Kamis, 12 November 2015

Food Combining Itu Gampang dengan Pakai Aplikasi Ini!



Food Combining?! Oh, tidaaaak! Setiap hari di linimasa facebook saya, pasti ada saja teman facebook yang memposting menu makanan mereka yang katanya sih Food Combining. Entah mengapa, kebanyakan menunya itu kalau nggak sayur ya buah. Apakah Food Combining itu hanya buah dan sayur? Saya sebenarnya sudah tahu tentang Food Combing dari zaman kuliah dan masih langsing. Seorang teman kuliah, mengajak saya menerapkan pola makan itu. Katanya, dimulai dengan tiga hari pertama, detoksifikasi minum jus buah saja. Maksudnya?! Ya, itu, selama tiga hari pertama, kita hanya minum jus buah. Awalnya sih diare, tapi itu artinya tubuh sedang membuang racun. Setelah tiga hari, baru deh dimulai pola makan Food Combining sesuai rumus yang dijelaskan di dalam buku panduannya, ditulis oleh Andang W. Gunawan.


Ketika mendengar penjelasan teman saya itu, saya langsung EMOH! Aje gile, minum jus buah selama tiga hari? Nggak makan apa-apa lagi? Nggak kebayang laparnya. Maklum, si Ratu Makan. Untungnya, saya tetap langsing. E ciyeee…. Kata teman saya, FC itu nggak hanya untuk melangsingkan, tapi juga mengobati dan mencegah berbagai penyakit. Ah, syudahlah, saya nggak mau minum jus buah saja selama tiga hari pertama. Kemudian saya lulus kuliah, bekerja, menikah, punya anak, dan berat badan bertambah 20 kilogram lebih. Oh, my God! 

Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu Food Combining ngetren lagi, disosialisasikan kembali oleh Erikar Lebang. Orang-orang pun berbondong-bondong mempraktekkannya dan memamerkannya di sosial media. Ya, seperti itulah, rata-rata memposting sarapan buah dan sayur mereka hari itu, seolah-olah FC itu hanya buah dan sayur. Ada pula yang mencampur buah dan sayur, dijus yah. Saya belum mencoba sih, tapi katanya enak. Sayur seperti Brokoli dan Sawi yang biasanya dimasak jadi Capcay, ini mah dijus mentah dan diminum. 


Saya mulai terpikir ikut-ikutan. Pertama, supaya langsing kembali seperti waktu masih muda. Kedua, supaya sehat. Semakin tua, penyakit semakin mudah datang. Pola makan saya masih berantakan. Makan nggak sesuai waktu (menunggu lapar) dan makan apa aja yang ada. Ditambah lagi, saya jarang makan buah! Sejak kecil, orangtua nggak membiasakan makan buah. Kalau ada buah-buahan kiriman orang, pasti deh membusuk karena nggak dimakan. Sayang banget, ya…. Itu kenapa orangtua harus membiasakan makan buah sejak anak-anak masih kecil, karena kebiasaan itu akan dibawa terus sampai mereka besar. 

Alhamdulilah, saya menikah dengan laki-laki yang suka makan buah. Di dalam keluarganya, buah-buahan selalu ada di meja makan, tapi cara makannya bukan FC ya. Buah-buahan dimakan sebagai penutup makan besar. Setelah makan nasi dan lauk pauknya, dilanjut dengan makan buah. Itu artinya, semuanya masuk, ya karbohidrat, protein, vitamin, halah! Setidaknya, saya mulai terbiasa makan buah walaupun pola makannya masih sembarangan. 

Beberapa waktu lalu, saya sudah mencoba FC kecil-kecilan. Pagi hari dibuka dengan air jeruk nipis hangat, lalu sarapan buah. Siang hari, saya coba makan menu karbohidrat dan sayur atau sayur dan protein hewani. Kemudian, menjelang sore, saya makan kudapan buah lagi. Malamnya, makan dengan menu seperti siang hari. Aduh, rasanya seperti sedang berpuasa. Lapar terus, hehe…. Belum lagi, ribetnya menentukan menu. Saya kebingungan besok menunya apa, besoknya lagi apa, dan seterusnya. Akhirnya, saya balik lagi ke pola makan sembarangan, dan hasilnya… badan terasa berat, asam lambung pun meningkat. Padahal, saya sudah banyak makan dan apa saja dimakan, lah kok perut merintih-rintih seperti terkena magh. 

