Rabu, 12 Agustus 2015

Lima Kejutan di Kopdar Blogger-Agrianita PTN IPB bersama Spektra dan LG


Undangannya

Kejutan pertama
“Mbak, aku undang ya….”

Mbak Arin Murtiyarini mengirimkan poster undangan Halal bi Halal Agrianita PTN IPB dan Blogger Bogor yang akan diadakan di Restoran De’Leuit Bogor tanggal 8 Agustus 2015. Waw, surprised saya dapat undangan yang terbatas ini. Kursi untuk blogger hanya tersedia sekitar 15-an saja.  Saya langsung mau karena acaranya hari Sabtu dan lokasinya pun dekat dari rumah saya. Tinggal naik kereta dan angkot satu kali. Itu kalau suami nggak mau nganterin naik mobil. Saya jarang ikut blogger gathering karena acaranya sering di hari kerja (saya kan kerja momong anak-anak :D) dan tempatnya jauh. Jadi, kalau ada kesempatan yang mudah, jangan disia-siakan dong.


Kejutan kedua
Dress code-nya Pink atau Ungu ya, Mbak,” masih kata Mbak Arin.

Whaaaaat?! Ada dress code-nyaaa?? Duh, kenapa nggak bebas aja sih warna bajunya? Huhuhu…. Padahal, saya sudah meniatkan memakai baju atas bawa cokelat batik biar terkesan elegan. Kan mau kumpul sama ibu-ibu Agrianita IPB, ibu-ibu yang kerja di IPB, hihihi… Lah ternyata Mbak Arin malah minta pakai baju ungu atau pink. Hadeeuh… girly amat, ya?

Saya suka warna pink dan ungu, tapi baju yang agak pantes dipakai ke acara-acara itu harus dipilih lagi. Ada gamis pink, tapi menerawang. Gamis ungu juga ada tapi bikin badan saya keliatan gemuk. Biasalah, efek baju, ada yang melangsingkan, ada yang menggemukkan. Makanya harus pintar milih baju. Rencananya saya mau beli baju lagi nih khusus menghadiri acara itu, tapi nggak sempet ke pasar. Beli online juga nggak sempet, karena sudah mendekati hari H. 

Baju yang akhirnya dipakai, hasil padu padan
Jumat siang, saya baru kepikiran mau pakai baju apa. Padu padan aja. Gamis pinkyang menerawang itu saya tumpuk dengan atasan putih. Jadi, nggak keliatan menerawang. Gamisnya keliatan seperti rok. Pakai legging juga di dalamnya supaya nggak menerawang. Kalau jilbab pink sih banyak. Alhamdulillah, persyaratan dress code sudah terpenuhi. Urusan baju ini penting, karena blogger kan pasti foto-foto. Harus keliatan cakep dong di foto hehe….

Kejutan ketiga
Sebuah undangan pertemuan wali murid, datang sehari sebelum hari H. Ada rapat wali murid hari Sabtu tanggal 8 Agustus 2015! Minggu sebelumnya, saya juga ada undangan blogger dan terpaksa nggak saya hadiri karena memilih mengikuti rapat wali murid kelas 1. Lah ternyata saya juga harus datang ke rapat wali murid kelas 2? Ismail dan Sidiq memang sekolah di sekolah yang sama. Ismail kelas 2, Sidiq kelas 1. Nasib orang tua yang punya anak dengan beda usia hanya setahun ya kayak gini ini. 

Saya nggak mungkin membatalkan janji dengan Mbak Arin, karena undangannya sudah fix. Nama saya pasti sudah terdaftar. Untunglah undangan wali murid ini nggak mengikat. Kalau memang ada urusan, nanti hasil rapatnya akan disampaikan oleh wali kelas. Suami pun mengijinkan saya mengikuti halal bi halal itu. 

Kejutan keempat
“Naik kereta ajah!” anak-anak kompak meminta naik kereta. Mereka memang sudah lama nggak naik kereta, jadi pengen jalan-jalan naik kereta. Ya, setelah sebelumnya saya disuruh pergi sendiri dan suami menjaga anak-anak di rumah, kenyataannya di hari H, suami dan anak-anak mau ikut juga. Asyik. Saya paling senang kalau perginya rame-rame. Nanti suami dan anak-anak bisa jalan-jalan di sekitar tempat itu sembari menunggu saya bertugas hehe…. 

Anak-anak dan ayahnya menunggu kereta
Alhamdulillah, kereta sekarang sudah bagus. Stasiunnya bersih, keretanya juga nyaman. Mungkin karena hari libur, jadi nggak penuh. Setelah menunggu kereta cukup lama, datanglah si kereta itu. Sempat terjadi kebingungan karena kami berdiri di depan gerbong wanita. Saya mau naik ke gerbong wanita, tapi suami nggak mau. Akhirnya, saya naik ke gerbong wanita bersama Ismail dan Sidiq, suami berlari menuju gerbong umum. Terpisah gerbong deh. Kereta berjalan dengan lancar. Ismail dan Sidiq senang sekali naik kereta. Saya nggak sampai mikir kalau ternyata saya dan suami… terpisah kereta!

