Minggu, 30 Agustus 2015

Saat Hati Rindu Ingin Kembali ke Bali



Satu tahun yang lalu, satu hari sebelum hari kemerdekaan, 17 Agustus 2014, saya menjejakkan kaki di Pulau Dewata, Kuta, Bali. Bali adalah surganya wisatawan, tidak hanya lokal tapi juga mancanegara. Tak disangka, tahun lalu saya mendapatkan rezeki traveling ke Bali. Kisah lengkapnya sudah ditulis di sini, di sini, dan di sini. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengenang perjalanan ke Bali dan betapa inginnya saya kembali ke sana.   


Keberangkatan saya ke Bali dimulai dari tanggal 16 Agustus 2014, sehari sebelum perayaan HUT RI ke-69, menaiki maskapai penerbangan Lion Air. Hiasan HUT Kemerdekaan sudah mewarnai berbagai lokasi, dari mulai bandara, jalan-jalan, sampai ke lingkungan di sekitar hotel tempat saya menginap. Kebetulan sekali, saya membawa baju dan jilbab bernuansa merah putih, jadi terasa serasi dipakai pada hari kemerdekaan. Hotel tempat saya menginap hanya berjarak satu kilometer dari Pantai Kuta. Saya hanya tinggal berjalan kaki saja dari hotel ke Pantai Kuta, sekaligus menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang sarat dengan wisatawan mancanegara.
Persiapan Acara Tujuh Belasan di Pantai Kuta

Saya sampai di hotel sudah jam 5 sore. Malam hari, setelah makan, kami membakar kalori dengan menyusuri jalan Legian, melewati kafe yang pernah menjadi sasaran bom dan pertokoan-pertokoan modern di Kuta Square, sepanjang jalan menuju Pantai Kuta. Aroma kemenyan atau dupa mengusik indera penciuman kami. Aroma inilah yang menjadi penanda bahwa kami sedang berada di Bali. Kemenyan memang ada di berbagai tempat, hampir setiap rumah dihiasi dengan kemenyan pada bagian pintu atau teras rumah. Patung-patung Dewa juga menjadi pemandangan yang biasa. Inilah salah satu keunikan dari Bali yang tidak ditemui di tempat-tempat lain. Di sini juga masih banyak ditemui gadis-gadis Bali yang mengenakan pakaian tradisional Bali.  So exotic!
Salah satu dupa yang terpasang di tiang bangunan

Esok paginya, suami pergi sendiri ke Pantai Kuta dan melihat persiapan acara tujuh belasan. Seru, katanya, bakal ada pertunjukan Barong Bali, tarian tradisional khas Bali. Sayangnya, kami tidak sempat melihat pertunjukan itu karena setelah sarapan, kami berjalan kaki lagi mengelilingi kawasan Kuta dan sekitarnya. Tadinya kami mau memesan ojek, tapi habis. Banyak wisatawan yang datang di hari libur kemerdekaan itu, sehingga persewaan motor dan mobil pun laris manis. Ternyata jalan kaki pun tidak terasa lelah, karena pemandangan di sisi kanan kiri jalan sangat memanjakan. Bule-bule berseliweran dengan paras yang rupawan.

Pasar Seni Sukawati

Kami berjalan di trotoar di sepanjang Pasar Sukawati, pasar terkenal di Bali yang menjual beragam oleh-oleh dan barang-barang kesenian khas Bali. Udara terasa sejuk karena banyak pepohonan rimbun yang menaungi jalan. Lalu, kami melanjutkan perjalanan ke Legian, mengambil foto di depan Tugu Peringatan Bom Bali yang bertuliskan nama-nama korban dan asal negaranya.
Tugu Peringatan Bom Bali di Legian

Kami beristirahat beberapa kali di depan minimarket, di sebuah restoran Seafood, dan di depan minimarket lagi. Oya, karena ini pertama kalinya kami ke Bali, jadi untuk urusan makanan memang masih awam. Daripada salah makan, kami pilih yang pasti-pasti saja. Kami memilih Restoran Seafood ini karena ada tulisan “halal” di spanduknya. Pemiliknya juga muslim. Jadi, jangan khawatir. Di Bali ini juga banyak muslimnya. Dulu saya sempat ditakut-takuti, katanya kalau ke Bali itu susah cari makan karena tidak halal. Tidak juga, kok. Kita bisa menemukan banyak rumah makan yang menyediakan makanan halal di sini.


Setelah berjalan berkilo-kilo meter melewati perumahan yang sepi dan ditemani gonggongan anjing, gara-gara terpikat oleh papan petunjuk bertuliskan “Pie Susu Bali,” tahu-tahu kami sudah sampai di Sunset Road! Berbekal Google Map, kami menemukan Toko Oleh-oleh Khrisna, yang bentuknya seperti Departmen Store. Pengunjungnya banyak juga, kebanyakan wisatawan lokal.

