Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Januari 2016

Romantis Itu Gampang dalam Nova Inspiring Day

Assalamu'alaikum.... Saya mau berbagi pengalaman menghadiri salah satu even Nova Inspiring Day (NID). Menurut seorang teman yang sering  menghadiri acara Nova ini, kegiatan NID ini diadakan setahun kurang lebih empat kali. Wuiiih.... cukup sering juga ya. Saya baru sekali ini berkesempatan datang, karena penasaran kayak apa sih acaranya. Saya melihat undangannya di twitter, lalu mengajak teman-teman komunitas BAW (Be a Writer), lumayan kan jadi ajang kumpul-kumpul setelah lama nggak ngumpul. Maklum deh, anggota BAW itu kebanyakan penulis buku yang lebih suka berdiam di rumah dan fokus menulis, ahahaha.... Apalagi masih banyak yang momong anak bayi, jadi masih susah diajak kumpul-kumpul (termasuk saya :D).


Di undangan tertulis acaranya jam 8 pagi, hari Kamis, 5 November 2015. Waduuuh... hari kerja tuh. Pagi pula, saat orang-orang berangkat kerja. Si bibi sudah berhenti kerja, itu berarti saya mesti bawa Salim. Bisa nggak ya bawa anak naik kereta pagi-pagi pas jamnya orang berangkat kerja? Ah, dicoba aja dulu. Kalau memang nantinya ternyata repot, ya sudah, nggak usah ikut lagi kegiatan yang jatuh pada hari kerja (kenyataannya, sampai sekarang saya sudah nggak ikutan lagi kegiatan di hari kerja, huhuhu.....). Dresscodenya: Pink atau Ungu. Jujur, saya bosan dengan dresscode warna itu, karena sudah pernah dulu pas acara Kopdar LG, Blogger, dan Agrianita IPB. Ada sih baju pink dan ungu, tapi nggak cocok untuk bepergian jauh. Repot ya kalau acara harus ada dresscodenya? Akhirnya saya pakai baju yang sama dengan yang saya pakai di Kopdar LG, Blogger, dan Agrianita IPB itu hehe....

Dekorasinya mirip resepsi pernikahan :D

Setelah tanya-tanya ke teman yang sering datang ke acara NID itu, ternyata acaranya fleksibel, asal jangan datang setelah acara selesai. Saya naik kereta jam 8 (harusnya kan sudah di lokasi jam 8), bareng teman dari Depok juga, Santy Musa. Ya Allah... beneran deh keretanya penuh, untung saya bawa anak, jadi dikasih tempat duduk. Santy yang harus berdiri sampai Tanah Abang. Rencananya kami turun di Palmerah, karena lokasinya di Graha Jalapuspita, Jalan Gatot Subroto Kav. 101, Jakarta Pusat. Dari situ nanti dilanjut naik taksi sampai ke lokasi. Dulu saya belum tahu ojek online. Coba sudah tahu kan nggak sampai kena tipu supir taksinya. 

Teman seperjalanan, Santy Musa
Salim tetap rewel walaupun sudah dipangku, karena memang berdesakan. Dia sampai susah gerak. Ini bukan pengalaman pertama sih naik kereta bawa anak pada jam kerja, tapi dulu saya dikasih ongkos transport yang lebih dari lumayan. Nah, kalau ke acara ini kan nggak dapat ongkos transport ya, jadinya lain kali nggak akan ikut lagi deh karena repot bawa anak di jam kerja dan nggak ada kompensasinya hahaha.... *emak matre. Setidaknya bisa dapat materi yang oke, kece, tentang "Romantis itu Gampang," tapi ternyataaa... saya baru tiba di lokasi jam 10.15! Talkshownya sudah dimulai. Ruangannya sudah penuuuuh dengan undangan. Saya kaget, lho. Ternyata undangannya banyak bangeet.... Kalau di brosurnya tertulis, "Undangan Terbatas," makanya saya cepat-cepat daftar, khawatir kehabisan undangan. Eh, rupanya di brosur susulan ada tulisan, "250 undangan pertama mendapatkan kredit ojek online." Berarti ini undangannya lebih dari 250 mungkin. Akibatnya, saya nggak dapat tempat duduk di bawah ya. Naiklah ke lantai atas dan nggak maksimal deh mendengarkan talkshow di lantai atas. 

Baju Salim juga pink
Oya, sebenarnya gedung Graha Jalapuspita ini deket banget dari Stasiun Palmerah, tapi ya itu, kami dikerjai supir taksi. Bikin bete aja jadinya. Kayaknya nggak mungkin deh supir taksi itu nggak tahu lokasi gedung ini, karena hanya 15 menit dari stasiun. Aneh banget. Kami dibawa muter-muter, sampai kami ngomel-ngomel, baru dibawa ke jalan yang benar. Argonya jadi mahal, Rp 50.000 untuk lokasi yang sangat dekat itu. Makanya saya bilang, andai dulu sudah memakai aplikasi ojek online, mending naik ojek, kan? Kezeeell.... 

