Tampilkan postingan dengan label giveaway. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label giveaway. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Desember 2015

Tukang Pijat dalam Cerpen Berlatar Minang Karya Novia Syahidah



Nama Novia Syahidah bukan nama yang asing bagi saya. Beliau adalah penulis kenamaan pada zamannya. Zaman kapan? Zaman FLP (Forum Lingkar Pena) sedang jaya-jayanya. Saat itu, saya masih seorang penulis pemula yang berharap nama saya tercantum pada buku karya saya. Penulis-penulis FLP sedang mendapatkan tempat di hati para penerbit, salah satunya, Novia Syahidah. Saya kagum dengan beliau ini karena dulu sangat produktif menerbitkan novel, apalagi novel-novelnya tidak sembarangan. Ditulis dengan riset yang kuat, dengan latar tempat yang tidak biasa. 


Novia Syahidah berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat, daerah yang terkenal produktif menelurkan penulis-penulis berbakat dan legendaris, salah satunya Marah Roesli, penulis novel “Siti Nurbaya.” Novia Syahidah seketika membuat gebrakan, ketika karyanya muncul di Majalah Annida, majalah yang membidani kelahiran FLP. Saat itu, Majalah Annida digawangi oleh Helvy Tiana Rosa, penulis yang namanya juga sudah asing lagi. Cerita bersambung yang judulnya “Putri Kejawen,” banyak mendapatkan pujian di antara para penulis FLP. Eh, kok saya tahu? Ya, karena saya juga sudah bergabung di FLP cabang Semarang, dan nama Novia Syahidah termasuk santer diperbincangkan. 

Kemudian, cerpen-cerpen Novia Syahidah pun sering muncul di Majalah Annida dan acap kali menjadi cerpen utama saking bagusnya. Salah satu kelebihan Novia Syahidah adalah menulis cerpen bernuansa lokal yang kuat, diantaranya: tanah kelahirannya sendiri, Padang, lalu Melayu, Jawa, dan pernah juga daerah-daerah di luar negeri. Semuanya bernuansa lokal yang kuat. Saat itu, saya masih merasa berat menyerap pesan yang disampaikan Novia, karena tingkat sastranya relatif lebih tinggi. Saya masih lebih suka membaca cerpen-cerpen pop yang ringan. 

Kini, saya membaca lagi cerpen Novia Syahidah yang dimuat di blognya: www.tintaperak.com. Kesempatan bagus buat kita yang ingin belajar menulis cerpen dengan nuansa lokal yang kuat. Uni Novia ini sering menjuarai lomba menulis cerpen sastra. Salah satu cerpen yang saya baca berjudul, “Tukang Pijat.” Cerpennya bisa dibaca di sini, http://tintaperak.com/tukang-pijat/Sama halnya dengan sebagian besar cerpen Novia, cerpen yang satu ini juga berlatar di Minang, meski tak disebutkan kampungnya apa. Alkisah, Buyung Kundan yang telah kembali ke kampungnya setelah sepuluh tahun di rantau, merasa tubuhnya pegal-pegal dan ingin dipijat. Masalahnya, tukang pijat terkenal di kampungnya adalah ibunya sendiri, yang dipanggil “Amak.” Buyung merasa tak enak hati menyuruh ibunya untuk memijitinya. Apalagi, ibunya itu sering membicarakan soal jodoh. 

Buyung pernah sempat dijodohkan dengan gadis sekampungnya, sedangkan ia jatuh cinta kepada gadis di rantau. Amaknya menolak gadis yang diinginkannya itu karena lebih senang anaknya menikah dengan gadis satu suku. Ternyata masalahnya bukan itu saja. Amaknya baru memberitahu alasan sebenarnya, ketika mendatangkan tukang pijat yang “pekak” atau tak bisa mendengar dan membuat Buyung kesal karena tukang pijat itu tak bisa diajak berkomunikasi. Amaknya pun mengatakan bahwa alasannya tidak mau menerima menantu dari daerah lain adalah karena ia tak bisa fasih berbicara bahasa Indonesia. Ia khawatir kelak kesulitan berkomunikasi dengan menantunya karena kendala bahasa itu. 