Ucapan Selamat Datang di Pantai Kuta
Semua oleh-oleh khas Bali ada di sini, dari mulai makanannya, kain Bali, kerudung pashmina, merchandise, baju dan kaus Bali, dan sebagainya. Saya antusias memilih oleh-oleh untuk buah tangan keluarga di rumah. Sorenya, kami ke Pantai Kuta yang ramai oleh pengunjung. Inilah pantai yang terkenal dan legendaris, tempat diciptakannya lagu-lagu romantis. Memang banyak pasangan yang menciptakan momen romantis di sini, duduk berdua menghadap ke arah pantai, menyongsong matahari yang tenggelam. Senja yang begitu indah di atas Pantai Kuta, sampai kini masih melekat di dalam ingatan saya. Membuat saya ingin kembali lagi ke sana. Saya bangga menjadi warga negara Indonesia, melihat betapa banyaknya pengunjung yang memadati Pantai Kuta, bukti bahwa Pantai Kuta adalah obyek wisata terkenal di dunia.
Indahnya senja di Pantai  Kuta

Jika bisa kembali ke Bali, saya ingin mengunjungi lebih banyak lagi destinasi wisata, salah satunya Ubud yang terkenal dengan  seni dan budayanya dan beberapa obyek wisata menarik, seperti Taman Tampak Siring, Museum, Lempad House, dan lain-lain. Untuk tiket pesawatnya, saya bisa memesannya di  airpaz.com, ada banyak pilihan maskapai penerbangan ke Bali: Lion Air, Garuda Indonesia, City Link, Air Asia, Sriwijaya Air, dll. Saya ingin menggunakan maskapai Garuda Indonesia, karena lebih nyaman dan tepat waktu. Ah, semoga saja semesta mendukung keinginan saya ini. Aamiin….

Daftar maskapai penerbangan ke Bali di Airpaz.com
Saya pernah berada di Bali

Kontes Menulis #TiketGratisAirpaz Keliling Nusantara
http://blog.airpaz.com/id/lomba-menulis-airpaz-tulis-keinginanmu-menangkan-10-tiket-pesawat-gratis-keliling-nusantara/




Selasa, 25 Agustus 2015

Outift of The Day: Green in Green Nature

Sabtu, 22 Agustus, lagi-lagi saya ke Garut untuk menghadiri prosesi lamaran adik ipar, adik suami yang bungsu, satu-satunya yang belum menikah. Semoga prosesnya dimudahkan sehingga bisa cepat duduk di depan penghulu yaa... Hari Minggunya, iseng foto-foto di samping rumah Bapak Mertua yang masih dikelilingi sawah dan gunung. Adem sekali melihatnya. Kebetulan baru beli gamis kembang-kembang warna hijau, jadi cocok kan :D


Foto ini diambil oleh Sidiq (6 tahun), lho. Nggak nyangka ternyata hasilnya bagus juga. Diambil dari kamera Samsung Galaxy 3, lalu diedit seperlunya dengan aplikasi FotoRus. Hasil belajar dari adik bungsu yang suka foto-foto. Eh, kok sekarang saya jadi ketularan foto-foto juga yah, xixixi... Nggak apa-apalah, itung-itung mewarnai blog ini biar cerah ceria.  

Setelah foto-foto, langsung cus ke PGC, Pusat Grosir di Garut, rencananya mau beli bahan untuk dijahitkan baju yang akan dipakai ke acara pernikahan adik sepupu suami (tapi entah datang atau enggak, karena acaranya dua minggu lagi). Eh, di sana nemu kain yang serupa dengan kain gamis ini, ternyata gamis dari kain ini lagi tren toh, hehe.... Saya nggak tahu lho, saya beli cuma karena bagus aja ngeliatnya. Bahannya tebal dan halus, tapi adem. Nggak pakai furing (dalaman) pun nggak menerawang. Pas dipakai, terutama untuk muslimah yang senang berbusana sesuai syariah. Kalau dihitung-hitung, mending beli baju jadi daripada beli bahan lalu ditaruh di tukang jahit. Kecuali kalau bisa jahit sendiri. Harga bahannya satu kilogram (3 meter, karena bahannya berat) Rp 120.000. Untuk jadi gamis, ya butuh kurang lebih 2,5-3 meter itu. Belum ongkos jahitnya ya....

Untuk jilbabnya, saya pakai jilbab yang sudah lama tersimpan di lemari. Jilbab segi empat biasa, tapi cara pakainya sama dengan cara pakai pashmina. Berhubung nggak punya tas warna hijau juga, nggak apa deh pakai tas cokelat. Masih nyambung, kan? Yang paling seneng sih pujian dari suami pas pertama melihat istrinya pakai baju ini: "Mamah mau ke mana? Kok cantik?" *jarang-jarang dipuji suami, jadi blushing.


 



Rabu, 19 Agustus 2015

Pizza Hut Special Delight, Cukup untuk Berempat

Assalamu'alaikuum.....  datang-datang langsung kasih makanan lagi, nih hihihi.... Ya, soalnya foto-foto yang ada di folder isinya makanan semua. Ada cerita yang terlewat dari acara Kopdar Blogger bersama LG dan Spektra di Bogor beberapa waktu lalu. Sepulang dari acara, saya langsung ke Masjid Agung Bogor untuk menemui suami dan anak-anak yang setia menunggu di sana. Mereka sudah kelaparan dong pastinya. 