Ternyata saya cuma bertiga aja naik keretanya :D
Suami mengirim sms, “tunggu di Stasin Bogor, ya.” Oke, jadi nanti pas turun, saya tunggu di stasiun. Menjelang sampai di Stasiun, saya mengikuti penumpang lain yang berjalan ke gerbong depan. Siapa tahu nanti ketemu suami di gerbong depan. Lah kok sampai melewati tiga gerbong, nggak ada sosok suami dan Salim? Kereta sudah berhenti di Stasiun. Saya mencari-cari suami dan masih nggak ada! Mulai cemas. Saya telepon suami, tapi nggak dijawab. Saya udah ngomel-ngomel aja tuh, tiba-tiba Ismail berteriak, “Itu Ayah!” 

Suami datang sambil terengah-engah. “Ayah di mana sih? Kok dicari di gerbong depan nggak ada?” tanya saya, kesal. 

“Aku kan naik kereta yang satu lagi,” jawab suami.
“HAH? Jadi tadi Ayah nggak naik kereta yang sama?!”
“Iya, orang ketinggalan…..”

Hihihi….Hufff… syukurlah kereta yang dinaiki suami itu datangnya cepat, jadi saya nggak perlu nunggu lama. Lagian kenapa nggak mau naik gerbong wanita? Kan nanti kalau sudah di dalam bisa menyeberang ke gerbong umum. Ini sih judulnya, “suami ketinggalan kereta.” 

Kejutan kelima
Jam 9.30, kami sampai di kawasan De’Leuit. Tanya ke pedagang makanan, ternyata tinggal jalan kaki saja. Lokasinya dekat Masjid Raya Bogor. Saya meninggalkan suami dan anak-anak yang kemudian entah ke mana (ternyata ke toko buku Gramedia, lalu ke Masjid Raya Bogor). Sampai di lokasi, eh acaranya sudah lama mulai. Tumben tepat waktu. Beberapa kali saya ikut kegiatan, acaranya mundur satu jam. Jadi, panitia acara ini TOP banget, karena acaranya tepat waktu. Saya agak ketinggalan pengenalan mengenai Spektra.

Saya mencoba mengenali blogger-blogger yang datang, kelihatannya kok nggak ada yang kenal. Saya berkenalan dengan blogger yang datang setelah saya, dia menyebut namanya “Desi.” Duh, nama itu kan banyak yang punya. Desi yang mana nih? Kelihatannya dia juga nggak kenal dengan saya. Ternyata sebenarnya kami kenal, itu Desi Namora. Coba dia nyebut namanya komplit, pasti kan saya langsung kenal. Beruntung setelah Desi, datang Mbak Nunung Yuni. Yang ini sudah saya kenal duluan, karena pernah ketemu di acara blogger juga. Akhirnya dapat teman bicara. Eh, begitu orang yang duduk di depan saya menoleh ke belakang, oalaaah… itu Mbak Rina Susanti! 

Penjelasan tentang Spektra dan LG
Nah, saya mencari-cari si empunya hajat nih. Siapa lagi kalau bukan Mbak Arin Murtiyarini? Sosok Mbak Arin seharusnya mudah dicari, karena sebagian besar pesertanya berjilbab sedangkan Mbak Arin belum berjilbab. Eh, tapi kok nggak ada ya yang nggak berjilbab? Semuanya berjilbab. Mana ya Mbak Arin? Mbak Nunung juga mencari-cari Mbak Arin. Ah, akhirnya saya menemukannya! Seseorang yang duduk di depan dan sedang sibuk memotret kegiatan itu menunjukkan ciri-ciri Mbak Arin, dengan tahi lalat di pipi kiri. Bedanya… orang itu berjilbab!

Mbak Arin, foto milik: Riana Inna W
Mbak Arin juga menangkap keberadaan saya. Dia berjalan menghampiri saya dan Mbak Nunung. Kejutan, doong! Mbak Arin berjilbab! Barokallah untuk Mbak Arin, semoga istiqomah. Yang lebih mengejutkan lagi, saat sedang istirahat, saya melihat Melly dan dia juga berjilbab! Aih, senangnyaaa…. Saya juga mengenali Mbak Dwina (Emak Bogor, saya pernah menang giveawaynya), Inna Riana (Emak Riweuh), dan blogger-blogger Bogor lainnya. Kejutannya lagi, akhirnya saya ketemu dengan Mbak Murti Yuliastuti. Mbak yang satu ini sudah lama saya kenal sejak pertama kenal facebook, karena beliau juga jebolan Universitas Diponegoro, kakak tingkat saya. Sayangnya, kami hanya kenal di internet, padahal sama-sama tinggal di Depok. Setelah bertahun-tahun mengenal, syukurlah kami bisa bertatap muka. 