Membaca cerita yang sederhana tetapi mengena ini, membuat saya tertawa sendiri. Alasan yang Amak Buyung sampaikan itu persis sama dengan alasan ibu mertua saya, ketika ragu-ragu menerima saya sebagai menantu. Ibu mertua saya juga kurang fasih berbicara bahasa Indonesia, terbiasa berbahasa Sunda. Sedangkan saya tidak bisa bahasa Sunda, karena orang Jakarte. Ibu mertua saya juga sempat mengatakan kepada suami saya, bahwa beliau lebih suka mendapatkan menantu sesama orang Garut, supaya lebih enak ngobrolnya. Alhamdulillah, walaupun begitu, pernikahan kami tak dihalangi sehingga saya tetap dapat menikah dengan suami. Memang, di awal berkomunikasi dengan ibu mertua, beliau sering kesulitan mencari padanan kata bahasa Sunda dalam bahasa Indonesia. Saya pun terpaksa harus pintar-pintar mencerna maksud perkataannya yang campur aduk antara bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Alhamdulillah, lho, sekarang ibu mertua sudah lebih fasih berbahasa Indonesia. 

Kembali lagi ke cerpen “Tukang Pijat” karya Uni Novia Syahidah ini. Ternyata, untuk menulis cerpen itu tak perlu susah-susah, kita bisa mengangkat tema keseharian dipadukan dengan budaya lokal yang mudah dipahami pembaca dari berbagai daerah. Amanat yang bisa saya tangkap dalam cerpen ini adalah, bagi siapa pun Anda yang ingin menikah dan sudah memiliki calon pilihan sendiri, jangan langsung menyerah bila calon tersebut tidak disetujui oleh orangtua. Contohlah suami saya, eh, ya contoh yang paling dekat adalah suami saya saat dulu memperjuangkan saya agar diterima di dalam keluarga besarnya. Selama alasan orangtua itu bukan sesuatu  yang prinsip dan masih bisa didiskusikan, tak mengapa. Kita juga harus menyadari konsekuensi dari pilihan tersebut. Jika nanti di depannya ada sesuatu, jangan salahkan orangtua. Pada dasarnya orangtua itu hanya ingin menguji sejauhmana kesungguhan kita dalam memperjuangkan calon pasangan hidup kita itu. Kasihan kan kalau hanya gara-gara komunikasi, kemudian menjomblo terus seperti Buyung.  


http://tintaperak.com/giveaway-tinta-perak/
 

Rabu, 30 Desember 2015

Resolusi yang Gagal Itu akan Menjadi Resolusi 2016


Berat badan bertambah puluhan kilo, pipi makin tembem :D

Assalamu’alaikum… Nggak terasa kita sudah sampai di penghujung tahun 2015. Sudah banyak waktu yang terlewatkan umur kita pun semakin berkurang. Apa resolusiku tahun 2016? Nah, itu dia… sepertinya masih sama dengan resolusi tahun 2015 karena yang dulu itu masih gagal, hehe…. Sebelum ngomongin resolusi yang gagalnya, lebih baik ngomongin yang berhasil dulu ya sebagai tanda bahwa kita mensyukuri apa yang sudah diberikan-Nya. 


Pertama, membuka kelas menulis novel online. Alhamdulillah, resolusi yang ini sudah tercapai dan kelasnya sudah dibuka sampai angkatan ketiga. Padahal, tadinya saya dan Riawani Elyta hanya coba-coba, merasa bahwa kami belum terkenal sekali sebagai penulis novel. Bisa saja kan saat kami membuka kelas menulis  novel itu, ada yang bertanya-tanya, “Ih, siapa pula mereka udah berani buka kursus novel?” Ternyata, cukup banyak juga peserta yang mendaftar, sampai kami membuka tiga kali pendaftaran. Untuk tahun depan juga sudah ada yang bertanya kapan dibuka lagi, tapi nunggu waktunya siap. 

Kedua, menang lomba blog. Tetep ya, masih kepengen menang lomba blog. Alhamdulillah masih dikasih kesempatan untuk merasakan kemenangan, meskipun yang gagalnya jauh lebih banyak. Menang lomba blog itu bukan hanya sensasi dapat hadiahnya saja yang menyenangkan, tapi juga kemenangan tersebut bisa menjadi tambahan portofolio buat saya, siapa tahu nanti mau melamar pekerjaan di mana gitu, hehe….

Ketiga, lebih banyak waktu untuk anak-anak. Tahun 2015 ini saya nggak ngoyo menulis, sehingga buku saya pun nggak ada yang terbit. Memang saya ingin meluangkan lebih banyak waktu untuk anak-anak. Walaupun saya kerja dari rumah, tetap saja saya sering mengabaikan anak-anak saking asyiknya menulis. Anak-anak sering protes kalau ibunya pegang hape dan laptop terus. Kuncinya, saya berlangganan paket internet yang pas-pasan, jadi nggak sering-sering buka hape. Laptop pun lebih sering dibuka kalau anak-anak sudah tidur. 