Barbeque Chicken dan Tuna Delight

Di depan Masjid, berjajar restoran-restoran franchise, yang cabangnya ada di mana-mana, salah satunya Pizza Hut. Udah lama nggak makan di Pizza Hut, nih. Dulu sih, suami suka nraktir, tapi lama-lama kami harus berhemat dan sekali makan di Pizza Hut bisa habis Rp 250.000. Wah, gede juga yah kalau dipikir-pikir (lah, dulu emang nggak mikir? :P). Dulu suami bayarnya pakai kartu kredit dan dapat potongan diskon, jadi nggak terasa mahalnya. Padahal sih jatuhnya mahal juga.

Nah, pas mau masuk ke Pizza Hut ini di Jalan Pajajaran No. 29, kami masih pikir-pikir. Jadi nggak, ya? Suami sempat ngajakin ke Resto di sebelahnya, makanan Jepang, tapi ah paling juga kisaran harganya sama aja. Akhirnya, kami putuskan untuk tetap masuk ke Pizza Hut. Bukan nggak mau makan di pinggiran jalan, tapi Ismail pernah sakit perut gara-gara makan di pinggir jalan (tukang-tukang gerobak makanan di pinggir jalan). Ismail ini pencernaannya agak sensitif, jadi harus selektif pilih makanan. Makanan pinggir jalan itu kan terbuka, jadi kena debu dan sebagainya. Kalau di Restoran kan tertutup. Intinya sih lebih pada kebersihan dan keamanannya untuk anak-anak. Suami saya juga pencernaannya sensitif, sering sakit perut kalau makanannya nggak bersih. Saya juga pernah dirawat di rumah sakit gara-gara makan pecel yang dijual di pinggir jalan. Jadi, ini bukan gaya-gayaan lho kalau kami pilih makan di Resto. 


Saya pikir, "sesekali ini lah nraktir anak-anak, toh saya baru saja menang lomba blog." Kami duduk dengan nyaman di sudut paling pojok. Restoran Pizza Hut di depan Masjid Agung Bogor ini nggak begitu ramai. Biasanya kalau ke Pizza Hut, mesti harus antri. Pernah juga nggak jadi masuk karena antriannya panjang. Alhamdulillah, kami bisa langsung makan. Anak-anak udah seneng banget dan nggak sabar. Mereka memang suka Pizza. Pelayan segera membawakan menu. Saya sih sudah terbayang harganya yang mahal-mahal, ternyata....

"Ini ada Paket berempat, Pak. Silakan dipilih," kata Pelayan yang pastinya cantik itu. 

Mata saya langsung membelalak membaca menu Special Delight berempat itu. Murah bangeeet....! Ini ukuran murah versi saya yah. Harga total (sudah pajak) Rp 140.000, dapat 4 pizza (bisa diganti Spaghetti dan Nasi), 4 minuman, 4 dessert. WOW! Bayangkan, dulu kami pesan dua Pan Pizza yang besar dan satu teko minuman (bisa untuk 4 gelas) saja sampai 200 ribuan. Dulu belum ada paket-paketan gitu. Belum lagi, ada promo hebat (Hemat Banget), diskon 50% setiap hari untuk menu tertentu. Kebetulan banget, hari Sabtu itu yang didiskon Brownies Ice Cream dan Ismail tertarik mau nyobain. Kok malah jadi lebih murah ya?

Nasi Chicken Delight

Ya sudah, kami pesan Paket Special Delight untuk berempat dan Brownies Ice Cream itu. Pesanan pun berdatangan. Dua Pizza ukuran kecil (ada 4 potong), satu Spaghetti, satu Nasi, empat minuman, dan satu Brownies Ice Cream. Kenyang? Alhamdulillah, kenyang banget. Pizzanya malah sampe dibawa pulang, karena nggak muat dimasukin ke perut. 

Untuk Pizzanya, kami pesan Barbeque Chicken dan Tuna Delight. Rasanya enak, tapi anak-anak sepertinya nggak terlalu mood makannya. Ismail cuma makan satu, Sidiq dua. Salim saya suapi Nasi Chicken Delight, nasi yang ada taburan sosis atau apa gitu yah. Sayang, rasanya terlalu gurih, seperti kebanyakan MSG. Suami menghabiskan Spaghetty Chicken Delight. Saya ikut nyobain, eh rasanya hampir mirip dengan Nasi Chicken Delightnya. Minumannya: Watermelon Orange, Lipton Ice Tea (2), dan Orange Juice. Dessertnya satu Garlic Bread dan satu Beef Bruschetta. 

Garlic Bread

Yang paling saya sukai dari semua menu di atas itu adalah, Pizza dan Beef Bruschetta. Beef Bruschettanya lembuuut, topingnya juga enak. Sayang, cuma ada empat dan langsung laris. Setelah selesai memakan semuanya, Brownies Ice Cream Ismail pun datang. Tadi, Ismail kurang bersemangat makan Pizzanya. Begitu makan Brownies Ice Creamnya, semangat banget. Nggak ada yang boleh minta. Saya nyobain dikit. Browniesnya memang enak, renyah dan  lembut. Pantes aja anak-anak suka.