Install aplikasinya di Play Store
Syukurlah, saat sedang berselancar di internet, saya menemukan aplikasi Food Combing Itu Gampang yang dipublikasikan oleh Mizan Apps (MAP). Wow! Ini nih aplikasi yang saya cari! Segera saja saya unduh di Play Store (gratis, lho!), dan langsung saya utak-atik. Ahaaaayy! Ini dia aplikasi yang bikin FC jadi mudah! Seperti apa sih aplikasinya?

Ada beberapa menu, yaitu: Kiat, Diari, Buku, Pengaturan, Akuan, Tentang. Nah, saya coba klik Kiat, dan di situ terbukalah informasi yang selama ini kita nggak tahu bahwasanya makan buah itu dilakukan dalam keadaan perut kosong dan nggak boleh makan buah sesudah makan. Wah! Beda banget ya dengan omongan orang-orang zaman dulu, dilarang makan buah saat perut kosong, nanti bisa diare. Sayangnya, kiatnya baru segitu, mestinya ditambahin lagi info-info lain berkaitan dengan FC. Eh, info lengkapnya bisa dibaca di bukunya, “Food Combining Itu Gampang” karya Erikar Lebang. 

Menu Aplikasi
Kemudian di menu Akuan, kita bisa mengetahui siapa saja yang bekerjasama membuat aplikasi ini, dari mulai Produser, Koordinator Produser, Konseptor, UI Desainer, Programmer, dan Penulisnya. Tentu saja penulisnya ya Erikar Lebang, yang terkenal getol mengampanyekan FC. 

Yang paling asyik itu Diari makannya. Di situ sudah ada kolom-kolom kosong selama sebulan yang bisa kita isi dengan rencana menu harian. Menunya pun sudah disiapkan, kita tinggal pilih. Pagi hari dimulai dengan Jeniper (jeruk nipis peras), lalu sarapan buah (bisa buah potong maupun jus), kemudian menu makan siang (tanda hijau berarti boleh dipilih, tanda merah berarti tidak boleh dipilih), kudapan sore, dan terakhir makan malam.

Diari makan yang bisa dipilih

Cara membuat Jeniper

Enaknya sarapan dengan jus mangga :D

Naaah.. untuk menu makan siang dan malamnya itu kan biasanya kita bingung menentukan menunya. Kita tinggal pilih, mau menu karbohidrat atau protein? Untuk makan siang, saya pilih menu protein. Lalu, ditampilkanlah pilihan menu protein, dan saya pilih Ayam dan Brokoli. Itu dia kuncinya, dalam rumus FC, protein hewani nggak boleh dicampur dengan karbohidrat, seperti nasi. Teman makannya harus sayuran. Enaknya lagi, menu-menu yang ditampilkan itu adalah menu keseharian yang mudah didapat, jadi bisa diikuti. 

Brokoli dan Ayam
Kudapan sorenya disesuaikan dengan menu makan siangnya. Berhubung siangnya saya sudah makan dengan menu protein, jadi kudapan sorenya saya pilih alpukat saja. Alpukat kan bikin kenyang, apalagi kalau minumnya satu teko hehe…. Alpukatnya dibikin jus, gitu. Wih, sedaaap…

Kudapan sorenya pilih alpukat
Lalu, makan malamnya, saya pilih menu karbohidrat, yaitu Nasi dan Kubis (Bunga Kol). Rumusnya masih sama, karbohidrat nggak boleh dicampur dengan protein hewani. Nasi dan sayur sudah cukup mengenyangkan. Untuk menu-menu hari berikutnya, sistemnya sama. Kita bisa merancang menunya sampai sebulan supaya nggak bosan. Untuk melengkapi pengetahuan, ya sekalian saja baca bukunya yang sudah diterbitkan oleh Qanita Mizan.

