Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Januari 2016

Mie Ayam Mulang Sari, Lezatnya Juara!

Assalamu'alaikum.... menjelang makan siang, saya mau bawa salah satu kuliner Garut yang lezatnya juara ini (halah!). Judulnya kok mainstream banget yaa... seperti sudah banyak yang memakai judul seperti ini. Ya sudahlah, maklum emak nulisnya buru-buru karena semakin sedikit waktu untuk ngeblog tapi nggak ada alasan untuk ngeblog, bukan? Sebelumnya saya sudah menulis tentang Mie Bakso Mulang Sari, Terkenal di Garut. Ya, mie ayamnya ini masih di kedai yang sama. Saya datang lagi, kali ini bersama suami. Ditraktir suami dong judulnya. Makanya, lezaaat.... 


Saya pesan mie ayam karena harganya lebih murah. Tsaaah... dasar emak-emak, nyari yang lebih murah sajah. Saya memang kepingin nyobain yang lain, karena kalau mie baksonya rasanya biasa saja. Berhubung datang lebih pagi, jam 10 pagi, mie ayamnya masih ada! Horaaay.... Kata adik ipar, mie ayamnya ini memang juara. Cepat habis. Jadi penasaran pengen cepat nyobain. Saya juga pesan Es Campur, tapi kali ini benar-benar Es Campur versi saya. Nggak pakai roti. Nyebutnya harus Es Buah, bukan Es Campur, hehehe.... 

Kami pilih makan di lantai atas  supaya lebih lega. Dan benar saja, di lantai atas masih sepi. Asyiik.... Nggak berisik kayak sebelumnya deh. Setelah pesanan datang, tiba waktunya untuk menikmati. Wow... ayamnya penuh sekalii.... Oya, untuk foto kali ini, saya nggak pakai watermark. Pasrah aja deh kalau ada yang mencuri foto ini. Lagi males utak-atik foto, nih. Jadi seadanya yaa.... Foto mie ayamnya sudah  lihat di atas kan? Cakep yah? Bikin lapar, nih. Untung saya menerbitkan artikel ini saat menjelang makan siang. Teman-teman bisa langsung ke warung mie ayam terdekat hihihi.... 

Itu ayamya bukan sekadar ayam suwir-suwir, tapi memang gede-gede gitu. Puas deh. Rasa mie ayamnya sukar dideskripsikan, pokoknya enak.  Nggak heran kalau cepat habis. Plus, harganya lebih murah daripada mie baksonya. Saya lupa harganya, tapi harga mie di kedai ini masih kisaran belasan ribu kok. Mie ayamnya kalau nggak salah sih masih di bawah Rp 10.000.  Ini bukan makanan vegetarian lho. Jadi, kalau ada yang nggak suka makan daging ayam, jangan mampir ke kedai ini. Kecuali kalau mau mienya tanpa ayam, tapi justru daging ayamnya ini yang enak. 

Es Buahnya, segeeer.....

Bagaimana dengan Es Buahnya? Ingat, kalau mau Es Buah, bilangnya Es Buah. Kalau Es Campur, beda lagi komposisinya. Es Buah yang satu ini isinya benar-benar buah. Ada alpukat, kelapa, kolang-kaling, Strawberry, Anggur, Buah Naga, dan lain-lain. Harganya juga di bawah Rp 10.000. Es buahnya  segar dan manis. Kalau terasa seret di lidah, sudah disiapkan teh tawar yang gratis, tis, tis. Beda yah kalau makan di food court yang ada di mall-mall, teh tawarnya pasti  bayar juga. Makanya mumpung ada kuliner yang murah meriah ini, puas-puasin deh. Jadi, siapa nih yang mau main ke Garut? Jangan lupa mampir ke kedai Mie Bakso Mulang Sari ini.

Minggu, 20 Desember 2015

Pipiltin Cocoa, Kafe Cokelat yang Tak Sekadar Cokelat

Cokelat sepertinya sudah menjadi makanan favorit sebagian besar perempuan. Cokelat konon bisa mengatasi stres. Walaupun demikian, makan cokelat terlalu banyak juga bisa berdampak pada kenaikan berat badan. Saya ingat dulu sewaktu hamil anak pertama dan susah makan karena mual dan muntah, suami membelikan beraneka ragam makanan yang mengandung cokelat. Cokelat batangan, wafer cokelat, biskuit cokelat, dan lain-lain. Namanya juga sedang mual, makanan enak-enak itu saya biarkan tergeletak di samping tempat tidur. Akhirnya, suami pula yang memakannya. 


Dalam kondisi  normal, tentu saja saya juga suka cokelat. Sama seperti kebanyakan perempuan, saya juga kadang-kadang berharap dihadiahi cokelat oleh suami. Dulu iya waktu belum punya anak. Suami pernah membelikan cokelat Valentine. Eh, bukan dalam rangka merayakan Valentine lho. Melainkan karena cokelat tersebut sedang diskon 50% karena sudah hari kedua setelah Valentine. Kami tidak merayakan Valentine, tapi kalau ada cokelat yang sedang diskon, masa dianggurkan? Cokelat Cadburry dihargai Rp 10.000 saja per batangnya, ukuran besar. Gimana nggak mupeng? 

Sayang, sekarang suami sudah amat jarang membelikan cokelat, karena jatahnya sudah dikasihkan ke anak-anak, hehe.... Nah, minggu lalu, tanggal 6 Desember, saya diundang ke acara sebuah peluncuran produk makanan yang mengandung cokelat di kafe cokelat: Pipiltin Cocoa. Mungkin supaya nyambung dengan produk yang diluncurkan, jadi tempatnya pun di kafe cokelat. Namun, karena saya langsung fokus ke acara, jadi saya tidak sempat melihat-melihat menu kue berbahan cokelat yang dipajang di etalase. Apalagi saya membawa tiga anak balita yang super aktif dan harus diawasi terus agar tidak mengacak-acak kafe yang mungil itu.