Brownies Ice Cream

Berapa totalnya? Hanya Rp 148.999 (sudah termasuk pajak). Harga Paket berempatnya Rp 140.000, dan Brwonies Ice Creamnya hanya Rp 8.182, setelah diskon 50%. Nggak nyangka kami bisa makan di Pizza Hut dengan hanya setengah harga saja.

Sabtu, 15 Agustus 2015

My 7-Days Fruits Diary: Awesome!



Lebaran sudah usai, tapi jejaknya masih terasa. Apa lagi kalau bukan timbunan lemak di mana-mana? Hehehe…. Lebaran hanya beberapa hari. Banyak makanan yang terhidang. Sebagian besar mengandung lemak dan gula. Kalau nggak dimakan, sama saja nggak menghargai tuan rumah. Setelah lebaran, baru deh dimulai detoksifikasinya dengan… buah! Sekalian diikutkan dalam kompetisi My 7-Days Fruits Diary yang diadakan oleh Sunpride. Hasilnya, MANTAP!


Berikut ini adalah pengalaman tujuh hari bersama buah-buahan yang saya konsumsi setelah lebaran. 

Hari pertama: Sarapan dengan Pisang Cavendish dan Madu
Sarapan dengan pisang? Kenapa tidak? Caranya mudah sekali. Cukup potong-potong Pisang Cavendish dan tuangkan sedikit madu untuk menambah energi. Sarapan itu penting supaya kita punya energi sebelum memulai aktivitas hari itu, tapi menu sarapannya juga jangan berat-berat karena proses pencernaan baru dimulai. Sarapan buah adalah menu terbaik untuk memulai sarapan. Pisang mengandung nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sarapan. 

Pisang Cavendish pasti kenal, dong? Itu adalah buah tropis terpopuler di Indonesia yang dikenal dengan nama Pisang Ambon Putih. Daging buahnya berwarna putih kekuningan. Kulit buahnya juga kuning dan mulus, bikin kita mau cepat-cepat mencomotnya. Rasanya manis, agak asam. Buahnya juga lunak sekali, jadi gampang mengunyahnya. Kandungan kalori dan gizinya tercantum pada table di bawah ini. Ada karbohidrat, vitamin A, vitamin C, vitamin B6, Serat, dan sebagainya.


Manfaat makan pisang ini banyak sekali. Kandungan karbohidrat dan seratnya dapat membantu mengatur sistem pencernaan tubuh. Kandungan Pektinnya dapat mencegah sembelit. Buang air besar pun jadi lancar. Nah, untuk penderita sakit magh seperti saya, harus dan wajib sarapan nih supaya maghnya nggak kambuh. Pisang Cavendish ini memiliki efek antacid yang dapat mencegah magh kambuh. Wow! 

Buat kita yang suka stress dengan rutinitas sehari-hari, Pisang Cavendish memiliki kandungan Potasium yang memberikan efek menenangkan pikiran. Jadi, kalau sedang suntuk, bosan, dan stress, kita ngemil Pisang Cavendish saja. Jangan ngemil cemilan-cemilan yang bikin berat badan bertambah. Kan ada tuh kegemukan yang disebabkan oleh stress. Ngemil Pisang Cavendish banyak-banyak pun berat badan tetap stabil, karena kandungan seratnya membuat BAB lancar. 

Masih banyak lagi manfaat dari mengonsumsi Pisang Cavendish ini untuk kesehatan fisik dan mental. Pokoknya nggak rugi deh ngemil Pisang Cavendish ini. 

Hari Kedua: Banana Choco Chips with Pisang Cavendish
Pisang Cavendish lagi? Yup, kalau kamu suka ngemil kue, Pisang Cavendish ini juga bisa dimasukkan ke dalam adonan kue! Berhubung saya juga sedang belajar masak, jadi saya coba cari resep Banana Choco Chips ini dan Alhamdulillah berhasil mempraktekkannya. Bahan-bahan yang dibutuhkan sudah tercantum di dalam foto, ya. Sekarang saya jelaskan cara membuatnya:


Lumatkan dua buah Pisang Cavendish sampai halus.
Kocok 150 gram margarin bersama satu butir telur sampai berwarna putih.
Ayak 3 cangkir tepung terigu dan ½ sendok teh baking powder.
Masukkan semua bahan (tepung terigu, baking powder, 2 sendok teh cokelat bubuk) ke dalam kocokan telur dan margarin. Kocok sampai tercampur semua.
Masukkan Pisang Cavendish yang sudah dilumatkan ke dalam adonan, aduk hingga rata.
Tambahkan Choco Chips, atau kepingan cokelat di atas adonan yang telah dibentuk bulat-bulat.
Olesi Loyang dengan margarine dan tepung terigu.
Panggang selama 20 menit dengan suhu 180 derajat Celsius.
Hasil: kurang lebih 20 keping.


Banana Choco Chips ini bisa jadi cemilan saat sedang menulis, nonton televisi, membaca buku, menemani anak-anak bermain, dan lain-lain. Lebih enak dinikmati saat baru keluar dari oven, masih hangat dan empuk. 