Acaranya juga nggak eksklusif, karena siapa saja boleh datang sih. Penuh dan membludak, gedung pun terasa panas. Salim rewel, saya ajak jalan ke luar gedung. Jadi saya nggak dapat materi apa-apa. Nggak ada tempat jajan makanan ringan, saya nyesel nggak bawa cemilan dari rumah. Salim jadi nggak bisa diam. Memang ada banyak bazaar, tapi bukan jual makanan. Produk-produk sponsor yang dijajakan dan itu bukan makanan. Salim juga minta mainan, karena ada anak yang bawa mainan. Berhubung saya baru kali itu bawa Salim sendirian, jadi nggak bawa mainan. Coba bawa mainan seperti Fun Doh, pasti Salim anteng kan. Acara selesai jam satu. Dapat goodiebag dan makan siang sih, tapi kayaknya setara dengan ongkos taksinya hahaha.... Ya masih mending kalau bisa dapat materi acaranya kan, tapi nyatanya nggak dapat karena terlalu bising saking banyaknya undangan, ditambah nggak ada tempat jajan makanan dan mainan. 
Salim rewel, jadi main di luar gedung

Ada demo masaknya dan disiapkan cup-cup kecil yang bisa dicicipi, tapi langsung ludeeesss... wong undangannya ratusan. Berasa ngantri sembako, terus gigit jari karena nggak dapat. Setidaknya saya bisa ketemuan dengan anggota BAW yang jarang atau bahkan belum pernah ketemu, seperti Aida MA, Ida Mulyani, Ade Anita, Aisyah Ficchapuccino (Fika), Murti Yuliastuti. Ade Anita dan Fika juga mewakili komunitas lain. Ya iya sih, komunitas itu memang orangnya sama saja sebenarnya, hehehe.... Itu pertama kalinya juga saya pergi bersama Santy Musa yang notabene tetanggaan di Depok. Lumayanlah, nyari hiburan.  Syukuri saja, kan gratis, kecuali ongkos transportnya. Untung, pulangnya dapat tumpangan dari Mbak Ida Mulyani, jadi gratis deh. Tadinya berharap bisa menang lomba foto komunitas, tapi ternyata enggak. Banyak yang lebih kece, hiks.... Untuk ibu-ibu yang pengen nyari kegiatan, boleh ditunggu acara-acara dari Nova selanjutnya. Mudah-mudahan acara yang berikutnya bisa lebih baik. 

Pengumuman pemenang lomba foto dan doorprize

Selasa, 17 November 2015

Makin Cerdas Gunakan Obat dengan Ikut GeMa CerMat



Masyarakat cerdas gunakan obat

Assalamu’alaikum. Alhamdulillah, pagi ini saya masih melihat matahari bersinar cerah meskipun sedikit mendung tapi tak ada tanda-tanda hujan. Justru enak ya cuacanya, adem. Bulan November ini, kita sudah memasuki musim penghujan. Memang agak telat beberapa bulan. Biasanya bulan September sudah hujan, konon karena ada El Nino yang menahan hujan. Yang penting kita sudah diberikan hujan lagi, daripada tidak hujan sama sekali. 


Omong-omong tentang hujan, saya khususnya sebagai ibu mesti siap-siap karena musim hujan itu sering membawa penyakit flu, batuk, pilek, dan diare. Saya masih punya tiga anak kecil-kecil yang harus dijaga benar kesehatannya. Dulu kami sering ke dokter anak hanya untuk mengobati penyakit-penyakit langganan tersebut. Ada rumah sakit yang baru dibuka, antriannya masih sedikit. Setelah beberapa tahun berdiri, hiyaa ampuuun…. Mau datang pagi, siang, bahkan malam, tetap saja antrinya berjam-jam. Anaknya keburu rewel. Saya lihat, memang antrian di dokter anak itu paling panjang dibandingkan dengan spesialis lain. Sekarang kalau sakitnya belum parah, saya belum ke dokter. Apalagi hanya batuk, pilek, dan demam. Diobati dulu di rumah. Setelah tiga hari belum sembuh dan sakitnya masih parah, baru deh dibawa ke dokter.  

Bukan hanya karena antrian yang panjang itu yang membuat kami (saya dan suami) meminimalisir pergi ke dokter, tapi juga bertambahnya pengetahuan mengenai obat dan penyakit. Hal yang sama saya dapatkan dalam Talkshow “Cerdas Menggunakan Obat” yang diadakan oleh GeMa CerMat (Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat) dalam acara Pameran Pembangunan Kesehatan 2015 di Hall C1-C2, JIExpo, Kemayoran Jakarta, tanggal 14 November 2015 lalu. 

foto dulu sebelum masuk
GeMa CerMat adalah upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui rangkaian kegiatan untuk mewujudkan kepedulian, kesadaran, pemahaman, dan keterampilan masyarakat dalam menggunakan obat secara tepat dan benar. Ini sesuai dengan strategi pembangunan kesehatan yang dituangkan dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 (Kepmenkes No. HK.02.02/MENKES/52/2015), diantaranya meningkatkan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di bidang farmasi, yaitu dengan meningkatkan pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional di fasilitas kesehatan.

