Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Januari 2016

Membeli Sepatu Kulit di Sukaregang Garut

Sepatu Kulit asal Sukaregang Garut
Assalamu'alaikum.... Semoga harimu baik-baik saja. Doakan juga agar saya dapat selalu menjalani hari-hari dengan baik, diberikan kesabaran, kesehatan, dan waktu yang bermanfaat. Sungguh, tiga hal yang saya sebut itu memang sangat saya butuhkan. Satu minggu lebih, anak-anak terserang flu yang cukup parah. Panas demam sampai berhari-hari, bahkan si sulung drop lagi setelah sempat sembuh. Untungnya bukan demam berdarah, karena alhamdulillah hari ini mereka sudah membaik. Kalau anak sakit, ibunya juga ikut sakit dan itu benar. Saya juga tertular flu. Sudah sakit secara fisik, psikis pun mengalami penurunan. 


Ah, sudah cukuplah mengeluhnya hehe.... Dini hari ini saya bisa kembali menekuri laptop. Kemarin-kemarin juga masih bisa, tapi benar-benar butuh pemaksaan. Itupun karena kewajiban setor artikel. Kalau nggak ada kewajiban, mungkin blognya sengaja terbengkalai. Untuk menyegarkan pikiran, saya mau setor tulisan yang ringan saja. Pengalaman berbelanja produk kulit di Sentra Kerajinan Kulit Garut. Di mana lagi kalau bukan di Sukaregang? 


Ini cerita jalan-jalan liburan tahun baru kemarin ke Garut. Yah, sementara ini jalan-jalannya masih ke kampung suami, sekalian silaturahim. Sebelumnya kami ke Karawang, kunjungan balik ke rumah calon mertua adik suami saya. Lalu dilanjutkan ke Garut, menginap di rumah mertua saya. Adik ipar yang tinggal di Karawang, ingin mencari dompet kulit di Sukaregang. Daripada diam saja di rumah mertua, saya pun ikut pergi. Selain itu, saya memang ingin mencari sepatu atau sandal kulit. Konon harganya lebih murah, hanya puluhan ribu saja. Tidak seperti harga tas kulitnya yang mencapai jutaan rupiah. 

Kalau belum pernah ke Garut, begitu sampai di Pusat Kota Garut, kita bisa tanya ke orang sekitar, di mana daerah Sukaregang itu. Pasti mereka tahu, deh, karena lokasinya memang masih di pusat kota. Pertokoan-pertokoan di Garut ini, rata-rata tidak memiliki tempat parkir. Jadi, jangan heran kalau nanti melihat banyak mobil diparkir di depan samping trotoar. Kelihatannya memang semrawut. Pusat kerajinan kulit di Sukaregang ini pun demikian pula adanya. Tidak ada tempat parkir, jadi kami memarkir mobil di depan toko. Untungnya, hari itu sedang tidak banyak pengunjung. Kami bisa langsung mendapatkan sisi jalan yang kosong. 




Saat masa puncak wisata di mana wisatawan lokal berdatangan ke tempat ini, bisa jadi lho kita kesulitan mencari tempat parkir. Suami pernah tidak jadi mampir ke Sukaregang, gara-gara susah memarkirkan mobil. Paling enak memang membawa motor, bodinya lebih kecil dan bisa diselipkan di mana saja hehe.... Kali ini saya nebeng naik mobil adik ipar, karena suami masih mau istirahat setelah seharian terkena macet dalam perjalanan menuju Karawang dan Garut. Badannya pegal-pegal dan lemas. Liburan tahun baru, banyak yang berwisata ke daerah Bandung dan sekitarnya. 

Adik ipar langsung memarkirkan mobilnya di depan toko sepatu kulit. Biar tidak mampir ke tempat lain, hehehe.... Saya pun segera memilih-milih sandal dan sepatu kulit yang dipajang. Saya naksir sepatu warna putih dan abu-abu, sayang tidak ada ukuran 39 atau 40. Kebanyakan ukuran 38 ke bawah. Kaki saya kan mekar, mana cukup ukuran segitu. Harganya memang sangat terjangkau, tapi tidak ada merknya lho. Kalau Anda suka membeli barang karena merknya, maka Anda perlu menempelkan merk pada produk sepatu dari Sukaregang ini. 

Semua sepatu dibuat dari kulit sapi atau domba. Penjualnya mengatakan bahwa produknya itu dia sendiri yang membuat. Tak heran, modelnya juga klasik. Alias, modul zaman dulu banget. Setelah lama mencari-cari, akhirnya dapat juga yang dimau. Sebenarnya masih belum puas sih, karena dapatnya yang warna hitam. Saya lebih suka model sepatu seperti ini tapi yang warnanya putih abu-abu. Lebih cantik. Tapi, warna hitam ini juga bisa dipakai dengan warna baju apa pun. Tidak  bingung lagi menyelaraskan antara warna baju dan sepatu.

Bagaimana rasanya saat sepatu kulit ini melekat di kaki saya? Wuih, nyaman sekaliii.... Enak dipakainya, ringan, dan kuat. Jahitannya memang kuat. Kulitnya tidak kaku dan keras. Tadinya saya memilih ukuran 40, tapi setelah dipakai kok agak besar? Penjualnya menyarankan agar saya memilih ukuran 39, karena sepatu kulit itu nanti bisa melar. Jadilah saya membeli ukuran 39. Eh, iya benar, muat juga dan lebih  pas di kaki. Kalau sepatu dari bahan lain, ukuran 39-nya belum tentu muat di kaki saya. Sepatu kulit yang saya beli ini harganya Rp 70.000 tapi masih boleh ditawar jadi Rp 60.000. Saya juga membeli sandal untuk anak-anak, Rp 100.000 dapat tiga. Sandal kulit  juga. Lalu, saya tambah lagi beli dua sandal kulit  untuk dua orang keponakan. Borong, nih! 

Adik ipar saya masih mau mencari-cari ke tempat lain. Ya sudah, saya pun berjalan-jalan menyusuri pertokoan di sana, lalu berhenti sejenak di depan toko tas yang semuanya juga terbuat dari kulit. Aduh, matanya langsung terpukau memandangi deretan tas-tas kulit yang dipajang di depan toko. Cantik-cantik, boooo.... Harganya? Tidak seperti tas import yang masih terjangkau, tas kulit asli Sukaregang ini bikin dompet langsung kering hehehe.... Sepanjang yang saya lihat, harga termurah itu Rp 500.000. Nah, yang saya foto ini, harganya Rp 1.400.000 dan Rp 1.200.000. Masya Allah....!

Bagi Anda yang terbiasa membeli tas mahal, harga segitu masih terjangkau. Nah, mending langsung aja ke Sukaregang, dijamin tak menyesal karena tasnya bagus dan mewah. Namun, bagi saya yang belum pernah beli tas mahal, ya harga segitu memang mahal. Saat ini  belum waktunya bagi saya untuk membeli tas-tas mahal. Mau dipakai ke mana, coba? Tas yang ada di rumah saja jarang dipakai karena saya jarang bepergian, hehe....