Hari Ketiga: Smoothie Banana dan Orange Baby
Bulan ini masih masuk musim kemarau, ya. Siang hari rasanya panaaas sekali. Butuh minuman yang segar-segar nih. Eh, persediaan Pisang Cavendishnya masih ada. Selain itu, saya juga punya jeruk baby dari Sunpride. Jeruk Baby, jeruknya kecil seperti Baby ya? Enggak, kok. Ukuran jeruknya sama saja dengan jeruk lainnya. Dinamakan Jeruk Baby karena bisa dimakan oleh bayi di atas 6 bulan sebagai tambahan MPASI (Makanan Pendamping ASI). Oh ya??? Iya, dooong…. Jeruk Baby ini rasanya maniiiisss…. Banget. Saya aja kaget pas pertama kali makan, manis luar biasa. Yang kulitnya masih agak hijau pun rasanya udah manis. 


Nah, saya menggunakan Pisang Cavendish, Jeruk Baby, dan susu cair rasa vanilla untuk membuat Smoothie Banana dan Orange Baby ini. Jeruk Baby-nya diperas dulu, lalu dimasukkan ke dalam blender bersama susu, Pisang Cavendish, dan tiga butir es batu. Rasanya gimana? Masya Allaah… enak sekali. Saya coba kasihkan ke anak-anak, eh ternyata mereka suka. Ini benar-benar eksperiman yang menakjubkan. Saya nggak nyangka Pisang Cavendish itu kalau dijus dan dijadikan minuman ternyata enak juga. Apalagi ditambah Jeruk Baby, segar sekali. Pas deh untuk diminum saat cuaca panas. 

Jeruk Baby bermanfaat sebagai sumber vitamin C yang dapat mencegah kanker usus, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menangkal flu, dan mencegah infeksi telinga yang berulang. Buat saya yang sudah berusia di atas 30 tahun, penting sekali makan Jeruk Baby, cukup satu buah sehari untuk mempertahankan keremajaan kulit. Asyiik…. Selain itu, Jeruk juga kaya vitamin B6 untuk menjaga tekanan darah tetap normal. Serat jeruknya juga dapat mencegah diabetes. 

Hari Keempat: Jelly Jeruk Baby
Masih mencoba bereksperimen dengan Jeruk Baby nih. Di hari keempat, saya memasak bubuk jelly instan bersama perasan Jeruk Baby. Ini dia satu lagi perbedaan Jeruk Baby dengan jeruk biasa. Kulitnya itu tebal! Jadi saya mencetak jellynya di dalam kulit Jeruk Baby yang isinya sudah diperas. Aroma jeruknya jadi makin terasa setelah jellynya mengeras dan bisa dinikmati. Segeeer banget dimakan siang-siang. Jelly juga kaya serat yang dapat melancarkan pencernaan. Ditambah dengan Jeruk Baby, pasangan yang klop! 


Hari Kelima: Menikmati Segarnya Jus Melon
Hari kelima bertepatan dengan jadwal masuk sekolah anak-anak. Setelah liburan panjang selama lebaran, anak-anak pun harus kembali ke sekolah dan saya mendapatkan tugas sebagai penjemput. Kalau pagi, mereka diantar ayahnya. Anak-anak pulang jam 13.00-14.30. Kedua anak saya bersekolah di sekolah yang sama. Si sulung pulang jam 14.30, si tengah pulang jam 13.00. Supaya nggak bolak-balik, saya menunggu si sulung pulang di kantin sekolah bersama si tengah dan si bungsu. Sambil menunggu, sekalian makan siang di kantin sekolah.


Berangkat dari rumah jam 12.30, panas dong pastinya? Untungnya di kantin ada tukang jus buah. Saya langsung pesan Jus Melon. Sebenarnya ada jenis minuman lain seperti teh, kopi, sirup, dan sebagainya. Ah, saya pilih Jus Melon saja, lebih sehat dan segar. Sluuurrrpp… Alhamdulillah, dahaga pun terpuaskan. Rasa lelah karena berkendara motor di bawah matahari terik pun hilang seketika. 

Manfaat Melon ternyata luar biasa. Melon dapat mencegah sembelit, menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke, mencegah penggumpalan darah, menurunkan risiko penyakit ginjal, menyembuhkan eksim, dan meredakan panas dalam. Yang paling utama, buah Melon ternyata bersifat anti kanker, yaitu dapat membunuh bibit-bibit kanker yang mungkin bersemayam di dalam tubuh kita. Tahu sendiri kan, manusia sekarang ini rentan terkena kanker karena gaya hidup tidak sehat, makanan yang mengandung berbagai zat kimia berbahaya, dan sebagainya. 

Hari Keenam: Ngemil Guava Chrystal
Setiap hari, pekerjaan saya selain mengurus anak-anak adalah menulis di blog, menulis novel, dan menjadi mentor kursus menulis novel. Pekerjaan menulis itu paling enak dilakukan sambil ngemil. Eit, tapi kalau ngemilnya sembarangan, berat badan bisa naik  terus huhuhu…. Untung ada Guava Chrystal atau jambu biji di kulkas. Tinggal potong-potong, lalu hap. Walaupun kulitnya berwarna hijau dan dagingnya berwarna putih, tapi rasanya manis dan segar. Guava Chrystal mengandung banyak nutrisi penting yang berguna untuk kesehatan: mempercepat penyembuhan diare dan disentri, salah satu sumber serat makanan, meredakan batuk dan flu, mengencangkan otot-otot kulit yang kendur, mengurangi kolesterol dalam darah, dan mengontrol berat badan karena dapat menahan rasa kenyang lebih lama.