Keempat, mengikuti even-even blogger. Harapan saya memang bisa lebih aktif mengikuti blogger gathering untuk menambah pengalaman dan portofolio, tapi juga nggak sering-sering. Kalau keseringan, sama saja saya mengabaikan anak-anak. Biarlah saya dibilang blogger pemilih, karena memang nggak semua acara bisa diikuti, terutama yang jatuh pada hari kerja. Saya hanya bisa ikut di hari Sabtu atau Minggu, itupun nggak setiap minggu. Harus dapat izin suami. Jadi, acaranya pun pilih-pilih juga yang sesuai dengan isi blog saya (misal, parenting dan ilmu ngeblog). Kalau sekadar launching produk yang nggak menarik minat saya, akan saya skip. 

Mengikuti salah satu even blogger, tambah teman tambah rezeki :D
RESOLUSI YANG GAGAL??? 

Ada banyak juga resolusi yang gagal, mudah-mudahan tahun 2016 saya bisa menggolkannya supaya nggak jadi pepesan kosong. 

Pertama, menurunkan berat badan. Berat badan saya sudah luar biasa nambahnya. Nggak usah dikasih tahu deh, malu-maluin aja. Saya sudah pernah mencoba diet mayo dan food combining, juga berolahraga. Saya juga mencoba minum susu pelangsing dan teh hijau, eh nggak turun satu kilo pun!

Kopi dan kue manis, penyebab gagal diet
Kedua, menyelesaikan satu novel. Ada tiga draft novel yang semuanya baru sampai sekitar 80-90 halaman. Susah sekali meneruskannya sampai akhir. Phiuuh….

Ketiga, dapat hadiah laptop dari lomba blog. Sebenarnya sih saya nggak butuh-butuh amat laptopnya, paling-paling buat ngegantiin laptop ini yang sudah terinfeksi virus. Laptop ini hadiah dari suami dan umurnya sudah dua tahunan. Salah satu tuts keyboardnya sudah hilang dicongkel si bungsu. Laptopnya juga sudah error karena virus, jadi susah buka website atau blog dari laptop. Memiliki laptop dari hasil lomba blog memang obsesi yang belum kesampaian dari kapan tahu. Saking belum kesampaian, akhirnya suami yang membelikan hehehe.... Susah deh menang hadiah laptop, mana jarang pula lomba yang kasih hadiah laptop hehehe… 

Laptop hadiah suami yang sudah terinfeksi virus
Mengapa bisa gagal? Pertama, kurang usaha. Program penurunan berat badan itu rata-rata hanya berlangsung satu bulan, setelah itu nyerah. Ya gimana mau langsing? Emangnya berat badan bisa turun hanya dalam waktu sebulan? Saya juga susah mengendalikan nafsu ngemil dan minum kopi, padahal justru dari situlah timbunan lemak berasal. Kalau makan nasi sih bisa ngurangi, tapi kalau masih ngemil dan minum kopi manis ya sama saja bohong. 

Saya juga kurang usaha menyelesaikan satu novel. Malas, itu alasannya. Nulis novel itu butuh konsentrasi, nah biasanya baru bisa konsentrasi kalau anak-anak nggak mengganggu. Sering kali anak-anak tidur kalau sudah malam, sementara saya juga sudah ngantuk. Selain itu, yang kedua, saya juga kurang fokus. Pas ada waktu, malah nulis untuk lomba blog. Antara menulis novel dan lomba blog itu sama-sama menarik, tapi akhirnya yang menang ya lomba blog. Pertimbangannya begini, lomba blog itu cepat dikerjakannya, hanya beberapa halaman. Pengumuman pemenangnya juga cepat dan hadiahnya  pun cepat. Sedangkan nulis novel itu harus 150 halaman, butuh waktu yang hening, proses di penerbitnya pun nggak cukup satu bulan. Belum nerima royaltinya juga mesti sabar. 