Sabtu, 16 Januari 2016

Menikmati Transportasi Massal Kereta Commuter Jabodetabek

Gerbong wanita, pink!
Assalamu'alaikum... lama tak bersua dengan saya di blog ini yah hehe.... Dari tadi mau nulis kok nggak jadi-jadi. Begitu ada waktu lowong, malah idenya mampet. Jadi, saya lihat-lihat simpanan foto-foto  yang belum diterbitkan di blog ini. Saya ingat ingin berbagi cerita tentang pengalaman naik kereta Commuter Line Jabodetabek, yang sekarang sudah berubah drastis dibandingkan dengan dua tahun lalu. Jauhnya perjalanan dari Bogor ke Jakarta pun jadi nggak terasa. 


Bagi pembaca blog ini yang sudah sering naik kereta Commuter, tentunya tulisan ini nggak perlu dibaca. Wong biasa saja. Tulisan ini saya tujukan untuk pembaca luar kota Jakarta yang baru pertama kali bepergian ke Jakarta. Saya pernah bertemu seorang pemuda, kira-kira umur 18-20 tahunan yang kebingungan di Stasiun Sawah Besar. Setelah celingak-celinguk mencari orang yang mau dijadikan tempat bertanya, akhirnya dia bertanya kepada saya dan teman saya. "Mbak, kereta ke Bekasi yang mana ya?" Sebenarnya saya juga belum hapal rutenya, teman saya pun enggak tahu. Untungnya, nggak lama lewat pula seorang bapak-bapak. Saya suruh saja dia nanya ke bapak itu, dan bapak itu bilang, "Sebentar lagi lewat keretanya." Eh, benar, nggak lama lewat kereta ke Bekasi. Dia pun naik dan mengucapkan terimakasih kepada kami. Lhoo??? Padahal kami nggak ngasih jawabannya hehe....

Intinya, akan selalu ada yang pertama bagi orang lain. Termasuk pembaca blog ini, barangkali penasaran kereta Commuter Jadebotabek itu seperti apa ya kondisinya saat ini? Saya memiliki beberapa foto kondisi stasiun kereta saat dalam perjalanan ke acara Blogger Gathering. Saya turun di Stasiun Tebet. Umumnya, kondisi Stasiun sudah jauh lebih baik. Bersih, tidak ada sampah, tidak ada pedagang asongan, apalagi pengamen dan pengemis. Cakep banget deh. Walaupun di sisi lain ada yang dirugikan, ya siapa lagi kalau bukan orang-orang kecil yang mencari nafkah itu. Tapi, jujur saja, sebagai penumpang, saya menyukai kondisi kereta dan stasiun seperti sekarang ini. 

Bersih ya stasiunnya....

Kalau dulu, kita mau berdiri aja susah. Berdesakan dengan pedagang yang hilir mudik. Kondisi kereta juga kusam, banyak sampah, dan nggak nyaman. AC-nya banyak yang mati. Kaca-kaca banyak yang pecah atau hilang. Sekarang keretanya sudah lumayan cakep. Dilarang buang sampah di dalam kereta. Di Stasiun juga nggak boleh. Makanya ada tempat sampah yang disediakan di setiap pojok stasiun. Canggihnya lagi, jenis sampahnya juga dipisah: Organik dan Non Organik. 

Tempat sampahnya

Di dalam kereta, ada rute pemberhentian kereta. Kita perhatikan baik-baik nantinya kita mau turun di mana. Lagipula, ada pengeras suara yang memberitahukan saat kereta akan berhenti di stasiun tertentu, kecuali kalau kita ketiduran. Ya nasib, deeeh.... Ada kursi prioritas yang dikhususkan untuk orang-orang yang membutuhkan kursi, seperti ibu hamil, ibu membawa bayi dan balita, orang lanjut usia, dan orang cacat. Ada petugas yang berjaga dan memastikan kursi prioritas itu ditempati oleh orang yang tepat. Sudah nggak ada lagi petugas yang memeriksa karcis, karena sudah menggunakan mesin tap karcis di mana kita nggak bisa masuk ke dalam stasiun kalau karcisnya nggak ditap dulu. Karcis elektronik ini juga memperkecil korupsi petugas, karena hanya bisa dibeli di loket. Loketnya juga bagus dan profesional. 

Rute Pemberhentian

Kita juga bisa memakai kartu e-money untuk menggantikan kartu kereta api lho. Contohnya saya memakai Flazz BCA hadiah dari lomba di blog Kompasiana. Intinya, stasiun kereta api yang sekarang ini lebih canggih, bersih, teratur, dan tertata. Saya bangga dengan perubahan fasilitas Commuter Line ini, walaupun pada saat jam kerja dan pulang kerja, tetap saja keretanya padat penumpang sampai berdesakan. Kalau mau enak, ya naiknya pada waktu tengah hari sampai jam tiga sore, itu aman dan nyaman deh. Ups, kadang-kadang sih masih sering ada  gangguan keberangkatan seperti kereta yang terlambat, terkena banjir sampai listriknya korslet, bahkan mati listrik. 

Di beberapa gerbong juga ada iklannya yang dicat di badan gerbong. Menurut saya wajar saja, karena tiket keretanya sangat murah. Saya saja naik dari Bogor ke Tebet itu hanya bayar Rp 2.000. Jadi, tiketnya itu adalah Rp 2.000 untuk 25 km pertama dan Rp 1.000 untuk setiap 10 km berikutnya. Masya Allah, hari gini naik kereta cuma bayar Rp 2.000? Lah, dulu itu tiketnya lebih mahal. Saya pernah bayar Rp 9.000 untuk ekonomi AC, sekali perjalanan. Untuk bisa mendapatkan fasilitas sebagus ini dengan tiket kereta yang murah, tentu perusahaan perlu mendatangkan sponsor, yaitu pemasang iklan.

Tarif Progressif

Eh iya, sekarang juga sudah ada gerbong wanitanya yaa... meskipun hanya dua gerbong dan sering penuh. Kalau mau dapat duduk, ya mending di gerbong biasa saja karena jumlah gerbongnya lebih banyak daripada gerbong wanita. Tapi kalau kondisinya kereta sangat penuh, mending naik gerbong wanita biar nggak dipepet oleh nonmahram. Kalau bawa anak, saya pilih di gerbong biasa, karena sering dikasih tempat duduk oleh bapak-bapak. Di gerbong wanita, sudah banyak ibu-ibu yang bawa anak juga, jadi nggak mungkin ngasih tempat duduk. Kalau sudah tahu akan pergi pada jam padat penumpang, saya pilih  pakai celana kulot supaya lebih mudah bergeraknya. 

Nah, siapa yang mau berwisata naik kereta Commuter Line Jabodetabek?

Minggu, 10 Januari 2016

Mie Ayam Mulang Sari, Lezatnya Juara!

