Selasa, 28 April 2015

#SetahunDream: Berani Meraih Mimpi bersama Dream.co.id



Era digital telah memudahkan kita memperoleh berita dan informasi melalui ujung jari. Tinggal klik, maka terbukalah situs-situs berita yang menyediakan berbagai informasi dari seluruh dunia. Saya juga sudah memanfaatkan internet untuk mengetahui berita-berita dari dalam dan luar negeri. Saat senggang, saya akan membaca-baca situs berita supaya tidak kudet (kurang update). 

Saya sering menemukan berita-berita yang bersumberkan dari  Dream. Saya jadi penasaran  dan mulai sering membacanya. Ternyata, usianya baru setahun! Setahun itu, bila berwujud manusia, berarti masih belajar berjalan dan berbicara, tetapi Dream terlihat sudah lancar berjalan dan berbicara. Berikut adalah pendapat saya terhadap website Dream dalam #SetahunDream.

Tampilan Web Dream
Dare (Berani): Dream berani mengangkat berita-berita unik dan berani, yang jarang diangkat oleh website lain. Tidak banyak website yang mengangkat berita-berita dari dunia Islam, terutama yang sedang berkonflik, tetapi Dream berani. Dream sering menayangkan berita-berita dari Palestina, yang saat ini masih dijajah Israel, sehingga menimbulkan rasa empati kita terhadap perjuangan rakyat Palestina. 

Religious (Agamis): Nuansa agama Islam sangat terasa ketika membaca Dream, sesuai dengan taglinenya: Situs Berita Muslim Populer. Saat membutuhkan siraman ruhani, bacalah kisah-kisah para mualaf,  kita akan semakin mensyukuri hidayah iman dan Islam yang telah kita dapatkan. Ada juga  berita-berita lain yang bernuansa agamis, seperti: keindahan bangunan-bangunan Masjid yang ada di Indonesia dan dunia,  berbisnis sesuai syariah,  artikel-artikel yang berkaitan dengan hukum Islam, bahkan ceramah keagamaan. Dream komplit sekali menyajikan artikel-artikel islami yang bisa menjadi pelepas dahaga dari rasa haus akan nilai-nilai spiritual Islam.

Energizing (Berenergi): Membaca Dream membuat saya berenergi, menambah semangat beraktivitas. Ada kisah perjuangan menjadi sukses yang dirintis dari bawah, membuat saya yakin bahwa saya juga bisa meraih sukses. Energi itu juga bisa didapatkan dari makanan. Di rubrik Cullinary, Dream menyajikan informasi tempat-tempat hang out keren dengan makanan dan minuman yang enak. 

Amazing (mengagumkan): Ketika pertama kali mengunjungi website Dream, maka yang terlintas di benak saya adalah “Amazing!” Website ini “cewek abiss” tapi cowok juga boleh baca. Tampilannya berwarna-warni, dari mulai logo sampai judul rubrik-rubriknya. Ada 11 (sebelas) rubrik yang memikat: News, Dinar, Lifestyle, Fresh, Orbit, Your Story, Jejak, Community, Photo, Video, dan Cullinary. 

Marvelous (Menakjubkan): Bagi saya, secara keseluruhan, website Dream ini menakjubkan. Saya menjadi semakin berani meraih mimpi usai membaca berita-berita yang dimuat oleh Dream, karena tak hanya berisi berita-berita populer, tetapi juga motivasi dan inspirasi. Ada rubrik Community di mana pembaca bisa mengirimkan tulisan yang sudah diposting di blog dan dipublikasikan di website Dream dengan menyertakan link blognya. Tulisan kita bisa makin populer, karena Dream memiliki jejaring sosial yang lengkap: Twitter, Google Plus, Fanspage, dan Instagram dengan jutaan pengikut.  Saya sering menemukan berita-berita dari Dream terpampang di Yahoo Mail, setiap akan mengecek email. Untuk blogger yang postingan blognya dimuat di website Dream, tentu akan meningkatkan trafik blog. 