Bersama Emak Riweuh Riana Inna dan Rina Susanti, foto: Riana Inna W
Terus, acara ini tentang apa ya? Ini adalah acara Halal bi Halal yang disponsori oleh Spektra dan LG. Spektra itu fasilitas kredit dari LG. Jadi, kalau mau kredit peralatan elektronik rumah tangga merk LG, bisa melalui Spektra. Bagaimana Mbak Arin bisa dapat sponsor untuk acara Halal bi Halal ini? Sudah dapat makan gratis, dapat goodie bag pula. Lumayan lho isi goodie bagnya peralatan makan dari Tupperware. Ada banyak doorprize juga yang oke (blender, juicer, deterjen, dan sebagainya). Sayang, saya nggak nyangkut door prizenya nih. 

Roda keberuntungan
Mbak Arin yang blogger dan juga quiz hunter ini pernah mengikuti kuis Arisan LG dan menang. Jadi, dia berhak mengundang teman-temannya untuk difasilitasi LG, kumpul-kumpul, makan-makan. Asyik banget yah. Hm, kalau diuangkan, pasti gede nih. Ada biaya makannya, biaya goodie bag, biaya doorprize, dan lain-lain. Mbak Arin memang hoki deh, banyak hokinya.  Asyik kan reunian sama teman-teman blogger dan disponsori? 

Halal bi halal Blogger Bogor, foto: Riana Inna W
Pada acara ini, kita juga mendapatkan kesempatan untuk mengajukan kredit LG melalui Spektra dengan biaya administrasi Rp 150.000 saja. Cicilan berikutnya dibayar bulan depan, dengan lama cicilan antara 9-12 bulan. Macam-macam barangnya, ada televisi, microwave, kulkas, dan lain-lain. Yah, berhubung saya sudah punya semuanya (cieeeh….) dan belum butuh beli lagi, jadi saya nggak ambil kreditnya. Bagi pembeli dengan nominal 15 juta (dan ini bisa dicicil), langsung dapat hadiah handphone LG dan yang membeli sebesar Rp 10 juta, langsung dapat microwave. Belinya nyicil lho, kecuali kalau kita emang bawa uang kas sebesar itu. Ya, masa?? Kalau beli di bawah itu? Dapat juga! Ada roda keberuntungan dengan tiga pilihan hadiah: Lock and Lock, Happy Call, dan Juicer. Kita mau beli yang harganya hanya Rp 1 juta? Tetap dapat hadiah langsung. Tergantung keberuntungan pas memutar rodanya. Aargh… coba saya ajak suami masuk aja ke dalam ya, siapa tau nanti dibelikan apa lagi, gitu. 

Demo masak
Alhamdulillah, acara pun selesai tepat jam 1 siang. Semua kelihatan senang. Makan gratis, goodie bag gratis, apalagi yang dapat doorprize seperti Mbak Dwina dan Mbak Nunung. Yang paling penting sih silaturahimnya itu. Kapan lagi bisa ketemuan dengan teman-teman blogger yang lebih sering berinteraksi di internet? Nggak setiap hari. Sebulan sekali juga belum tentu. Makanya saya senang sekali. Saya langsung pulang karena suami dan anak-anak sudah menunggu di Masjid. Begitu sampai di Stasiun Bogor, rupanya masih ada kejutan lagi. Saya baru tahu kita mesti naik jembatan penyebarangan yang tangganya tinggi sekali dan banyak. Hadeeuuuh… mana Salim juga bobo, jadi harus digendong. Sampai di rumah, sakit pinggang deh (dasar nini-nini!). Lain kali naik mobil sendiri aja deh, bukan apa-apa, nyebrangnya itu lho…. 

Makasih ya Mbak Arin. Kapan-kapan ajakin aku lagi yaaa…. *sambilngedipinmata.

Senin, 10 Agustus 2015

Saat Saya Berhijab, Saat Itulah Saya Merdeka



Adegan pertama:
“Suit… suit… wuiih…  macan (manis cantik) juga nih cewek!”

Beberapa orang tukang ojek menyuiti seorang gadis abg (asli baru gede, baru umur 15 tahun :D) yang melewati mereka. Gadis itu mulanya bangga disebut “macan” yang merupakan singkatan lazim di masa itu, tapi sesampainya di rumah, dia malah merenung. Tak terima disuiti seperti itu, apalagi bila mengingat pandangan nakal para tukang ojek.


Adegan kedua:
“Duh, Neng… “itu”nya nggak nahan!”
Celetuk satu dari supir angkot yang berjejer menunggu penumpang, diikuti dengan gelak tawa teman-temannya. 