Assalamu'alaikum.... menjelang makan siang, saya mau bawa salah satu kuliner Garut yang lezatnya juara ini (halah!). Judulnya kok mainstream banget yaa... seperti sudah banyak yang memakai judul seperti ini. Ya sudahlah, maklum emak nulisnya buru-buru karena semakin sedikit waktu untuk ngeblog tapi nggak ada alasan untuk ngeblog, bukan? Sebelumnya saya sudah menulis tentang Mie Bakso Mulang Sari, Terkenal di Garut. Ya, mie ayamnya ini masih di kedai yang sama. Saya datang lagi, kali ini bersama suami. Ditraktir suami dong judulnya. Makanya, lezaaat.... 


Saya pesan mie ayam karena harganya lebih murah. Tsaaah... dasar emak-emak, nyari yang lebih murah sajah. Saya memang kepingin nyobain yang lain, karena kalau mie baksonya rasanya biasa saja. Berhubung datang lebih pagi, jam 10 pagi, mie ayamnya masih ada! Horaaay.... Kata adik ipar, mie ayamnya ini memang juara. Cepat habis. Jadi penasaran pengen cepat nyobain. Saya juga pesan Es Campur, tapi kali ini benar-benar Es Campur versi saya. Nggak pakai roti. Nyebutnya harus Es Buah, bukan Es Campur, hehehe.... 

Kami pilih makan di lantai atas  supaya lebih lega. Dan benar saja, di lantai atas masih sepi. Asyiik.... Nggak berisik kayak sebelumnya deh. Setelah pesanan datang, tiba waktunya untuk menikmati. Wow... ayamnya penuh sekalii.... Oya, untuk foto kali ini, saya nggak pakai watermark. Pasrah aja deh kalau ada yang mencuri foto ini. Lagi males utak-atik foto, nih. Jadi seadanya yaa.... Foto mie ayamnya sudah  lihat di atas kan? Cakep yah? Bikin lapar, nih. Untung saya menerbitkan artikel ini saat menjelang makan siang. Teman-teman bisa langsung ke warung mie ayam terdekat hihihi.... 

Itu ayamya bukan sekadar ayam suwir-suwir, tapi memang gede-gede gitu. Puas deh. Rasa mie ayamnya sukar dideskripsikan, pokoknya enak.  Nggak heran kalau cepat habis. Plus, harganya lebih murah daripada mie baksonya. Saya lupa harganya, tapi harga mie di kedai ini masih kisaran belasan ribu kok. Mie ayamnya kalau nggak salah sih masih di bawah Rp 10.000.  Ini bukan makanan vegetarian lho. Jadi, kalau ada yang nggak suka makan daging ayam, jangan mampir ke kedai ini. Kecuali kalau mau mienya tanpa ayam, tapi justru daging ayamnya ini yang enak. 

Es Buahnya, segeeer.....

Bagaimana dengan Es Buahnya? Ingat, kalau mau Es Buah, bilangnya Es Buah. Kalau Es Campur, beda lagi komposisinya. Es Buah yang satu ini isinya benar-benar buah. Ada alpukat, kelapa, kolang-kaling, Strawberry, Anggur, Buah Naga, dan lain-lain. Harganya juga di bawah Rp 10.000. Es buahnya  segar dan manis. Kalau terasa seret di lidah, sudah disiapkan teh tawar yang gratis, tis, tis. Beda yah kalau makan di food court yang ada di mall-mall, teh tawarnya pasti  bayar juga. Makanya mumpung ada kuliner yang murah meriah ini, puas-puasin deh. Jadi, siapa nih yang mau main ke Garut? Jangan lupa mampir ke kedai Mie Bakso Mulang Sari ini.

Jumat, 25 Desember 2015

Membeli Oleh-oleh Khas Bandung di Tepi Jalan

Assalamu'alaikum... Helo... Happy Holiday yaa... Liburannya panjang nih, karena suami ambil cuti juga sampai tahun baru. Seperti bisa, saya liburan ke rumah mertua biar gratis tempat menginapnya hehe... Memang pas ada acara keluarga juga di Garut. Cerita-cerita liburan di Garutnya menyusul ya. Ini mah mau cerita liburan beberapa bulan lalu ke Bandung. Setelah saya cerita menginap dua malam di hotel DeJava, makan sore menjelang siang di Bakmi Apin Sukajadi, dan jalan-jalan ke Mall Paris Van Java, sekarang saya mau cerita tentang membeli oleh-oleh khas Bandung di tepi jalan. 


Sebelum meninggalkan Bandung, kami mampir ke kios oleh-oleh yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Namanya juga kota wisata, sudah tentu ada banyak kios oleh-oleh di Kota Bandung ini. Kami pilih beli di pinggir jalan saja, karena sudah nggak sempat mencari ke toko oleh-oleh. Berikut ini adalah empat oleh-oleh khas Bandung yang sudah terkenal dan banyak dijual di seputaran Bandung: 

Cireng dan Batagor 
Selain Bakso, di Bandung banyak dijual Cireng dan Batagor. Siapa yang nggak kenal Cireng dan Batagor? Walaupun ini disebut sebagai oleh-oleh khas Bandung, tapi sudah gampang dibeli di Bogor juga (tempat tinggal saya). Kalau yang ini bisa dibawa pulang. Harga sudah tertera pada gerobaknya, bisa dilihat di fotonya yah. Cireng itu singkatan dari Aci Digoreng. Aci adalah tepung sagu, karena Cireng ini dibuatnya memang dari tepung sagu. Batagor juga sebenarnya terbuat dari campuran tepung Aci juga. 


Peuyeum Bandung
Tape yang satu ini berbeda dengan tape yang dijual di abang-abang keliling, karena lebih padat dan keras. Dijual kiloan, per kilonya Rp 10.000. Setelah beberapa hari, ada yang melunak, ada juga yang masih keras. Enak dimakan langsung atau ditambahkan ke dalam es campur. Bisa juga digoreng dengan tepung. Rasanya manis dan nggak asam. Terbuat dari singkong yang diberi ragi. Katanya sih, singkong yang dijadikan Peuyeum ini harus berumur 12 bulan. 



Bolu Talas, Kue Moci, Brownies 
Uhuui... ada Talas Bogor juga di sini, bolu yang terbuat dari tepung Talas ini memang enak sekali. Ada rasa Original (berwarna ungu), Green Tea (keju), dan Cokelat. Harga bolu Talas saat saya membelinya adalah Rp 30.000/ buah. Di atasnya ditaburi parutan keju yang cukup banyak. Bolunya juga lembut. Selain itu, juga ada Kue Moci, kue khas Tiongkok ini terbuat dari tepung sagu juga tapi diberi isian manisan, ada yang dari kacang tanah, kacang merah, dan lain-lain. Saya suka banget nih Kue Moci. Yang nggak kalah terkenal dari oleh-oleh khas Bandung adalah Brownies. 