Ini dia menu makan saya satu hari!
Aiiih… FC jadi gampang banget ya dengan aplikasi ini. Aplikasi ini akan diluncurkan besok Jumat, 13 November di Kinokuniya, Plaza Senayan Jakarta, pukul 15.00-17.00 WIB. Kalau ada waktu, datang saja. Lumayan kan bisa dapat informasi penting tentang FC. Kalau mau serius FC, unduh pula aplikasinya, setelah itu dipraktekkan. Saya sendiri baru mau mulai nih setelah ketemu aplikasi ini. Semoga saja  bisa konsisten, kalau menu-menunya sudah ditentukan begini kan enak. Semangaaat! 



Selasa, 10 November 2015

Paris Van Java, Mall Bergaya Eropa

Assalamu'alaikum. Kangen ngeblog nih! Dua bulan ini (November dan Desember) sedang fokus menulis buku, alhasil blog terbengkalai. Rencana mau ikut lomba-lomba blog pun banyak yang gagal, karena prioritas menulis naskah buku yang deadline Desember. Kecuali reportase even, terpaksa harus diikuti karena sudah diundang kan hehe.... Terakhir serius ikutan lomba itu saat sedang di Bandung, liburan bersama keluarga. Menginap di hotel deJava Sukajadi Bandung, yang lokasinya berhadapan dengan Mall Paris Van Java. Bisa ditebak kan, saya pasti jalan-jalan juga ke mall itu. 


Saat akan menuju ke lokasi hotel, kami sudah melewati mall itu. Suami sudah antusias menunjuk-nunjuk ke arah bangunan mall, "Itu Mall Paris Van Java. Nanti tinggal nyebrang aja ke sana." Saya melihat bangunan mall itu, yang sepertinya kecil. Halamannya luas sekali dan bangunannya tidak bertingkat seperti mall-mall lain. Di sampingnya juga sedang ada renovasi, jadi saya pikir mallnya belum jadi. "Ah, kayaknya nggak menarik," kata saya. 

Menuju pintu masuk Mall

Besoknya, kami benar-benar mengunjungi mall itu sekadar jalan-jalan. Enak kan tinggal nyebrang. Ternyata apa yang ada di pikiran saya berbeda! Mall itu sangat besar, hanya besarnya ke samping bukan ke atas. Lapangannya luaaaas.. kemudian kami bingung mencari jalan masuknya. Suami sih sudah duluan ke sana, dia bilang, "Mallnya membingungkan. Nggak jelas gimana konsepnya." Halah! Kok ada mall membingungkan? Mungkin karena desainnya berbeda dengan mall-mall lainnya. 


Jalan masuk ke dalam mall itu memang misterius. Outlet-outletnya berjajar di muka mall, dari mulai Starbuck, Burger King, Domino;s Pizza, Carrefour, dan sebagainya. Nah, jalan masuk ke mallnya itu di mana? Ya, kan biasanya outlet-outlet itu adanya di dalam mall, lah kok itu di luar. Kami kan mau jalan-jalan ke mallnya, bukan langsung masuk ke dalam outlet-outlet itu.  


Akhirnya, kami coba susuri pelataran outlet-outlet itu. Dari hasil googling, saya baru tahu deh kalau konsep mall ini adalah Open Air (terbuka). Jadi, outlet-outletnya memang sebagian ada di luar, mirip bazaar pameran. Uniknya, bangunan-bangunannya itu cantik-cantik, bergaya Eropa. Serasa sedang jalan-jalan di Inggris nih, huehehehe..... Sebelum mulai jalan-jalan, anak-anak (terutama Ismail) minta makan dulu. Ya sudah, kami cari tempat makan dan di sana ada banyak tempat makan dari makanan lokal sampai internasional. 

Seperti Bazaar

Setelah makan, kami kembali menjelajahi mall tersebut. Banyak brand-brand terkenal yang membuka outletnya, bahkan ada brand Victoria Secret juga, dengan konsep bangunan Victoria. Ah, kalau gitu mah nggak usah ke Inggris deh. Ke Mall Paris Van Java saja sudah berasa seperti di Inggris. Dibuat foto-foto pernikahan juga oke, asal izin dulu sama pemilik outletnya. Cakep-cakep sih bangunannya. Sampai kita lupa belanja, alias cuma lihat-lihat hihihi.... 

Makan dulu di Domino's
Domino'snya kereen...

