membeli sembarangan pecel. Saya pernah terkena tifus gara-gara membeli pecel dari si mbok yang menjual dagangannya di pinggir jalan. Di Semarang, banyak pedagang pecel lesehan di pinggir jalan raya. Mungkin pecelnya terkontaminasi virus dan kotoran. Bisa saja tidak semuanya begitu, tapi boleh dong saya berhati-hati dengan tidak membeli pecel pinggir jalan lagi? 

Begitupun saat membeli buku, saya harus lebih cermat membeli dan membaca buku yang dapat memperkaya jiwa dan pikiran, alih-alih sekadar hiburan tapi kosong makna. Saya khawatir otak saya bukannya sehat malah sakit. 

Malam Senin itu, saya kembali makan lalap pecel bersama belahan jiwa. Memang rasanya tidak selezat buatan si mbok pecel yang judes itu tapi lumayanlah untuk membangkitkan sepercik kenangan. 

Selasa, 08 September 2015

From Allah to Allah: Rezeki Itu Milik Allah

https://www.pinterest.com/pin/309552174360631780/
Sumber: Pinterest
"Saya nggak mau jadi ibu rumah tangga saja. Kalau suami meninggal atau kita bercerai, gimana? Siapa yang kasih makan saya dan anak-anak? Istri itu harus mandiri finansial supaya bisa punya uang untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa dengan suami." 


Seketika, kalimat itu buyar kala saya berhadapan dengan seorang wanita berusia 47 tahun yang datang ke rumah saya untuk mengisi pengajian. Wanita bersahaja itu datang jauh-jauh, cukup jauh dari komplek perumahan tempat tinggal saya, untuk memberi pengajian secara gratis. Ingat, gratis lho.... Nggak ada bayaran sepeser pun kecuali sajian makan siang yang saya berikan. Dia datang untuk menggantikan guru ngaji saya yang berhalangan. Sambil menunggu teman-teman lain, kami ngobrol-ngobrol.

"Coba tebak, anak saya berapa, Bu?" tanyanya, ketika kami sedang ngobrol soal anak-anak. Saya sedikit mengeluhkan kondisi rumah yang berantakan karena anak-anak nggak bisa diam, lalu dia memaklumkan. Namanya juga anak-anak. Dia sudah berpengalaman karena anaknya lebih banyak dari saya.
"Ehm... empat?" (pikir saya, paling-paling cuma selisih satu).
"Masih jauh...."
"Tujuh...."
"Kurang... yang benar, delapan."
Mata saya membelalak. Masya Allah! DELAPAN?!
"Itu masih kurang, Bu. Ustazah Yoyoh (almarhumah Yoyoh Yusroh, mantan anggota DPR) saja anaknya 13. Jadi, saya ini belum ada apa-apanya," katanya, merendah. 

Setelah itu, mengalirlah cerita-ceritanya mengenai anak-anaknya sampai teman-teman saya datang dan acara mengaji pun dimulai. Di sela pengajian, wanita itu bercerita mengenai keluarganya. Dari situ saya baru tahu kalau suaminya sudah meninggal dunia! Meninggal karena kecelakaan motor, meninggalkan istri dan delapan anak, yang terkecil berusia 2,5 tahun dan sang istri, ya... wanita itu... seorang IBU RUMAH TANGGA. 

Ibu rumah tangga di sini maksudnya nggak kerja kantoran, tapi juga bukan pengangguran. Beliau aktif mengisi pengajian. Lalu, bagaimana kehidupannya setelah suaminya meninggal? Beliau nggak punya gaji, nggak kerja kantoran. Coba, gimana? Apa beliau lalu sengsara dan anak-anaknya putus sekolah? No. no, no....

Kalau saya mengingat kalimat pembuka di atas kok kayaknya mustahil ya seorang ibu yang nggak bekerja dan suaminya meninggal dunia, bisa bertahan hidup dengan delapan anak dan anak-anaknya bisa tetap kuliah. Mustahil itu... NGGAK MUNGKIN! 

"Bagi Allah, nggak ada yang nggak mungkin, Bu. Asal kita percaya sama Allah. Allah yang kasih rezeki, kan? Percaya saja sama Allah. Saya cuma yakin bahwa semua yang saya dapatkan selama ini adalah karena kebaikan-kebaikan saya dan suami semasa hidup. Saya cuma berbagi pengalaman ya, Bu, bukan mau riya. Memang, suami saya dulu itu orangnya pemurah. Kalau ada yang minta bantuan, dia akan kasih walaupun dia uangnya pas-pasan. Alhamdulillah, Allah kasih ganti. Sewaktu suami masih hidup, kami hidup sederhana. Rezeki suami itu dibagi ke orang-orang juga, padahal anak kami ada delapan. Suami nggak takut kekurangan....."

Kami menahan napas.....

"Hingga suami saya meninggal dunia... uang duka yang kami dapatkan itu... Masya Allah... jumlahnya 100 juta. Padahal, suami saya itu biasa-biasa saja, bukan orang penting. Uang itu langsung dibuat biaya pemakaman, tabungan pendidikan anak, dan sisanya renovasi rumah yang mau ambruk."

Dengar uang 100 juta dari uang duka saja, saya sudah kagum. 

"Saat renovasi rumah, saya serahkan saja ke tukangnya. Dia bilang, uangnya kurang. Saya lillahi ta'ala saja. Yang penting atap rumah nggak ambruk, karena memang kondisinya sudah memprihatinkan. Khawatirnya anak-anak ketimpa atap....."

Saya membayangkan, keajaiban apa lagi yang didapatkan oleh wanita itu?

"Nggak disangka. Begitu orang-orang tau kalau saya sedang renovasi rumah, mereka menyumbang. Bukan ratusan ribu, tapi puluhan juta! Sampai terkumpul 100 juta lagi dan rumah saya seperti bisa dilihat sekarang.... Sampai hari ini, saya masih dapat transferan uang dari mana-mana, Bu-Ibu. Saya nggak tau dari siapa aja karena mereka nggak bilang. Saya juga udah nggak pernah beli beras lagi sejak suami meninggal. Selalu ada yang kasih beras."

Duh, nggak bisa nahan airmata deh jadinya....

Apa rahasianya?

"Berbuat baik kepada siapa saja, sekecil apa pun. Insya Allah ada balasannya. Rezeki itu milik Allah. Kalau Allah berkehendak, Dia akan kasih dari mana pun asalnya...." tutupnya. 

Rezeki itu milik Allah, siapa pun tidak boleh takabur. Bekerja bukanlah sarana menyombongkan diri bahwa hidup kita bakal terjamin karena bekerja. Yang menjamin hidup kita adalah Allah. Bekerja diniatkan untuk ibadah. Pembuka rezeki bisa datang dari mana saja, salah satunya dari berbuat kebaikan sekecil apa pun. Ucapan, "Kalau suami meninggal atau bercerai, siapa yang kasih makan saya dan anak-anak?" itu sama saja dengan sirik, atau menduakan Allah. Menganggap diri kita super, dengan kita bekerja, maka rezeki terjamin. Padahal, Allah yang kasih rezeki. Jika dulu Allah kasih rezeki melalui suami, besok Allah kasih lewat jalan lain. From Allah to Allah. 