Pipiltin Cocoa yang saya datangi beralamat di Jl. Senopati 27 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bayangan saya bahwa tempat ini bakal besar, ternyata meleset. Terletak di deretan ruko-ruko di Jalan Senopati, kafe cokelat ini terlihat kecil dengan lapangan parkir yang juga tidak luas. Sempat bingung sebelum memasuki kafe, seorang pelayan tiba-tiba membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk. Bangku-bangku yang tersedia juga tidak  banyak. Saya disuguhi daftar menu, yang rupanya bukan cokelat. Menu itu sudah disiapkan oleh panitia acara tersebut. Agaknya menu-menu yang disajikan itu berupa masakan Meksiko. Nama-namanya asing, jadi saya asal pilih saja. Saya memilih Slow Cooked Chicken Rolled dan Ice Tea. Untuk minumannya bukan hanya teh, ada kopi dan Hot Chocolate juga kok.



Untungnya, di tengah acara, disajikan pula cemilan cokelat yang sesuai dengan kafe ini. Akhirnya saya bisa mencicipi cokelatnya. Saya memilih yang bentuk batang, rasa cokelatnya bercampur dengan mint. Enak sekali. Saat jam makan siang, pesanan saya pun datang. Slow Cooked Chicken Rolled itu sejenis ayam giling dibungkus tepung dadar. Di menunya tertulis kalau itu mengandung:  Tortilla, Chicken Cornflakes, Yogurt Dressing, Tomato Sauce, Pickle, dan Mozzarella. Di sekitarnya ditambahi keripik kentang. Itu harganya sekitar Rp 65.000-an. Hm, lumayan mahal sih buat saya, tapi mungkin itu harga yang lazim untuk kafe di sekitar Jalan Senopati. Kandungannya sepertinya banyak, tapi setelah dimakan eh kurang mengenyangkan, hehe. Maklum deh, perut nasi. Kalau belum makan nasi, berasa kurang. Bisa tambah menu, tapi sepertinya saya kurang cocok dengan masakan Meksiko. Saya melihat pesanan teman lain, Club Sandwich, malah sepertinya lebih mengenyangkan.


Untuk nongkrong-nongkrong atau even dengan peserta terbatas, Pipiltin Cocoa ini bisa dijadikan rekomendasi. Di lantai atas sepertinya tersedia tempat duduk juga, tapi saya belum melihatnya.  Hanya mengira-ngira dari luar bangunan dan ada tangga naik ke atas. Sebenarnya ada wifi, tapi entah kenapa internetnya nggak konek-konek. Wah, mesti diperbaiki nih, karena harga makanan yang lumayan mahal itu harusnya dibayar juga dengan wifi gratis yang oke. Anak muda zaman sekarang kan nongkrong-nongkrong itu tujuannya untuk nyari wifi gratis. Apalagi kami datang dan ikut kampanye sosial media, eh begitu mau pakai wifinya, nggak bisaaa.... Jadi, pake internet sendiri dari hape.

Whoops, tempat parkirnya terbatas, jadi ya berangkat lebih pagi saja jika ada even di sini. Kalau naik kendaraan pribadi, rutenya lebih mudah karena tak jauh dari Blok M. Kalau naik kereta, turun di Stasiun Sudirman, lalu disambung dengan bus ke arah Blok M, dan dilanjutkan dengan naik ojek ke lokasi. Yang mau ngasih kado cokelat nggak biasa, boleh deh mampir ke sini.

 

Rabu, 16 Desember 2015

Makan Siang di Arion Swiss Bel-Hotel Kemang

Assalamu'alaikum. Semoga malam ini indah ya, Fren. Sudah salat Isya semua, kan? Saya mau cerita kegiatan minggu lalu. Sabtu, 5 Desember, saya diundang ke acara IB Blogger Meet Up bersama komunitas Aku Cinta Keuangan Syariah, di Arion Swiss Bel-Hotel, Jalan Kemang Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 


Acara dimulai jam 13.30, tapi registrasinya sejam sebelumnya, 12.30. Saya berangkat dari rumah jam 10.00, naik kereta commuter sampai Stasiun Tanjung Barat, lalu dilanjutkan dengan naik Kopaja S26, tanya sama keneknya kira-kira turun di mana untuk ke Arion. Kami diturunkan di pertigaan Prapanca. Lalu, lanjut lagi naik Kopaja 605 ke arah Blok M (mau ke hotel, tapi naik Kopaja.... Astaghfirullaaah.....). Jujur banget lagi ya, bilang kek naik Taksi.

Hotelnya berada di sebelah kiri jalan raya. Jalannya juga hanya satu arah (sempit), jadi begitu melihat ke kiri eh langsung menemukan bangunan hotelnya sebelum restoran Mc. D, padahal tadinya kami minta diturunkan di Mc. D.  Supirnya sampai ngingetin, "tadi katanya di Mc. D. Ini belum Mc. D...." Ya, nggak apa-apa, Pak. Salah sebut. Ongkos Kopaja masing-masing Rp 5.000 dan Rp 4.000. Jauh lebih murah daripada naik taksi hehe... Hanya butuh waktu kurang dari satu jam, perjalanan dari Stasiun Tanjung Barat ke Hotel Arion Swiss Bel ini. 

Sebelum acara dimulai, kami diajak makan siang dulu di Swiss Cafe, restoran di dalam Hotel Arion Swiss Bel ini. Berhubung sudah jam 12.00, kami salat Dzuhur dulu. Oh ya, saya berangkat bareng Santy Qonita Musa. Santy malah belum sarapan dari rumah, karena saking sibuknya. Dia juga berangkat dari Tangerang, lumayan jauh. 

Restorannya nyaman pastinya, namanya juga di hotel. Kami langsung disambut pelayannya, karena sudah tahu ya sebagai peserta Blogger Gathering. Semua makanan sudah tersaji, tinggal diambil secara prasmanan. Saya mulai dengan Appetizer atau pembukanya, saya pilih buah. Buah-buahannya standar sih: melon, semangka, nanas, salak, jeruk. Ceritanya mau Food Combining, padahal mah nantinya makan campur-campur, xixixi....  Lah, betul kan, namanya juga Food Combining. #dikeplak.