Dream memang membuat saya berani mewujudkan mimpi!







http://www.dream.co.id/your-story/ayo-kirimkan-artikel-kamu-dalam-lomba-blog-setahundream-150417v.html

Senin, 27 April 2015

IDE HEBAT: Kreatif Mengolah Makanan Non Beras



Beberapa minggu lalu, harga beras sempat melambung. Saya yang biasanya membeli beras seharga Rp 7000-Rp 7500 per liter, tiba-tiba harus membeli beras seharga Rp 9000-Rp 10000 per liter. Disinyalir, kenaikan itu disebabkan oleh fluktuasi kenaikan harga BBM dan adanya mafia beras[1]. Selisih harga Rp 2000-Rp 3000 itu kelihatannya kecil, tapi kalau beli berasnya sekarung ya tidak kecil lagi. Sedangkan uang belanja yang diberikan oleh suami tidak mengalami kenaikan, karena gaji suami pun tidak naik. Pembantu saya saja mengeluh. Biasanya dia bisa mendapatkan beras seharga Rp 6000, kemarin tidak lagi. Pertama kalinya seumur hidup, dia harus memakan beras seharga Rp 9000/ liter. 


“Belum makan namanya kalau belum makan nasi,” begitu kata sebagian besar orang Indonesia, jika belum menyentuh nasi dalam sehari. Saya juga begitu. Makanya, saat sekolah anak saya mengumumkan aturan “ONE DAY NO RICE,” saya sempat kelimpungan. Anak saya sekolah di full day school, berangkat pagi, pulang sore. Dari rumah, dia membawa bekal snack pagi dan nasi untuk makan siang. Kalau tidak boleh bawa nasi, makan siangnya pakai apa? Hari pertama peraturan itu diterapkan, saking bingungnya, saya membawakan anak saya bihun. Akibatnya, bihun itu tidak dimakan karena dia tidak suka! 

Nasi mengandung karbohidrat sebagai sumber energi. Kalau sudah makan nasi, rasa kenyangnya bisa bertahan hingga berjam-jam karena karbohidrat memang lama diserap tubuh. Kalau kita muntah saja ya, nasi yang kita makan dari lima jam lalu pun bentuknya masih seperti nasi yang baru kita makan. Itu kenapa nasi bisa membuat kenyang. Orang Indonesia tidak cukup hanya makan roti, pasti tidak langsung kenyang. Itu karena terbiasa makan nasi, padahal orang bule sudah cukup makan roti dan mentega, burger, kentang, dan sebagainya. Ketergantungan terhadap nasi membuat kita kelimpungan sendiri begitu harga beras dinaikkan. Nasi adalah makanan pokok dan utama yang harus ada di meja makan pada jam makan pagi, siang, dan sore.

Tak heran, kasus kejadian penyakit diabetes di Indonesia ini paling tinggi di Asia dan masuk 10 besar penderita diabetes terbesar di dunia. Posisi Indonesia ada di nomor tujuh dengan jumlah penderita sebanyak 8,5 juta orang[2]. Menurut Dokter Kartono Muhammad, nasi putih merupakan makanan yang memberikan sumbangan paling besar dibandingkan dengan makanan lain untuk penyakit diabetes, karena mengandung zat karbohidrat dan kadar gula yang tinggi[3]. 

Selain itu, lahan pertanian di Indonesia terus berkurang, karena banyak dikonversi menjadi pemukiman dan bangunan industri[4]. Generasi muda pun sudah banyak yang malas turun ke sawah. Kelak, mungkin kita akan kesulitan memperoleh nasi kalau tidak disiapkan alternative penggantinya dari sekarang.