 

Senin, 10 Agustus 2015

Saat Saya Berhijab, Saat Itulah Saya Merdeka



Adegan pertama:
“Suit… suit… wuiih…  macan (manis cantik) juga nih cewek!”

Beberapa orang tukang ojek menyuiti seorang gadis abg (asli baru gede, baru umur 15 tahun :D) yang melewati mereka. Gadis itu mulanya bangga disebut “macan” yang merupakan singkatan lazim di masa itu, tapi sesampainya di rumah, dia malah merenung. Tak terima disuiti seperti itu, apalagi bila mengingat pandangan nakal para tukang ojek.


Adegan kedua:
“Duh, Neng… “itu”nya nggak nahan!”
Celetuk satu dari supir angkot yang berjejer menunggu penumpang, diikuti dengan gelak tawa teman-temannya. 

Si gadis dan temannya mempercepat langkah dan ogah menaiki satu dari angkot tersebut. Si gadis terus memikirkan celetukan mesum si supir angkot yang diiringi dengan pandangan mata nakal ke arah dadanya dan dada temannya. Ia merasa tak terima karena sudah dilecehkan.

Adegan ketiga:
“Assalamu’alaikum….”
Beberapa pemuda yang sedang nongkrong, serempak mengucapkan kata yang menyejukkan itu ketika si gadis dan beberapa orang temannya yang mengenakan hijab lebar, melewati gerombolan itu. Tak ada pandangan nakal, tak ada kalimat mesum, yang ada hanya ucapan salam yang menyejukkan. Itu sering terjadi sejak si gadis mengenakan busana muslimah yang menutup aurat dari kepala sampai ujung kaki.

Sebentar lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus. Apa makna kemerdekaan bagi seorang muslimah, khususnya saya sendiri? Bagi saya, merdeka adalah ketika saya telah mengenakan hijab. Adegan pertama dan kedua benar-benar terjadi kepada saya dan merupakan salah satu pendorong keputusan mengenakan hijab. Adegan ketiga terjadi ketika saya telah berhijab. Sewaktu saya belum berhijab, rasa-rasanya kok semua lelaki memandang saya dengan nafsu. Ada saja celetukan-celetukan nakal yang keluar dari mulut mereka, padahal pakaian saya biasa saja. Walaupun belum berhijab, saya tidak memakai pakaian yang seksi. Saya kesal sekali. Kesaaaaal! Rasanya saya tidak bebas bergerak di hadapan laki-laki, karena selalu menjadi sasaran mata-mata nakal. 

Saya juga dipusingkan dengan kondisi fisik.  Betis mesti ramping, rambut mesti bagus, kulit mesti halus. Haduuuh… ribet deh jadi perempuan. Saya minder dengan betis saya yang tidak seramping perempuan-perempuan lain. Saya minder dengan rambut saya yang tidak hitam dan lebat. Saya minder dengan kulit saya yang kurang mulus. Padahal, Allah sudah memberikan kondisi fisik yang sempurna untuk saya, toh tidak kurang satu apa pun. Ini kenyataan lho. Teman-teman laki-laki sering membanding-bandingkan kondisi fisik anak-anak perempuan. 

“Eh, si itu betisnya kecil banget, ya….”
“Gue suka si A karena kulitnya halus dan berbulu….” (berbulu? Monyet juga berbulu, yak qiqiqi….)

Ya, ampyuuuun…. Fisik melulu sih yang dibahas? Betapa sakit hatinya saya kalau kelak suatu hari nanti saya dipilih oleh seseorang karena saya cantik. Beuuh… kita kan nggak bisa cantik terus, toh? Kalau baru bangun tidur, pasti jelek. Gimana coba kalau laki-laki itu memilih perempuan karena cantiknya, eh cantiknya memudar pas bangun tidur hihihi….

Saya ingin suatu hari nanti seorang lelaki memilih saya bukan karena saya punya betis yang ramping, kulit yang mulus, bentuk tubuh yang aduhai, rambut yang lebat, dan berbagai kriteria fisik lainnya, tetapi karena inner beauty. Untungnya tidak semua lelaki memilih calon istri berdasarkan fisik. Agar saya merdeka dari penilaian secara fisik, saya memutuskan untuk berhijab. Hijab telah memerdekakan diri saya dari hawa nafsu lelaki, juga diri sendiri. Lho? Diri sendiri? Iya, sebelum berhijab, saya mati-matian merawat tubuh agar bisa secantik bidadari.

Olahraga kaki biar betisnya ramping, pakai lulur setiap hari biar kulitnya mulus, pakai minyak cem-ceman biar rambut lebat dan hitam, pakai ini, pakai itu. Halah. Capek, bo. Kenapa capek? Soalnya, nggak ada hasilnya, hihihi…. Seorang muslimah tetap harus merawat diri, tetapi niatkan untuk mensyukuri anugerah ilahi bukan untuk puja dan puji. Dengan berhijab, insya Allah saya terhindar dari niatan merawat diri untuk puja dan puji. 

Hijab telah membuat saya merdeka dari celetukan dan pandangan nakal para lelaki. Hijab telah menyeleksi calon suami saya, bukan seorang lelaki yang memilih istri karena kecantikan fisiknya melainkan karena agamanya. Hijab telah memerdekakan saya dari keinginan pribadi, melainkan tunduk dan taat kepada keinginan Allah Swt. 





Saat saya berhijab, saat itulah saya merdeka.

Diikutsertakan dalam BW Spesial Blogger Muslimah
#BloggerMuslimah #GerakanMenuju Sholehah 

http://bloggermuslimah.com/

Jumat, 07 Agustus 2015

Memupuk Kesabaran di 10 Hari Terakhir Ramadan

Menemani anak-anak buka puasa di mall jam 12 siang


Assalamu’alaikum. Alhamdulillah, sudah lebih dari dua minggu yang lalu kita merayakan Idulfitri. Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu diterima Allah Swt ya. Saya sendiri sudah pulang dari mudik di Garut. Mudiknya cukup panjang, berangkat hari Rabu H-2 lebaran, dan pulangnya juga hari Rabu, H+6 lebaran. Suami ambil cuti satu minggu dan anak-anak pun sedang liburan sekolah, jadi pas deh.


Ramadan tahun ini memiliki arti yang berbeda bagi saya, terutama sebagai seorang ibu yang sedang mengajarkan anak-anaknya untuk berpuasa pertama kalinya. Si sulung, Ismail (7 tahun), sudah mengenal puasa, karena di sekolahnya diajarkan puasa sunah setiap hari Kamis, sedangkan Sidiq (6 tahun), si tengah, baru belajar puasa. Sebenarnya banyak orang tua yang mengajarkan anak-anaknya berpuasa dari umur 5 tahun, bahkan ada yang dari umur 4 tahun, tapi saya memilih mengajarkan anak-anak saya berpuasa setelah berumur di atas 6 tahun. 