Tentu saja itu belum cukup, karena kami sudah berjalan jauh, dan akan mengikuti seminar "Cara Mudah Memahami Keuangan Syariah," jadi perut harus diisi semampunya. Lunchnya, saya mengambil Fetuccini, daging asap, daging balado, dan kerupuk dari biji melinjo. Saya lupa nama-namanya nih. Udah keburu lapar, jadi nggak sempat memfoto nama makanannya.

Fetuccini (kalau saya nyebutnya, Spaghetti) enak, saya ambil untuk ganti nasi. Kalau makan nasi, khawatir nanti nggak bisa makan yang lain ahahaha.... Daging asapnya ternyata setengah matang, jadi aloooot.... Saya terpaksa nggak bisa menghabiskannya. Hikss.... Santy juga sama. Dia sampai ambil daging yang lain lagi. Ini kalau di FC kan nggak boleh, mie campur daging. Ya, sesekali lah....

Daging balado itu saya kira daging ayam, ternyata daging ikaaan! Durinya sudah nggak ada, jadi aman. Ini yang rasanya enak dan lembut. Ikannya sepertinya direbus, bukan digoreng. Pokoknya enak banget deh. Hm, coba anak saya ikut makan ya, pasti dia suka sekali karena dia doyan makan ikan. Ah, ibu-ibu di mana aja sama, yang dipikirannya anak-anak aja. (Eh, setelah saya makan ini, anak-anak dan ayahnya nelepon dan bilang belum makan siang, hihihi.....)

Selesai Lunch, kami mengambil Dessert, makanan penutupnya ada kue-kue manis. Duh, maunya sih mengambil semua, tapi saya hanya ambil tiga. Hanya?? Banyak juga, tuh. Saya nggak kuat melihat penampakannya. Mau melahap semua. Daaan.. Enaaaaaak! Kuenya lembut, gitu. Di antara semuanya itu, saya suka yang cokelat. Harusnya bisa ambil beberapa lagi, hehehe.... Dasar perut emak-emak, memang nggak ada kenyangnya.


Belum cukup? Oke, ada makanan-makanan pilihan, bakso, soto, tomyam. Berhubung belum pernah makan Tomyam, saya pilih Tomyam saja. Saya ambil hanya sedikit, karena judulnya "mencicipi." Ternyata ini juga enak. Kalau perut masih kuat sih ya pengennya dicoba semua xixixi.... Saya bilang ke Santy, "Kayaknya gampang nih bikin Tomyam sendiri di rumah...." Santy jawab, "Susah, Mbaaa.... Nggak bisa pas rasanya. Jadinya aku beli bumbu pasta Tomyam impor dari Thailand. Ada sih supermarket di sini yang jual, tapi jarang." Mendengar itu, saya cuma bengong. Siapa suruh main ngegampangin. Yah, ini kan "cuma" campuran udang, ayam, dan cumi. Kuahnya ada asam-asamnya. Pedasnya sih nggak terlalu. Intinya, saya senang akhirnya bisa nyobain Tomyam juga.

Saya mau coba es buahnya juga sih sebenarnya, tapi perut sudah nggak sanggup. Ya iyalaaah... malu juga keliatan bolak-balik ambil makanan. Ngomong-ngomong, ini kok makanan semua ya? Minumannya apa? Memang minuman yang kami minum cuma air putih karena  Alhamdulillah perut sudah kenyang dan siap mengikuti seminarnya. Kecuali daging asapnya yang alot, semua makanan yang sudah saya coba ini enak dan mengenyangkan. Terima kasih atas nikmat-Mu, ya Allah...

NB: Maaf ya kalau saya sudah bikin ngiler. Menu makan siang di Arion Swiss Bel-Hotel ini sumpah enak banget. Kalau soal nginepnya sih saya nggak tahu ya, karena di sini judulnya hanya makan siang hehe....

Senin, 14 Desember 2015

Nostalgia Kuliner Solo di Gelar Cita Rasa Solo 2015

Assalamu'alaikum. Siapa yang sudah lama nggak pulang kampung? Saya tunjuk tangan paling pertama, deh. Banyak yang belum tahu kalau saya punya darah Solo, tapi sudah bertahun-tahun nggak ke sana. Rasa kangen pasti ada, termasuk kangen dengan kulinernya. Beruntung kemarin suami mau mengantarkan saya ke Sunter, Jakarta Utara, karena ada Festival Kuliner dan Kebudayaan Tradisional Tematik pertama di Jakarta, Gelar Cita Rasa Solo (GCRS) 2015 di Dapur Solo. Bertempat di Lapangan Parkir Dapur Solo, Sunter Astra, Jl. Danau Sunter Utara 7.


Wuiiih... jauh juga ya dari Bogor ke Sunter? Lebih jauh mana dengan ke Solo? Yah, kalau  belum bisa ke Solonya, ke Dapur Solo aja dulu. Saya penasaran, kayak apa sih acaranya. Pagi-pagi, saya dan suami sudah berangkat dan berharap jalanan bersahabat. Alhamdulillah, ternyata lancar jaya, nggak macet. Nggak sabar deh bernostalgia dengan kuliner Solo di Dapur Solo. Meskipun acara ini sudah usai, kita masih bisa bernostalgia dengan kuliner Solo, ke mana lagi kalau bukan ke Dapur Solo, restoran yang khas dengan menu Solo dan sekitarnya. 