Lalu, apa makanan pengganti beras yang juga mengandung karbohidrat dan bisa membuat kenyang? Banyak, sebetulnya. Hanya saja kita perlu membiasakan memakannya agar tidak lagi bergantung pada nasi. Dalam 100 gram nasi terdapat 180 kilokalori energi. Berikut adalah makanan pengganti nasi:

Jagung, mengandung 154 kilokalori dalam 100 gramnya.
Singkong, mengandung 154 kilokalori dalam 100 gramnya.
Kentang, mengandung 64 kilokalori dalam 100 gramnya.
Ubi, mengandung 100 kilokalori dalam 100 gramnya.
Talas, mengandung 120 kilokalori dalam 100 gramnya[5]. 

Uniknya, orang Indonesia menjadikan makanan-makanan di atas sebagai cemilan dan bukannya makanan pokok, padahal ketiganya mengandung kalori yang nyaris setara dengan nasi. Bisa dibayangkan berapa banyak kalori yang masuk ke dalam tubuh jika keempatnya dikonsumsi bersama-sama? Itu mengapa kita harus membiasakan mengonsumsi makanan-makanan yang mengandung karbohidrat secara terpisah. Sebagai ibu, saya berniat mengolah makanan dari bahan-bahan tersebut secara kreatif, agar anak-anak menyukainya dan bisa menjadi pengganti nasi.

Tentunya, olahan makanan ini juga bisa dijadikan peluang usaha. Saya pernah mendengar ada usaha kuliner berbahan utama singkong dan talas. Mengapa tidak kita coba olah makanan lain dari kentang, ubi, jagung, dan lain-lain? Bagi ibu rumah tangga, berjualan makanan-makanan ini bisa dijadikan tambahan penghasilan. Tahu sendiri kan harga-harga barang mengalami kenaikan sejak subsidi BBM dicabut sedikit demi sedikit, sedangkan gaji suami tidak naik. Saya belum piawai memasak, jadi olahan yang saya buat ini masih untuk konsumsi pribadi dan anak-anak. Bukan tidak mungkin ke depannya nanti saya benar-benar mewujudkan ide bisnis ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan. 

Bahan-bahan pokok pengganti nasi tersebut juga lebih mudah ditanam daripada menanam padi. Di depan rumah, saya sudah menanam singkong. Tetangga saya menanam ubi dan talas. Lain halnya dengan menanam padi, kita membutuhkan lahan yang luas, pengairan yang cukup, dan pengawasan dari hama pengganggu. Ubi kayu (singkong) dilempar ke kebun pun jadi (tumbuh), walaupun akan lebih baik kalau tanahnya digemburkan dulu. 

Saya baru mencoba resep Kue Ubi Kubus, yang diperoleh dengan mengolah ubi agar lebih menarik dan enak dinikmati.  

Bahan-bahan yang dibutuhkan:
Dua buah ubi, dikukus lalu dihaluskan.
100 gram tepung terigu
Dua butir telur
150 gram gula pasir
150 gram margarin, dicairkan
Pewarna makanan hijau dan cokelat. 
Susu cair cokelat 100 ml.

Bahan-bahan yang digunakan
Cara membuatnya:
Telur dan gula pasir dikocok sampai mengembang, lalu masukkan tepung terigu dan ubi yang sudah dihaluskan sedikit demi sedikit. Tambahkan margarine cair, aduk sampai merata. Pisahkan menjadi dua bagian, dan campur dengan pewarna hijau dan cokelat. Campurkan susu cair cokelat. Aduk rata. Kukus selama 30 menit.  