Pada hari pertama puasa, Ismail diperbolehkan berbuka jam 12 siang. Namanya juga anak-anak, belum jam 12 sudah merengek-rengek minta buka. Sebenarnya Ismail minta buka puasa bukan karena lapar, tapi karena melihat adiknya yang bungsu sedang makan jajanan. Jadi, godaan puasanya ada pada si bungsu ini yang umurnya memang baru 3 tahun, belum puasa dan belum bisa dikasihtahu kalau harus makan sembunyi-sembunyi dari kakak-kakaknya. Kalau di sekolah, Ismail lebih bisa menahan diri untuk makan sampai jam 12 siang, karena teman-teman di sekolahnya kan juga nggak makan. Berhubung puasa kali ini bertepatan dengan liburan sekolah, jadi deh Ismail lebih banyak puasa di rumah. Saking kesalnya karena nggak boleh makan, Ismail tanya, “Kenapa sih kita harus puasa? Ismail nggak suka puasa!” 

Nah lho! Anak saya nggak suka puasa! Apakah anak saya bukan anak yang soleh? 

Hm, justru anak-anak itu jujur. Mereka mengutarakan apa yang benar-benar ada di dalam hatinya tanpa manipulasi. Kalau orang dewasa ditanya, “Apa kamu suka puasa?” Supaya disebut “soleh,” mereka bisa saja menjawab, “Oh, suka dong. Puasa itu kan menunjukkan bahwa kita orang beriman.” Padahal, jujur saja, siapa sih yang suka berpuasa? Orang dewasa saja banyak yang berpura-pura puasa, tapi diam-diam berbuka sebelum waktunya. 

Saya ingat sewaktu kecil, saya juga nggak suka puasa. Puasa itu ibadah yang paliiiing berat. Setiap memasuki bulan Ramadan, saya sudah mengeluh duluan. Duh, nanti nggak bisa makan-minum lagi deh. Memang, yang paling berat itu menahan nafsu untuk makan dan minum, karena anak kecil kan belum punya nafsu lain, seperti yang dimiliki orang dewasa. Mengapa Allah mewajibkan kita berpuasa? Apakah Allah ingin menyiksa kita? 

Pertanyaan Ismail membuat saya berpikir. Dulu saya malah nggak punya pertanyaan semacam itu. Kenapa kita harus puasa? Paling-paling saya menemukan jawabannya di buku-buku agama bahwa puasa itu wajib, puasa itu untuk Allah, puasa itu menahan diri dari hawa nafsu, dan sebagainya. Saya tidak menemukan arti filosofis dari berpuasa, sampai Ismail bertanya.

“Karena nggak semua keinginan Kakak bisa langsung dipenuhi saat itu juga. Kakak harus sabar menunggu waktunya berbuka puasa,” kata saya, ketika Ismail merengek lagi. Itulah arti “puasa” yang bisa saya jelaskan kepada Ismail, karena dia masih kecil, jadi harus dikasih penjelasan yang bisa masuk ke otak kecilnya. Memang, jawaban saya itu nggak langsung bisa “membujuk” Ismail, tapi hari demi hari Ismail makin bisa memahami arti puasa. 

Puasa mengajarkan kita untuk bersabar. Saya jadi merenung sendiri. Soal sabar, saya sendiri masih harus banyak sekali belajar. Sepuluh hari menjelang lebaran, uang THR dari kantor suami belum turun. Rekening tabungan saya pun belum terisi. Saya mengikuti beberapa lomba menulis, hasilnya nihil. Kalah melulu, sampai bosan. Royalti buku? Belum bulannya. Phiuuh…. Padahal, kebutuhan lebaran dan mudik harus cepat dibeli. Kalau belinya mepet lebaran, harga sudah melonjak tinggi. Sebenarnya, suami sudah dapat uang gaji, tapi langsung ludes untuk biaya masuk sekolah anak-anak. Dua anak saya sekolah di SD Islam Terpadu, biayanya lumayan juga. Jadi, kami memang harus sabar menunggu uang THR turun dan saya harus sabar siapa tahu menang lomba menulis. 

Sabar itu mudah diucapkan, tapi sulit dipraktekkan. Mumpung sudah masuk 10 hari terakhir Ramadan, saya memupuk kesabaran dengan memperbanyak ibadah. Toh, kemenangan Idulfitri itu artinya menang mengalahkan hawa nafsu selama bulan Ramadan, termasuk nafsu beli ini itu menjelang lebaran.  Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah saw biasa ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadan, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadist di atas menunjukkan keutamaan 10 hari terakhir Ramadan. Rasulullah semakin memperkuat ibadahnya pada 10 hari terakhir Ramadan, karena merupakan penutup bulan Ramadan yang diberkahi dan mengharapkan Lailatul Qadar (malam seribu bulan) yang muncul pada malam-malam terakhir Ramadan. Bagi mukmin yang bersungguh-sungguh beribadah di hari-hari terakhir Ramadan, akan mendapatkan maghfiroh (ampunan) Allah Swt. Sayangnya, kita memang sering kali melalaikan malam-malam terakhir Ramadan ini karena disibukkan dengan urusan lebaran, mudik, dan sebagainya. 

Kesabaran itu juga saya temukan pada wajah-wajah amil zakat yang menunggui stan pembayaran zakat, infak, dan sedekah di sebuah mall. Pada H-5 lebaran, akhirnya THR suami pun turun dan suami mengajak kami ke mall sambil ngabuburit, membeli beberapa keperluan lebaran. Ketika hendak menaiki eskalator, saya melihat beberapa pemuda yang sedang bersabar menunggui stan pembayaran ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) dari sebuah lembaga yang terpercaya. Ratusan orang hilir mudik melewati stan tersebut, tapi tak ada seorang pun yang mampir. Saya memang sempat agak lama memperhatikan stan tersebut, sambil menunggu suami selesai memarkirkan mobil. Saya dan anak-anak turun duluan, sementara suami mencari tempat parkir, saking  penuh dan banyaknya kendaraan yang masuk ke dalam mall. Ironis. Begitu banyaknya orang yang berbelanja urusan dunia, tapi belum ada seorang pun yang mampir ke stan ZIS itu untuk berbelanja urusan akhirat. 

Akhirnya bisa pakai baju baru yang dibeli di mall itu :D
Saya pun masih berpikir-pikir, apakah saya bayar zakat di situ atau tidak? Alhamdulillah, akhirnya saya dapat rezeki juga, alias transferan uang, tambahan penghasilan dari menulis. Memang belum dizakatkan. Satu hal yang membuat saya pikir-pikir adalah, perasaan tidak enak membayar zakat di tempat umum di mana orang-orang hilir mudik. Apa yang terjadi kemudian? Saya menjadi sama saja dengan orang-orang lain yang hanya melewati stan tersebut dengan berjuta perasaan bersalah.

Duh, pelit banget, sih? Paling bayar zakat berapa, sih?

Sambil memilih-milih barang keperluan lebaran, saya tanya ke suami, boleh nggak kalau nanti saya bayar zakat di stan itu? Suami jawab, terserah. Setelah puas belanja, beberapa jam kemudian, saya turun kembali ke tempat parkir dan lagi-lagi bertemu dengan stan tersebut yang masih belum dihampiri seorang pun. Mungkin saja selama saya berbelanja, ada orang yang sudah bayar zakat di sana. Mudah-mudahan begitu. Ekspresi wajah para amil (pengumpul) zakat itu terlihat begitu sabar menunggu pembayar zakat, sambil sesekali menawari pengunjung untuk membayar zakat. Baiklah. Ini tidak bisa dibiarkan. Saya harus bisa mengalahkan hawa nafsu. Dengan langkah perlahan—saking gugupnya—saya hampiri stan ZIS tersebut dan menunaikan kewajiban membayar zakat.