Aneka Keripik
Nah, ini dia cemilan untuk aneka suasana. Orang Bandung memang piawai membuat beraneka cemilan dari keripik ini. Di toko oleh-oleh yang saya singgahi ini, aneka keripik mendominasi. Terbuat dari beraneka ragam bahan, dari mulai singkong, tempe, tepung, ubi, dan lain-lain. Harganya juga terjangkau, kisaran belasan ribu. Ada keripik yang pedaaaas sekali. Hahaha... kapok deh makannya. Perut langsung mulaaasss... Baru kali ini saya nggak kuat makan yang pedas-pedas, karena terlalu pedas. Jadi, kalau nggak kuat makan yang pedas-pedas, mending nggak usah beli deh ya. Bagi Anda yang anggaran biaya untuk beli oleh-olehnya terbatas, mending beli aneka keripik saja karena bisa dapat banyak hehehe....


Oya, ada pengalaman yang mau saya bagi. Begitu selesai membeli oleh-oleh dan suami hendak menjalankan mobil kembali, tiba-tiba ada seorang lelaki yang menghampiri dengan membawa dua pak Strawberry dan Blueberry. Dia merayu kami untuk membeli. Katanya sih murah. Begitu ditanya harganya berapa, wadaaaw... Ternyata mahal, booo.... Sekitar Rp 70-80 ribu per paknya. Masa sih harganya segitu? Suami tertarik beli Blueberrynya, karena jarang ada. Ditawar Rp 50.000. Tadinya susah ditawar, tapi akhirnya dikasih. Dia bilang, dia pedagang yang jujur karena itu kemasannya nggak ditambah kardus di bawahnya supaya kelihatan banyak Blueberrynya. Kami hanya manggut-manggut, karena baru sekali beli juga, nggak tahu apa ada pedagang yang nggak jujur.

Nggak taunya.... APAAN?! Begitu kami buka di Garut, eh  kemasan Blueberrynya ditambahi kardus dua susun, sehingga kelihatannya itu Blueberry isinya banyak, padahal hanya satu baris. Hadeeuuh... bisa aja ya orang kalau mau menipu. Dipikir-pikir, mahal juga Rp 50 ribu hanya dapat Blueberry yang nggak sesuai estimasi. Pas ngobrol-ngobrol dengan keluarga di Garut, nggak tahunya kalau di pasar, Blueberry isi segitu paling-paling Rp 20 ribu-an. Yaah... nggak apa-apalah, anggap aja amal ke pedagang itu. Mudah-mudahan hidupnya baik-baik saja meskipun menipu pembeli. Rupanya di jalanan Kota Bandung itu banyak pedagang Strawberry dan Blueberry itu, di lampu-lampu merah. Dikemas dalam kotak plastik ukuran yang cukup besar, sehingga kelihatannya isinya banyak. Hati-hati saja, semoga nggak mengalami apa yang saya alami. Isinya banyak, tapi kardus! 

Ya udah deh, met jalan-jalan ke Bandung yaaa....


Minggu, 20 Desember 2015

Pipiltin Cocoa, Kafe Cokelat yang Tak Sekadar Cokelat

Cokelat sepertinya sudah menjadi makanan favorit sebagian besar perempuan. Cokelat konon bisa mengatasi stres. Walaupun demikian, makan cokelat terlalu banyak juga bisa berdampak pada kenaikan berat badan. Saya ingat dulu sewaktu hamil anak pertama dan susah makan karena mual dan muntah, suami membelikan beraneka ragam makanan yang mengandung cokelat. Cokelat batangan, wafer cokelat, biskuit cokelat, dan lain-lain. Namanya juga sedang mual, makanan enak-enak itu saya biarkan tergeletak di samping tempat tidur. Akhirnya, suami pula yang memakannya. 


Dalam kondisi  normal, tentu saja saya juga suka cokelat. Sama seperti kebanyakan perempuan, saya juga kadang-kadang berharap dihadiahi cokelat oleh suami. Dulu iya waktu belum punya anak. Suami pernah membelikan cokelat Valentine. Eh, bukan dalam rangka merayakan Valentine lho. Melainkan karena cokelat tersebut sedang diskon 50% karena sudah hari kedua setelah Valentine. Kami tidak merayakan Valentine, tapi kalau ada cokelat yang sedang diskon, masa dianggurkan? Cokelat Cadburry dihargai Rp 10.000 saja per batangnya, ukuran besar. Gimana nggak mupeng? 

Sayang, sekarang suami sudah amat jarang membelikan cokelat, karena jatahnya sudah dikasihkan ke anak-anak, hehe.... Nah, minggu lalu, tanggal 6 Desember, saya diundang ke acara sebuah peluncuran produk makanan yang mengandung cokelat di kafe cokelat: Pipiltin Cocoa. Mungkin supaya nyambung dengan produk yang diluncurkan, jadi tempatnya pun di kafe cokelat. Namun, karena saya langsung fokus ke acara, jadi saya tidak sempat melihat-melihat menu kue berbahan cokelat yang dipajang di etalase. Apalagi saya membawa tiga anak balita yang super aktif dan harus diawasi terus agar tidak mengacak-acak kafe yang mungil itu.


Pipiltin Cocoa yang saya datangi beralamat di Jl. Senopati 27 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bayangan saya bahwa tempat ini bakal besar, ternyata meleset. Terletak di deretan ruko-ruko di Jalan Senopati, kafe cokelat ini terlihat kecil dengan lapangan parkir yang juga tidak luas. Sempat bingung sebelum memasuki kafe, seorang pelayan tiba-tiba membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk. Bangku-bangku yang tersedia juga tidak  banyak. Saya disuguhi daftar menu, yang rupanya bukan cokelat. Menu itu sudah disiapkan oleh panitia acara tersebut. Agaknya menu-menu yang disajikan itu berupa masakan Meksiko. Nama-namanya asing, jadi saya asal pilih saja. Saya memilih Slow Cooked Chicken Rolled dan Ice Tea. Untuk minumannya bukan hanya teh, ada kopi dan Hot Chocolate juga kok.



Untungnya, di tengah acara, disajikan pula cemilan cokelat yang sesuai dengan kafe ini. Akhirnya saya bisa mencicipi cokelatnya. Saya memilih yang bentuk batang, rasa cokelatnya bercampur dengan mint. Enak sekali. Saat jam makan siang, pesanan saya pun datang. Slow Cooked Chicken Rolled itu sejenis ayam giling dibungkus tepung dadar. Di menunya tertulis kalau itu mengandung:  Tortilla, Chicken Cornflakes, Yogurt Dressing, Tomato Sauce, Pickle, dan Mozzarella. Di sekitarnya ditambahi keripik kentang. Itu harganya sekitar Rp 65.000-an. Hm, lumayan mahal sih buat saya, tapi mungkin itu harga yang lazim untuk kafe di sekitar Jalan Senopati. Kandungannya sepertinya banyak, tapi setelah dimakan eh kurang mengenyangkan, hehe. Maklum deh, perut nasi. Kalau belum makan nasi, berasa kurang. Bisa tambah menu, tapi sepertinya saya kurang cocok dengan masakan Meksiko. Saya melihat pesanan teman lain, Club Sandwich, malah sepertinya lebih mengenyangkan.