Kue Ubi Kukus
Setelah makanan ini jadi, bagaimana strategi pengembangan idenya? Saya masih harus terus menguji coba resep kue ubi kukus (dan makanan non beras lainnya) yang enak dan lain daripada yang lain. Siapa tahu ke depannya nanti saya bisa menemukan resep yang lebih lezat lagi. Pemasarannya bisa dimulai dari sekitar rumah dulu, seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu tetangga yang menitipkan makanan di beberapa warung. Jadi, selain bisa mengganti nasi dengan makanan lain yang juga kaya karbohidrat, saya juga bisa mendapatkan tambahan uang belanja. Ibu-ibu lain yang lebih jago masak, bisa memikirkan peluang usaha ini dengan lebih kreatif mengolah makanan non beras. Sebenarnya, bahan-bahan makanan di atas bisa dikonsumsi dengan hanya direbus atau digoreng (singkong rebus, ubi rebus, dan lain-lain), tetapi orang-orang jarang yang mau memakannya (apalagi anak kecil) karena penampilannya yang tidak menarik. Buktinya, kue kukus ubi itu disukai oleh anak-anak saya, daripada kalau saya hanya menyajikannya dalam bentuk ubi rebus. Memakan kue ini dua potong saja sudah kenyang.

Barangkali resep kue ubi kukus ini bukanlah hal yang baru, karena saya juga tidak piawai memasak. Setidaknya saya ingin berbagi ide mengenai pentingnya kreativitas mengolah makanan non beras dan menghilangkan ketergantungan pada nasi. Untuk diperhatikan, ketika mengonsumsi kue ubi kukus ini, sebaiknya tidak bersama atau berdekatan waktunya dengan saat memakan nasi. Kue ubi kukus ini bisa dimakan sebagai menu sarapan. Makan siangnya, barulah kita bisa memakan nasi. Makan malam, kita ganti dengan menu non beras lain. Bila kita membiasakan memakan makanan non beras, lambat laun kita bisa rutin mempraktekkan ONE DAY NO RICE, bahkan kalau perlu THREE DAYS NO RICE for a week.


[1] http://economy.okezone.com/read/2015/02/23/320/1109204/penyebab-harga-beras-naik-tinggi
[2] http://www.tempo.co/read/news/2013/11/14/060529766/Indonesia-Masuk-10-Besar-Negara-dengan-Pengidap-Diabetes
[3] http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/14/10/22/ndufin-nasi-putih-penyebab-terbesar-penyakit-diabetes
[4] http://www.tempo.co/read/news/2014/06/11/173584243/Konversi-Lahan-Pertanian-di-Indonesia-Mencemaskan
[5] http://www.tempo.co/read/news/2012/10/31/060438718/Ada-Banyak-Pilihan-Pengganti-Nasi




Selasa, 21 April 2015

#BeraniLebih Berpikir Positif, Agar Dunia Terlihat Cerah



Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan oleh musibah kecelakaan pesawat yang menewaskan seluruh penumpangnya. Ada beberapa penumpang yang selamat. Bukan penumpang yang berada di dalam pesawat, melainkan penumpang yang tertinggal pesawat karena tidak membaca pemberitahuan perubahan jadwal penerbangan yang dikirimkan melalui email. Pada saat ketinggalan pesawat, kira-kira apa yang ada di dalam pikiran calon penumpang yang selamat itu?


“Ah, siaaaal! Gue ketinggalan pesawaat! Rugi deh gue, hilang duit gue!”

Acap kali, kita menyesali musibah yang menimpa (dan bukannya mensyukuri). Kita membiarkan pikiran negatif menguasai, tanpa mau mencoba memikirkan hikmah yang ada di balik musibah tersebut. Saya juga pernah tertinggal kereta api kelas Bisnis, padahal tiketnya sudah bayar. Saya marah-marah kepada supir taksi yang lelet jalannya. Sampai berpikir, mungkin itu supir sengaja jalannya dileletkan supaya biaya yang tertera di argometernya itu naik terus. Akibatnya, saya harus beli tiket kereta api kelas Eksekutif, karena sudah tidak ada lagi kereta kelas bisnis, kecuali saya mau menunggu sampai sore. 