Ternyata, mall ini juga ada pintu masuknya, hanya tersembunyi di dalam ya. Kami sampai naik lift dua kali bolak-balik, saking bingungnya turun di mana. Saya lupa ada berapa lantai, tapi kami coba naik ke lantai terakhir, eh kosong melompong. Turun lagi ke bawah, deh. Dalam perjalanan itu, sampailah kami di tempat parkirnya yang tersembunyi dan sepiiii... Saya mau foto parkirannya, tapi gelap euy. Tadinya saya mau belanja dulu di Daily Foodhall, eh tapi kok jalan keluarnya jauh juga dari parkiran. Ya iyalah, kan outletnya ada di luar semua (hanya sebagian kecil di dalam). Ya sudah deh, langsung masuk ke mobil dan pulang. Eh, balik ke hotel, maksudnya :D Katanya tinggal nyebrang, kok mobilnya ada di parkiran mall? Iya, setelah salat Jumat, suami menaruh mobilnya di parkiran Mall, lalu jalan kaki ke hotel menjemput kami, gitu.

Sabtu, 07 November 2015

Menyusuri Sudut-sudut Unik Jakarta dan Beristirahat di Hotel Grand Zuri BSD



Grand Zuri BSD, Feels Like Home

Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi, ketika aku bersiap meninggalkan rumah dan semua isinya, tetapi sayang, anakku yang terkecil menyadari ibunya akan pergi. Dia memegangiku terus, meskipun ayahnya sudah mengajaknya jalan-jalan naik motor. Aku khawatir tidak tiba di Stasiun Citayam tepat waktu, sehingga terpaksa aku meninggalkannya dalam keadaan menangis kencang. Ternyata aku memang terlambat lima belas menit, jadi tidak bisa naik di kereta yang sama dengan kedua temanku. Untunglah keretaku berada di belakang kereta mereka, sehingga kami tiba di Stasiun tujuan dalam waktu berdekatan. 


Aku akan ke Jakarta. Lagi. Hari itu Sabtu, 24 Oktober 2015. Aku sudah membuat janji dengan kedua temanku, Evrina dan Melly, tapi mereka naik dari Stasiun Bojonggede. Kami akan menghadiri undangan dari Jakarta Corners yang bertempat di Hotel Grand Zuri, Bumi Serpong Damai. Lho, katanya Jakarta? BSD kan Tangerang Selatan? Ya, setidaknya aku harus transit dulu di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, lalu naik kereta lagi ke arah Serpong. Jakarta akan menjadi tempat transit sebelum melanjutkan ke tempat tujuan yang sebenarnya.

Saya, Rina Susanti, Nunung Yuni
Benarkah Jakarta hanya tempat transit? Setidaknya begitulah penuturan Donna Imelda, salah satu pemrakarsa situs www.jakartacorners.com, saat memberikan sambutan di acara Blogger Gathering “Telisik Unik Sudut Jakarta” di Hotel Grand Zuri BSD. Situs Jakarta Corners dibuat dengan tujuan untuk mempopulerkan sudut-sudut unik di Jakarta yang bisa dijelajahi sebagai salah satu tempat wisata. Jakarta sebagai tempat wisata, selama ini orang hanya tahu Dufan, Ancol, Ragunan, Taman Mini, dan taman bermain lainnya. Keenam kontributor Jakarta Corners adalah Donna Imelda, Dewi Rieka, Evi Indrawanto, Katerina Es, Salman Faris, dan Shinta Ries, berkomitmen menuliskan obyek-obyek wisata menarik di Jakarta yang selama ini belum banyak diinformasikan, misalnya saja: Kota Tua, Museum, Taman-taman Kota, Gedung-gedung Bersejarah, Kampung Betawi Condet, dan sebagainya. Dengan demikian, nantinya para wisatawan yang ingin berwisata ke Jakarta, bisa mencari informasi dulu di situs Jakarta Corners, sudut-sudut menarik yang bisa dikunjungi. 

Kontributor JC: Donna, Shinta, Katerina, Evi
Tak hanya Jakarta, Jakarta Corners juga akan menginformasikan tempat-tempat wisata yang menarik di sekitar Jakarta (Tangerang, Bekasi, Bogor), dan terbagi ke dalam lima kategori utama: Culinary, Festival, Heritage, Human Interest, dan Event. Bagi yang penasaran sudut-sudut unik apa yang ada di Jakarta, silakan membaca-baca situs Jakarta Corners. Aku pun jadi tertarik ingin mengelilingi Jakarta, tak hanya tempat-tempat yang sudah biasa kukunjungi. 