Pada Pameran Pembangunan Kesehatan itu, kita dapat menjumpai berbagai stand kesehatan sesuai spesialisasinya, ada dari RS. Bhakti Husada, Kebidanan, Perkembangan Anak, dan lain-lain.  Saya hanya sempat mampir ke tiga stand tersebut, karena langsung mengikuti acara Talkshow. Di stand RS. Bhakti Husada, saya sempat mengikuti kuis mengenai narkoba. Cukup menambah pengetahuan kita. Di stand Perkembangan Anak, saya menanyakan soal anak kedua saya yang susah diajari membaca, usianya sudah 7 tahun. Sayangnya, si mbaknya kurang bisa menjawab pertanyaan, hanya menyuruh saya untuk menghubungi nomor konsultasi yang ada di brosur. Dia mengatakan kemungkinan Dislexia, tapi tetap harus diperiksa dulu oleh ahlinya. 

Demo membuat jamu
Talkshow dimulai pukul 10.00 WIB dan dibuka dengan demo membuat jamu oleh kru Kampung Djamoe Organic bentukan Ibu Dr. Martha Tilaar, seorang pengusaha jamu dan kosmetik herbal yang sangat tersohor. Kampung Djamoe Organic yang berlokasi di pusat industri Cikarang, Bekasi itu aktif mengedukasi pengunjung mengenai jamu-jamu herbal yang bermanfaat untuk kesehatan. Dalam demo kemarin, kami disuguhi dua resep membuat jamu, diantaranya untuk menurunkan kolesterol. Resepnya mudah saja, hanya dengan memblender  buah mangga, jeruk nipis, jahe, dan daun jati belanda. Saya pun mencicipinya dan rasanya enak. 

Ini dia jamu menurunkan kolesterol
Kurang lebih setengah jam kemudian, Mira Sahid selaku perwakilan dari GeMa CerMat pun menaiki panggung dan membuka acara beserta dua orang narasumber: Dr. Purnamawati Sp.A(K), pendiri Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), anggota Komite Pengendalian Anti Mikroba Kemenkes RI, dan Dr. Azizahwati, Apt, Ketua Umum Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DKI Jakarta dan Praktisi Farmasi Komunitas. 

Mira Sahid, Dr. Azizah Wati, Dr. Purnamawati
Narasumber pertama, Dr. Purnamawati Sp.A(K) menjelaskan mengenai penyakit-penyakit langganan yang tidak memerlukan obat, yaitu flu, batuk, pilek, muntah, dan diare. Kalau kita ke dokter anak, pasti dikasih antibiotic untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut. Padahal, penyakit-penyakit tersebut tidak memerlukan antibiotic, malah tidak perlu obat. Pada umumnya, bisa sembuh sendiri. Untuk diare, obatnya cukup dengan oralit. Kalau kita terbiasa minum antibiotic, bakteri akan resisten (kebal) terhadapnya, bahkan bisa mematikan bakteri yang baik.

Pernah dengar kan yang namanya bakteri dan virus? Apa persamaan keduanya? Ada yang menjawab, keduanya sama-sama makhluk hidup. Memang, keduanya hidup, tapi ternyata virus bukan mahkluk hidup karena tidak dapat membiakkan diri. Bakteri adalah makhluk hidup, karena jumlahnya bisa bertambah. Bakteri itu ada yang baik dan yang jahat. Bakteri baik justru bermanfaat untuk pertahanan diri. Penyakit yang selama ini sering mampir, seperti batuk, muntah, diare, dan panas, itu sebenarnya itu pertahanan diri. Saat batuk, artinya tubuh sedang membersihkan paru-paru. Jika tubuh demam (panas), berarti dia sedang melawan bakteri jahat dengan memanaskannya. Contohnya, kita mematikan kuman di air (supaya bisa diminum), dengan memanaskannya (memasaknya). Kalau muntah dan diare, artinya tubuh sedang membuang racun. 

Apa beda bakteri dan virus?
Nah, itu dia mengapa penyakit-penyakit langganan itu sesungguhnya tidak perlu obat antibiotik, kecuali kalau sudah mengeluarkan darah. Bagaimana cara mengatasinya? Cukup dengan istirahat, banyak minum, minum Paracetamol (itupun jika tubuh sudah tidak terasa nyaman) saat demam dan sakit kepala, matikan AC, jangan minum antibiotic, dan jangan menulari orang lain (gunakan masker, cuci tangan dengan sabun, menutup mulut saat batuk). Agar tidak mudah sakit, caranya dengan makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, cuci tangan dengan sabun, imunisasi lengkap, dan berolahraga. 

Penggunaan antibiotic yang berlebihan itu ternyata justru bisa menambah sakit dan bahkan menyebabkan kematian! Duh, ngeri ya. Jadi, sudah paham kan, sekarang tidak perlu sebentar-sebentar ke rumah sakit sampai antri berjam-jam. Kalau penyakitnya ringan, tidak perlu obat. Parasetamol juga hanya diminum saat tubuh sudah terasa tidak nyaman. Kalau baru panas-panas sedikit, jangan diminum dulu. Biasanya, tubuh mulai terasa tidak nyaman saat suhu tubuh sudah mencapai 39 derajat Celsius. Cara untuk menurunkan panas yang paling mudah, tanpa obat, ya dengan mengompres air hangat dan minum yang banyak. 