Restoran yang didirikan oleh Ny. Swan ini ternyata memiliki banyak cabang, diantaranya di Sunter  Cabang 1, Sunter Cabang 2, Serpong, Panglima Polim, dan Matraman. Kapan-kapan bisa mampir ke cabang yang terdekat dengan lokasi kita ya. Jika menilik sejarah berdirinya Dapur Solo, luar biasa lho restoran tematik ini adalah hasil perjuangan seorang IBU RUMAH TANGGA, yaitu Ny. Swan Kumarga. Awalnya, Ny. Swan mencari kesibukan di sela mengurus anak dan mengurus rumah tangga dengan berjualan rujak dan jus di garasi rumahnya. Ternyata jualannya laris! Beliau kemudian menambahnya dengan kuliner khas Jawa Tengah, terutama Solo. Eh, laris juga! Nggak disangka, sudah 25 tahun berdiri, Dapur Solo kini menjelma menjadi restoran yang luar biasa, nggak hanya satu lho cabangnya. 


Nah, jadi buat ibu-ibu yang sekarang di rumah saja, jangan merasa rendah diri dan kecil hati. Contohlah Ny. Swan, dari rumah pun bisa produktif dan menghasilkan. Siapa yang sangka ya kalau Dapur Solo itu pemiliknya "hanya" seorang ibu rumah tangga? Wuih, jadi kata siapa bekerja itu harus di kantor? Kita bisa membuat kantor sendiri di rumah, terutama untuk para ibu muda yang ingin bekerja sambil mengasuh anak. Kalau punya usaha rumahan yang sukses seperti Ny. Swan ini kita bukan hanya sebagai manajer tapi juga pemiliknya. Gimana nggak keren, coba?

Sebelum mengelilingi stan-stan yang ada di GCRS, saya dan keluarga makan siang dulu di restorannya. Jadi, stan-stannya itu ada di lapangan parkir restoran Dapur Solo. Lapangan parkirnya luas sekali ya, dan masih ada lahan untuk memparkir mobil para pengunjung juga. Anak-anak antusias membaca menu. Komentar pertama keluar dari mulut Ismail, "Enak yah restorannya... Bagus...." Memang, restoran Dapur Solo itu nyaman. AC-nya segera mendinginkan tubuh yang kepanasan saat di  luar ruangan. Dekorasi bagian dalamnya pun cantik, dengan nuansa khas Jawa Tengah; batik. Para pramusaji juga mengenakan seragam batik.


Para pramusajinya ramah, nggak pakai lama, mereka menyerahkan daftar menu dan menunggu kami memilih. Ismail minta Nasi Langgi Kuning, yang nasinya dibuat seperti tumpeng mini. Saya bingung mau pesan apa, lalu suami menyarankan Nasi Gudeg, karena saya memang suka Gudeg. Suami malah memesan Nasi Timbel Khas Sunda. Eh, ternyata ada makanan Sunda juga di sini.  Sambil menunggu, kami memakan Combro dan Misro yang diantarkan oleh pramusaji. Pesanan pun tiba beberapa saat kemudian. Ismail takjub melihat Nasi Langgi Kuning yang memuncung ke atas. Si Ayah memakan pesanannya dengan lahap, sampai bilang,"Alhamdulillah, kenyang." Ketiga menu tersebut, harganya hanya berkisar Rp 30.000-an. Untuk ukuran restoran, harga segitu cukup terjangkau, lho. Apalagi kami kenyaaang.....






Setelah selesai makan siang, kami pun mengelilingi stan-stan yang ada di sana. Harga makanannya cukup terjangkau, rata-rata Rp 10.000. Saya mencicipi Dawet Ayu yang racikannya berbeda dengan yang lain, karena ada tambahan Bubur Sum Sum dan Ketan Hitam. Rasanya? Juara! Manisnya nggak terlalu manis, pas deh. Anak-anak membeli Es Krim. Berhubung perut sudah kenyang, jadi makanan-makanan lain dibeli dan dibawa pulang. Ada Tahu Petis khas Semarang, Tahu Acar, dan Kue Cubit. Masih banyak kuliner lainnya, seperti Cabuk Rambak, Kue Ranggi, Kue Serabi Solo, Sate Ayam, Lontong Balap, dan lain-lain. Kalau kangen dengan kuliner Solo, langsung saja ke Dapur Solo.

Dawet Ayu

Khusus di Festival, saya juga melihat workshop melukis batik (canting). Sudah tahu kan kalau batik yang asli itu dibuat dengan ketekunan tangan si pembatik? Bagi yang tertarik ingin tahu cara membatik, bisa menyaksikan workshopnya, gratis, karena digelar di halaman restoran. Dipandu oleh seorang seniman batik yang memakai beskap (pakaian khas Solo). Menarik sekali, festival kuliner dan kebudayaan khas Solo ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan baru, terutama bagi generasi muda yang kini lebih suka mempopulerkan budaya dan kuliner negara lain. Sudah pernah belum mencicipi kuliner-kuliner khas Indonesia yang lezat ini? 


Bagi pengunjung yang beruntung, bisa mendapatkan hadiah sepeda motor, lho! Saya juga nggak mau ketinggalan foto-foto dan diunggah ke Instagram, karena ada kuisnya juga. Lumayan kalau menang bisa dapat voucher makan ratusan ribu di restoran Dapur Solo. Aih, ibu-ibu nggak mau ketinggalan banget ya kalau gratisan hehehe.... 





Rabu, 02 Desember 2015

Festival Kuliner dan Kebudayaan Solo di Dapur Solo


Assalamu'alaikum. Apa kabar di siang yang mendung ini? Insya Allah, minggu depan saya mau menuntaskan kerinduan dengan kampung halaman almarhumah Mama, yaitu Solo, di Festival Kuliner dan Kebudayaan Tradisional Tematik pertama di Jakarta. Diselenggarakan oleh Dapur Solo. 


Acaranya seru-seru lho. Selain bisa wisata kuliner daerah Solo, ada workshop membuat tumpeng dan batik juga lho. Acara ini terbuka untuk umum. Tidak ada tiket masuk, alias gratis. Tapi kalau mau icip-icip kuliner dan ikut workshopnya ya harus bayar hehe... 