Untuk nongkrong-nongkrong atau even dengan peserta terbatas, Pipiltin Cocoa ini bisa dijadikan rekomendasi. Di lantai atas sepertinya tersedia tempat duduk juga, tapi saya belum melihatnya.  Hanya mengira-ngira dari luar bangunan dan ada tangga naik ke atas. Sebenarnya ada wifi, tapi entah kenapa internetnya nggak konek-konek. Wah, mesti diperbaiki nih, karena harga makanan yang lumayan mahal itu harusnya dibayar juga dengan wifi gratis yang oke. Anak muda zaman sekarang kan nongkrong-nongkrong itu tujuannya untuk nyari wifi gratis. Apalagi kami datang dan ikut kampanye sosial media, eh begitu mau pakai wifinya, nggak bisaaa.... Jadi, pake internet sendiri dari hape.

Whoops, tempat parkirnya terbatas, jadi ya berangkat lebih pagi saja jika ada even di sini. Kalau naik kendaraan pribadi, rutenya lebih mudah karena tak jauh dari Blok M. Kalau naik kereta, turun di Stasiun Sudirman, lalu disambung dengan bus ke arah Blok M, dan dilanjutkan dengan naik ojek ke lokasi. Yang mau ngasih kado cokelat nggak biasa, boleh deh mampir ke sini.

 

Rabu, 16 Desember 2015

Makan Siang di Arion Swiss Bel-Hotel Kemang

Assalamu'alaikum. Semoga malam ini indah ya, Fren. Sudah salat Isya semua, kan? Saya mau cerita kegiatan minggu lalu. Sabtu, 5 Desember, saya diundang ke acara IB Blogger Meet Up bersama komunitas Aku Cinta Keuangan Syariah, di Arion Swiss Bel-Hotel, Jalan Kemang Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 


Acara dimulai jam 13.30, tapi registrasinya sejam sebelumnya, 12.30. Saya berangkat dari rumah jam 10.00, naik kereta commuter sampai Stasiun Tanjung Barat, lalu dilanjutkan dengan naik Kopaja S26, tanya sama keneknya kira-kira turun di mana untuk ke Arion. Kami diturunkan di pertigaan Prapanca. Lalu, lanjut lagi naik Kopaja 605 ke arah Blok M (mau ke hotel, tapi naik Kopaja.... Astaghfirullaaah.....). Jujur banget lagi ya, bilang kek naik Taksi.

Hotelnya berada di sebelah kiri jalan raya. Jalannya juga hanya satu arah (sempit), jadi begitu melihat ke kiri eh langsung menemukan bangunan hotelnya sebelum restoran Mc. D, padahal tadinya kami minta diturunkan di Mc. D.  Supirnya sampai ngingetin, "tadi katanya di Mc. D. Ini belum Mc. D...." Ya, nggak apa-apa, Pak. Salah sebut. Ongkos Kopaja masing-masing Rp 5.000 dan Rp 4.000. Jauh lebih murah daripada naik taksi hehe... Hanya butuh waktu kurang dari satu jam, perjalanan dari Stasiun Tanjung Barat ke Hotel Arion Swiss Bel ini. 

Sebelum acara dimulai, kami diajak makan siang dulu di Swiss Cafe, restoran di dalam Hotel Arion Swiss Bel ini. Berhubung sudah jam 12.00, kami salat Dzuhur dulu. Oh ya, saya berangkat bareng Santy Qonita Musa. Santy malah belum sarapan dari rumah, karena saking sibuknya. Dia juga berangkat dari Tangerang, lumayan jauh. 

Restorannya nyaman pastinya, namanya juga di hotel. Kami langsung disambut pelayannya, karena sudah tahu ya sebagai peserta Blogger Gathering. Semua makanan sudah tersaji, tinggal diambil secara prasmanan. Saya mulai dengan Appetizer atau pembukanya, saya pilih buah. Buah-buahannya standar sih: melon, semangka, nanas, salak, jeruk. Ceritanya mau Food Combining, padahal mah nantinya makan campur-campur, xixixi....  Lah, betul kan, namanya juga Food Combining. #dikeplak.


Tentu saja itu belum cukup, karena kami sudah berjalan jauh, dan akan mengikuti seminar "Cara Mudah Memahami Keuangan Syariah," jadi perut harus diisi semampunya. Lunchnya, saya mengambil Fetuccini, daging asap, daging balado, dan kerupuk dari biji melinjo. Saya lupa nama-namanya nih. Udah keburu lapar, jadi nggak sempat memfoto nama makanannya.

Fetuccini (kalau saya nyebutnya, Spaghetti) enak, saya ambil untuk ganti nasi. Kalau makan nasi, khawatir nanti nggak bisa makan yang lain ahahaha.... Daging asapnya ternyata setengah matang, jadi aloooot.... Saya terpaksa nggak bisa menghabiskannya. Hikss.... Santy juga sama. Dia sampai ambil daging yang lain lagi. Ini kalau di FC kan nggak boleh, mie campur daging. Ya, sesekali lah....

Daging balado itu saya kira daging ayam, ternyata daging ikaaan! Durinya sudah nggak ada, jadi aman. Ini yang rasanya enak dan lembut. Ikannya sepertinya direbus, bukan digoreng. Pokoknya enak banget deh. Hm, coba anak saya ikut makan ya, pasti dia suka sekali karena dia doyan makan ikan. Ah, ibu-ibu di mana aja sama, yang dipikirannya anak-anak aja. (Eh, setelah saya makan ini, anak-anak dan ayahnya nelepon dan bilang belum makan siang, hihihi.....)

Selesai Lunch, kami mengambil Dessert, makanan penutupnya ada kue-kue manis. Duh, maunya sih mengambil semua, tapi saya hanya ambil tiga. Hanya?? Banyak juga, tuh. Saya nggak kuat melihat penampakannya. Mau melahap semua. Daaan.. Enaaaaaak! Kuenya lembut, gitu. Di antara semuanya itu, saya suka yang cokelat. Harusnya bisa ambil beberapa lagi, hehehe.... Dasar perut emak-emak, memang nggak ada kenyangnya.


Belum cukup? Oke, ada makanan-makanan pilihan, bakso, soto, tomyam. Berhubung belum pernah makan Tomyam, saya pilih Tomyam saja. Saya ambil hanya sedikit, karena judulnya "mencicipi." Ternyata ini juga enak. Kalau perut masih kuat sih ya pengennya dicoba semua xixixi.... Saya bilang ke Santy, "Kayaknya gampang nih bikin Tomyam sendiri di rumah...." Santy jawab, "Susah, Mbaaa.... Nggak bisa pas rasanya. Jadinya aku beli bumbu pasta Tomyam impor dari Thailand. Ada sih supermarket di sini yang jual, tapi jarang." Mendengar itu, saya cuma bengong. Siapa suruh main ngegampangin. Yah, ini kan "cuma" campuran udang, ayam, dan cumi. Kuahnya ada asam-asamnya. Pedasnya sih nggak terlalu. Intinya, saya senang akhirnya bisa nyobain Tomyam juga.