Eh, jangan salah! Bijinya juga dapat menjadi obat pencahar kalau dikunyah dan ditelan, sehingga berguna untuk membersihkan usus. 

Hari Ketujuh: Menikmati Nanas yang Manis
Hari ketujuh, saya menikmati kesegaran buah Nanas yang sudah disimpan di dalam kulkas. Dingin-dingin segeer…. Tadinya terpikir mau bikin sambal rujak, eh tapi ternyata lebih enak dicemil gitu aja. Nggak terasa, nanasnya langsung habis dalam beberapa menit! Saya baru tahu kalau Nanas itu memiliki banyak manfaat. Dulu, saya tahunya ibu hamil itu dilarang makan Nanas karena dapat menggugurkan kandungan. Eits, jangan negatifmelulu dong. Manfaat Nanas juga banyak. Diantaranya, dapat mengurangi keluarnya asam lambung yang memicu penyakit magh, sebagai antiradang, membersihkan jaringan kulit yang mati, mengganggu pertumbuhan sel kanker, dan menghambat penggumpalan trombosit. 


Eh, ada varian baru dari buah Nanas ini yang dimiliki oleh Sunpride, lho. Namanya, Nanas Honi. Kelebihannya dibandingkan dengan buah Nanas lain, yaitu: rasanya manis segar dengan daging buah yang renyah, sedikit serat, dan kadar air tinggi, beratnya berkisar antara 1,5-2,3 kg dengan mata yang tipis, kadar kalsium oksalat yang rendah sehingga nggak bikin gatal dan nggak harus direndam dalam air garam, dan Nanas Honi ini nggak gampang busuk. 

Omong-omong tentang Sunpride, sebelum menulis tentang My 7-Days Fruits Diary ini, saya memang memborong buah-buahan dari Sunpride. Sebelumnya, pasti banyak di antara kita yang berpikir bahwa Sunpride ini buah impor. Ya, kan? Saya juga pernah berpikir begitu, lho, karena biasanya buah yang dijual di Supermarket itu impor semua. Belakangan saya baru tahu bahwa Sunpride itu 100 persen buah nusantara! Sunpride berkomitmen menyediakan buah-buahan lokal asli Indonesia. 

Mudah-mudahan saya bisa konsisten menjalankan kebiasaan makan buah-buahan ini, karena setelah berkunjung ke website www.sunpride.co.id, saya jadi tahu manfaatnya banyak sekali. Saya juga sedang menularkan kebiasaan makan buah ini kepada anak-anak, salah satunya dengan membuat minuman seperti Smoothie Banana & Orange Baby yang ternyata disukai oleh anak-anak.


Jumat, 14 Agustus 2015

Mie Bakso Mulang Sari, Terkenal di Garut

Lebaran makan bakso? Wah, itu sepertinya sudah jadi kebiasaan masyarakat Indonesia di mana pun berada. Saya juga heran, mengapa di hari lebaran, warung-warung bakso ramai sekali oleh pengunjung? Apalagi di Garut tempat saya mudik, warung bakso selalu ramai. Garut, selain menjadi surganya dodol, ternyata juga menjadi surganya tukang bakso. Di mana-mana pasti ada warung bakso. Mie Bakso yang paling terkenal di Garut adalah Mie Bakso Mulang Sari. 


Mie Bakso Mulang Sari ini agak berkelas, karena harganya sekelas food court di mall-mall. Pertama kali saya mengunjungi warung bakso ini beberapa tahun lalu sewaktu merayakan wisuda adik ipar. Rasa dan penampilannya juga seperti bakso-bakso di mall. Beda banget dengan bakso kaki lima, walaupun warungnya berada di  pertokoan-pertokoan (bukan di dalam mall). Nah, lebaran kemarin, saya dan adik-adik ipar, mendatangi Mie Bakso Mulang Sari yang terletak di Jalan Pramuka No. 3 Intan Bisnis Center (IBC) Garut. Kelihatannya Mie Bakso Mulang Sari ini punya beberapa cabang, karena saya pernah melihat warung bakso lain yang juga menggunakan nama "Mulang Sari." 
Abang bakso

Warungnya ramai, dan ada dua lantai. Lantai atas dan bawah, sama penuhnya. Beruntung bisa dapat duduk di lantai pertama. Rata-rata pengunjung datang berombongan, satu keluarga atau lebih. Silaturahim ke tukang bakso nih ceritanya :D Penampilan para pelayannya rapi, berpakaian batik seragam.
Bakso saja
Bakso somay

Ada beberapa menu bakso yang bisa dipilih: Mie Yamin Kuah, Mie Yamin Pisah Kuah, Bakso saja, Bakso dan Kikil, Bakso dan Siomay, Bakso dan Tahu, Bakso dan Kikil. Untuk minumannya ada Sop Buah, Es Campur, dan aneka jus. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 10.000. Terjangkau sama kantong kita, kan? Bisa beli porsi setengah pula. Saya beli baksonya saja, karena sudah makan ketupat hehehe..... Bakso, mana tahan? Sudah makan ketupat pun, tetap disambut. 