Buat kamu yang wong Solo dan kangen dengan kulinernya atau kamu yang penasaran kayak apa kuliner Solo itu, yuk datang. Catat tanggalnya ya: 

Tanggal: 11-13 Desember 2015
Tempat: Lap. Parkir Dapur Solo Sunter Astra Jl. Danau Sunter Utara 7 (sebelah Astra BMW)
Waktu: Jumat 19.00-22.00, Sabtu dan Minggu 10.00-22.00.

Sampai jumpa di sana! 

Senin, 23 November 2015

Ngopi Cantik di Anomali Coffee

Ngopi cantik, istilah itu sudah umum beredar ya di mana-mana. Ngopi ganteng kayaknya nggak pernah dipakai ya hahaha... Soalnya yang sering ngaku cantik itu memang emak-emang macam sayah, hihihi.... Jadi, ceritanya, beberapa waktu lalu saya mendapatkan undangan Ngopi Cantik dari The Urban Mama di Anomali Coffee. Saya mau bahas kafenya aja untuk referensi teman-teman pembaca blog ini yang mau ikutan ngopi cantik. 
'

Ngopi memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Kalau ngopi di rumah, hampir setiap hari. Ngopi di kafe itu tujuannya untuk "me time" tapi "me time" yang kemarin di Anomali Coffee ada tujuannya, karena di sana kami membahas mengenai #BerbagiSehat. Narasumbernya, Mama Ina, yang membagi tips-tips menjaga kesehatan anak-anak. Nah, bermanfaat kan temanyaaaa.... Bertempat di Anomali Coffee, Jalan Tengku Cik Ditiro No. 52, Menteng, Jakarta. Dari Bogor, saya naik kereta commuter line, turun di Cikini, lalu naik bajaj. Dari Stasiun Cikini itu sudah dekat ke lokasi, hanya saja karena saya belum tahu jalan, jadi tarif bajajnya lumayan mahal Rp 30.000. Eh, pas pulangnya, si abang bajaj cuma minta Rp 15.000. 

Foto: Kania Ningsih
Untuk sampai ke sini, patokannya Jakarta Eye Centre ya. Kalau belum tahu jalan, tanya saja Jakarta Eye Centre, karena tempatnya bersebelahan, hanya jalan sedikit. Kebetulan tukang bajaj yang saya naiki itu nggak tahu jalan ke Anomali ini. Tipsnya, sebelum naik bajaj, pastikan dulu supirnya tahu tempat tujuan kita. Tempatnya sih nyaman dan cantik, bisa buat foto-foto. Sayangnya, saya nggak sempat foto-foto interiornya. 


Enak ya duduk di bangku tinggi

Pilihan menunya

Rekan-rekan blogger dari The Urban Mama sudah menunggu dan acara sudah akan dimulai. Saya langsung pesan kopi dan kudapan, untuk kopinya saya pilih Iced Cappucino, soalnya udah siang dan panas. Kalau masih pagi, enaknya kopi panas ya. Trus, makanannya Cinnamon Roll. Tadinya saya pesan Almond Corissant, eh sudah habis. Jadi diganti dengan Cinnamon Roll tapi enak juga. Sambil menunggu pesanannya siap, saya mendengarkan uraian Mama Ina tentang #BerbagiSehat. Saya ketemu lagi dengan sahabat lama yang sekarang sering janjian di acara blogger, Kania Ningsih. 

Saya dan Kania Ningsih

Pesanan kami pun tiba. Saya dan Kania Ningsih ternyata pesanannya sama! Kopinya dalam gelas yang cukup besar dan Cinnamon Rollnya juga berukuran besar. Jadi, kita bisa kenyang walaupun menunya cuman itu. Kalau mau nambah lagi ya bisa, ada banyak menu yang tersedia. Macam-macam racikan kopi dan beraneka jenis roti. Harganya juga bervariasi. Untuk kopinya di atas Rp 30 ribu yah. Berhubung saya ditraktir sama The Urban Mama, jadi nggak jebol kantongnya wkwkwk.... Kopi dan rotinya enak, dijamin nggak nyesel deh.


Sayang, wifinya kurang lancar. Tadinya mau numpang wifian, eh  nggak jadi karena nggak konek-konek. Nggak jelas kenapa. Lain kali harus lancar ya, Anomali, karena orang ngopi cantik itu sering kali supaya bisa dapat wifi gratis juga, bihihihik.....  Hayoooo... siapa yang mau nraktir saya di sini?

Kamis, 19 November 2015

Bakmi Apin Sukajadi Bandung, Tandas dalam Sekejap

Bakmi Apin, Sukajadi, Bandung
Assalamu'alaikum. Selamat malam, semuanyaaa! Alhamdulillah, dapat kesempatan ngeblog lagi setelah menyelesaikan berbagai tugas prioritas. Setelah diselingi cerita lain, saya mau putar balik ke cerita jalan-jalan Bandung, sebulan yang lalu. Soalnya, memang masih ada beberapa cerita yang belum diterbitkan di blog ini, hehehe.... Waktunya itu lho, susah banget membaginya. Badan sudah tepar duluan karena pekerjaan rumah tangga yang nggak ada habisnya dan pekerjaan menulis lainnya. 


Oke, deh... sebelumnya kan saya cerita jalan-jalan ke Mall Paris Van Java. Setelah jalan-jalan itu, kami mampir ke Bakmi Apin untuk makan siang sekaligus malam. Jiyaaah, kasihan banget ya, baru sempat makan. Makanya, judul tulisan ini sesuai banget: Tandas dalam Sekejap. Selain karena memang lapar, bakminya juga enak kok. Restoran Bakmi ini adanya masih di sekitar jalan Sukajadi, Bandung. Tempatnya luas dan nyaman. Ismail yang sudah tertidur sejak di mobil, nggak mau turun. Ya sudah, kami jadi hanya makan berempat. Eh, tapi Sidiq sudah nggak mau makan karena sudah makan Pizza. Saya hanya pesan dua porsi untuk saya dan suami. 