Saya mau coba es buahnya juga sih sebenarnya, tapi perut sudah nggak sanggup. Ya iyalaaah... malu juga keliatan bolak-balik ambil makanan. Ngomong-ngomong, ini kok makanan semua ya? Minumannya apa? Memang minuman yang kami minum cuma air putih karena  Alhamdulillah perut sudah kenyang dan siap mengikuti seminarnya. Kecuali daging asapnya yang alot, semua makanan yang sudah saya coba ini enak dan mengenyangkan. Terima kasih atas nikmat-Mu, ya Allah...

NB: Maaf ya kalau saya sudah bikin ngiler. Menu makan siang di Arion Swiss Bel-Hotel ini sumpah enak banget. Kalau soal nginepnya sih saya nggak tahu ya, karena di sini judulnya hanya makan siang hehe....

Senin, 14 Desember 2015

Nostalgia Kuliner Solo di Gelar Cita Rasa Solo 2015

Assalamu'alaikum. Siapa yang sudah lama nggak pulang kampung? Saya tunjuk tangan paling pertama, deh. Banyak yang belum tahu kalau saya punya darah Solo, tapi sudah bertahun-tahun nggak ke sana. Rasa kangen pasti ada, termasuk kangen dengan kulinernya. Beruntung kemarin suami mau mengantarkan saya ke Sunter, Jakarta Utara, karena ada Festival Kuliner dan Kebudayaan Tradisional Tematik pertama di Jakarta, Gelar Cita Rasa Solo (GCRS) 2015 di Dapur Solo. Bertempat di Lapangan Parkir Dapur Solo, Sunter Astra, Jl. Danau Sunter Utara 7.


Wuiiih... jauh juga ya dari Bogor ke Sunter? Lebih jauh mana dengan ke Solo? Yah, kalau  belum bisa ke Solonya, ke Dapur Solo aja dulu. Saya penasaran, kayak apa sih acaranya. Pagi-pagi, saya dan suami sudah berangkat dan berharap jalanan bersahabat. Alhamdulillah, ternyata lancar jaya, nggak macet. Nggak sabar deh bernostalgia dengan kuliner Solo di Dapur Solo. Meskipun acara ini sudah usai, kita masih bisa bernostalgia dengan kuliner Solo, ke mana lagi kalau bukan ke Dapur Solo, restoran yang khas dengan menu Solo dan sekitarnya. 



Restoran yang didirikan oleh Ny. Swan ini ternyata memiliki banyak cabang, diantaranya di Sunter  Cabang 1, Sunter Cabang 2, Serpong, Panglima Polim, dan Matraman. Kapan-kapan bisa mampir ke cabang yang terdekat dengan lokasi kita ya. Jika menilik sejarah berdirinya Dapur Solo, luar biasa lho restoran tematik ini adalah hasil perjuangan seorang IBU RUMAH TANGGA, yaitu Ny. Swan Kumarga. Awalnya, Ny. Swan mencari kesibukan di sela mengurus anak dan mengurus rumah tangga dengan berjualan rujak dan jus di garasi rumahnya. Ternyata jualannya laris! Beliau kemudian menambahnya dengan kuliner khas Jawa Tengah, terutama Solo. Eh, laris juga! Nggak disangka, sudah 25 tahun berdiri, Dapur Solo kini menjelma menjadi restoran yang luar biasa, nggak hanya satu lho cabangnya. 


Nah, jadi buat ibu-ibu yang sekarang di rumah saja, jangan merasa rendah diri dan kecil hati. Contohlah Ny. Swan, dari rumah pun bisa produktif dan menghasilkan. Siapa yang sangka ya kalau Dapur Solo itu pemiliknya "hanya" seorang ibu rumah tangga? Wuih, jadi kata siapa bekerja itu harus di kantor? Kita bisa membuat kantor sendiri di rumah, terutama untuk para ibu muda yang ingin bekerja sambil mengasuh anak. Kalau punya usaha rumahan yang sukses seperti Ny. Swan ini kita bukan hanya sebagai manajer tapi juga pemiliknya. Gimana nggak keren, coba?

Sebelum mengelilingi stan-stan yang ada di GCRS, saya dan keluarga makan siang dulu di restorannya. Jadi, stan-stannya itu ada di lapangan parkir restoran Dapur Solo. Lapangan parkirnya luas sekali ya, dan masih ada lahan untuk memparkir mobil para pengunjung juga. Anak-anak antusias membaca menu. Komentar pertama keluar dari mulut Ismail, "Enak yah restorannya... Bagus...." Memang, restoran Dapur Solo itu nyaman. AC-nya segera mendinginkan tubuh yang kepanasan saat di  luar ruangan. Dekorasi bagian dalamnya pun cantik, dengan nuansa khas Jawa Tengah; batik. Para pramusaji juga mengenakan seragam batik.


Para pramusajinya ramah, nggak pakai lama, mereka menyerahkan daftar menu dan menunggu kami memilih. Ismail minta Nasi Langgi Kuning, yang nasinya dibuat seperti tumpeng mini. Saya bingung mau pesan apa, lalu suami menyarankan Nasi Gudeg, karena saya memang suka Gudeg. Suami malah memesan Nasi Timbel Khas Sunda. Eh, ternyata ada makanan Sunda juga di sini.  Sambil menunggu, kami memakan Combro dan Misro yang diantarkan oleh pramusaji. Pesanan pun tiba beberapa saat kemudian. Ismail takjub melihat Nasi Langgi Kuning yang memuncung ke atas. Si Ayah memakan pesanannya dengan lahap, sampai bilang,"Alhamdulillah, kenyang." Ketiga menu tersebut, harganya hanya berkisar Rp 30.000-an. Untuk ukuran restoran, harga segitu cukup terjangkau, lho. Apalagi kami kenyaaang.....






Setelah selesai makan siang, kami pun mengelilingi stan-stan yang ada di sana. Harga makanannya cukup terjangkau, rata-rata Rp 10.000. Saya mencicipi Dawet Ayu yang racikannya berbeda dengan yang lain, karena ada tambahan Bubur Sum Sum dan Ketan Hitam. Rasanya? Juara! Manisnya nggak terlalu manis, pas deh. Anak-anak membeli Es Krim. Berhubung perut sudah kenyang, jadi makanan-makanan lain dibeli dan dibawa pulang. Ada Tahu Petis khas Semarang, Tahu Acar, dan Kue Cubit. Masih banyak kuliner lainnya, seperti Cabuk Rambak, Kue Ranggi, Kue Serabi Solo, Sate Ayam, Lontong Balap, dan lain-lain. Kalau kangen dengan kuliner Solo, langsung saja ke Dapur Solo.