Jakarta adalah rumahku. Sebagian kenangan masa kecilku tertinggal di Jakarta, tetapi bukan di tempat-tempat wisata yang banyak dikunjungi orang itu. Aku justru belum pernah ke tempat-tempat itu, kecuali Taman Mini Indonesia Indah. Jakarta yang kukunjungi adalah gang-gang sempit, pasar-pasar dengan semua aktivitasnya, orang-orang dengan bahasa Betawi tulen, jalan-jalan padat dengan trotoar yang disesaki pedagang kaki lima, rumah-rumah yang berimpitan dengan alunan musik dangdut yang keluar dari jendela, serta makanan-makanan khasnya dari nasi uduk, kue lopis, kue gemblong, ketoprak, dan kerak telor yang dibawa calon suami saat hendak meminangku. 

Ayahku adalah orang Jakarta asli dan keluarga besar ayahku tinggal di salah satu perkampungan Betawi yang bersebelahan dengan gedung-gedung tinggi. Sampai sekarang, perkampungan itu masih ada meskipun sudah ditawar berkali-kali oleh pengembang untuk digusur dan diganti dengan deretan apartemen atau perkantoran atau mal-mal mewah yang sudah memenuhi Jakarta. Jakarta yang kurasakan adalah seperti yang terekam dalam video yang ditayangkan oleh pembicara utama dalam talkshow ini: Teguh Sudarisman, seorang travel Writer and Photographer, Editor in-Chief of Kalstar inflight Magazine, Author of Travel Writer Diaries, yang catatan-catatan perjalanannya sudah dimuat di berbagai media nasional dan internasional. 

Teguh Sudarisman dan MC Arie Pitax
Ketika aku menyaksikan videonya, seperti kembali ke saat sebelum kakiku memasuki hotel bintang empat, Grand Zuri. Suasana stasiun, pasar, pedagang kaki lima, laju kendaraan umum, adalah hal yang mudah kutemukan saat menyusuri sudut-sudut Jakarta. Namun, baru di Talkshow ini aku mengetahui bahwa hal-hal tersebut dapat kutuliskan menjadi artikel-artikel perjalanan yang dapat dimuat di berbagai media. Dari satu perjalanan, aku bisa menulis banyak artikel: kulinernya, tempat wisatanya, even yang ada di tempat itu, sejarah bangunannya, orang-orang yang ditemui di jalan, transportasi yang digunakan, akomodasi yang digunakan, dan sebagainya. Wow, luar biasa! Jujur, aku baru tahu lho kalau hal-hal yang kuanggap kecil itu juga bisa dituangkan ke dalam tulisan. 

Teguh Sudarisman juga memberikan tips prioritas pengiriman tulisan, yaitu: reportase lengkapnya dikirim ke media nasional, reportase yang tidak terlalu lengkap bisa dikirim ke media online. Pertimbangkan juga untuk mengirim ke media internasional. Bila tidak dimuat di semua media tersebut, baru dimasukkan ke BLOG. Bila blog kita sering memperbarui tulisan, maka akan bisa menjaring iklan dari sponsor atau dimintai untuk mereview produk milik sponsor. Produk apa yang direview? Bisa jadi, salah satunya adalah HOTEL.

Hotel Grand Zuri BSD
Saat sedang berwisata, satu hal yang tak boleh dilupakan adalah akomodasi atau tempat menginap, bukan? Di Indonesia terdapat tak kurang dari 10.151 hotel, dan 570 di antaranya terdapat di Jakarta. Jika digabungkan dengan hotel yang ada di sekitar Jakarta (Tangerang, Bekasi, Bogor), jumlahnya menjadi 728 hotel. Luar biasa, kita tak perlu khawatir lagi mencari tempat menginap di Jakarta ketika bepergian. Dan tempat menginap yang paling nyaman adalah yang rasanya seperti di rumah sendiri, Feels Like Home.  