Caranya gampang!
Selanjutnya, Dr. Azizah Wati, Apt, menjelaskan tentang macam-macam obat dengan memanggil beberapa peserta ke depan. Mereka diberikan obat-obatan yang biasa didapatkan di apotek. Perhatikan logonya, ternyata logonya berbeda-beda lho. Ada yang warnanya biru, hijau, dan merah. Logo merah itu berarti obat keras dan mengandung antibiotic. Penggunaannya harus dengan resep dokter. Ingat, yah, lebih baik membeli obat di apotek daripada di warung! Kalau di apotek, kita bisa tanya ke apoteker mengenai manfaat obat tersebut. Selain itu, penyimpanannya juga lebih higienis dan kadaluarsanya pun diperhatikan. Coba kalau di warung, sering kali disimpan sekenanya, juga tidak diperhatikan kadaluarsanya. Sedangkan logo biru dan hijau dapat dibeli bebas, tapi logo biru harus menaati aturan pakainya.

Dr. Azizah juga memberikan tips menyimpan obat, yaitu di dalam kotak obat (tempat penyimpanan khusus), atau di dalam toples yang bersih. Jangan bercampur dengan benda-benda lain yang bukan obat. Hindari juga terkena sinar matahari langsung, karena itu dapat merusak obat. Biarpun tanggal kadaluarsanya masih lama, obat bisa rusak kalau penyimpanannya tidak benar. Cara meminum obat pun bukan hanya sehari tiga kali atau dua kali, tapi jarak waktunya harus sama. Misalnya, setiap enam jam sekali. Sedangkan kalau malam, tidak mengapa jaraknya lebih lama, karena mekanisme tubuh melambat saat tidur. 

Dengan adanya talkshow ini, diharapkan kita menjadi lebih cerdas dalam menggunakan obat, terutama antibiotic. Jangan sampai kita yang tadinya mau sembuh, eh malah sakit gara-gara kebanyakan minum antibiotic. Acara juga diisi dengan kuis-kuis menarik berhadiah merchandise.  Asyiknya, yang dapat hadiah. Kemudian, ditutup dengan perkenalan Gema Cermat dari Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian, Drs. Bayu Teja Muliawan, Apt, M.Pfarm dan foto-foto bersama narasumber dan Ibu Maura Linda Sitanggang, PhD, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat kesehatan (Dirjen Binfar dan Alkes).


Alhamdulillah, senang sekali, dengan mengikuti acara ini, saya jadi tahu cara cerdas menggunakan obat. 

Blogger GeMa CerMat dan Ibu Maura Linda Sitanggang, PhD.

Sabtu, 07 November 2015

Menyusuri Sudut-sudut Unik Jakarta dan Beristirahat di Hotel Grand Zuri BSD



Grand Zuri BSD, Feels Like Home

Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi, ketika aku bersiap meninggalkan rumah dan semua isinya, tetapi sayang, anakku yang terkecil menyadari ibunya akan pergi. Dia memegangiku terus, meskipun ayahnya sudah mengajaknya jalan-jalan naik motor. Aku khawatir tidak tiba di Stasiun Citayam tepat waktu, sehingga terpaksa aku meninggalkannya dalam keadaan menangis kencang. Ternyata aku memang terlambat lima belas menit, jadi tidak bisa naik di kereta yang sama dengan kedua temanku. Untunglah keretaku berada di belakang kereta mereka, sehingga kami tiba di Stasiun tujuan dalam waktu berdekatan. 


Aku akan ke Jakarta. Lagi. Hari itu Sabtu, 24 Oktober 2015. Aku sudah membuat janji dengan kedua temanku, Evrina dan Melly, tapi mereka naik dari Stasiun Bojonggede. Kami akan menghadiri undangan dari Jakarta Corners yang bertempat di Hotel Grand Zuri, Bumi Serpong Damai. Lho, katanya Jakarta? BSD kan Tangerang Selatan? Ya, setidaknya aku harus transit dulu di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, lalu naik kereta lagi ke arah Serpong. Jakarta akan menjadi tempat transit sebelum melanjutkan ke tempat tujuan yang sebenarnya.

Saya, Rina Susanti, Nunung Yuni
Benarkah Jakarta hanya tempat transit? Setidaknya begitulah penuturan Donna Imelda, salah satu pemrakarsa situs www.jakartacorners.com, saat memberikan sambutan di acara Blogger Gathering “Telisik Unik Sudut Jakarta” di Hotel Grand Zuri BSD. Situs Jakarta Corners dibuat dengan tujuan untuk mempopulerkan sudut-sudut unik di Jakarta yang bisa dijelajahi sebagai salah satu tempat wisata. Jakarta sebagai tempat wisata, selama ini orang hanya tahu Dufan, Ancol, Ragunan, Taman Mini, dan taman bermain lainnya. Keenam kontributor Jakarta Corners adalah Donna Imelda, Dewi Rieka, Evi Indrawanto, Katerina Es, Salman Faris, dan Shinta Ries, berkomitmen menuliskan obyek-obyek wisata menarik di Jakarta yang selama ini belum banyak diinformasikan, misalnya saja: Kota Tua, Museum, Taman-taman Kota, Gedung-gedung Bersejarah, Kampung Betawi Condet, dan sebagainya. Dengan demikian, nantinya para wisatawan yang ingin berwisata ke Jakarta, bisa mencari informasi dulu di situs Jakarta Corners, sudut-sudut menarik yang bisa dikunjungi. 