Jujur deh, nulis fiksi dan nonfiksi itu lebih gampang nonfiksi. Kalau nulis fiksi itu, diksinya harus benar-benar dipikir supaya nggak biasa. Belum lagi jalan ceritanya mesti  out of the box. Kalau nulis nonfiksi, kita bisa pakai bahasa sehari-hari. Dalam kondisi saya sekarang ini yang mana waktu untuk menulis itu hanya beberapa jam dalam sehari (sering juga nggak bisa nulis sama sekali), saya kesulitan berpikir lama untuk menulis fiksi. Lain halnya dengan nonfiksi, dalam waktu dua jam pun sudah bisa selesai satu artikel. Mungkin nanti kalau anak-anak sudah besar, insya Allah saya bisa punya lebih banyak waktu untuk menulis fiksi. Sekarang ini saya nyicil sedikit-sedikit nulis fiksi, kalau pikiran sedang fresh dan ada waktu yang cukup  banyak. 

Mengapa saya belum bisa dapat laptop juga dari lomba blog? Ya, mungkin karena Allah melihat saya belum membutuhkannya. Selain itu, saya sering melewatkan lomba blog yang berhadiah laptop. Lah,  gimana bisa dapat? Apalagi lomba blog berhadiah laptop itu sangat jarang. Tapi, saya percaya dengan sugesti, karena sudah beberapa kali  berhasil. Saat kita menginginkan sesuatu, tanamkan dalam hati bahwa kita menginginkannya. Usaha juga jangan lupa. Tak ada hasil tanpa usaha. Insya Allah, diperkenankan.

Sudah siap mewujudkan resolusi 2016? Eit, tunggu dulu… kira-kira mau saya tambah nggak ya resolusinya? Nggak hidup namanya kalau nggak ada tantangan! Ciee…..


http://tintaperak.com/giveaway-tinta-perak/


















Rabu, 25 November 2015

Lebih Nyaman dengan Gamis



Allah Swt berfirman dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 59: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karenanya mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


Barangkali, sebagian dari kita sudah membaca firman Allah ini, sebagian lainnya belum. Ya, itu adalah salah satu dalil kewajiban berjilbab bagi seluruh muslimah. Namun, sebagian umat Islam berpendapat, bahwa jilbab yang dimaksud di dalam ayat itu adalah gamis, yaitu pakaian yang terulur dari atas sampai bawah. Kalau sekadar penutup kepala, namanya khimar atau kerudung. Memang, ada beberapa syarat menutup aurat, yaitu pakaian tidak menerawang (tipis), tidak ketat (membentuk tubuh), dan kerudung menutup dada. Gamis yang lebar, tebal, dan longgar dianggap telah memenuhi syarat-syarat tersebut.

Omong-omong tentang gamis, saya sendiri mulai memakai gamis sejak semester dua kuliah, sekitar 15 tahun lalu. Ketahuan tuanya dong saya, hehe…. Gara-garanya karena ikut kerohanian islam di  kampus dan semua senior muslimahnya memakai gamis. Ada sih yang memakai baju atasan dan rok, tapi masih bisa dibilang longgar dan tidak membentuk tubuh. Saya juga kadang-kadang memakai rok bawahan dan blus atasan yang longgar. Lama-lama, koleksi gamis saya melebihi model busana lainnya. Malah, blus, rok, dan celana panjang bisa dihitung jari. Saya pernah tidak memiliki celana panjang sama sekali, kecuali celana dalaman gamis, saking sehari-harinya memakai gamis.

Gamis Lebaran Idul Fitri
Pakai gamis itu memang enak, tinggal lep. Cukup satu baju, selesai. Eh, tapi jangan lupa pakai celana panjang di dalamnya (celana dalaman, bisa legging/ piyama katun/ dan lain-lain). Khawatir gamis tersingkap, kelihatan dong auratnya. Yang nggak enaknya, saat saya masih kuliah, ada kejadian Bom Bali 1 dan 2. Entah bagaimana awalnya, lho kok kalau saya dan teman-teman (yang bergamis dan jilbab lebar) sedang jalan melewati perumahan, anak-anak kecil  meneriaki kami teroris? Duh, sedihnya, padahal kami nggak bercadar. Apalagi yang bercadar, ya. Kasihan banget, anak-anak kecil itu dididik oleh orangtuanya untuk mencap sesama saudaranya (saya yakin mereka anak-anak muslim juga) sebagai teroris. 