Bagiku sendiri, menginap di hotel berbintang lebih dari Feels Like Home, tapi Feels Like Heaven. Maklumlah, di rumahku belum ada AC, Shower buat mandi, kasur busa yang empuk, dan wifi 24 jam. Bagi Blogger yang suka bepergian dan menginap di hotel, jangan lupa untuk mereview hotelnya pula, kata Pak Teguh. Bisa jadi nantinya kita mendapatkan tawaran menginap gratis dari hotel yang sudah kita review atau yang belum. Atau, kita juga bisa menawarkan blog kita kepada pihak marketing hotel yang bersangkutan, bahwa kita ingin mereview hotelnya. Kirimkan saja surat penawaran kerjasama mereview hotel tersebut melalui surat elektronik ke bagian marketing hotelnya. Kalau diterima, Alhamdulillah. Kalau didiamkan atau ditolak, cari hotel yang lain. 

Hotel Grand Zuri BSD
Hotel Grand Zuri BSD adalah salah satu dari hotel berbintang tersebut, yang layak dijadikan tempat menginap saat mengunjungi Jakarta dan sekitarnya. Beralamat di Jalan Pahlawan Seribu Kav. Ocean Walk Blok CBD Lot. 6 BSD City, Serpong-Tangerang Selatan, hotel ini dapat ditempuh dengan hanya sekitar 35 menit perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Sebagai hotel bintang 4 (banyak kan bintangnya), lokasi hotel Grand Zuri dikelilingi oleh berbagai fasilitas hiburan dan belanja. Ada Masjid Al-Adzom, Ocean Park Water Adventure, Modern Land Lake, Cup Island (Pulau Cangkir), Bandung Sengego, Mall Teras Kota BSD, Mall Alam Sutra Living World, Masjid 1001 Pintu, dan The Breeze. Untuk bapak-bapak yang suka bermain golf, hotel Grand Zuri ini juga berdekatan dengan lapangan golf.

Tak hanya sebagai tempat menginap saat berwisata, hotel Grand Zuri juga bisa dijadikan tempat pertemuan, rapat-rapat perusahaan, pernikahan, atau mengadakan seminar dan talkshow seperti yang Jakarta Corners, karena tersedia pula 8 Function Room, yang dapat menampung hingga 250 orang. Aku pun diajak melihat-lihat fasilitas kamar dan lain-lain di hotel Grand Zuri ini. Dengan moto: We Know How to Please You, Hotel Grand Zuri BSD berusaha melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya. Rasanya tak sabar ingin menginap di sana, meski hanya semalam. 

Hotel Grand Zuri BSD, Feels Like Home

Jenis kamar di hotel Grand Zuri ini ada 5, yaitu Superior (115 kamar), Deluxe (2 kamar), Executive (8 kamar), Junior Suite (6 kamar), dan Presidential Suite (1 kamar). Ke semuanya memiliki fasilitas kamar, umumnya: bar mini, fasilitas membuat kopi dan teh, AC, Wifi, tempat tidur berkualitas yang super nyaman, lemari pakaian, jaringan telepon, safe deposit box, dan lain-lain. Kita juga bisa menggunakan fasilitas Sauna (Fitnes, Kolam Renang, dan SPA dengan biaya tambahan), Cerenti Restaurant yang menyediakan beraneka ragam menu yang enak, dan Zuri Lounge untuk menghabiskan waktu bersama teman sambil mendengarkan musik. 

Suasana makan siang di Cerinti Restaurant
Akhirnya, saat makan siang, aku pun bisa menyicipi beraneka menu hidangan makan siang di Hotel Grand Zuri yang amat memanjakan lidah. Dari mulai nasi goreng, tempe mendoan, ayam banana, sampai hidangan penutupnya yang super lezat. Jika saja bukan karena ingat diet, sudah kusantap semuanya. Terima kasih untuk Jakarta Corners yang sudah membawaku pulang ke rumah. Menyusuri sudut-sudut unik Jakarta dan beristirahat di Hotel Grand Zuri BSD. 