Kontributor JC: Donna, Shinta, Katerina, Evi
Tak hanya Jakarta, Jakarta Corners juga akan menginformasikan tempat-tempat wisata yang menarik di sekitar Jakarta (Tangerang, Bekasi, Bogor), dan terbagi ke dalam lima kategori utama: Culinary, Festival, Heritage, Human Interest, dan Event. Bagi yang penasaran sudut-sudut unik apa yang ada di Jakarta, silakan membaca-baca situs Jakarta Corners. Aku pun jadi tertarik ingin mengelilingi Jakarta, tak hanya tempat-tempat yang sudah biasa kukunjungi. 

Jakarta adalah rumahku. Sebagian kenangan masa kecilku tertinggal di Jakarta, tetapi bukan di tempat-tempat wisata yang banyak dikunjungi orang itu. Aku justru belum pernah ke tempat-tempat itu, kecuali Taman Mini Indonesia Indah. Jakarta yang kukunjungi adalah gang-gang sempit, pasar-pasar dengan semua aktivitasnya, orang-orang dengan bahasa Betawi tulen, jalan-jalan padat dengan trotoar yang disesaki pedagang kaki lima, rumah-rumah yang berimpitan dengan alunan musik dangdut yang keluar dari jendela, serta makanan-makanan khasnya dari nasi uduk, kue lopis, kue gemblong, ketoprak, dan kerak telor yang dibawa calon suami saat hendak meminangku. 

Ayahku adalah orang Jakarta asli dan keluarga besar ayahku tinggal di salah satu perkampungan Betawi yang bersebelahan dengan gedung-gedung tinggi. Sampai sekarang, perkampungan itu masih ada meskipun sudah ditawar berkali-kali oleh pengembang untuk digusur dan diganti dengan deretan apartemen atau perkantoran atau mal-mal mewah yang sudah memenuhi Jakarta. Jakarta yang kurasakan adalah seperti yang terekam dalam video yang ditayangkan oleh pembicara utama dalam talkshow ini: Teguh Sudarisman, seorang travel Writer and Photographer, Editor in-Chief of Kalstar inflight Magazine, Author of Travel Writer Diaries, yang catatan-catatan perjalanannya sudah dimuat di berbagai media nasional dan internasional. 

Teguh Sudarisman dan MC Arie Pitax
Ketika aku menyaksikan videonya, seperti kembali ke saat sebelum kakiku memasuki hotel bintang empat, Grand Zuri. Suasana stasiun, pasar, pedagang kaki lima, laju kendaraan umum, adalah hal yang mudah kutemukan saat menyusuri sudut-sudut Jakarta. Namun, baru di Talkshow ini aku mengetahui bahwa hal-hal tersebut dapat kutuliskan menjadi artikel-artikel perjalanan yang dapat dimuat di berbagai media. Dari satu perjalanan, aku bisa menulis banyak artikel: kulinernya, tempat wisatanya, even yang ada di tempat itu, sejarah bangunannya, orang-orang yang ditemui di jalan, transportasi yang digunakan, akomodasi yang digunakan, dan sebagainya. Wow, luar biasa! Jujur, aku baru tahu lho kalau hal-hal yang kuanggap kecil itu juga bisa dituangkan ke dalam tulisan. 

Teguh Sudarisman juga memberikan tips prioritas pengiriman tulisan, yaitu: reportase lengkapnya dikirim ke media nasional, reportase yang tidak terlalu lengkap bisa dikirim ke media online. Pertimbangkan juga untuk mengirim ke media internasional. Bila tidak dimuat di semua media tersebut, baru dimasukkan ke BLOG. Bila blog kita sering memperbarui tulisan, maka akan bisa menjaring iklan dari sponsor atau dimintai untuk mereview produk milik sponsor. Produk apa yang direview? Bisa jadi, salah satunya adalah HOTEL.

Hotel Grand Zuri BSD
Saat sedang berwisata, satu hal yang tak boleh dilupakan adalah akomodasi atau tempat menginap, bukan? Di Indonesia terdapat tak kurang dari 10.151 hotel, dan 570 di antaranya terdapat di Jakarta. Jika digabungkan dengan hotel yang ada di sekitar Jakarta (Tangerang, Bekasi, Bogor), jumlahnya menjadi 728 hotel. Luar biasa, kita tak perlu khawatir lagi mencari tempat menginap di Jakarta ketika bepergian. Dan tempat menginap yang paling nyaman adalah yang rasanya seperti di rumah sendiri, Feels Like Home.  