Si gadis dan temannya mempercepat langkah dan ogah menaiki satu dari angkot tersebut. Si gadis terus memikirkan celetukan mesum si supir angkot yang diiringi dengan pandangan mata nakal ke arah dadanya dan dada temannya. Ia merasa tak terima karena sudah dilecehkan.

Adegan ketiga:
“Assalamu’alaikum….”
Beberapa pemuda yang sedang nongkrong, serempak mengucapkan kata yang menyejukkan itu ketika si gadis dan beberapa orang temannya yang mengenakan hijab lebar, melewati gerombolan itu. Tak ada pandangan nakal, tak ada kalimat mesum, yang ada hanya ucapan salam yang menyejukkan. Itu sering terjadi sejak si gadis mengenakan busana muslimah yang menutup aurat dari kepala sampai ujung kaki.

Sebentar lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus. Apa makna kemerdekaan bagi seorang muslimah, khususnya saya sendiri? Bagi saya, merdeka adalah ketika saya telah mengenakan hijab. Adegan pertama dan kedua benar-benar terjadi kepada saya dan merupakan salah satu pendorong keputusan mengenakan hijab. Adegan ketiga terjadi ketika saya telah berhijab. Sewaktu saya belum berhijab, rasa-rasanya kok semua lelaki memandang saya dengan nafsu. Ada saja celetukan-celetukan nakal yang keluar dari mulut mereka, padahal pakaian saya biasa saja. Walaupun belum berhijab, saya tidak memakai pakaian yang seksi. Saya kesal sekali. Kesaaaaal! Rasanya saya tidak bebas bergerak di hadapan laki-laki, karena selalu menjadi sasaran mata-mata nakal. 

Saya juga dipusingkan dengan kondisi fisik.  Betis mesti ramping, rambut mesti bagus, kulit mesti halus. Haduuuh… ribet deh jadi perempuan. Saya minder dengan betis saya yang tidak seramping perempuan-perempuan lain. Saya minder dengan rambut saya yang tidak hitam dan lebat. Saya minder dengan kulit saya yang kurang mulus. Padahal, Allah sudah memberikan kondisi fisik yang sempurna untuk saya, toh tidak kurang satu apa pun. Ini kenyataan lho. Teman-teman laki-laki sering membanding-bandingkan kondisi fisik anak-anak perempuan. 

“Eh, si itu betisnya kecil banget, ya….”
“Gue suka si A karena kulitnya halus dan berbulu….” (berbulu? Monyet juga berbulu, yak qiqiqi….)

Ya, ampyuuuun…. Fisik melulu sih yang dibahas? Betapa sakit hatinya saya kalau kelak suatu hari nanti saya dipilih oleh seseorang karena saya cantik. Beuuh… kita kan nggak bisa cantik terus, toh? Kalau baru bangun tidur, pasti jelek. Gimana coba kalau laki-laki itu memilih perempuan karena cantiknya, eh cantiknya memudar pas bangun tidur hihihi….

Saya ingin suatu hari nanti seorang lelaki memilih saya bukan karena saya punya betis yang ramping, kulit yang mulus, bentuk tubuh yang aduhai, rambut yang lebat, dan berbagai kriteria fisik lainnya, tetapi karena inner beauty. Untungnya tidak semua lelaki memilih calon istri berdasarkan fisik. Agar saya merdeka dari penilaian secara fisik, saya memutuskan untuk berhijab. Hijab telah memerdekakan diri saya dari hawa nafsu lelaki, juga diri sendiri. Lho? Diri sendiri? Iya, sebelum berhijab, saya mati-matian merawat tubuh agar bisa secantik bidadari.

Olahraga kaki biar betisnya ramping, pakai lulur setiap hari biar kulitnya mulus, pakai minyak cem-ceman biar rambut lebat dan hitam, pakai ini, pakai itu. Halah. Capek, bo. Kenapa capek? Soalnya, nggak ada hasilnya, hihihi…. Seorang muslimah tetap harus merawat diri, tetapi niatkan untuk mensyukuri anugerah ilahi bukan untuk puja dan puji. Dengan berhijab, insya Allah saya terhindar dari niatan merawat diri untuk puja dan puji. 

Hijab telah membuat saya merdeka dari celetukan dan pandangan nakal para lelaki. Hijab telah menyeleksi calon suami saya, bukan seorang lelaki yang memilih istri karena kecantikan fisiknya melainkan karena agamanya. Hijab telah memerdekakan saya dari keinginan pribadi, melainkan tunduk dan taat kepada keinginan Allah Swt. 





Saat saya berhijab, saat itulah saya merdeka.