Gamis Lebaran Idul Adha
Kami hanya beristighfar dan menganggap itu ujian Allah Swt terhadap keteguhan kami mengenakan busana yang lebar tersebut. Di negeri yang mayoritas muslim, kami malah dituduh teroris.  Sampai saat ini, koleksi gamis saya masih lebih banyak daripada celana dan rok.  Sekarang, model gamis sudah bervariasi, cantik-cantik dan lebar-lebar. Muslimah sudah tidak malu mengenakannya, karena para model dan artis pun bangga memakainya. Lihat saja Okki Setiana Dewi  dan Lyra Virna yang konsisten dengan gamisnya. Mereka tetap terlihat indah meskipun ditutup dengan busana yang luar biasa lebar. Itulah pertolongan Allah terhadap agama-Nya. Ketika dulu orang-orang meneriaki pemakai gamis dan jilbab lebar sebagai teroris, justru pemakainya semakin bertambah. Malahan saya lihat, pemakai cadar semakin berani menunjukkan diri. 

Datang ke acara blogger pun dengan gamis
Saya lebih suka pakai gamis yang bahannya adem, motif feminin (misal, bercorak bunga-bunga atau berenda), dan memiliki model yang cantik tapi tidak berlebihan. Satu lagi keuntungan mengenakan gamis yang lebar, kalau sedang bepergian dan tidak ada mukena, kita bisa langsung salat tanpa mukena. Yang penting kaus kaki kita masih bersih. Untuk mukena sendiri, saya cenderung lebih suka yang sederhana dan tidak banyak motif. Hati-hati pula membeli mukena, jangan sampai mengenakan mukena yang bergambar orang. Dulu, Rasulullah Saw menyuruh Aisyah memotong seprai tidur mereka yang bergambar makhluk hidup, agar tidak bergambar makhluk utuh dari kepala sampai kaki. Kalau seprai tidur saja tidak boleh bergambar makhluk hidup yang utuh, apalagi mukena?

Bahan mukena yang paling enak dipakai itu yang adem, tidak tipis tapi tidak membuat gerah. Soalnya kita salat kan butuh konsentrasi. Kalau udara panas dan mukenanya terbuat dari bahan yang panas, bisa bikin salatnya tidak khusyuk. Intinya, bagi saya pribadi, gamis dan mukena hendaknya bisa membuat saya lebih dekat kepada Allah Swt.  


https://www.facebook.com/leyla.hana
 

Kamis, 29 Oktober 2015

Awal yang Baru untuk Berani Pergi Sendiri



“Coba kamu mandiri dong, masa ke mana-mana minta ditemani terus?” 

Saran dari salah seorang sahabat saya semasa di bangku kuliah itu masih terus terngiang di telinga, sampai membuat saya bertekad suatu ketika nanti saya harus berani bepergian sendirian! Barangkali karena semasa kecil orangtua tidak memberikan kepercayaan kepada saya untuk “ngebolang”, akhirnya saya menjadi phobia jalan. Entah apa  namanya phobia yang satu itu, deh. Pokoknya, kalau disuruh bepergian sendirian ke tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya, pasti saya sudah paranoid duluan. Ujung-ujungnya, nyari teman yang bisa diajakin pergi. 


Setelah menikah, saya tambah phobia jalan, apalagi menjadi ibu rumah tangga yang lebih banyak di rumah. Dan sepertinya, kondisi semacam itu tidak hanya dialami oleh saya. Seorang teman saya yang tadinya petualang, suka naik gunung, suka jalan-jalan ke tempat-tempat jauh, eh setelah terkurung di dalam sangkar emas bertahun-tahun, berubah menjadi burung yang tak bisa terbang. Ingat kan film “Rio” tentang burung langka berwarna biru yang dikurung di dalam sangkar dan tidak bisa terbang? Kondisinya malah lebih menyebalkan dibandingkan saya. Walaupun sudah ada teman jalan, tetap saja dia malas hihihi…..

Beberapa bulan ini, alhamdulillah, si kecil sudah disapih dari ASI. Sebelum disapih, saya sudah berniat untuk bisa lebih aktif di dunia luar, khususnya saat akhir pekan. Kalau hari-hari kerja, saya harus menunggui anak-anak di rumah. Waktu itu masih ada asisten rumah tangga, sekarang sudah tidak ada. Yang penting setiap akhir pekan atau minimal dua minggu sekali, saya ada kegiatan di luar deh. Tadinya saya masih repot ditemani suami dan anak-anak, sampai suami pun mengeluarkan kalimat yang  mirip dengan ucapan sahabat saya di atas itu. 