Dawet Ayu

Khusus di Festival, saya juga melihat workshop melukis batik (canting). Sudah tahu kan kalau batik yang asli itu dibuat dengan ketekunan tangan si pembatik? Bagi yang tertarik ingin tahu cara membatik, bisa menyaksikan workshopnya, gratis, karena digelar di halaman restoran. Dipandu oleh seorang seniman batik yang memakai beskap (pakaian khas Solo). Menarik sekali, festival kuliner dan kebudayaan khas Solo ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan baru, terutama bagi generasi muda yang kini lebih suka mempopulerkan budaya dan kuliner negara lain. Sudah pernah belum mencicipi kuliner-kuliner khas Indonesia yang lezat ini? 


Bagi pengunjung yang beruntung, bisa mendapatkan hadiah sepeda motor, lho! Saya juga nggak mau ketinggalan foto-foto dan diunggah ke Instagram, karena ada kuisnya juga. Lumayan kalau menang bisa dapat voucher makan ratusan ribu di restoran Dapur Solo. Aih, ibu-ibu nggak mau ketinggalan banget ya kalau gratisan hehehe.... 





Rabu, 02 Desember 2015

Festival Kuliner dan Kebudayaan Solo di Dapur Solo


Assalamu'alaikum. Apa kabar di siang yang mendung ini? Insya Allah, minggu depan saya mau menuntaskan kerinduan dengan kampung halaman almarhumah Mama, yaitu Solo, di Festival Kuliner dan Kebudayaan Tradisional Tematik pertama di Jakarta. Diselenggarakan oleh Dapur Solo. 


Acaranya seru-seru lho. Selain bisa wisata kuliner daerah Solo, ada workshop membuat tumpeng dan batik juga lho. Acara ini terbuka untuk umum. Tidak ada tiket masuk, alias gratis. Tapi kalau mau icip-icip kuliner dan ikut workshopnya ya harus bayar hehe... 

Buat kamu yang wong Solo dan kangen dengan kulinernya atau kamu yang penasaran kayak apa kuliner Solo itu, yuk datang. Catat tanggalnya ya: 

Tanggal: 11-13 Desember 2015
Tempat: Lap. Parkir Dapur Solo Sunter Astra Jl. Danau Sunter Utara 7 (sebelah Astra BMW)
Waktu: Jumat 19.00-22.00, Sabtu dan Minggu 10.00-22.00.

Sampai jumpa di sana! 

Senin, 23 November 2015

Ngopi Cantik di Anomali Coffee

Ngopi cantik, istilah itu sudah umum beredar ya di mana-mana. Ngopi ganteng kayaknya nggak pernah dipakai ya hahaha... Soalnya yang sering ngaku cantik itu memang emak-emang macam sayah, hihihi.... Jadi, ceritanya, beberapa waktu lalu saya mendapatkan undangan Ngopi Cantik dari The Urban Mama di Anomali Coffee. Saya mau bahas kafenya aja untuk referensi teman-teman pembaca blog ini yang mau ikutan ngopi cantik. 
'

Ngopi memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Kalau ngopi di rumah, hampir setiap hari. Ngopi di kafe itu tujuannya untuk "me time" tapi "me time" yang kemarin di Anomali Coffee ada tujuannya, karena di sana kami membahas mengenai #BerbagiSehat. Narasumbernya, Mama Ina, yang membagi tips-tips menjaga kesehatan anak-anak. Nah, bermanfaat kan temanyaaaa.... Bertempat di Anomali Coffee, Jalan Tengku Cik Ditiro No. 52, Menteng, Jakarta. Dari Bogor, saya naik kereta commuter line, turun di Cikini, lalu naik bajaj. Dari Stasiun Cikini itu sudah dekat ke lokasi, hanya saja karena saya belum tahu jalan, jadi tarif bajajnya lumayan mahal Rp 30.000. Eh, pas pulangnya, si abang bajaj cuma minta Rp 15.000. 

Foto: Kania Ningsih
Untuk sampai ke sini, patokannya Jakarta Eye Centre ya. Kalau belum tahu jalan, tanya saja Jakarta Eye Centre, karena tempatnya bersebelahan, hanya jalan sedikit. Kebetulan tukang bajaj yang saya naiki itu nggak tahu jalan ke Anomali ini. Tipsnya, sebelum naik bajaj, pastikan dulu supirnya tahu tempat tujuan kita. Tempatnya sih nyaman dan cantik, bisa buat foto-foto. Sayangnya, saya nggak sempat foto-foto interiornya. 


Enak ya duduk di bangku tinggi

Pilihan menunya

Rekan-rekan blogger dari The Urban Mama sudah menunggu dan acara sudah akan dimulai. Saya langsung pesan kopi dan kudapan, untuk kopinya saya pilih Iced Cappucino, soalnya udah siang dan panas. Kalau masih pagi, enaknya kopi panas ya. Trus, makanannya Cinnamon Roll. Tadinya saya pesan Almond Corissant, eh sudah habis. Jadi diganti dengan Cinnamon Roll tapi enak juga. Sambil menunggu pesanannya siap, saya mendengarkan uraian Mama Ina tentang #BerbagiSehat. Saya ketemu lagi dengan sahabat lama yang sekarang sering janjian di acara blogger, Kania Ningsih. 

Saya dan Kania Ningsih

Pesanan kami pun tiba. Saya dan Kania Ningsih ternyata pesanannya sama! Kopinya dalam gelas yang cukup besar dan Cinnamon Rollnya juga berukuran besar. Jadi, kita bisa kenyang walaupun menunya cuman itu. Kalau mau nambah lagi ya bisa, ada banyak menu yang tersedia. Macam-macam racikan kopi dan beraneka jenis roti. Harganya juga bervariasi. Untuk kopinya di atas Rp 30 ribu yah. Berhubung saya ditraktir sama The Urban Mama, jadi nggak jebol kantongnya wkwkwk.... Kopi dan rotinya enak, dijamin nggak nyesel deh.


Sayang, wifinya kurang lancar. Tadinya mau numpang wifian, eh  nggak jadi karena nggak konek-konek. Nggak jelas kenapa. Lain kali harus lancar ya, Anomali, karena orang ngopi cantik itu sering kali supaya bisa dapat wifi gratis juga, bihihihik.....  Hayoooo... siapa yang mau nraktir saya di sini?

Kamis, 19 November 2015

Bakmi Apin Sukajadi Bandung, Tandas dalam Sekejap

Bakmi Apin, Sukajadi, Bandung
Assalamu'alaikum. Selamat malam, semuanyaaa! Alhamdulillah, dapat kesempatan ngeblog lagi setelah menyelesaikan berbagai tugas prioritas. Setelah diselingi cerita lain, saya mau putar balik ke cerita jalan-jalan Bandung, sebulan yang lalu. Soalnya, memang masih ada beberapa cerita yang belum diterbitkan di blog ini, hehehe.... Waktunya itu lho, susah banget membaginya. Badan sudah tepar duluan karena pekerjaan rumah tangga yang nggak ada habisnya dan pekerjaan menulis lainnya. 