Sambil menunggu bakminya siap, saya mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran yang agak sepi. Restorannya bersih sekali. Di depan restoran tadi saya sudah melihat ada logo halalnya. Pelayannya juga ada yang berjilbab. Saya pesan mie kuah dengan bakso, sedangkan suami pesan mie goreng. Per porsi Rp 30.000. Harga yang wajar sih untuk restoran yang berlokasi di tengah kota. Suami pesan teh manis, eh pesannya kebanyakan, sampai lima gelas! Hehehe.... Kembung, deh. 

Pesanan saya

Pesanan suami

Tak berapa lama, pesanan kami pun datang. Anak-anak makan baksonya saja, karena mereka kelihatan sudah lelah. Saya makan bakminya, wuiiih... rasanya enaaak.... Mienya gurih, kaldunya sangat terasa. Taburan daging ayamnya itu lho, sedap sekali. Baksonya juga terasa banget daging sapinya. Alhamdulillah, sampai nggak terasa tahu-tahu sudah habis. Pengennya sih nambah lagi, tapi karena teh manisnya kebanyakan, jadi saya kenyang minum teh manis. Suami juga sudah kenyang. Alhasil, kami nggak makan lagi di hotel. Keputusan untuk nggak makan malam lagi, agaknya sedikit saya sesalkan karena jam sembilan malam, saya sudah merasa lapar lagi hehehe.... Sepertinya aroma dan rasa Bakmi Apin masih terus mengikuti saya. Semoga kapan-kapan bisa mampir lagi.

Foto sambil menunggu bakminya siap













Kamis, 15 Oktober 2015

Domino's Pizza Cibinong, Sensasi Makan Pizza Berkali-kali

Sudah agak lama saya tahu kalau di depan Cibinong City Mall telah dibuka outlet Domino's Pizza. Berhubung masih ada voucher MAP, dua minggu lalu, kami sekeluarga makan siang dulu di Domino's Pizza, sebelum memutari Cibinong City Mall. Berbeda dengan outlet Domino's lain yang sudah saya kunjungi, Domino's Cibinong ini bangunannya ada dua lantai. Lantai pertama desainnya mirip dengan outlet lain: dapur koki, kasir, dan dua pasang meja untuk pengunjung. Kalau di Domino's D'Mall Depok, restorannya berada di luar outlet, di Cibinong ini restorannya ada di lantai kedua. Naiklah kami ke lantai dua, supaya lebih leluasa. 


Lantai duanya cukup luas dan ilustrasi-ilustrasi di temboknya itu bikin jiwa narsis saya kumat. Sambil menunggu Pizzanya siap (butuh sekitar 15 menit), saya foto-foto dulu. Oya, saya pesan Value Deal 5, dapat dua Pizza Reguler, satu pak Nugget, dan satu minuman soda. Anak-anak kan nggak minum soda, jadi mereka beli minuman lagi. Harga minumannya dua kali lipat daripada di minimarket. Jadi mending beli minuman dulu di minimarket hehehe.... Untuk harga paket Value Deal 5-nya Rp 120.000,- sudah dengan pajak. Menurut saya itu cukup terjangkau, karena kami berlima cukup kenyang. Pengalaman kami, kalau mau kenyang pilih Pizza dengan tepung tebal, jangan yang tipis. Kalau yang tipis seperti makan keripik saja. 

Toping Keju
Meatza, full daging

Toping Pizzanya ada banyak pilihan, saya pilih yang Meatza dengan daging sapi dan sosis, dan Cheese dengan keju yang melimpah. Kalau mau tambah keju lagi tinggal bayar RP 7.000 tapi saya nggak mau karena khawatir anak-anak nanti nggak suka. Ternyata anak-anak memang lebih suka yang Meatza, Sidiq langsung makan tiga potong. Foto Sidiq yang sedang makan itu saya abadikan dan saya posting di Instagram, sambil ngetag Domino'snya, eh dapat hadiah Pizza gratis lagi! Uhuuui.... Memang bertepatan dengan even bagi-bagi 70 Pizza Gratis dari Domino's. Sayangnya, cuma sampai tanggal 11 Oktober.


Untuk yang toping keju, rasanya memang lebih asin seperti keju. Sedangkan yang Meatza lebih cocok di lidah anak-anak. Nggak heran, anak-anak lebih suka Meatza. Ini bergantung selera juga. Anak-anak saya memang suka makan sosis, jadi begitu mereka melihat taburan sosis di atas Meatza, langsung antusias dan berebut. Makanya kalau bikin Pizza sendiri pun saya hanya tinggal menaburinya dengan sosis. Untuk Nuggetnya, fotonya masih ada di handphone, malas mindahinnya ini hehe.... Bentuknya seperti Love, rasa daging ayamnya sangat kental. Malah sepertinya itu daging ayam semua (bukan tepung, seperti Nugget-Nugget kemasan). Lalu, ada keju lelehnya juga. Enak, deh.

Mangapnya kegedeaan....
Makan-makan seperti ini bikin saya punya ide untuk mempraktekkannya di rumah. Walaupun mungkin nggak akan mirip banget. Anak-anak juga sudah nagih, kapan mamanya bikin Pizza lagi. Ini memang sedang malas, karena butuh tenaga kuda untuk menguleni. Mumpung voucher MAP-nya masih ada, ya kita beli dulu aja deh ya. Kalau nanti voucher MAP-nya habis, ya berdoa semoga dapat lagi. Buat yang berada di sekitaran Cibinong, bisa mampir ke Domino's Cibinong ini, letaknya mudah dijangkau karena di depan Cibinong City Mall. Pengunjung juga tidak terlalu ramai, jadi lebih nyaman kalau mau makan bersama keluarga besar di lantai atas. Semua foto di atas sudah saya muat di Instagram @LeylaHana.