Diikutsertakan dalam BW Spesial Blogger Muslimah
#BloggerMuslimah #GerakanMenuju Sholehah 

http://bloggermuslimah.com/

Sabtu, 08 Agustus 2015

Souvenir Islami sebagai Souvenir Pernikahan dan Acara Istimewa Lainnya



souvenir islami, souvenir pernikahan
Souvenir pernikahan yang islami

Menikah adalah momen sakral bagi seorang muslim. Saat menikah, kita sedang mengikat janji di hadapan Allah Swt.  Kita disunahkan untuk membuat walimah dengan mengundang kaum kerabat dan tetangga sekitar dengan maksud berbagi kebahagiaan dan sudah tentu sebagai pengumuman bahwa pasangan pengantin telah sah menjadi suami istri dan memiliki hubungan yang sah dan halal di hadapan Allah dan manusia. 


Souvenir pernikahan hanyalah salah satu pernak-pernik pernikahan yang disiapkan dalam acara walimah pada umumnya. Kecil tapi penting, begitu saya menyebutnya. Souvenir pernikahan tak hanya menjadi buah tangan untuk para undangan, melainkan juga sebagai kenang-kenangan bahwa mereka pernah hadir dalam pernikahan seseorang yang namanya acap kali tercetak dalam souvenir. Tahukah Anda, ada lho orang yang suka mengoleksi souvenir pernikahan. Salah satunya, adik saya.

souvenir islami, ssouvenir pernikahan
Tasbih mini sebagai souvenir islami untuk souvenir pernikahan
Adik saya punya lemari khusus yang menyimpan souvenir pernikahan. Macam-macam bentuknya, dari kipas, gantungan kunci, mug, figura foto, boneka, dan sebagainya. Adik saya memang sering menghadiri undangan pernikahan, karena temannya banyak. Ternyata asyik juga memandangi koleksi souvenir pernikahan milik adik saya itu. Tak disangka, sebuah souvenir bisa mendapat tempat yang spesial di hati adik saya. Pasti senang deh orang yang memberikan souvenir itu, karena souvenirnya masih disimpan dengan rapi oleh adik saya. Jadi, pemberian souvenir ini sebaiknya juga diperhatikan karena bisa menjadi sesuatu yang membahagiakan bagi para undangan. Jika mampu, berikan souvenir yang indah dan spesial. Bukankah seorang muslim dianjurkan untuk membahagiakan hati muslim lainnya? 

Souvenir bukan hanya diberikan dalam acara pernikahan. Acara-acara islami lainnya pun bisa menyertakan pemberian souvenir, misalnya: khitanan, pengajian, syukuran, tahlilan, berangkat haji dan umroh, dan sebagainya. Souvenir yang diberikan pun sebaiknya tak hanya indah, tapi juga bermanfaat. Akan lebih baik lagi jika souvenir tersebut bisa berupa souvenir islami yang dapat menunjang kegiatan ibadah kita. Beberapa contoh souvenir islami yang bisa dijadikan rekomendasi, dapat kita lihat di Refiza Souvenir:

Buku Yasin Cantik
Buku Yasin menjadi souvenir islami yang lazim diberikan saat acara tahlilan (pemberian doa kepada orang yang sudah meninggal). Di dalam buku tersebut tak hanya ada surat Yasin, melainkan juga doa-doa khusus untuk orang yang sudah meninggal. Tahlilan adalah kegiatan yang lazim dilakukan oleh sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Biasanya, di halaman depan buku Yasin tercantum foto almarhum/ almarhumah beserta nama-nama keluarga intinya yang berduka. 

souvenir islami, souvenir pernikahan
Buku Yasin cantik, souvenir islami
Buku Yasin tak hanya dapat dibaca saat acara tahlilan, tapi juga bisa dibaca saat kita berziarah ke makam keluarga atau saudara. Ziarah ke makam ini biasa dilakukan menjelang dan sesudah hari raya Idulfitri untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Kita juga bisa mendoakan dari rumah dan buku Yasin ini cukup berguna, terutama bila kita belum hapal doa-doa untuk orang yang sudah meninggal. Ingin buku Yasin yang cantik? Ada di Refiza Souvenir. Desain bukunya lain daripada yang lain. Berwarna cerah dan cantik.  Kalau beli paket Yasin dan Tasbih, harganya bisa lebih murah. Ada tiga pilihan paket dengan harga @Rp 10.000, @Rp 23.000, dan @Rp 29.000. 

Tasbih
Berzikir atau mengingat Allah dapat dilakukan dengan mengucapkan kalimat tasbih, tahmid, dan tahlil sebanyak 33 kali setelah salat. Berzikir sangat penting maknanya bagi umat Islam, karena hanya dengan mengingat Allahlah hati kita menjadi tenang. Mengapa jumlahnya 33 kali? Itu ada kaitannya dengan jumlah asmaul husna, yaitu 99. Jika jumlah itu dibagi 3, jadi 33 bukan?  Kadang kita lupa sudah berzikir berapa kali, karena itulah kita membutuhkan tasbih. Tasbih dibuat dari manik-manik beraneka warna yang cantik. 

souvenir islami, souvenir pernikahan
Tasbih yang dapat digunakan sebagai gelang
Ternyata, tasbih juga bisa dijadikan souvenir lho, apalagi kalau dikemas dengan cantik. Refiza Souvenir menyediakan tasbih cantik sebagai souvenir islami untuk acara-acara spesial.  Berzikir tak hanya dilakukan seusai salat, tapi akan lebih baik lagi jika kita senantiasa berzikir kapan pun dan di mana pun. Tasbih dari Refiza Souvenir ini bisa kita pakaikan di pergelangan tangan, tak hanya sebagai hiasan tapi juga membantu berzikir setiap saat. Terbuat dari bebatuan yang cantik, dapat menambah keindahan penampilan kita. Harganya bervariasi, dari yang termurah Rp 6.000 sampai dengan Rp 120.000. 