Sepanjang hari, saya terus merutuki musibah itu, tanpa mencoba menikmati fasilitas yang diberikan oleh kereta api kelas Eksekutif. Di dalamnya, hanya ada sedikit penumpang. Duduk di kursi yang nyaman, bak duduk di atas sofa empuk. Kursinya bisa disandarkan kalau kita mau tiduran, juga ada bantal kecil yang empuk dan wangi. Ada fasilitas televisi di setiap gerbong, plus dapat snack dan minuman. Gerbongnya juga nyaman, tidak ada tukang jualan (saat itu, penjual makanan masih diperbolehkan berjualan di dalam kereta api kelas Bisnis). AC-nya maksimal, udara terasa sangat sejuk. Amboooi… enaknyaaa…. Pengalaman itu masih menjadi pengalaman pertama saya menaiki kereta api kelas Eksekutif. Kalau bukan karena terlambat naik kereta, kapan lagi saya bisa menikmati fasilitas itu? Dalam kondisi normal, tentu saya lebih memilih naik kereta dengan tarif ekonomis. 

Ketinggalan kereta, memang musibah. Tapi, daripada terus menyesali diri, lebih baik mencari sisi positif dari musibah itu. Pengalaman saya jadi bertambah dengan menaiki kereta api kelas Eksekutif. Lumayan bisa jadi bahan tulisan, walaupun saya harus keluar ongkos tambahan. Lah wong mau marah-marah juga tidak ada hasilnya toh? Saya juga baru saja mendapatkan musibah, yaitu paket kiriman untuk seorang teman yang saya kirim melalui sebuah jasa pengiriman, sudah hampir dua bulan belum sampai juga.  Entah paketnya hilang di mana. Tidak ada kejelasan juga dari jasa pengiriman tersebut. Hikmahnya? Lain kali saya harus berhati-hati memilih jasa pengiriman. Jika harga paketnya lumayan, sebaliknya memakai asuransi. Kalau hilang kan bisa minta ganti asuransi. Masih mending harga paketnya kemarin itu baru kisaran ratusan ribu, coba kalau jutaan? Nangis darah, kaan? 

Berpikir positif membuat hati lebih tenang dan ikhlas menerima kejadian seburuk apa pun. Termasuk jika keinginan-keinginan kita belum tercapai pada saat ini, pasti ada hikmahnya. Berpikir negatif hanya akan membuat kita stress, bahkan depresi. Aduh, saya tidak mau sampai depresi. Saya #BeraniLebih berpikir positif, agar dapat melihat dunia dengan warna-warna cerah. 



Twitter: @LeylaHana


Senin, 20 April 2015

Header Cantik dari Fardelyn Hacky

Alhamdulillah, blog ini akhirnya ganti wajah juga. Setelah lama bertahan dengan template buatan seorang teman, Mbak Anik Nuraeni, kini saya berani mengganti penampilan. Bukan apa-apa, template sebelumnya memajang kover-kover buku saya yang sudah lama. Bukunya dicari di toko buku pun sudah susah hehehe.... 



Sudah lama saya ingin ganti template, tapi kok ya gimana gitu, khawatir nyesel. Soalnya saya cinta banget sama template buatan Mbak Anik. Bikinan seorang sahabat, memang menyenangkan. Mau nggak mau, harus ambil keputusan untuk ganti template. Mudah-mudahan saya nggak  nyesal. 

Warna pink tetap mendominasi template baru ini, walaupun aslinya template ini dari blogger, yang warna putih polos. Yep, saya memang sulit lepas dari warna pink. Setidaknya untuk blog ini harus tetap warna pink. Template dari blogger ini katanya sih sudah SEO Friendly, jadi blog saya bisa main SEO-SEO-an. Apa gitu yak, xixixi.... 

Untuk headernya, saya minta dibuatkan oleh Mbak Fardelyn Hacky. Mbak yang baik ini mau direpotkan membimbing saya memasang header dan mempercantik  blog. Dini hari chattingan demi mempermulus niat saya mengganti template dan header blog. Makasih, Mbak Eky, sudah membulatkan tekad saya untuk mengganti template kenangan. Semoga dengan ganti template ini, saya makin semangat ngeblog. Bukan makin turun yaa hehe....