“Jazakumullah, semoga Ibu dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan,” itu ucapan amil zakat yang saya ingat, setelah saya membayarkan zakat tersebut. Saya lega sudah bisa mengalahkan hawa nafsu untuk menguasai sendiri rezeki dari Allah Swt, sekaligus malu karena jumlah yang saya berikan itu sebenarnya tidak banyak. Saya pulang sambil masih mengingat-ingat kejadian itu. Satu hal yang memotivasi saya membayar zakat melalui lembaga itu, karena zakatnya akan disalurkan untuk pembangunan pesantren penghafal Al Quran. Saya berharap bisa kecipratan pahala hafalan Al Qurannya itu, walaupun sedikit. Aamiin….

Tak disangka, ternyata janji Allah itu benar, bahwa zakat itu seperti pohon yang buahnya lebat. Hanya sehari berselang setelah saya membayar zakat, nama saya disebut seorang teman di facebook sebagai salah satu pemenang lomba blog! Masya Allah! Kesabaran saya telah menemukan muaranya. Sabar menunggu rezeki Allah Swt di hari-hari terakhir Ramadan. Subhanallah walhamdulillah…. Saya yakin rezeki itu juga karena kesabaran menahan hawa nafsu, termasuk nafsu menghabiskan seluruh rezeki untuk diri sendiri, melainkan sebagian disalurkan dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah. 

Hadiah Lebaran untuk Anak-anak
Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menang di hari raya Idulfitri yang lalu dan senantiasa memupuk kesabaran tak hanya di bulan Ramadan melainkan juga di bulan-bulan selanjutnya.





Kamis, 30 Juli 2015

Cara Mendapatkan Jodoh yang Halal dan Berkah

Mana ya jodohku?
Assalamu'alaikum. Sedang marak perbincangan mengenai Poligami nih. Sebenarnya, tema ini bukan tema yang baru. Dulu pernah meledak juga saat ada kampanye Poligami yang dilakukan pengusaha Ayam Bakar Wong Solo. Semakin marak setelah beberapa Ustaz juga berpoligami. Dan sekarang marak lagi dengan kehadiran sebuah film bertema Poligami. Uniknya, ada seorang akhwat muslimah yang berteriak minta dinikahi oleh lelaki beristri sambil mengancam-ancam segala. Apa nggak kasian dengan perempuan-perempuan yang masih lajang dan nggak juga mendapatkan jodoh? Jangan tidur di pelukan satu istri saja, bla, bla bla. 


Sikap saya terhadap Poligami adalah menerimanya sebagai salah satu kebolehan di dalam Islam. Jika dimaknakan dalam  Al Quran surat An Nisa: 3 "Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat--kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja--atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya." Maka, Poligami adalah pilihan.

Sebenarnya, makna dari surat itu sudah gamblang sekali ya. Entah kenapa sampai sekarang masih terjadi perdebatan Pro dan Kontra. Bahkan ada yang mewajibkan Poligami. Subhanallah.. berat sekali jika sampai Poligami diwajibkan. Bukan saja wanitanya yang pasti banyak yang tidak sanggup. Laki-laki pun belum tentu sanggup berbuat adil dengan Poligami, lho. Jadi, sudah benar ketentuan Allah. Allah tidak melarang Poligami, tidak pula mewajibkannya. Bagi yang mau Poligami, silakan saja, asal adil. Bagi yang tidak sanggup, ya tidak apa-apa. Lalu, kenapa pula ada yang seolah mewajibkan dan ada pula yang mengingkari?

Memang banyak akhwat muslimah yang belum juga menikah, sementara usia sudah merambat naik. Begitu juga, banyak laki-laki yang belum menikah di saat kondisi sudah mengharuskan untuk menikah. Jadi, sebenarnya bukan muslimah saja yang cemas perihal jodoh. Muslim juga. Ketika saya menerbitkan buku "Taaruf: Proses Pernikahan Sesuai Syari Islam", saya malah banyak diminta menjadi Mak Comblang, lho. Beberapa ikhwan dan akhwat meminta tolong dicarikan jodoh oleh saya. Saya sih mau-mau saja, tapi setelah dijalani ternyata susaaaaah..... Terutama dari sisi akhwatnya. Ini bukan penghakiman ya (kalau perempuan itu suka milih-milih), tapi kisah nyata. Dari sisi akhwat, mintanya ketinggian. Banyak deh alasan penolakannya, dari mulai fisik yang nggak oke, pekerjaan kurang meyakinkan, pendidikan kurang tinggi, dan sebagainya. Sedangkan para ikhwan lebih bersikap terbuka menerima jodoh yang diajukan. Tapi ya itu, gagal dari pihak akhwatnya yang mintanya ketinggian. Nah, lho! 

Pengalaman saya sendiri, memang dulu saya pernah juga bersikap pilih-pilih. Sampai usia 25 (target menikah), saya pun bersikap pasrah. Setelah beberapa kali gagal berjodoh karena pilih-pilih itu, saya memasrahkan pilihan terakhir kepada Allah. Dalam hati saya bertekad, "Siapa pun yang sudah dipilihkan oleh Allah, saya akan terima, walaupun dia mukanya jelek. Nggak apa-apa deh. Saya ikhlas." Alhamdulillah, setelah kepasrahan itu, ternyata saya berjodoh dengan calon terakhir, dan syukurlah dia nggak jelek hehehe....

Daripada meminta lelaki beristri untuk Poligami (yang mana bisa jadi si lelakinya yang nggak siap. Nggak siap kok dipaksa Poligami), lebih baik berusaha mencari jodoh yang masih lajang. Insya Allah masih banyak kok, tenang saja. Berikut ini cara mendapatkan jodoh yang halal dan berkah ala saya: 

Berdoa minta jodoh
Jodoh itu siapa yang punya? Allah. Jadi, mintalah kepada Allah. Saran saya, mintalah jodoh yang soleh. Ya, cukup itu saja syaratnya karena di dalamnya sudah terkandung semua kebaikan. Nggak perlulah minta jodoh yang wajahnya mirip Lee Min Ho, kekayaannya sebanyak Raffi Ahmad, kepintarannya seperti Bill Gates, dan sebagainya. Cukup minta "soleh" saja. Syarat lain, Allah sudah tahu kok. Tidak usah mendikte Allah minta yang seperti ini, seperti itu. Kalau kebanyakan, nanti malah nggak terpenuhi. Seperti kisah dalam surat Al Baqarah, ketika Bani Israel diminta mencari Sapi Betina. Terlalu banyak pertanyaan seperti apa Sapi Betina yang diinginkan, akhirnya malah nggak bisa mendapatkan Sapi Betina tersebut saking syaratnya banyak banget. 