Daftar harga
Baksonya lembut dan  terasa sekali daging sapinya. Kalau beli porsi penuh, dijamin kenyang. Mienya banyak. Minumnya es teh tawar (gratis) dan es campur. Kaget juga pas melihat es campurnya kok pakai roti tawar? Ternyata kalau di Garut, es campur itu ya pakai roti tawar. Eh, ada tomatnya pula. Tahu sendiri kan, Garut memang sentra perkebunan tomat. Agak aneh sih makan es campur pakai tomat, tapi di Garut sudah biasa. Ibu mertua pun kalau bikin sop buah, pasti ada tomatnya. Jadi rasanya asam-asam manis. 

Es Campur
Kalau ke Garut atau sekadar lewat, jangan lupa mampir ke Mie Bakso Mulang Sari ini ya. Bakso terkenal di Garut.


Kamis, 13 Agustus 2015

Manfaat Jus Tomat untuk Menghilangkan Sariawan dan Melembutkan Kulit

Jus Tomat
Sedih sekali karena harga tomat sedang turun drastis. Beredar kabar bahwa para petani Garut membuang tomat ke selokan. Lalu, orang-orang ribut nyalahin petaninya. Kenapa nggak diolah jadi apa gitu. Sebagai menantu dari mertua yang petani di Garut, saya merasa prihatin. Setiap hari, bapak mertua pergi ke sawah untuk menanam, lalu disuruh mengolah juga. Dananya sudah habis untuk bertani, keahlian untuk mengolah pun nggak ada. Kalau sedang suplus seperti ini, jadinya malah rugi. Kemarin pulang lebaran pun saya dapat dua kardus tomat, karena harga tomat sedang anjlok. Hanya Rp 200/ kilo. Bayangkan! Saya beli di tukang sayur saja masih Rp 1.000 dua butir. Masa itu sekilo cuma Rp 200?


Selama ini masih banyak masyarakat kita yang menggunakan tomat hanya untuk memasak, jadi kebutuhannya nggak banyak. Padahal, jus tomat bermanfaat untuk kesehatan dan kecantikan lho. Yah, cari yang gampangnya aja. Jus tomat. Soalnya kalau bikin pasta tomat kan nggak semua orang bisa, termasuk saya hihihi..... Jadi, tomat pemberian bapak mertua itu selain saya bagi-bagikan, juga dibikin jus tomat. Ternyata, khasiatnya sangat terasa, baik untuk kesehatan maupun kecantikan.

Manfaat Jus Tomat untuk Menghilangkan Sariawan
Kebetulan pas kebagian tomat itu, saya sedang sariawan.  Menurut dokter, sariawan disebabkan oleh kekurangan vitamin C. Saya nggak nyangka, begitu minum satu gelas jus tomat, sariawannya langsung hilang! Alhamdulillah, manjur sekali ya tomat ini untuk menghilangkan sariawan. Nah, kalau Anda sariawan, nggak usah susah-susah ke apotik beli obat sariawan. Cukup ambil 5 butir tomat dan dijus. Kalau nggak punya juicer, ya dipotong-potong kecil, taburin gula, lalu makan. Rasanya gimana? Enak bangeeeet.... Pilih tomat yang sudah merah dan matang lho yaa.... Kalau yang masih kuning atau hijau, sebaiknya dibikin sambal terasi saja. Nyummyy....

Manfaat Jus Tomat untuk Melembutkan Kulit
"Bu... Bu... makan tomat itu bikin kulit jadi gimana gitu ya... enak dipegangnya...." celetuk si Bibi, asisten rumah tangga di rumah saya yang kelimpahan tomat juga. Dia sampai membawa dua kantong plastik besar. Berhubung nggak punya juicer, dia makan tomatnya seperti makan buah lainnya. Dijadikan lalapan. 
"Maksudnya, kenyal-kenyal, gitu?" saya ingin memperjelas maksud ucapannya.
"Iya, Bu.... kenyal...."
"Lembut gitu ya?"
"Iya, iya... lembab gitu...."

Ternyata bukan hanya saya yang merasakan perubahan pada kulit setelah mengonsumsi jus tomat. Si bibi juga! Kulit jadi halus, lembut, dan kenyal. Seperti pakai pelembab wajah, padahal enggak. Jadi, buat apa pakai pelembab wajah yang mahal-mahal kalau minum jus tomat saja sudah bikin kulit jadi lembut? Kabarnya, tomat juga mengandung antioksidan tinggi untuk mencegah kanker. Informasi selanjutnya, bisa digoogling saja yaa....

Nah, ibu-ibu (bapak-bapak juga boleh deh), ayo kita borong tomat dari para petani Indonesia. Lalu kita bikin jus. Rutin minum jus tomat, insya Allah semakin sehat dan cakep. Mumpung sekarang tomat sedang murah, kita bisa beli sebanyak-banyaknya. Yuuuksss.....