Yang mau pesan header blog dari Mbak Eky, boleh lho, mumpung masih gratis. Deketin aja orangnya, baik-baikin yaaak.... 




Kamis, 16 April 2015

Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.com: Tinggal Klik!



Berbagi bahagia bersama TabloidNova.com sudah lama saya lakukan, sejak memfollow twitter @TabloidNova, saya banyak menemukan inspirasi kebahagiaan. Kata orang, bahagia itu sederhana. Kita dapat menemukan hal-hal kecil dalam kehidupan kita yang bisa menimbulkan kebahagiaan. Masalah klasik orang zaman sekarang adalah tidak pandai menemukan hal-hal kecil tersebut. Memiliki keluarga yang harmonis, adalah salah satunya. Suami yang bertanggungjawab dan anak-anak yang sehat dan ceria adalah salah satu hal yang membuat saya bahagia. 
Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.com
Berbagi Bahagia bersama Anak-anak saat Ultah di Bungsu

Bahagia Bersama Keluarga pun tak mesti memiliki harta berlimpah atau pelesiran ke luar negeri. Menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga pada akhir pekan, mendengarkan celotehan anak-anak yang riang dan gembira, mendapat pelukan hangat dari suami, sudah membuat saya bahagia. Kalaupun ingin jalan-jalan, kami bisa mengunjungi tempat-tempat wisata lokal dengan biaya terjangkau. Yang tak boleh dilupakan adalah mengunjungi kakek dan nenek anak-anak, biasanya sebulan atau dua bulan sekali. Jika kami tidak datang dalam waktu itu, mereka akan menelepon menanyakan kabar cucu-cucunya, meminta kami datang. Walaupun sudah hidup terpisah, kami tetap harus berbagi kebahagiaan bersama orangtua yang sudah melahirkan dan membesarkan kami.
Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.com
Cucu-cucu berbagi bahagia bersama kakek yang datang berkunjung

Pada waktu-waktu luang, saya pun kerap berbagi bahagia bersama TabloidNova.com, apalagi dengan fasilitas ponsel cerdas yang saya miliki. Tinggal klik TabloidNova.com, saya sudah dapat membaca berita-berita yang menimbulkan kebahagiaan. Jika ingin membahagiakan anak-anak dengan cemilan di sore hari, saya akan mencari resep-resep masakan di TabloidNova.com, lalu mempraktekkannya. Saya memang tidak begitu pandai memasak, masih taraf belajar. TabloidNova.com telah membuat saya berani mempraktekkan resep-resep masakan yang ada di dalamnya untuk membahagiakan keluarga. 

Ada pula berita-berita tentang selebritis, profil perempuan inspiratif, rubrik cerpen, rubrik konsultasi psikologi, dan lain-lain, sungguh merupakan cara mudah untuk merasakan kebahagiaan. Membaca berita-berita itu di tengah rutinitas harian yang monoton merupakan salah satu jalan untuk bahagia. Selain berbagi bahagia bersama TabloidNova.com, saya juga berusaha berbagi kebahagiaan kepada orang-orang di sekitar. Berikut adalah cara saya berbagi kebahagiaan:


  1. Berbagi kabar bahagia. Salah satu cara mensyukuri nikmat Tuhan adalah dengan berbagi kabar bahagia. Ada kalanya kita enggan berbagi kabar bahagia karena khawatir orang lain merasa iri, padahal banyak juga lho teman-teman yang senang dibagi kabar bahagia. Misalnya, saat kita hamil lagi. Justru kalau kita tidak memberi kabar dan tahu-tahu melahirkan, mereka akan berseru, “Wah, kapan hamilnya? Kok nggak ngabarin?” Sama halnya kalau kita akan menikah dan tidak mengundang orang (saking tidak ingin membuat orang lain iri), mereka pasti akan kecewa dan berkata, “Kok tahu-tahu sudah nikah? Kok nggak ngundang-ngundang? Gitu ya sama temen….”
  2. Berbagi rezeki yang diterima. Di dalam rezeki yang kita dapatkan, ada bagian orang lain. Setiap kali mendapatkan rezeki, saya menyisihkan sebagian untuk orang-orang yang berhak menerimanya: orangtua, pembantu rumah tangga, adik-adik, atau orang lain yang berhak. Setiap kali memberi, hati saya plong. Entah apa, mungkin itu yang namanya bahagia karena memberi. Apalagi kalau mereka terlihat bahagia usai menerima pemberian saya. Itu berarti, saya sukses membagi kebahagiaan.
  3. Berbagi bahagia dengan mendoakan mereka agar terlepas dari kesulitan dan memperoleh sesuatu yang diinginkan. Dulu, saya pernah mendoakan seorang teman yang belum juga mendapatkan jodoh, sementara saya akan menikah. Alhamdulillah, setahun kemudian, dia menyusul saya menikah. Saya juga pernah mendoakan adik yang belum juga dikaruniai anak meskipun sudah tiga tahun menikah. Kini, adik saya itu sedang mengandung anak kedua.
  4. Berbagi bahagia dengan ikut bersuka cita terhadap rezeki yang diterima orang lain, dan bukannya iri, dengki, apalagi  benci. Kalau kita memelihara penyakit hati, akibatnya malah diri kita sendiri yang tidak bahagia. Saya sudah membuktikan, setiap kali diri ini ikut berbahagia terhadap rezeki orang lain (misalnya dengan mengucapkan “selamat”), mereka pun akan bertambah lagi kebahagiaannya. 
Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.com
Berbagi bahagia bersama anak yatim dan duafa

Ah, senangnya berbagi kebahagiaan. Apalagi berbagi bahagia bersama TabloidNova.com, tinggal klik! Terima kasih, TabloidNova.com sudah menjadi salah satu inspirasi kebahagiaan dalam hidup saya.

Kamis, 09 April 2015

Merubah atau Mengubah?

Ternyata masih banyak penulis yang menggunakan kata MERUBAH dan bukannya MENGUBAH. 

"Andi berhasil merubah sampah menjadi emas."

Yang benar:

"Andi berhasil mengubah sampah menjadi emas."


Kata UBAH bila bertemu dengan awalan dan akhiran "PER-AN" dan awalan "BER" memang akan jadi "PERUBAHAN" dan "BERUBAH." Tak heran jika banyak penulis yang menggunakan  kata "MERUBAH" karena mereka mengira dalam tata bahasa Indonesia, ada awalan "MER." Selain kata "MERUBAH" apakah ada kata lain yang menggunakan awalan "MER"? 

MERASA --> Me-Rasa
MERONA --> Me-Rona
MERINAI --> Me-Rinai

Yap, yang benar, tak ada awalan "MER", yang ada juga "ME." Jadi, kalau Anda menggunakan kata "MERUBAH" itu sama artinya dengan, "ME-RUBAH"

"Menjadi Rubah."

Wakwakwakwakwak...... 

Jadi, apa awalan yang tepat untuk kata Ubah? Yang benar adalah "Mengubah" --> Meng-Ubah. Nah, kalau awalan "Meng" memang ada. Nih, saya kasih contohnya: 