Oke, deh... sebelumnya kan saya cerita jalan-jalan ke Mall Paris Van Java. Setelah jalan-jalan itu, kami mampir ke Bakmi Apin untuk makan siang sekaligus malam. Jiyaaah, kasihan banget ya, baru sempat makan. Makanya, judul tulisan ini sesuai banget: Tandas dalam Sekejap. Selain karena memang lapar, bakminya juga enak kok. Restoran Bakmi ini adanya masih di sekitar jalan Sukajadi, Bandung. Tempatnya luas dan nyaman. Ismail yang sudah tertidur sejak di mobil, nggak mau turun. Ya sudah, kami jadi hanya makan berempat. Eh, tapi Sidiq sudah nggak mau makan karena sudah makan Pizza. Saya hanya pesan dua porsi untuk saya dan suami. 





Sambil menunggu bakminya siap, saya mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran yang agak sepi. Restorannya bersih sekali. Di depan restoran tadi saya sudah melihat ada logo halalnya. Pelayannya juga ada yang berjilbab. Saya pesan mie kuah dengan bakso, sedangkan suami pesan mie goreng. Per porsi Rp 30.000. Harga yang wajar sih untuk restoran yang berlokasi di tengah kota. Suami pesan teh manis, eh pesannya kebanyakan, sampai lima gelas! Hehehe.... Kembung, deh. 

Pesanan saya

Pesanan suami

Tak berapa lama, pesanan kami pun datang. Anak-anak makan baksonya saja, karena mereka kelihatan sudah lelah. Saya makan bakminya, wuiiih... rasanya enaaak.... Mienya gurih, kaldunya sangat terasa. Taburan daging ayamnya itu lho, sedap sekali. Baksonya juga terasa banget daging sapinya. Alhamdulillah, sampai nggak terasa tahu-tahu sudah habis. Pengennya sih nambah lagi, tapi karena teh manisnya kebanyakan, jadi saya kenyang minum teh manis. Suami juga sudah kenyang. Alhasil, kami nggak makan lagi di hotel. Keputusan untuk nggak makan malam lagi, agaknya sedikit saya sesalkan karena jam sembilan malam, saya sudah merasa lapar lagi hehehe.... Sepertinya aroma dan rasa Bakmi Apin masih terus mengikuti saya. Semoga kapan-kapan bisa mampir lagi.

Foto sambil menunggu bakminya siap













Selasa, 10 November 2015

Paris Van Java, Mall Bergaya Eropa

Assalamu'alaikum. Kangen ngeblog nih! Dua bulan ini (November dan Desember) sedang fokus menulis buku, alhasil blog terbengkalai. Rencana mau ikut lomba-lomba blog pun banyak yang gagal, karena prioritas menulis naskah buku yang deadline Desember. Kecuali reportase even, terpaksa harus diikuti karena sudah diundang kan hehe.... Terakhir serius ikutan lomba itu saat sedang di Bandung, liburan bersama keluarga. Menginap di hotel deJava Sukajadi Bandung, yang lokasinya berhadapan dengan Mall Paris Van Java. Bisa ditebak kan, saya pasti jalan-jalan juga ke mall itu. 


Saat akan menuju ke lokasi hotel, kami sudah melewati mall itu. Suami sudah antusias menunjuk-nunjuk ke arah bangunan mall, "Itu Mall Paris Van Java. Nanti tinggal nyebrang aja ke sana." Saya melihat bangunan mall itu, yang sepertinya kecil. Halamannya luas sekali dan bangunannya tidak bertingkat seperti mall-mall lain. Di sampingnya juga sedang ada renovasi, jadi saya pikir mallnya belum jadi. "Ah, kayaknya nggak menarik," kata saya. 

Menuju pintu masuk Mall

Besoknya, kami benar-benar mengunjungi mall itu sekadar jalan-jalan. Enak kan tinggal nyebrang. Ternyata apa yang ada di pikiran saya berbeda! Mall itu sangat besar, hanya besarnya ke samping bukan ke atas. Lapangannya luaaaas.. kemudian kami bingung mencari jalan masuknya. Suami sih sudah duluan ke sana, dia bilang, "Mallnya membingungkan. Nggak jelas gimana konsepnya." Halah! Kok ada mall membingungkan? Mungkin karena desainnya berbeda dengan mall-mall lainnya. 


Jalan masuk ke dalam mall itu memang misterius. Outlet-outletnya berjajar di muka mall, dari mulai Starbuck, Burger King, Domino;s Pizza, Carrefour, dan sebagainya. Nah, jalan masuk ke mallnya itu di mana? Ya, kan biasanya outlet-outlet itu adanya di dalam mall, lah kok itu di luar. Kami kan mau jalan-jalan ke mallnya, bukan langsung masuk ke dalam outlet-outlet itu.  


Akhirnya, kami coba susuri pelataran outlet-outlet itu. Dari hasil googling, saya baru tahu deh kalau konsep mall ini adalah Open Air (terbuka). Jadi, outlet-outletnya memang sebagian ada di luar, mirip bazaar pameran. Uniknya, bangunan-bangunannya itu cantik-cantik, bergaya Eropa. Serasa sedang jalan-jalan di Inggris nih, huehehehe..... Sebelum mulai jalan-jalan, anak-anak (terutama Ismail) minta makan dulu. Ya sudah, kami cari tempat makan dan di sana ada banyak tempat makan dari makanan lokal sampai internasional. 

Seperti Bazaar

Setelah makan, kami kembali menjelajahi mall tersebut. Banyak brand-brand terkenal yang membuka outletnya, bahkan ada brand Victoria Secret juga, dengan konsep bangunan Victoria. Ah, kalau gitu mah nggak usah ke Inggris deh. Ke Mall Paris Van Java saja sudah berasa seperti di Inggris. Dibuat foto-foto pernikahan juga oke, asal izin dulu sama pemilik outletnya. Cakep-cakep sih bangunannya. Sampai kita lupa belanja, alias cuma lihat-lihat hihihi.... 

Makan dulu di Domino's
Domino'snya kereen...

Ternyata, mall ini juga ada pintu masuknya, hanya tersembunyi di dalam ya. Kami sampai naik lift dua kali bolak-balik, saking bingungnya turun di mana. Saya lupa ada berapa lantai, tapi kami coba naik ke lantai terakhir, eh kosong melompong. Turun lagi ke bawah, deh. Dalam perjalanan itu, sampailah kami di tempat parkirnya yang tersembunyi dan sepiiii... Saya mau foto parkirannya, tapi gelap euy. Tadinya saya mau belanja dulu di Daily Foodhall, eh tapi kok jalan keluarnya jauh juga dari parkiran. Ya iyalah, kan outletnya ada di luar semua (hanya sebagian kecil di dalam). Ya sudah deh, langsung masuk ke mobil dan pulang. Eh, balik ke hotel, maksudnya :D Katanya tinggal nyebrang, kok mobilnya ada di parkiran mall? Iya, setelah salat Jumat, suami menaruh mobilnya di parkiran Mall, lalu jalan kaki ke hotel menjemput kami, gitu.