Perbanyak Salat Tahajud, Hajat, dan Istikharah
Bangunlah di sepertiga malam dan laksanakan salat-salat Sunah seperti di atas itu. Allah dekat pada hamba-Nya di sepertiga malam. Allah akan mengabulkan semua doa yang dipanjatkan pada waktu-waktu itu. Nggak percaya? Coba rutin laksanakan dan rasakan manfaatnya. Salat Hajat dikhususkan untuk meminta apa yang diinginkan. Kalau minta jodoh, ya mintalah. Salat Istikharah dikhususkan agar kita mantap dalam menentukan pilihan. Jadi, kalau ada jodoh yang datang, kita bisa mantap, nggak ragu-ragu. Sanggup bangun malam dan melaksanakan salat-salat di atas?

Rutinkan Salat Dhuha
Di waktu pagi, pada sekitar jam 8 sampai 11 pagi, ada sunah Salat Dhuha untuk memperlancar rezeki. Jodoh itu juga rezeki, bukan? Maka, rutinkan salat Dhuha pada jam-jam itu, yaa.... 

Puasa Senin-Kamis
Rajinlah puasa sunah Senin-Kamis, karena saat berpuasa, doa-doa kita cenderung makbul. 

Tingkatkan Kualitas Diri
Kita ingin jodoh yang seperti apa? Jadilah seperti jodoh yang kita inginkan itu, karena jodoh itu sekufu (sepadan, sama). Kalau mau yang soleh, maka kita harus jadi solehah. Mau yang baik, ya kita harus jadi baik dulu. Mau yang ini, yang itu, dan sebagainya? Jadilah seperti itu. Kalau enggak, ya nggak ketemu, karena jodoh itu sekufu.

Carilah Jodoh dari Jalan Mana Saja
Nggak usah gengsi bila orang tua mau menjodohkan. Jalani saja dulu, siapa tau cocok. Begitu juga kalau ada tawaran dari kerabat, teman, dan sebagainya. Nggak perlulah kita bilang, "Emangnya sekarang zaman Sitti Nurbaya?" Pada zaman Sitti Nurbaya, cari jodoh nggak sesulit sekarang karena orang-orang pada masa itu lebih bersikap menerima dan  terbuka. Cari jodoh lewat Biro Jodoh? Boleh juga lho! Asal Biro Jodohnya terpercaya dan sesuai syariah. 

Perbanyak Silaturahim
Silaturahim akan membuka pintu rezeki, termasuk juga jodoh. Semakin banyak ketemu orang, peluang jodoh akan terbuka lebar.
 
Tawakal (Pasrah kepada Allah)
Setelah ikhtiar (usaha) dan doa, selanjutnya ya tawakal. Memasrahkan hasilnya kepada Allah. Pernah merasa nggak, "Pas usaha mati-matian kok nggak dapet-dapet ya. Begitu udah pasrah, eh malah dapat." Nah, itu bener banget. Tutuplah usaha dan doa kita dengan tawakal. 

Berjodoh secara Halal
Kalau sudah dapat calon jodohnya, perkenalan sudah oke, rencana pernikahan sudah di depan mata, tetaplah menjaga interaksi sesuai syariat yaaa.... Sebelum ijab kabul, pasangan calon pengantin masih haram lho. Jadi, jangan berdua-duaan, karena yang ketiganya kue nastar, eh setan.

Saya turut mendoakan, semoga para lajang yang masih dan sedang mencari jodoh, segera mendapatkan jodohnya yang halal dan berkah. Tidak sampai merusak rumah tangga orang. Tidak sampai menzalimi siapa-siapa. Tidak melewati batas-batas syariat. Aaamiin....

Rabu, 08 Juli 2015

Renungan Ramadan: Ayo, Berubah!

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka." (QS: ar Ra'd: 11)

Assalamu'alaikum. Alhamdulillah, pagi ini bisa ngeblog lagi, nggak harus nganter ke sekolah karena udah libur lagi hehe.... Tiga hari kemarin saya mengantar sekolah anak-anak yang sekarang udah SD dan sekolahnya juga makin jauh. Kurang lebih dua kilometer melewati jalan raya. Tadinya saya masih takut-takut mau nganterin pake motor. Saya udah belajar naik motor dari tahun lalu, tapi masih takut bepergian jauh melewati jalan raya. Selama ini masih di sekitar perumahan aja, nganter ke sekolah TK si tengah, sedangkan si sulung masih diantar tukang ojek.


Kemarin-kemarin, saya masih berpikir untuk tetap menyewa tukang ojek. Ismail dan Sidiq masuk SD yang sama. Kalau dua-duanya diantar tukang ojek, terus kerjaan saya apa? Terus, gimana ini motor yang udah dibeli dengan tujuan mengantar sekolah anak-anak? Masa nganggur di rumah? Ntar mesinnya mati pula kalo jarang dipake. Suami memotivasi saya agar BERANI naik motor lebih jauh lagi ke sekolah anak-anak. Kalau selama ini cuman di komplek perumahan, ya sekarang dicobalah ngelewatin jalan raya. Heuheu....

Baca ayat di atas, hm bener juga ya. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu nggak mau mengubahnya sendiri. Artinya, kalau kita nggak mau berubah ya bakal tetap di situ aja. Nggak maju-maju. Kalau saya nggak mencoba untuk berani naik motor ke sekolah anak-anak, ya selamanya begitu terus. Naik motor cuman di sekitar perumahan aja. Akhirnya, bismillah... pas bayar daftar ulang dan kekurangan biaya masuk sekolah anak-anak, saya coba naik motor sendiri. Pelan-pelan aja. Ternyataaa.... saya bisa! 

Saya berhasil menaklukkan rasa takut naik motor sendiri ke jalan raya. Alon-alon saja asal kelakon. Nggak perlu ngebutlah. Kalau dihitung, saya sudah 4x ya ke sekolah anak-anak bawa motor sendiri. Norak-norak bergembira deh. Saya bersyukur dikaruniai keinginan untuk berubah. Berubah ke arah yang lebih baik lho ya. Pernah nggak Anda bertemu dengan orang yang nggak mau berubah? Rasa takut untuk berubah itu bisa menghambat kemajuan kita. Selama perubahan itu adalah perubahan yang baik, ayo berubah! Jangan sampai waktu terus berlalu dan kita masih diam di tempat. 

Sama halnya saat mau mengganti domain blog ini menjadi TLD (Top Level Domain) alias domain berbayar. Bukan soal bayarnya, tapi saya khawatir nanti setelah jadi TLD, saya malah berhenti ngeblog, seperti beberapa orang blogger yang saya kenal. Saya juga khawatir nanti domainnya hilang lalu tulisan saya nggak bisa diakses karena saya nggak bayar perpanjangannya. Saya khawatir.. bla.. bla.. bla.... Lama banget mikirnya mau ganti TLD. Alhamdulillah, jadi juga ganti domainnya. Moga-moga saya masih konsisten ngeblognya yak. 

Semoga Allah memudahkan setiap perubahan ke arah kebaikan yang kita lakukan. Aamiin.....