MENGHARGAI --> MENG-HARGA-I
MENGGUNAKAN --> MENG-GUNA-KAN
MENGGADAIKAN --> MENG-GADAI-KAN

Masih mau pakai kata MERUBAH? Silakan, menjadi Rubah :D

Rabu, 08 April 2015

Kecewa dengan Pelayanan PT Pos Indonesia

Akhirnya, saya buat juga tulisannya di sini setelah hampir SATU BULAN saya menunggu paket kiriman saya sampai ke alamat seorang teman. Tanggal 9 Maret 2015, saya mengirim paket berisi empat novel Brisbane (BUKU) ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau dengan menggunakan Surat Kilat Khusus dari PT Pos Indonesia. Dikirim dari Kantor Pos cabang Kemiri Muka, Depok, Jawa Barat. Saya sudah beberapa kali mengirim buku ke alamat tersebut dengan menggunakan POS, karena teman saya mengatakan bahwa kiriman akan lebih cepat sampai dan tidak nyasar ke mana-mana kalau pakai POS. Memang, untuk kiriman-kiriman sebelumnya, bisa sampai dengan selamat. Paling lama 1 minggu. Anehnya, untuk kiriman ini kok sampai sekarang belum sampai?


Setelah dua minggu belum sampai, saya mulai was-was. Awalnya, saya coba cek status kiriman di website PT. POS Indonesia, tapi entah kenapa tidak bisa-bisa. Apakah websitenya error? Lalu, saya kirim pesan ke fanspage PT Pos Indonesia dan tidak dijawab-jawab. Akhirnya, saya kirim email pengaduan ke website PT POS Indonesia dan baru mendapatkan balasan. Saya diminta memberikan nomor resi (nomor pengiriman), alamat pengirim, alamat penerima, dan sebagainya. Saya berikan dengan komplit. Admin berjanji akan memeriksa nomor resi tersebut, tapi sampai sekarang belum ada jawaban lagi.


Minggu ketiga, paket masih belum sampai. Terpaksa deh saya datang ke kantor Pos tempat saya mengirim paket tersebut. Saya datang hari Sabtu jam 11 siang. Saat mau dicek nomor resinya, eh petugasnya bilang, internetnya sedang diputus. Biasanya memang internet kantor mereka diputus setiap jam 11. Saya disuruh tunggu 15 menit. Lagian jam 11.30 mereka sudah tutup. Baiklah, saya tunggu. Ternyata eh ternyata, menjelang kantor posnya tutup pun internetnya masih mati. Alhasil, petugas belum bisa mengecek status kiriman paket saya, kecuali secara manual. Katanya ada kesalahan penyortiran, sehingga paketnya nyasar dan baru masuk Cipinang, Jakarta. Saya dimintai nomor hape karena petugas akan menghubungi saya hari Senin. Saya tunggu hari Senin sampai hari ini pun tidak ada juga tuh telepon dari petugas posnya. 

Hadeeeeeeeh..... masa sih jasa pengiriman sebesar Kantor Pos tidak bisa mencari keberadaan paket tersebut? Di paket dan kwitansinya sudah ada alamat lengkap dan nomor hape penerima dan pengirim. Kalau mau membandingkan dengan jasa pengiriman swasta, jika alamat tidak ditemukan maka kurirnya akan menelepon nomor hape yang tercantum di amplop tersebut. Nah, itu kan nomor hapenya sudah ada tapi tak ada itikad baik dari PT Pos untuk menelepon salah satu (penerima atau pengirim). Sekarang sudah hampir satu bulan dan masih belum ada kabar baik. Entah harus ke mana lagi saya mengadukan nasib paket kiriman pos saya itu, kecuali saya ikhlaskan saja. Mungkin seperti kata suami saya, "paketnya nyebur ke laut, kali." 

Oya, nomor resi kiriman saya: 13943115569. Siapa tahu ada petugas pos yang baca ini dan mau membantu mencaritahu. 


UPDATE!!!
Akhirnya setelah 4 bulan berlalu, kiriman saya sampai juga ke Tanjung Pinang. Pak Posnya sudah minta maaf ke penerima, yaitu Riawani Elyta. Buku-buku yang saya kirimkan itu juga diterima dalam kondisi baik. Terima kasih, Pak Pos. Biar lambat asal selamat, sepertinya berlaku dalam kasus ini :D