Salah satu dessert Cerenti Restaurant yang masih terkenang di lidah


Blogger Gathering bersama Jakarta Corners dan Hotel Grand Zuri BSD



Minggu, 01 November 2015

Menginap Dua Malam di Hotel DeJava Sukajadi Bandung

Selfie di Hotel DeJava, Bandung
Bandung adalah salah satu surga wisatawan, terutama yang berasal dari Jakarta. Ke mana lagi tempat  liburan di luar kota yang paling dekat dari Jakarta, kalau bukan Bandung? Perjalanannya bisa ditempuh selama tiga sampai empat jam. Akhir pekan yang lalu, saya sekeluarga juga menghabiskan  liburan di Bandung. Kami memilih menginap di Hotel DeJava, di Jalan Sukajadi 148 Bandung. Lokasinya sangat strategis karena berhadapan langsung dengan Mal Paris Van Java yang guedeee.... Belum lagi di kanan kiri juga ada minimarket, pertokoan, restoran, dan butik-butik cantik. 


Suami memesan kamar Superior yang besar, karena kami membawa tiga anak. Pesan hotelnya sudah seminggu sebelumnya melalui internet. Setelah check in, kami pun diantar ke kamar oleh Bell Boy yang membawakan barang-barang kami ke lantai satu melewati restoran yang memenuhi bagian tengah lobi. Jadi, begitu masuk lobi hotel, kita langsung bertemu dengan restorannya. Lumayan kan nyium bau-bau masakan hehe....


Sampai di dalam kamar, anak-anak pun bersorak-sorai. Memang sudah lama mereka ingin menginap di hotel lagi. Menonton channel kartun nonstop dan berenang, adalah kegiatan yang paling menyenangkan. Eh, ternyata liburan kali ini berbeda. Fasilitas Wifi di Hotel DeJava ini membuat anak-anak terus menerus menatap layar gadget, main game dan nonton You Tube sampai ayahnya memperingatkan, "Lho, kalau cuma mau main game, ngapain ke hotel?"

Langsung lihat teve
Internetnya memang lancaaar... mendukung pekerjaan saya. Walaupun liburan, saat anak-anak tidur, saya tetap menulis di blog. Justru karena internetnya lancar itulah, saya jadi bisa posting beberapa tulisan. Kami menginap selama tiga hari dua malam. Asyik kan selama itu bisa internetan gratis? So, buat yang ada urusan pekerjaan di Bandung dan mencari hotel dengan fasilitas wifi yang koneksinya bagus, Hotel DeJava ini salah satunya.

Kamar
Kamarnya cukup besar, tempat tidurnya muat untuk lima orang hehe... Sudah begitu, ada tambahan sofa panjang yang bisa dipakai tidur pula. Ada meja kecil yang saya pakai untuk bekerja. Di setiap meja ada colokan listriknya, jadi jangan khawatir berebut colokan untuk mengisi baterai handphone yah. Fasilitas teve kabel menambah sarana hiburan di dalam kamar. Walaupun liburan di kamar saja, tetap bisa menikmati dan tidak bosan. Supaya aman, saat anak-anak melek, kami hanya menonton film kartun anak-anak.

Meja kerjanya asyiiik....
Setiap meja ada colokan kabelnya

Di bawah teve, ada meja panjang yang terdapat informasi mengenai layanan hotel, termasuk SPA. Tentunya kalau mau SPA harus tambah biaya ya,  Rp 200 ribuan, tergantung paketnya. Di samping meja panjang, ada lemari pakaian. Di bawah lemari, disediakan informasi bagi yang mau laundry, lengkap dengan biayanya. Berhubung liburan hanya tiga hari, saya memilih menyimpan saja pakaian kotornya. Nanti di rumah saja dicucinya.

Sofa panjang bisa untuk tidur juga

Asyiknya nonton teve kabel

Di samping lemari pakaian, sudah disediakan dua botol air mineral, lengkap dengan dua gelas, satu teko pemanas air, dua sachet kopi, creamer, pemanis buatan, dan gula. Uhuuui... datang-datang langsung nyeduh kopi nih. Ada kulkasnya juga kalau mau menyimpan minuman dingin. Malam harinya, nggak khawatir kelaparan karena kami juga mendapatkan fasilitas makan malam. 

Lemari Pakaian

Kulkas dan Macam-macam minuman

Udara Bandung kalau siang hari sama saja dengan Jakarta, panas. Makanya di kamar itu kami menyalakan AC. Saat malam hari, baru terasa dinginnya, otomatis volume AC-nya pun dikecilkan. Saya sampai kedinginan. Oya, nggak ada nyamuk juga lho, mungkin karena ber-AC.  Jadi, nggak heran kan kalau anak-anak senang sekali diajak menginap di hotel. Tidurnya memang nyaman banget. Kalau sudah waktunya tidur, mereka nggak terbangun. Beda dengan di rumah, sering bangun karena digigiti nyamuk dan kepanasan hihihi.....