Rabu, 01 Juli 2015

Renungan Ramadan: Rahasia Rezeki

"Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibandingkan dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)." (QS: Ar Ra'd: 26) 

Masalah rezeki ini memang masalah krusial dalam hidup manusia. Semua orang pasti ingin dikasih rezeki yang banyak dan berlimpah. Sebagai seorang penulis, rezeki saya--salah satunya--datang dari aktivitas menulis. Yang paling banyak sih dititipin lewat suami, hihihi.... Itu bisa dikatakan rezeki tetap, ya, insya Allah. Moga-moga suami selalu dilapangkan rezekinya oleh Allah, sehingga tidak absen kasih setoran ke saya :D 


Rezeki tidak tetap adalah dari menulis. Mengapa disebut "tidak tetap"? Karena hasilnya memang tidak menentu. Kadang sebulan dapat banyak, lebih seringnya tidak dapat apa-apa, kecuali tabungan tulisan untuk membawa rezeki di masa depan. Royalti menulis buku itu biasanya 6 bulan sekali, tapi sekarang ini penjualan buku (bukan hanya saya, tapi banyak penulis juga mengalaminya) kurang begitu bagus. Banyak buku yang diterbitkan, tapi minat baca dan beli tidak bisa menyamainya. Kalau dulu saya bisa dapat royalti setiap 3 dan 6 bulan, sekarang tidak lagi. Bisa jadi baru tahun berikutnya saya dapat royalti. Tapi, minat menulis buku masih ada, karena buku itu abadi dan bisa dibaca sampai ke pelosok Indonesia dan diturunkan dari generasi ke generasi. 

Selain menulis buku, saya juga cukup rajin ikut lomba blog. Pekerjaan ini bisa dibilang untung-untungan ya, karena saya masih belum bisa dikatakan "sering menang." Lebih banyak kalahnya. Jadi kalau pas menang, ya itu lagi "untung." Rezeki dari lomba blog, saya sebut sebagai rezeki yang tidak disangka-sangka. Saya belum bisa memastikan apakah tulisan saya bakal menang atau tidak. Ada yang saya kira bakal menang, ternyata tidak. Begitu juga kalau saya "ngintip" tulisan blogger yang sering menang lomba blog. Saya kira tulisannya itu juga bakal menang, eh ternyata tidak. Jadi, walaupun blogger itu sering menang lomba blog, tetap saja kadang-kadang dia mengalami kekalahan juga lho. 

Baru-baru ini, saya mengikuti dua lomba blog yang saya usahakan dengan maksimal. Yang pertama, saya tulis di awal lomba untuk mendapatkan 50 hadiah pengirim pertama. Saya sudah yakin bakal dapat voucher belanja untuk pengirim pertama itu lho. Eh, ternyata... tidak! Yang kedua, saya mengikuti lomba blog semi SEO, yang mana kualitas tulisan dan posisi di google menjadi penentu penilaian. Saya berusaha mendudukkannya di halaman pertama google, dan berhasil. Tapi, apa yang terjadi saat pengumuman pemenang? Lah, malah peserta yang duduk di halaman kedua itu yang jadi juara pertama. 

Sebaliknya, saya juga sudah mengalami berbagai keajaiban rezeki dari Allah. Dulu, saya pernah menang lomba blog hadiah utama ke Bali yang diadakan oleh fanspage Zombigaret. Para peserta protes karena judul tulisan saya itu salah. Harusnya "Zombi" tapi saya tulis "Zombie." Wong, kalau dalam bahasa Inggris kan Zombie. Biarpun diprotes peserta, tetap saja juri memilih tulisan saya sebagai pemenang. Yang kedua, dalam lomba blog yang juga semi SEO. Tulisan saya duduk di halaman kedua, tapi saya jadi juara dua. Sedangkan ada yang duduk di halaman pertama, jadi juara empat. Bagi saya, itulah keajaiban rezeki.

Dari situ, semakin yakinlah saya, bahwa rezeki itu memang di tangan Allah. Saya tidak lagi protes ke panitia dan juri kalau tidak dipilih sebagai pemenang. Walaupun mungkin jurinya ada kesalahan, ya biar sajalah. Memang itu sudah skenario Allah. Allah yang meluaskan dan menyempitkan rezeki seseorang. Sekuat apa pun kita berusaha, kalau itu bukan rezeki kita, pastinya tidak akan ada di tangan kita. Seperti seseorang yang baru beli hape, tapi kemudian hapenya dicopet maling. Hape itu menjadi rezeki si maling, tak peduli diambilnya melalui jalan haram. 

Dan, seperti kata Allah, kehidupan yang paling baik adalah kehidupan di akhirat kelak. Semua usaha dan amal yang kita kumpulkan untuk akhirat, insya Allah tidak akan luput dari perhitungan Allah. Jadi, kalau kita bisa bersusah payah mengumpulkan rezeki untuk kesenangan dunia, mengapa kita tidak juga bersusah payah mengumpulkan rezeki untuk kesenangan akhirat?

Selasa, 30 Juni 2015

Renungan Ramadan: Jagalah Keluargamu dari Api Neraka

"Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS; At Tahrim: 6)

Al Quran adalah peringatan. Allah Swt menurunkan Al Quran bukan sekadar untuk pajangan di lemari buku atau bahan olok-olok. Miris sekali rasanya, ketika saya membaca komentar seorang remaja yang menanggapi tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseks, dan Transgender) yang baru kemarin mendapat pelegalan pernikahan di 50 negara bagian Amerika. Mengapa miris? Karena remaja itu justru mempertanyakan keberadaan Tuhan (Allah). "Memangnya kalian sudah pernah melihat Allah? Kalian tahu  bagaimana rupa Allah? Saya belum pernah lihat tuh. Saya nggak percaya Allah kalau belum pernah lihat." 


Naudzubillahimindzalik.... Entah bagaimana didikan orangtuanya hingga remaja itu tidak tanggung-tanggung mengakui dirinya seorang Agnostis, yaitu seseorang yang lebih mengagungkan ilmu pengetahuan daripada keberadaan Tuhan. Jika keberadaan Tuhan belum dibuktikan secara ilmiah, maka dia tidak akan mempercayainya. Tak heran bila banyak remaja yang mendukung LGBT, karena lebih mendewakan Hak Asasi Manusia dan kebebasan individu daripada larangan Allah.

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya mewawancarai beberapa orang remaja SMA dari  SMA-SMA di Jakarta dan beberapa orang mahasiswa dari perguruan tinggi-perguruan tinggi di Jakarta mengenai Gaya Hidup Remaja Zaman Sekarang. Respondennya diambil secara acak. Jawaban mereka nyaris serupa. Gaya hidup remaja sekarang adalah konsumtif, hedonis, suka menghamburkan uang orangtua, suka berfoya-foya, dan akan melakukan sesuatu yang disukainya sekalipun itu melanggar perintah agama. 

Bahkan, ada yang mengaku sudah hidup serumah dengan pacarnya tanpa menikah dan tidak diketahui orangtuanya. Mereka membohongi para orangtua. Rata-rata dari remaja itu adalah anak tunggal dari keluarga ekonomi menengah atas yang selalu dipenuhi kebutuhannya oleh orangtua. Dan.... mahasiswa yang mengaku sudah kumpul kebo itu malahan kuliah di perguruan tinggi yang berlabelkan agama (Islam)! 