Selain dua produk andalan Refiza di atas, Refiza juga melayani pemesanan berbagai souvenir islami lainnya: undangan pernikahan, paper bag, amplop angpau hari raya, buku panduan pernikahan, dan sebagainya. 

souvenir islami, souvenir pernikahan
Amplop lebaran 

souvenir islami, souvenir pernikahan
Souvenir sajadah

Sudah saatnya Anda memilih souvenir yang lebih baik dan bermanfaat untuk orang atau tamu spesial Anda, dan itu bisa didapatkan di Refiza Souvenir. Bagi Anda yang tertarik berbisnis dengan Refiza, bisa juga menjadi resellernya. Keuntungannya, bisa mendapatkan harga diskon 10%, tanpa minimal order, adanya dukungan agen terdekat sehingga bisa tanpa ongkos kirim, dapat dilakukan dengan sistem dropship (pengiriman langsung dari Refiza ke customer), bebas menentukan harga jual kembali yang bersaing dengan harga pasar, dan pelayanan customer service, ada grup diskusi untuk reseller, dan yang paling penting adalah “TANPA MODAL”, hanya ongkos kirim JNE untuk pengiriman operasional kit untuk menunjang penjualan. Tidak ada biaya pendaftaran. Benar-benar gratis, tis, tis. Bagi Anda yang mempunyai toko fisik, bisa bergabung menjadi agen Refiza dengan keuntungan yang lebih tinggi dan modal awal berbelanja minimal hanya Rp 1.500.000. 

Cara belanjanya mudah banget. Bisa langsung menghubungi customer servicenya lho, melalui telepon, BBM, WA, Line, ataupun SMS. 

souvenir islami, souvenir pernikahan


Bagi Anda yang berada di Surabaya, bisa datang langsung ke tempat produksinya. Detail lokasi bisa dilihat pada peta di bawah ini. Wuih, asik yah, bisa milih-milih produknya langsung. 

souvenir islami, souvenir pernikahan
Datang langsung ke pabriknya!

Informasi lebih lanjut, bisa menghubungi:

Instagram: @refizasouvenir
Facebook: Refizabeads
Masih ragu belanja langsung di Refiza? Bisa juga melalui Tokopedia yang menjamin keamanan berbelanja online. Di Tokopedia, apabila kita memesan barang ke Refiza dan barang belum sampai ke kita, Tokopedia tidak akan mentransfer uang yang telah kita bayarkan untuk Refiza melalui Tokopedia, sebelum ada konfirmasi dari kita bahwa barang sudah sampai. Jadi, kalau Refiza tidak mengirimkan barangnya kepada kita, maka uang kita akan dikembalikan oleh Tokopedia. Aman, bukan? Kita juga bisa mengetahui keamanan penjual dari testimoni pembeli yang sudah terpampang di website Refiza.

Sumber gambar: http://www.refiza.com/

Sudah tidak bingung lagi kan mencari souvenir islami untuk souvenir pernikahan maupun acara-acara istimewa lainnya? Insya Allah, acara-acara spesial yang kita adakan semakin berkesan di hati para undangan dengan pemberian souvenir islami ini.






Jumat, 07 Agustus 2015

Memupuk Kesabaran di 10 Hari Terakhir Ramadan

Menemani anak-anak buka puasa di mall jam 12 siang


Assalamu’alaikum. Alhamdulillah, sudah lebih dari dua minggu yang lalu kita merayakan Idulfitri. Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu diterima Allah Swt ya. Saya sendiri sudah pulang dari mudik di Garut. Mudiknya cukup panjang, berangkat hari Rabu H-2 lebaran, dan pulangnya juga hari Rabu, H+6 lebaran. Suami ambil cuti satu minggu dan anak-anak pun sedang liburan sekolah, jadi pas deh.


Ramadan tahun ini memiliki arti yang berbeda bagi saya, terutama sebagai seorang ibu yang sedang mengajarkan anak-anaknya untuk berpuasa pertama kalinya. Si sulung, Ismail (7 tahun), sudah mengenal puasa, karena di sekolahnya diajarkan puasa sunah setiap hari Kamis, sedangkan Sidiq (6 tahun), si tengah, baru belajar puasa. Sebenarnya banyak orang tua yang mengajarkan anak-anaknya berpuasa dari umur 5 tahun, bahkan ada yang dari umur 4 tahun, tapi saya memilih mengajarkan anak-anak saya berpuasa setelah berumur di atas 6 tahun. 