Tempat sandal

Kamar mandinya nggak begitu luas, tapi cukuplah untuk kita mandi dan buang air besar. Ada toilet duduk, tempat cuci tangan plus cermin yang guede, dan sudah disediakan shampoo, sabun, sikat gigi, pasta gigi, serta dua gelas untuk kumur-kumur. Ada showernya juga dengan pilihan air panas, hangat, dan dingin. Sudah pasti saya pilih mandi dengan air hangat, begitu juga anak-anak. Mereka senang sekali mandi di bawah pancuran air hangat.

Wastafel

Menu Makanan di Restoran
Kami mendapatkan fasilitas sarapan dan makan malam. Hari pertama itu, tentunya kami mencoba makan malamnya dulu. Ternyata di luar perkiraan, makan malamnya nggak prasmanan. Menunya sudah disediakan: Capcay, Ayam, dan Sop. Lalu, hidangan penutupnya sebuah donat mini. Itu sudah mengenyangkan sih. Sayangnya, nggak dapat minum. Air putih yang tadinya ada di meja kami, dipindahkan oleh pelayannya, huhu... Masa air putih saja nggak dikasih, sedih jadinya. Tahu begitu kan tadi kami bawa minum. Lho, air minumnya bisa pesan ke pelayan, tapi  bayar lagi. Anak-anak minta milkshake cokelat, ya sudahlah kami pesan milkshake cokelat seharga Rp 30.000, sudah dengan pajak. Malam kedua, kami nggak makan di hotel lagi karena agak kecewa dengan menu makan malamnya itu, apalagi nggak dapat minum. Jadi hangus voucher makan malamnya. 

Makan malam

Sop Ayam

Nasi, Ayam, Capcay
Milkshake Cokelat
Donatnya imut bangeeet

Saat sarapan, baru deh kami bisa makan sepuasnya dengan beraneka ragam menu.  Banyaaaak banget menunya yang bisa dipilih: ada Mie Jawa, Bubur Ayam, dan lain-lain. Lalu, ada aneka jus, jamu tradisional, susu cokelat dan putih. Belum lagi cemilannya, beraneka roti, salad, wah terlalu banyak untuk disebutkan. Nggak mungkin juga dimakan semuanya, jadi harus memilih. Sarapan hari pertama, saya memilih Kwetiau, Sosis, lalu beberapa roti mini. Minumnya, jus jambu dan jamu. Hari kedua, saya memilih Bubur Ayam, sedangkan suami memilih Mie Jawa.

Sarapan hari pertama
Telur, Sosis, Kwetiaw
Jus jambu, Jamu, Muffin, dan Donat
Bubur Mutiara

Untuk menu sarapannya, nggak mengecewakan. Puas sekali. Makanannya juga enak-enak. Yang lebih menariknya lagi, ada JAMU! Jamu segala rupa, termasuk jamu untuk mencegah perut buncit. Oh, ada yah, tahu begitu kan dulu saya minum jamu supaya perut nggak buncit. Anak-anak juga kebagian gula gulali beraneka warna, dan warna-warnanya natural ya, nggak pakai pewarna berbahaya.

Fasilitas Lain
Setahu saya ada kolam renang dan peralatan olahraga, tapi saya belum melihatnya. Anak-anak lebih betah di kamar. Hari ketiga, Ismail mencoba berenang di pagi hari, eh dingin banget. Dia hanya nyemplung, lalu balik ke kamar.

Jadi, begitulah pengalaman kami menginap di Hotel DeJava, cukup memuaskan, terutama layanan wifi gratisnya yang nggak berbatas. Koneksinya pun lancar, sehingga anak-anak puas menonton You Tube. Lokasinya juga strategis, kalau mau mencari makanan lain selain yang ada di hotel. Mau wisata kuliner, shopping, dan lain-lain, tinggal jalan kaki dari hotel. Nggak jauh dari hotel, juga ada Taman Kota Sukajadi, yang lumayan banget kalau mau main-main di sana, gratis.