Jumat, 25 September 2015

Patin Bakar Lezat di D'Cost Seafood Depok

Patin Bakar
Nama D'Cost Seafood rasanya sudah tidak asing untuk pecinta kuliner Indonesia. Saya juga sudah beberapa kali menyambangi restoran ini, dan rasanya belum akan berhenti kecuali kalau semua menu sudah saya coba. Mulanya saya mengetahui restoran ini dari seorang teman. Nasi putih, teh manis, dan sambal gratisnyalah yang menggoda iman. Rasa masakannya juga lumayan, menambah nafsu makan. Minggu lalu adalah kali ketiga saya dan keluarga makan siang di D'Cost Seafood ITC Depok, karena suami masih punya saldo member. Jadi tinggal menambah kekurangannya saja. 

Suami memegang kendali penuh dalam memilih menu, karena saya sedang diet, jadi terserah saja hihihi.... Saya bertugas mengambil teh manis yang gratis itu lho. Saya ambil empat gelas lho. Teh tawar, teh manis, es teh tawar, es teh manis, semuanya gratis. Coba kalau di restoran lain, uuh... segelasnya saja sudah di atas Rp 4.000. Bukan hanya tehnya yang gratis, nasi dan aneka sambalnya pun gratis. Untuk nasi, diambilkan oleh pelayannya, tapi kalau kurang bisa nambah. Sambalnya bisa pilih, ada sambal Thailand, terasi, dan lain-lain deh. Suami ambil tiga jenis sambal, dari yang manis sampai pedas sekali. 

Udang Tepung Mayonaise

Rupanya suami memesan Ikan Patin Bakar, Udang Tepung Mayonaise, dan Nasi Goreng Telur. Nasi Goreng Telurnya itu pesanan si sulung. Saya sudah bilang, jangan pesan nasi goreng, soalnya kita kan sudah dapat nasi gratis ya masa beli nasi lagi? Tapi, si sulung bersikeras minta nasi goreng. Ya, sudah. Asal habis lho, yaa.... Semula saya underestimated dengan Ikan Patin Bakar, karena suami saya itu aslinya tidak suka ikan. Malas menyisihkan durinya. Apa nanti habis tuh ikannya? Mari kita lihat saja.

Nasi Goreng Telur

Untuk makanan yang baru dimasak sewaktu dipesan, pelayanan D'Cost Seafood ITC Depok ini cukup cepat. Tidak lama, pesanan kami pun tiba. Ikan Patin Bakarnya terlihat biasa saja, tapi rasanya maknyuuss.... Begitu juga dengan Udang Tepung Mayonaisenya. Kalau Nasi Goreng Telurnya sama saja dengan nasi goreng lain yang pernah saya makan. Harga Ikan Patin Bakarnya per ekor Rp 60.000. Menurut saya sih agak mahal, tapi karena lain-lainnya sudah gratis ya tidak apa-apa deh. Udang Tepung Mayonaisenya per porsi Rp 50.000, isinya ya hanya segitu. Hitung saja sendiri, itu belum dikurangi kok udangnya hehehe.... Sedangkan Nasi Goreng Telurnya per piring Rp 19.000. Saya agak lupa sih harga tepatnya, tapi di bawah Rp 20.000 deh. 

Nasi dan Teh Manis Gratis

Untuk urusan mencari tempat makan ini sebenarnya saya dan suami lebih suka cari aman. Makanya kami bisa makan di tempat yang sama beberapa kali, karena khawatir kecewa kalau coba-coba tempat makan baru. Takut kecewa kalau tidak enak, kemahalan, atau apalah-apalah. Untungnya sekarang sudah ada aplikasi OpenSnap yang bisa diunduh gratis di Google Play Store dan App Store. Aplikasi ini membantu kita mencari tempat makan di sekitar kita yang sudah direkomendasikan oleh Food Lovers. 
Sambal Gratis



Ada lima feature terbaru dari OpenSnap, diantaranya:

Personalized Your Food App by Bookmark: kita dapat membookmark restoran, jenis masakan, atau makanan favorit kita. Kita bisa pilih restoran yang banyak dibookmark oleh Food Lovers. Semakin banyak dibookmark berarti semakin digemari. Nggak takut lagi kecewa karena rasanya nggak enak atau pelayanannya kurang memuaskan.



Social Visited: Di sini kita bisa follow-followan juga lho dengan sesama Food Lovers yang bisa jadi sudah kita kenal di sosial media lain atau baru kenal di OpenSnap ini. Kita bisa tahu teman kita sudah berkunjung ke restoran mana saja. Boleh jadi kita tertarik mengunjungi restoran yang direkomendasikan oleh teman kita itu. 

Map View: Kita dapat melihat restoran terdekat yang berada di lokasi tempat kita berada. Misalnya, pas kita mau nyari martabak (kebetulan anak-anak saya suka martabak) yang enak dan beda dengan yang bisa, kita bisa cari Martabak Terpopuler di Jakarta. Terutama yang lokasinya dekat dengan tempat kita berada ya. 



Personalize Your Favorite Location: Kita bisa mengatur lokasi yang sering dikunjungi di laman terdepan. 

Everyone Tab: kita akan terhubung dengan Food Lovers lain yang berada di kota tempat kita berada. 

Eh, tidak hanya itu, ternyata kita juga bisa bikin buku masakan sendiri. Kita masukkan foto dan resepnya ke OpenSnap. Yang menariknya lagi, kita bisa tahu promosi-promosi dari restoran-restoran tertentu. Ada yang kasih diskon, ada yang kasih bonus beli satu gratis tiga, dan sebagainya. Menarik, kan? Atau, kalau kita suka makan Seafood dan mau mencari restoran seafood yang murah, ada 20 Tempat Makan Seafood Murah yang bisa kita kunjungi. 

Jadi, sudah tidak bingung lagi kan mencari restoran yang direkomendasikan Food Lovers untuk wisata kuliner? Kapan-kapan saya mau coba juga ah makan di restoran, kafe, warung makan yang direkomendasikan di OpenSnap. Yuk, gunakan aplikasi OpenSnap ini. Kalau sudah kirim foto makanan, jangan lupa tag akun saya ya, Leyla Hana. Gunakan hastag nama saya juga, biar kita bisa follow-followan. Terima kasih :-)


Rabu, 19 Agustus 2015

Pizza Hut Special Delight, Cukup untuk Berempat

Assalamu'alaikuum.....  datang-datang langsung kasih makanan lagi, nih hihihi.... Ya, soalnya foto-foto yang ada di folder isinya makanan semua. Ada cerita yang terlewat dari acara Kopdar Blogger bersama LG dan Spektra di Bogor beberapa waktu lalu. Sepulang dari acara, saya langsung ke Masjid Agung Bogor untuk menemui suami dan anak-anak yang setia menunggu di sana. Mereka sudah kelaparan dong pastinya. 