Bagiku sendiri, menginap di hotel berbintang lebih dari Feels Like Home, tapi Feels Like Heaven. Maklumlah, di rumahku belum ada AC, Shower buat mandi, kasur busa yang empuk, dan wifi 24 jam. Bagi Blogger yang suka bepergian dan menginap di hotel, jangan lupa untuk mereview hotelnya pula, kata Pak Teguh. Bisa jadi nantinya kita mendapatkan tawaran menginap gratis dari hotel yang sudah kita review atau yang belum. Atau, kita juga bisa menawarkan blog kita kepada pihak marketing hotel yang bersangkutan, bahwa kita ingin mereview hotelnya. Kirimkan saja surat penawaran kerjasama mereview hotel tersebut melalui surat elektronik ke bagian marketing hotelnya. Kalau diterima, Alhamdulillah. Kalau didiamkan atau ditolak, cari hotel yang lain. 

Hotel Grand Zuri BSD
Hotel Grand Zuri BSD adalah salah satu dari hotel berbintang tersebut, yang layak dijadikan tempat menginap saat mengunjungi Jakarta dan sekitarnya. Beralamat di Jalan Pahlawan Seribu Kav. Ocean Walk Blok CBD Lot. 6 BSD City, Serpong-Tangerang Selatan, hotel ini dapat ditempuh dengan hanya sekitar 35 menit perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Sebagai hotel bintang 4 (banyak kan bintangnya), lokasi hotel Grand Zuri dikelilingi oleh berbagai fasilitas hiburan dan belanja. Ada Masjid Al-Adzom, Ocean Park Water Adventure, Modern Land Lake, Cup Island (Pulau Cangkir), Bandung Sengego, Mall Teras Kota BSD, Mall Alam Sutra Living World, Masjid 1001 Pintu, dan The Breeze. Untuk bapak-bapak yang suka bermain golf, hotel Grand Zuri ini juga berdekatan dengan lapangan golf.

Tak hanya sebagai tempat menginap saat berwisata, hotel Grand Zuri juga bisa dijadikan tempat pertemuan, rapat-rapat perusahaan, pernikahan, atau mengadakan seminar dan talkshow seperti yang Jakarta Corners, karena tersedia pula 8 Function Room, yang dapat menampung hingga 250 orang. Aku pun diajak melihat-lihat fasilitas kamar dan lain-lain di hotel Grand Zuri ini. Dengan moto: We Know How to Please You, Hotel Grand Zuri BSD berusaha melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya. Rasanya tak sabar ingin menginap di sana, meski hanya semalam. 

Hotel Grand Zuri BSD, Feels Like Home

Jenis kamar di hotel Grand Zuri ini ada 5, yaitu Superior (115 kamar), Deluxe (2 kamar), Executive (8 kamar), Junior Suite (6 kamar), dan Presidential Suite (1 kamar). Ke semuanya memiliki fasilitas kamar, umumnya: bar mini, fasilitas membuat kopi dan teh, AC, Wifi, tempat tidur berkualitas yang super nyaman, lemari pakaian, jaringan telepon, safe deposit box, dan lain-lain. Kita juga bisa menggunakan fasilitas Sauna (Fitnes, Kolam Renang, dan SPA dengan biaya tambahan), Cerenti Restaurant yang menyediakan beraneka ragam menu yang enak, dan Zuri Lounge untuk menghabiskan waktu bersama teman sambil mendengarkan musik. 

Suasana makan siang di Cerinti Restaurant
Akhirnya, saat makan siang, aku pun bisa menyicipi beraneka menu hidangan makan siang di Hotel Grand Zuri yang amat memanjakan lidah. Dari mulai nasi goreng, tempe mendoan, ayam banana, sampai hidangan penutupnya yang super lezat. Jika saja bukan karena ingat diet, sudah kusantap semuanya. Terima kasih untuk Jakarta Corners yang sudah membawaku pulang ke rumah. Menyusuri sudut-sudut unik Jakarta dan beristirahat di Hotel Grand Zuri BSD. 

Salah satu dessert Cerenti Restaurant yang masih terkenang di lidah


Blogger Gathering bersama Jakarta Corners dan Hotel Grand Zuri BSD



Sabtu, 10 Oktober 2015

Klik, Tarik, Tuang: Cara Praktis Mendapatkan Manfaat dari Susu Kental Manis



Kaleng baru SKM Frisian Flag

“Cari apa sih, Mah?”
“Pembuka kaleng.”
“Bukannya udah punya?”
“Ah, udah keropos. Makanya beli yang besi, jangan kayu.” 

Obrolan beberapa waktu lalu ketika saya sedang memutari sebuah supermarket ternama di daerah Depok, kembali terbayang. Akhirnya saya beli juga pembuka kaleng itu, dengan gagang dari besi. Sebelumnya, suami sudah membelikan pembuka kaleng dengan gagang dari kayu, eh terlalu sering dicuci, kayunya lembab dan keropos. Nggak enak banget, deh.