Saya pikir-pikir, memang benar sih kalau ikut kegiatan dengan membawa suami dan anak-anak itu jadi lebih lama. Sebelum pergi, harus menyiapkan keperluan anak-anak juga. Belum perginya kan bawa mobil, waktu di perjalanan jadi lebih lama. Lalu di tempat acara, suami kerepotan mengawasi anak-anak selagi ibunya mengikuti kegiatan. Suami merasa lebih baik menunggui anak-anak di rumah, bisa sambil tiduran dan nonton teve.  Tidak capai juga karena harus menyetiri istrinya. Suami pun bersedia menunggui anak-anak di rumah, termasuk anak yang paling kecil. Yang penting saya tahu diri juga, tidak lantas setiap saat ikut kegiatan. Sesekali, bolehlah. 

Jadi, inilah awal yang baru buat saya. Mandiri bepergian ke mana-mana, tidak lagi minta ditemani oleh suami dan membawa anak-anak. Pertama kali memulainya, rasanya deg-degan. Agar perjalanannya lebih cepat, saya naik kereta ke Jakarta. Bagi orang lain yang sudah terbiasa, pasti tak masalah. Ya ampun,  cuma naik kereta saja masa takut? Tapi, itulah…. Perasaan deg-degan sudah dimulai dari sejak menggesekkan kartu tiket kereta, menunggu kereta yang akan datang (diperhatikan benar-benar, jurusan Tanah Abang atau Kota), naik ke dalam kereta, dan mendengarkan baik-baik suara operator setiap perhentian di stasiun, jangan sampai terlewat. Saya juga berulangkali membaca peta rute kereta listrik yang ada di bagian atas kereta. Di situ tertulis nama-nama stasiun di mana kereta akan berhenti sejenak. Kalau ingat itu, jadi geli sendiri. Itu baru pergi ke Jakarta (rumah saya di Bogor). Coba bagaimana kalau disuruh pergi ke tempat yang lebih jauh lagi? 

Lama-lama saya merasakan terbiasa. Ah, ternyata gampang ya naik kereta. Coba DARI DULU saya berani melakukannya, kan saya tidak akan menolak beberapa kesempatan bagus yang pernah saya datang gara-gara suami sedang tidak bisa menemani. Apa yang membuat saya akhirnya berani memulai bepergian sendirian? Saya rasa, tidak selamanya saya bakal memiliki teman di perjalanan. Saya lahir sendirian, mati pun nanti sendirian. Apa saya mau selamanya bergantung kepada orang lain? Dulu saya bergantung kepada sahabat, setelah menikah jadi bergantung kepada suami. Kalau saya tidak menghilangkan phobia tersebut, saya akan kehilangan banyak hal, diantaranya:

Melatih kemandirian, biar tidak bergantung kepada orang lain terus.
Mengunjungi tempat-tempat baru yang menarik dan barangkali nantinya bisa diangkat ke dalam novel-novel saya.
Bertemu dengan orang-orang baru, teman-teman baru, menjaring koneksi baru, menjalin pertemanan baik itu pertemanan tulus tanpa tendensi apa-apa maupun pertemanan untuk urusan bisnis. Silaturahim memanjangkan rezeki, bukan?
Mencoba beraneka ragam menu makanan baru yang disajikan di acara-acara tersebut. Ini sih memang maunya, hihihi…..
Bisa mendapatkan bahan tulisan untuk mengisi blog ini, tentunya. Dari satu acara saja bisa dapat banyak bahan tulisan, dari mulai kuliner, tempat acaranya, tema dan materi yang diulas, pembicaranya, dan sebagainya.

Pergi sendiri, bisa bertemu salah satu penulis favorit: Ninit Yunita
Tentunya, perjalanan saya masih panjang untuk menghapus phobia yang satu ini. Saya baru saja menghanguskan satu tiket gratis pelesiran ke Bali, gara-gara tidak berani jalan sendirian. Kalau mengajak suami dan anak-anak, nomboknya banyak sekali karena tiket ke Bali itu mahal. Saya masih berpikir, “buat apa ya jalan-jalan ke Bali sendirian? Nanti kayak orang bingung, nggak ada teman bicara.” Iya sih, saya sempat kepikiran seorang traveler yang terkenal, Trinity, pernah bicara di sebuah acara di televisi, kalau dia lebih senang jalan sendirian (solo traveler), bukan hanya di Indonesia tapi juga dunia. Duh, kapan ya saya bisa seperti itu? Hm, menaklukkan Jakarta saja baru-baru ini. Pelan-pelan dululah, hehehe…. 

Bismillah, semoga awal yang baru ini dapat membuat banyak perubahan pada diri saya, terutama menaklukan rasa takut akan kesendirian.  Berdua memang lebih baik, tapi sendiri itu pasti.