Orangtua mana yang tidak mau mencukupi kebutuhan anak-anaknya? Demi anak, mereka rela memberikan apa saja, bahkan rela banting tulang. Orangtua rela bersusah payah memenuhi kebutuhan duniawi anak-anaknya, tapi sudahkah mereka memenuhi kebutuhan ukhrowi (akhirat) anak-anak? Tak cukup hanya disekolahkan ke sekolah agama, anak-anak membutuhkan teladan langsung dari orangtuanya. Ini pengalaman adik saya sewaktu mengajar kelas 1 SD di sebuah SDIT (SD Islam Terpadu). 

Ada seorang anak kelas 1 SD yang bermasalah. Baru kelas 1 SD sudah bermasalah. Mungkin kalau kita menyebutnya, nakal sekali. Adik saya pun berbicara dari hati ke hati dengan anak itu dan diketahuilah akar masalahnya. Anak itu tidak mau diajak salat, karena ayah dan ibunya juga tidak salat. Ayah dan ibunya sering berantem di rumah. Ayah sering memukuli Ibu. Ibu sering teriak-teriak stres. Percuma bayar biaya sekolah SDIT mahal-mahal, kalau orangtua tidak bisa menjadi teladan juga bagi anak-anaknya.

Tentunya, kita semua ingin keluarga kita bisa masuk ke dalam surga, bukan hanya kita saja. Kita ingin masuk surga bersama suami dan anak-anak. Allah Swt sudah menyuruh kita untuk menjaga diri kita dan keluarga kita agar jangan sampai masuk neraka. Dan terutama soal LGBT yang sudah jelas-jelas dilaknat Allah, berikan pemahaman kepada anak-anak sejak dini. Laki-laki tidak boleh menikah dengan laki-laki, perempuan tidak  boleh menikah dengan perempuan. Mumpung Ramadan, mari bersama-sama dengan keluarga masing-masing, mengaji Al Quran dan memahami artinya. Agar kita bisa masuk surga bersama-sama. Aamiin....



Senin, 22 Juni 2015

Renungan Ramadan: Jangan Nyinyir!

Alhamdulillah, saya memiliki Al Quran yang ada terjemahan dalam bahasa Indonesianya. Jadi, setiap membaca Al Quran, saya bisa sekaligus mengetahui artinya. Bulan Ramadan ini, amalan ibadah kita akan dilipatgandakan pahalanya seperti amalan 1000 bulan. Sejak kecil, orangtua saya selalu mengajarkan untuk berlomba-lomba mengkhatamkan Al Quran. Biar makin mantap belajar Al Qurannya, saya mau membagikan terjemahan dari satu ayat Al Quran yang sudah saya baca, disertai ulasannya menurut saya. 


"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) itu lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita-wanita lainnya, boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan memanggil dengan panggilan yang buruk. Seburuk-buruk nama (panggilan) ialah yang fasik (jelek) sesudah iman. Dan siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang yang zalim. (Al Quran Surat Al Hujurat: 11) 

Subhanallah, saya seperti diingatkan lagi ketika membaca surat ini. Allah Swt melarang kita saling menghina, mengolok-olok, mencela, dan menjelek-jelekkan orang lain. Itulah salah satu akhlak Islam. Jadi, tidak benar kalau Islam itu identik dengan kekerasan, karena untuk urusan "lidah" pun, Allah Swt menyuruh kita agar menjaganya dengan tidak mengeluarkan kata-kata kotor dan keji, apalagi bila sampai melukai hati orang lain. Boleh jadi, orang yang kita hina (olok-olok) itu lebih baik daripada kita. Di zaman sekarang, kata "olok-olok" itu lebih beken dengan sebutan "nyinyir."

Baca lagi ayat di atas, ada titik tekan pada siapa ayat ini ditujukan. Siapa? WANITA. Yap, wanita. Mengapa wanita? Jawabannya mudah saja. Wanita memang paling demen nyinyir. Bagaimana dengan saya? Saya juga wanita dan saya manusia biasa yang sering khilaf. Walaupun saya sudah membaca ayat ini sejak duduk di bangku SMP, terkadang lidah saya pun masih kerap nyinyir. Kalau ngomong face to face, saya malah bisa mengendalikan nyinyir, karena saya aslinya pendiam. Pergaulan di sosmed itu tantangan tersendiri untuk menahan diri dari nyinyir. Bukan tidak sedikit saya terjatuh juga ke dalam nyinyir. Nyinyir-nyinyir di status facebook dan twitter, terutama. 

Itu kenapa dalam dunia sosmed, ada sebutan yang namanya "MOM WAR." Yang masih gadis, ternyata ada yang belum kenal apa itu Mom War. Ya, itulah perang ibu-ibu di sosmed, dalam segala hal. Akhirnya, jatuh ke dalam nyinyir. Merasa menjadi ibu yang lebih baik daripada ibu-ibu lainnya. Nyinyir itu asal katanya "mencibir" atau "nyibir." Soalnya kalau lagi nyinyir, bibir kita maju beberapa senti, ya toh? Wanita memang asal penciptaannya itu suka berbicara dan cerewet. Jadi, semakin jelas mengapa ayat tersebut  menekankan pada wanita. Mari kita istighfar sama-sama. Itulah gunanya membaca Al Quran, kita jadi sering diingatkan. Kalau lupa, ya diingatkan lagi. Untuk mengurangi nyinyir, sudah beberapa bulan ini saya tidak memakai internet di ponsel lagi. Lho?

Iya, saya hanya pakai internet di laptop. Kalau mau internetan, harus buka laptop dulu. Ribet kan? Belum lagi, saya pilih kuota terbatas. Nggak bisa sering internetan juga. Lain halnya kalau bisa internetan di ponsel. Sebentar-sebentar buka sosmed, update status, atau komentarin status-status orang sesukanya. Belum ditambah dengan mengeluh ini-itu. Seakan hidup ini nggak ada yang beres. Daripada buka sosmed, mending buka Al Quran aja yang diseringin, lebih adem dan menjawab setiap permasalahan. So,  nasihat ini untuk saya juga, karena membuka Al Quran itu memang tidak semenarik membuka sosmed, itulah godaannya. 

Nyinyir di sosmed, juga kerap disebut dengan Cyber Bullying, terutama kalau nyinyirnya langsung ke orang yang bersangkutan. Tidak sedikit berita-berita bunuh diri gara-gara dibully di sosmed. Dihina dan dicaci oleh penghuni jagad sosmed. Kalau nggak salah, ada artis Korea atau Tiongkok gitu yang bunuh diri karena cyber bullying. Sekarang kan mudah saja mau ngomentarin artis, karena mereka punya akun di sosmed. Saya pun kerap menghela napas setiap membaca komentar-komentar mengenai artis tertentu. Ternyata jari lebih ganas daripada lidah. 

Mari kita istighfar lagi, dan semoga bulan Ramadan ini dapat membuat kita menjadi lebih baik lagi dalam bersikap dan bertutur kata. Aamiin....