Pada hari pertama puasa, Ismail diperbolehkan berbuka jam 12 siang. Namanya juga anak-anak, belum jam 12 sudah merengek-rengek minta buka. Sebenarnya Ismail minta buka puasa bukan karena lapar, tapi karena melihat adiknya yang bungsu sedang makan jajanan. Jadi, godaan puasanya ada pada si bungsu ini yang umurnya memang baru 3 tahun, belum puasa dan belum bisa dikasihtahu kalau harus makan sembunyi-sembunyi dari kakak-kakaknya. Kalau di sekolah, Ismail lebih bisa menahan diri untuk makan sampai jam 12 siang, karena teman-teman di sekolahnya kan juga nggak makan. Berhubung puasa kali ini bertepatan dengan liburan sekolah, jadi deh Ismail lebih banyak puasa di rumah. Saking kesalnya karena nggak boleh makan, Ismail tanya, “Kenapa sih kita harus puasa? Ismail nggak suka puasa!” 

Nah lho! Anak saya nggak suka puasa! Apakah anak saya bukan anak yang soleh? 

Hm, justru anak-anak itu jujur. Mereka mengutarakan apa yang benar-benar ada di dalam hatinya tanpa manipulasi. Kalau orang dewasa ditanya, “Apa kamu suka puasa?” Supaya disebut “soleh,” mereka bisa saja menjawab, “Oh, suka dong. Puasa itu kan menunjukkan bahwa kita orang beriman.” Padahal, jujur saja, siapa sih yang suka berpuasa? Orang dewasa saja banyak yang berpura-pura puasa, tapi diam-diam berbuka sebelum waktunya. 

Saya ingat sewaktu kecil, saya juga nggak suka puasa. Puasa itu ibadah yang paliiiing berat. Setiap memasuki bulan Ramadan, saya sudah mengeluh duluan. Duh, nanti nggak bisa makan-minum lagi deh. Memang, yang paling berat itu menahan nafsu untuk makan dan minum, karena anak kecil kan belum punya nafsu lain, seperti yang dimiliki orang dewasa. Mengapa Allah mewajibkan kita berpuasa? Apakah Allah ingin menyiksa kita? 

Pertanyaan Ismail membuat saya berpikir. Dulu saya malah nggak punya pertanyaan semacam itu. Kenapa kita harus puasa? Paling-paling saya menemukan jawabannya di buku-buku agama bahwa puasa itu wajib, puasa itu untuk Allah, puasa itu menahan diri dari hawa nafsu, dan sebagainya. Saya tidak menemukan arti filosofis dari berpuasa, sampai Ismail bertanya.

“Karena nggak semua keinginan Kakak bisa langsung dipenuhi saat itu juga. Kakak harus sabar menunggu waktunya berbuka puasa,” kata saya, ketika Ismail merengek lagi. Itulah arti “puasa” yang bisa saya jelaskan kepada Ismail, karena dia masih kecil, jadi harus dikasih penjelasan yang bisa masuk ke otak kecilnya. Memang, jawaban saya itu nggak langsung bisa “membujuk” Ismail, tapi hari demi hari Ismail makin bisa memahami arti puasa. 

Puasa mengajarkan kita untuk bersabar. Saya jadi merenung sendiri. Soal sabar, saya sendiri masih harus banyak sekali belajar. Sepuluh hari menjelang lebaran, uang THR dari kantor suami belum turun. Rekening tabungan saya pun belum terisi. Saya mengikuti beberapa lomba menulis, hasilnya nihil. Kalah melulu, sampai bosan. Royalti buku? Belum bulannya. Phiuuh…. Padahal, kebutuhan lebaran dan mudik harus cepat dibeli. Kalau belinya mepet lebaran, harga sudah melonjak tinggi. Sebenarnya, suami sudah dapat uang gaji, tapi langsung ludes untuk biaya masuk sekolah anak-anak. Dua anak saya sekolah di SD Islam Terpadu, biayanya lumayan juga. Jadi, kami memang harus sabar menunggu uang THR turun dan saya harus sabar siapa tahu menang lomba menulis. 