Kenapa saya perlu pembuka kaleng? Ya, untuk membuka kaleng makanan dan minuman kalengan, salah satunya susu kental manis. Anak-anak saya suka makan roti dengan olesan susu kental manis. Irit, lho, dibanding harus beli mentega dan mesis atau selai aneka rasa. Cukup susu kental manis cokelat, mereka bisa makan roti berlembar-lembar dalam sehari. Makanya saya membutuhkan pembuka kaleng itu.

Susu kental manis Frisian Flag sudah menemani saya sejak masih kecil, bukan saja sebagai olesan roti, tapi juga diminum. Ibu saya dulu selalu memberikan susu kental manis sebelum berangkat ke sekolah. Lama-lama, susu kental manis menjadi teman dalam sajian apa saja: dituang ke atas biskuit, es krim, es sirup, pancake, puding, bahkan menjadi salah satu bahan pembuat kue. Daripada anak-anak jajan minuman-minuman instan berwarna-warni yang mengandung aspartame dan pengawet, mendingan dikasih susu kental manis cokelat dengan es batu. Pasti mereka suka. 

Masalahnya ya itu, kita membutuhkan pembuka kaleng untuk membuka kaleng susu kental manis. Bisa juga pakai pisau, lalu digetok dengan batu, hehehe…. Pagi hari saat sedang terburu-buru berangkat ke sekolah dan belum punya pembuka kaleng, kerepotan pun meraja. Saya pernah marah-marah sendiri di dapur karena kesulitan membuka kaleng susu kental manis, sementara jam dinding bergerak cepat. Anak-anak nggak boleh terlambat berangkat ke sekolah. 

“Aaaah! Kenapa sih susah bangeeet?” gerutu saya, setengah berteriak. Suami pun datang membantu.
“Pelan-pelan dan jangan marah-marah. Sini….” Suami mengambil alih pisau, “pegangin kalengnya,” katanya memberi intruksi. Kami pun bekerjasama dalam misi membuka kaleng susu kental manis! Hadeeeu…. Berasa repot, yak?


Alhamdulillah, inovasi terbaru dari susu kental manis Frisian Flag telah membebaskan ibu-ibu dari kerepotan membuka kaleng! Yap, tanggal 6 Oktober 2015 lalu, saya bersama Kumpulan Emak Blogger, diundang untuk mencoba kemudahan membuka kaleng susu kental manis Frisian Flag yang baru di #FFCafe FX Sudirman, Jakarta. Peluncurannya sendiri diadakan keesokan harinya, 7 Oktober 2015, dihadiri oleh Eksekutif Frisian Flag Indonesia Bapak Jan Wagenaar, Operation Director Bapak Patrick Van Der Aa, Consumer Marketing Director Ibu Sri Megawati, Human Resource & Corporate Affairs Director Bapak Maurits Klavert, Presiden Director, Bapak Rivanda Idiyanto, Sales Director, dan Bapak Tom van der Lee, Finance Director
 
Launching kaleng baru SKM Frisian Flag, foto: Frisian Flag

FF Café atau Frisian Flag Café berkonsep pop-up café, ditujukan untuk keluarga yang ingin menikmati kebersamaan dengan sajian makanan dan minuman berbasis susu. Pengunjung bisa datang dari tanggal 5 sampai 11 Oktober 2015 dan mendapatkan makanan-minuman gratis sambil ramah tamah dengan artis-artis ternama. Gratis? Iyaaaa! Tinggal ngetweet atau instagram saja kalau kita sudah ada di sana, lalu tunjukkan fotonya ke pramusaji, langsung deh dapat makanan dan minuman gratis. Tanggal 6 Oktober itu, artis yang datang adalah Wulan Guritno. Hasyeeek… saya berkesempatan juga foto-foto dengan Mbak Wulan yang cantik. 

Bersama Wulan Guritno, foto: Rinrin Indrianie
Nuansa biru memenuhi FF Café dari luar sampai ke dalam. Bukan hanya mendapatkan makanan dan minuman gratis, kami juga menyaksikan Wulan Guritno dan para bartender meracik minuman ala café dengan bahan dasar utama susu kental manis Frisian Flag rasa cokelat, vanilla, dan gold. Yang menyenangkan, tentu saja karena untuk membuka kaleng susu bendera itu hanya tinggal: Klik, Tarik, Tuang! Praktis sekali. Ada enam resep minuman ala café yang bisa kita praktekkan di rumah, jadi nggak bingung lagi kalau mau kasih minuman bergizi untuk keluarga, karena di dalamnya mengandung susu bendera aneka rasa. Diantaranya: Frisian Chocomint Mojito-Ice Shaken, Frisian Blended Matcha Latte (cold) dan Frisian Matcha Latte (hot), Frisian Milk Choco Rum (tapi ini rumnya nggak pake alkohol lho ya), Frisian Spices Latte, Frisian Chillhood Crumbs, dan Frisian Gold Chocorock-Ice Blender. 