49-11:

Selasa, 16 Juni 2015

Marhaban ya Ramadan: Resolusi Ramadan Tahun Ini

Insya Allah, besok kita sudah memasuki bulan Ramadan. Semoga kita bisa menjalaninya dengan sukses dan lancar, kembali menjadi suci. Menjalankan ibadah puasa adalah sungguh teramat berat, karena kita harus menahan seluruh hawa nafsu. Tak hanya makan dan minum, tapi juga marah, dengki, iri, sedih, dan sebagainya. Sebagai ibu dengan tiga anak-anak usia balita yang sedang liburan (otomatis semuanya ada di rumah), emosi saya akan benar-benar ditempa di bulan Ramadan ini. Saat haus dan lapar, saya harus menghadapi kelakuan tiga anak yang sering bikin pusing kepala. Semoga Allah memudahkan saya menjalankan ibadah puasa. 


Dunia maya juga sering menjadi ujian keimanan. Kalau di dunia nyata sih bisa diatur, karena saya jarang bergaul dengan ibu-ibu tetangga, jadi tidak pernah berkelahi hehe.... Nah, di dunia maya ini justru emosi harus bisa ditata. Lho? Kenapa bisa sampai emosi, Mpok? Ya, terkadang status-status facebook itu memancing emosi, lho, tentang apa saja. Dari mulai personal sampai isu-isu yang sedang hangat. Sayang banget puasanya kalau sampai terpancing emosi dari status orang-orang dunia maya. 

Beberapa resolusi saya di bulan Ramadan ini (semoga dapat dijalankan dengan baik):
  • Membimbing anak-anak berpuasa untuk pertama kalinya, pasti ini butuh kesabaran juga dari orangtuanya. 
  • Lebih fokus di dunia nyata dengan membimbing anak-anak belajar. Sebulan liburan, kalau tidak belajar, bisa-bisa lupa lagi ilmunya. Belajar yang paling utama itu untuk anak pertama adalah membaca dongeng, salat, dan menghapal Juz 30, sedangkan anak kedua difokuskan belajar membaca karena mau masuk SD. 
  • Memperbanyak volume ibadah yang selama ini irit banget, terutama salat sunah dan tilawah. Otomatis, jadwal menulis akan berkurang. Saya sih inginnya tidak terlalu ngoyo mengikuti lomba blog untuk sebulan ke depan. Masa sudah ngos-ngosan selama 11 bulan, 1 bulan saja tidak bisa fokus ibadah? 
  • Memperbaiki akhlak, terutama akhlak kepada suami. Lebih maksimal lagi menyenangkan hati suami. Misalnya, menyambut kepulangan suami dari kantor (jadi, selama ini?? :D). 
  • Lebih pemurah lagi dalam berzakat, sedekah, dan infak. 
Semoga resolusi Ramadan saya dapat tercapai, aamiin.....

Terkhusus untuk pembaca blog ini, jika saya pernah menuliskan kata-kata di blog ini yang membuat Anda marah, sebal, terhina, tersinggung, dan sebagainya, mohon dimaafkan setulus-tulusnya yaa... Jika Allah saja mengampuni segala dosa manusia, mengapa manusia tidak? Semoga Allah menempatkan kita di surga-Nya, bertetangga dengan para Nabi-Nya. Aamiin...

Selasa, 21 April 2015

#BeraniLebih Berpikir Positif, Agar Dunia Terlihat Cerah



Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan oleh musibah kecelakaan pesawat yang menewaskan seluruh penumpangnya. Ada beberapa penumpang yang selamat. Bukan penumpang yang berada di dalam pesawat, melainkan penumpang yang tertinggal pesawat karena tidak membaca pemberitahuan perubahan jadwal penerbangan yang dikirimkan melalui email. Pada saat ketinggalan pesawat, kira-kira apa yang ada di dalam pikiran calon penumpang yang selamat itu?


“Ah, siaaaal! Gue ketinggalan pesawaat! Rugi deh gue, hilang duit gue!”

Acap kali, kita menyesali musibah yang menimpa (dan bukannya mensyukuri). Kita membiarkan pikiran negatif menguasai, tanpa mau mencoba memikirkan hikmah yang ada di balik musibah tersebut. Saya juga pernah tertinggal kereta api kelas Bisnis, padahal tiketnya sudah bayar. Saya marah-marah kepada supir taksi yang lelet jalannya. Sampai berpikir, mungkin itu supir sengaja jalannya dileletkan supaya biaya yang tertera di argometernya itu naik terus. Akibatnya, saya harus beli tiket kereta api kelas Eksekutif, karena sudah tidak ada lagi kereta kelas bisnis, kecuali saya mau menunggu sampai sore. 

Sepanjang hari, saya terus merutuki musibah itu, tanpa mencoba menikmati fasilitas yang diberikan oleh kereta api kelas Eksekutif. Di dalamnya, hanya ada sedikit penumpang. Duduk di kursi yang nyaman, bak duduk di atas sofa empuk. Kursinya bisa disandarkan kalau kita mau tiduran, juga ada bantal kecil yang empuk dan wangi. Ada fasilitas televisi di setiap gerbong, plus dapat snack dan minuman. Gerbongnya juga nyaman, tidak ada tukang jualan (saat itu, penjual makanan masih diperbolehkan berjualan di dalam kereta api kelas Bisnis). AC-nya maksimal, udara terasa sangat sejuk. Amboooi… enaknyaaa…. Pengalaman itu masih menjadi pengalaman pertama saya menaiki kereta api kelas Eksekutif. Kalau bukan karena terlambat naik kereta, kapan lagi saya bisa menikmati fasilitas itu? Dalam kondisi normal, tentu saya lebih memilih naik kereta dengan tarif ekonomis. 

Ketinggalan kereta, memang musibah. Tapi, daripada terus menyesali diri, lebih baik mencari sisi positif dari musibah itu. Pengalaman saya jadi bertambah dengan menaiki kereta api kelas Eksekutif. Lumayan bisa jadi bahan tulisan, walaupun saya harus keluar ongkos tambahan. Lah wong mau marah-marah juga tidak ada hasilnya toh? Saya juga baru saja mendapatkan musibah, yaitu paket kiriman untuk seorang teman yang saya kirim melalui sebuah jasa pengiriman, sudah hampir dua bulan belum sampai juga.  Entah paketnya hilang di mana. Tidak ada kejelasan juga dari jasa pengiriman tersebut. Hikmahnya? Lain kali saya harus berhati-hati memilih jasa pengiriman. Jika harga paketnya lumayan, sebaliknya memakai asuransi. Kalau hilang kan bisa minta ganti asuransi. Masih mending harga paketnya kemarin itu baru kisaran ratusan ribu, coba kalau jutaan? Nangis darah, kaan? 

Berpikir positif membuat hati lebih tenang dan ikhlas menerima kejadian seburuk apa pun. Termasuk jika keinginan-keinginan kita belum tercapai pada saat ini, pasti ada hikmahnya. Berpikir negatif hanya akan membuat kita stress, bahkan depresi. Aduh, saya tidak mau sampai depresi. Saya #BeraniLebih berpikir positif, agar dapat melihat dunia dengan warna-warna cerah. 



Twitter: @LeylaHana