Barbeque Chicken dan Tuna Delight

Di depan Masjid, berjajar restoran-restoran franchise, yang cabangnya ada di mana-mana, salah satunya Pizza Hut. Udah lama nggak makan di Pizza Hut, nih. Dulu sih, suami suka nraktir, tapi lama-lama kami harus berhemat dan sekali makan di Pizza Hut bisa habis Rp 250.000. Wah, gede juga yah kalau dipikir-pikir (lah, dulu emang nggak mikir? :P). Dulu suami bayarnya pakai kartu kredit dan dapat potongan diskon, jadi nggak terasa mahalnya. Padahal sih jatuhnya mahal juga.

Nah, pas mau masuk ke Pizza Hut ini di Jalan Pajajaran No. 29, kami masih pikir-pikir. Jadi nggak, ya? Suami sempat ngajakin ke Resto di sebelahnya, makanan Jepang, tapi ah paling juga kisaran harganya sama aja. Akhirnya, kami putuskan untuk tetap masuk ke Pizza Hut. Bukan nggak mau makan di pinggiran jalan, tapi Ismail pernah sakit perut gara-gara makan di pinggir jalan (tukang-tukang gerobak makanan di pinggir jalan). Ismail ini pencernaannya agak sensitif, jadi harus selektif pilih makanan. Makanan pinggir jalan itu kan terbuka, jadi kena debu dan sebagainya. Kalau di Restoran kan tertutup. Intinya sih lebih pada kebersihan dan keamanannya untuk anak-anak. Suami saya juga pencernaannya sensitif, sering sakit perut kalau makanannya nggak bersih. Saya juga pernah dirawat di rumah sakit gara-gara makan pecel yang dijual di pinggir jalan. Jadi, ini bukan gaya-gayaan lho kalau kami pilih makan di Resto. 


Saya pikir, "sesekali ini lah nraktir anak-anak, toh saya baru saja menang lomba blog." Kami duduk dengan nyaman di sudut paling pojok. Restoran Pizza Hut di depan Masjid Agung Bogor ini nggak begitu ramai. Biasanya kalau ke Pizza Hut, mesti harus antri. Pernah juga nggak jadi masuk karena antriannya panjang. Alhamdulillah, kami bisa langsung makan. Anak-anak udah seneng banget dan nggak sabar. Mereka memang suka Pizza. Pelayan segera membawakan menu. Saya sih sudah terbayang harganya yang mahal-mahal, ternyata....

"Ini ada Paket berempat, Pak. Silakan dipilih," kata Pelayan yang pastinya cantik itu. 

Mata saya langsung membelalak membaca menu Special Delight berempat itu. Murah bangeeet....! Ini ukuran murah versi saya yah. Harga total (sudah pajak) Rp 140.000, dapat 4 pizza (bisa diganti Spaghetti dan Nasi), 4 minuman, 4 dessert. WOW! Bayangkan, dulu kami pesan dua Pan Pizza yang besar dan satu teko minuman (bisa untuk 4 gelas) saja sampai 200 ribuan. Dulu belum ada paket-paketan gitu. Belum lagi, ada promo hebat (Hemat Banget), diskon 50% setiap hari untuk menu tertentu. Kebetulan banget, hari Sabtu itu yang didiskon Brownies Ice Cream dan Ismail tertarik mau nyobain. Kok malah jadi lebih murah ya?

Nasi Chicken Delight

Ya sudah, kami pesan Paket Special Delight untuk berempat dan Brownies Ice Cream itu. Pesanan pun berdatangan. Dua Pizza ukuran kecil (ada 4 potong), satu Spaghetti, satu Nasi, empat minuman, dan satu Brownies Ice Cream. Kenyang? Alhamdulillah, kenyang banget. Pizzanya malah sampe dibawa pulang, karena nggak muat dimasukin ke perut. 

Untuk Pizzanya, kami pesan Barbeque Chicken dan Tuna Delight. Rasanya enak, tapi anak-anak sepertinya nggak terlalu mood makannya. Ismail cuma makan satu, Sidiq dua. Salim saya suapi Nasi Chicken Delight, nasi yang ada taburan sosis atau apa gitu yah. Sayang, rasanya terlalu gurih, seperti kebanyakan MSG. Suami menghabiskan Spaghetty Chicken Delight. Saya ikut nyobain, eh rasanya hampir mirip dengan Nasi Chicken Delightnya. Minumannya: Watermelon Orange, Lipton Ice Tea (2), dan Orange Juice. Dessertnya satu Garlic Bread dan satu Beef Bruschetta. 

Garlic Bread

Yang paling saya sukai dari semua menu di atas itu adalah, Pizza dan Beef Bruschetta. Beef Bruschettanya lembuuut, topingnya juga enak. Sayang, cuma ada empat dan langsung laris. Setelah selesai memakan semuanya, Brownies Ice Cream Ismail pun datang. Tadi, Ismail kurang bersemangat makan Pizzanya. Begitu makan Brownies Ice Creamnya, semangat banget. Nggak ada yang boleh minta. Saya nyobain dikit. Browniesnya memang enak, renyah dan  lembut. Pantes aja anak-anak suka.

Brownies Ice Cream

Berapa totalnya? Hanya Rp 148.999 (sudah termasuk pajak). Harga Paket berempatnya Rp 140.000, dan Brwonies Ice Creamnya hanya Rp 8.182, setelah diskon 50%. Nggak nyangka kami bisa makan di Pizza Hut dengan hanya setengah harga saja.