Wulan Guritno membuat minuman dari SKM Frisian Flag

Pada hari itu, bartender menguji coba resep Frisian Chocomint Mojito-Ice Shaken. Minuman itu juga yang saya pilih saat mendapatkan minuman gratis setelah ngetweet. Rasa mintnya dingin-dingin gimana gitu, saya sempat berpikir minuman itu mengandung alkohol, tapi ternyata semua minuman yang disajikan itu TIDAK MENGANDUNG ALKOHOL. So, resepnya boleh diujicoba di rumah ya, Buu…. Untuk resep Frisian Chocomint Mojito, intip baik-baik yah: 

Sajian siang yang maknyus: Frisian Mojito dan donat toping SKM FF

Bahan-bahan:
50 gr/ ml SKM Frisian Flag Coklat
20 ml Mint Mojito syrup (bisa dibeli terpisah, non alkohol)
100 ml air dingin
120 ml air soda
Es batu secukupnya
Grass Jelly (agar-agar, tergantung selera)
Untuk penyajian satu gelas ukuran 12 oz (350 ml) 

Cara membuat:
Potong grass jelly/ agar-agar dalam bentuk kecil atau gunakan parutan, masukkan ke dalam dasar gelas.
Tuangkan 50 gr SKM Frisian Flag Coklat, 100 ml air dingin, 20 ml Mint Mojito Syrup, dan es batu secukupnya hingga 230 ml ke dalam shaker, kemudian kocok hingga merata.
Tuangkan ke dalam gelas sajian berisi grass jelly/ agar-agar, kemudian tambahkan 120 ml air soda hingga penuh.
Berikan hiasan daun mint di atas minuman. 

Alhamdulillah, segar sekali siang-siang panas-panas (maklum, Jakarta), minum ini jadi hilang semua gerahnya. Apalagi udara di dalam FF Café juga adem. Selain mendapatkan minuman, saya juga bisa mengambil donat dengan toping susu bendera putih dan cokelat. Saya pilih toping putih. Donatnya juga enak, empuk. Setelah itu, bersama Kumpulan Emak Blogger, kami mendengarkan kicauan dari MC yang gaul dan kocak, Mbak Tyas Putri, dan sambutan dari Bapak Rays Michael. Tak ketinggalan Ketua KEB, Mak Sumarti Saelan yang kalem. Acara berlangsung ramai diselingi games-games, seperti tantangan membuat Frisian Chomint Mojito oleh Emak Blogger, pemenangnya mendapatkan voucher MAP RP 200.000! Lalu, ada juga tantangan membuat puisi yang disambut oleh Mak Tanti Amelia dan mendapatkan voucher MAP Rp 100.000. Terakhir, kami meluncur ke Wall of Buzz dan mencoba kemudahan dari Klik, Tarik, Tuang, lalu memberikan testimoni.

MC Tyas Putri dan Bapak Rays Michael, perwakilan Frisian Flag

Mak Sumarti Saelan dari KEB


Kemudahan Klik, Tarik, Tuang membuat saya langsung mempraktekkannya di rumah. Kebetulan masih ada susu bendera Gold, dari kemarin-kemarin saya mau membuat es krim untuk anak-anak. Mumpung sedang rajin, saya siapkan bahan-bahan membuat es krim.


Bahan-bahan: 
SKM Frisian Flag Gold (bisa diganti dengan yang putih) 1 kaleng
150 ml santan, bisa memakai santan kemasan 65 ml (dua buah)
1 gelas gula pasir (bisa ditambah sesuai selera)
10 sendok makan Tepung Maizena
1 sachet Vanili
1 sendok teh garam
Pewarna makanan yang dibolehkan
8 gelas air (pakai kaleng bekas SKM)
1 sendok makan SP, ditim bersama air 2 sendok makan

Cara membuatnya:
Campur semua bahan, kecuali SKM dan SP, masak di dalam panci sampai mengental. Dinginkan. Setelah dingin dan mengental, kocok bersama SKM. Taruh adunan di freezer ssampai setengah beku, lalu kocok lagi dengan memasukkan SP sedikit demi sedikit. Kocok selama 25 menit. Adonan akan berkembang menjadi tiga kali lipat. Kemudian, pisahkan adonan dan beri warna. Saya memberi tiga warna: hijau, merah, dan cokelat. Masukkan ke dalam cup dan dinginkan sampai beku. Saat memakannya, bisa ditambahkan toping SKM Frisian Flag Cokelat. Hmmm… yummy…..! 


Membuat es krim sendiri ini insya Allah lebih terjamin ya Bu, karena kita mengetahui bahan-bahan pembuatnya. Kalau beli, kita nggak tahu pedagang memasukkan bahan apa. Yang pasti, dengan adanya kemudahan Klik, Tarik, Tuang dari SKM Frisian Flag, pekerjaan saya dalam menyediakan makanan dan minuman untuk anak-anak pun jadi lebih mudah. Nggak heran,  susu bendera Frisian Flag sudah dipercaya oleh masyarakat Indonesia selama lebih 90 tahun! 

Informasi lebih lanjut, bisa langsung ke sini ya:
FB           :http://www.facebook.com/frisianflagindo
twitter     :@susu_bendera
IG           : @frisian.flag