Rabu, 12 Agustus 2015

Mencari Tas Kulit Asli di Pusat Kerajinan Kulit Garut

Garut Leather Centre/ dok.pri
Assalamu'alaikum. Apa kabar, semua? Tulisan ini masih berhubungan dengan mudik hari raya Idulfitri yang lalu. Sudah lama saya mau beli tas baru. Lebaran kok beli tas baru, kayak anak sekolah aja yaa hehehe.... Eit, itu karena tas saya yang lama sudah mengelupas kulitnya, nggak enak dilihat lagi. Padahal, pas beli itu harganya lumayan juga lho, di luar kebiasaan saya. Mumpung lagi di Garut, saya mau beli tas di Central Tas, nama toko yang menjual beraneka ragam tas cantik.



"Yah, anterin aku ke Central Tas, dong," kata saya ke suami. Sambil ngabuburit karena kami sudah berada di Garut, H-2 lebaran, kami menerobos kemacetan di Pusat Kota Garut. Ya iyalah, semua orang tumpah ruah di jalan raya, antara mau ngabuburit dan belanja kebutuhan lebaran. Perasaan saya sudah nggak enak saat suami mengarahkan kendaraan ke Pengkolan yang sering digunakan sebagai pasar kaget. Suami ngomel-ngomel saking tumpah ruahnya orang di jalan raya, pedagang pun memajukan kiosnya, ditambah dengan tukang becak dan delman, hadeeeuh.... Bodi mobil pun tergores-gores. 

Jalan macet/ dok.pri
"Kok ke arah sini ya? Perasaan ke Central Tas itu nggak lewat sini, deh," saya bertanya-tanya.
"Udah terlanjur. Nggak bisa mundur lagi," gerutu suami.

Setelah berjuang melewati ujian jalan raya itu, kami pun sampai di Central Tas yang dimaksud oleh suami. Pusat Kerajinan Kulit Garut, di daerah Sukaregang. Belakangan, tempat ini dikaitkan dengan tempat tujuan korban pembunuhan yang seorang Sekretaris Direktur sebuah provider ternama. Katanya, korban dan pelaku berniat ke Garut untuk membeli produk kerajinan kulit di Sukaregang ini. Memang, tempat ini sudah terkenal sebagai pusat kerajinan kulit di Garut. Produk-produknya terbuat dari kulit sapi, domba, dan lain-lain. Asli, lho!

Toko-toko Tas, Jaket Kulit /dok.pri

Di sepanjang jalan Sukaregang berjajar toko-toko yang menjual beraneka ragam produk kerajinan kulit: tas, sepatu, ikat pinggang, dompet, dan lain-lain. Macam-macam model dan bentuknya. Ada yang bagus, ada yang standar. Sepertinya kalau di sini ini yang  penting bahannya dari kulit. Soal model, biasa saja. Malah banyak yang ketinggalan zaman.

Semua toko menjual produk kerajinan dari kulit/dok.pri

"Berapa ya kira-kira harganya?" tanya saya.
"Yah, sekitar 600 ribu sampai jutaanlah."
"HAH? Mahal bangeeet....."
"Ya, kan ini dari kulit asli."

Buat saya, harga segitu memang mahal. Tas saya yang terakhir dibeli itu harganya Rp 800 ribu, tapi didiskon 50% + 20% jadi tinggal 300 ribu, dan seumur-umur itulah tas termahal yang pernah saya beli. Lho, saya kan orangnya sederhana seperti Presiden kita, gitu lho hehehe......

Dipilih-dipilih... /dok.pri

"Ayo, mau lihat-lihat, nggak?" Suami terlihat nggak sabar, karena mungkin udah kesel mobilnya tergores becak.
"Mahal.... lagian, Central Tas yang kumaksud itu bukan di sini tapi yang di depan Ramayanaaaa...." saya geregetan karena suami salah mengantarkan.
"Ini kan CENTRAL TAS. Itu tas-tasnya banyak."
"Maksudnya bukan Central Tas, tapi nama tokonya itu Central Tas."
"Ya udahlah, liat-liat aja dulu." suami memaksa.

Saya hanya mampir di satu toko, tanya harga, dan setelah mendapat jawaban bahwa harganya Rp 600 ribu (seperti kata suami), saya langsung pergi dan nggak tanya-tanya lagi ke tempat lain. Tas yang saya tanya harganya itu modelnya biasa sekali, kurang variasi, dan nggak modis (menurut saya). Hanya bahannya saja yang bagus. Sebenarnya ada model-model tas lainnya yang bagus, tapi pasti harganya lebih mahal lagi. Kalau yang model biasa saja udah segitu harganya, gimana yang modelnya lebih cantik? Nggak berani ah nanyanya, wong saya nyari yang di bawah Rp 300 ribu hehe....

Nah, buat Anda yang berminat membeli tas kulit asli dan isi dompet atau ATM-nya mumpuni, boleh deh mampir ke Central Tas (versi suami saya) Pusat Kerajinan Kulit Garut ini. Letaknya di Jalan Ahmad Yani, Sukaregang, Garut. Daripada beli tas kulit yang KW dari kulit sintetis, ya mending beli di sini. Asli,  buatan Indonesia. Kalau diimpor ke luar negeri dan dilabeli merk terkenal, harganya mungkin mencapai ratusan juta.