Sabar itu mudah diucapkan, tapi sulit dipraktekkan. Mumpung sudah masuk 10 hari terakhir Ramadan, saya memupuk kesabaran dengan memperbanyak ibadah. Toh, kemenangan Idulfitri itu artinya menang mengalahkan hawa nafsu selama bulan Ramadan, termasuk nafsu beli ini itu menjelang lebaran.  Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah saw biasa ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadan, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadist di atas menunjukkan keutamaan 10 hari terakhir Ramadan. Rasulullah semakin memperkuat ibadahnya pada 10 hari terakhir Ramadan, karena merupakan penutup bulan Ramadan yang diberkahi dan mengharapkan Lailatul Qadar (malam seribu bulan) yang muncul pada malam-malam terakhir Ramadan. Bagi mukmin yang bersungguh-sungguh beribadah di hari-hari terakhir Ramadan, akan mendapatkan maghfiroh (ampunan) Allah Swt. Sayangnya, kita memang sering kali melalaikan malam-malam terakhir Ramadan ini karena disibukkan dengan urusan lebaran, mudik, dan sebagainya. 

Kesabaran itu juga saya temukan pada wajah-wajah amil zakat yang menunggui stan pembayaran zakat, infak, dan sedekah di sebuah mall. Pada H-5 lebaran, akhirnya THR suami pun turun dan suami mengajak kami ke mall sambil ngabuburit, membeli beberapa keperluan lebaran. Ketika hendak menaiki eskalator, saya melihat beberapa pemuda yang sedang bersabar menunggui stan pembayaran ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) dari sebuah lembaga yang terpercaya. Ratusan orang hilir mudik melewati stan tersebut, tapi tak ada seorang pun yang mampir. Saya memang sempat agak lama memperhatikan stan tersebut, sambil menunggu suami selesai memarkirkan mobil. Saya dan anak-anak turun duluan, sementara suami mencari tempat parkir, saking  penuh dan banyaknya kendaraan yang masuk ke dalam mall. Ironis. Begitu banyaknya orang yang berbelanja urusan dunia, tapi belum ada seorang pun yang mampir ke stan ZIS itu untuk berbelanja urusan akhirat. 

Akhirnya bisa pakai baju baru yang dibeli di mall itu :D
Saya pun masih berpikir-pikir, apakah saya bayar zakat di situ atau tidak? Alhamdulillah, akhirnya saya dapat rezeki juga, alias transferan uang, tambahan penghasilan dari menulis. Memang belum dizakatkan. Satu hal yang membuat saya pikir-pikir adalah, perasaan tidak enak membayar zakat di tempat umum di mana orang-orang hilir mudik. Apa yang terjadi kemudian? Saya menjadi sama saja dengan orang-orang lain yang hanya melewati stan tersebut dengan berjuta perasaan bersalah.

Duh, pelit banget, sih? Paling bayar zakat berapa, sih?

Sambil memilih-milih barang keperluan lebaran, saya tanya ke suami, boleh nggak kalau nanti saya bayar zakat di stan itu? Suami jawab, terserah. Setelah puas belanja, beberapa jam kemudian, saya turun kembali ke tempat parkir dan lagi-lagi bertemu dengan stan tersebut yang masih belum dihampiri seorang pun. Mungkin saja selama saya berbelanja, ada orang yang sudah bayar zakat di sana. Mudah-mudahan begitu. Ekspresi wajah para amil (pengumpul) zakat itu terlihat begitu sabar menunggu pembayar zakat, sambil sesekali menawari pengunjung untuk membayar zakat. Baiklah. Ini tidak bisa dibiarkan. Saya harus bisa mengalahkan hawa nafsu. Dengan langkah perlahan—saking gugupnya—saya hampiri stan ZIS tersebut dan menunaikan kewajiban membayar zakat.

“Jazakumullah, semoga Ibu dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan,” itu ucapan amil zakat yang saya ingat, setelah saya membayarkan zakat tersebut. Saya lega sudah bisa mengalahkan hawa nafsu untuk menguasai sendiri rezeki dari Allah Swt, sekaligus malu karena jumlah yang saya berikan itu sebenarnya tidak banyak. Saya pulang sambil masih mengingat-ingat kejadian itu. Satu hal yang memotivasi saya membayar zakat melalui lembaga itu, karena zakatnya akan disalurkan untuk pembangunan pesantren penghafal Al Quran. Saya berharap bisa kecipratan pahala hafalan Al Qurannya itu, walaupun sedikit. Aamiin….

Tak disangka, ternyata janji Allah itu benar, bahwa zakat itu seperti pohon yang buahnya lebat. Hanya sehari berselang setelah saya membayar zakat, nama saya disebut seorang teman di facebook sebagai salah satu pemenang lomba blog! Masya Allah! Kesabaran saya telah menemukan muaranya. Sabar menunggu rezeki Allah Swt di hari-hari terakhir Ramadan. Subhanallah walhamdulillah…. Saya yakin rezeki itu juga karena kesabaran menahan hawa nafsu, termasuk nafsu menghabiskan seluruh rezeki untuk diri sendiri, melainkan sebagian disalurkan dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah. 

Hadiah Lebaran untuk Anak-anak
Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menang di hari raya Idulfitri yang lalu dan senantiasa memupuk kesabaran tak hanya di bulan Ramadan melainkan juga di bulan-bulan selanjutnya.