Sabtu, 10 Oktober 2015

Klik, Tarik, Tuang: Cara Praktis Mendapatkan Manfaat dari Susu Kental Manis



Kaleng baru SKM Frisian Flag

“Cari apa sih, Mah?”
“Pembuka kaleng.”
“Bukannya udah punya?”
“Ah, udah keropos. Makanya beli yang besi, jangan kayu.” 

Obrolan beberapa waktu lalu ketika saya sedang memutari sebuah supermarket ternama di daerah Depok, kembali terbayang. Akhirnya saya beli juga pembuka kaleng itu, dengan gagang dari besi. Sebelumnya, suami sudah membelikan pembuka kaleng dengan gagang dari kayu, eh terlalu sering dicuci, kayunya lembab dan keropos. Nggak enak banget, deh.


Kenapa saya perlu pembuka kaleng? Ya, untuk membuka kaleng makanan dan minuman kalengan, salah satunya susu kental manis. Anak-anak saya suka makan roti dengan olesan susu kental manis. Irit, lho, dibanding harus beli mentega dan mesis atau selai aneka rasa. Cukup susu kental manis cokelat, mereka bisa makan roti berlembar-lembar dalam sehari. Makanya saya membutuhkan pembuka kaleng itu.

Susu kental manis Frisian Flag sudah menemani saya sejak masih kecil, bukan saja sebagai olesan roti, tapi juga diminum. Ibu saya dulu selalu memberikan susu kental manis sebelum berangkat ke sekolah. Lama-lama, susu kental manis menjadi teman dalam sajian apa saja: dituang ke atas biskuit, es krim, es sirup, pancake, puding, bahkan menjadi salah satu bahan pembuat kue. Daripada anak-anak jajan minuman-minuman instan berwarna-warni yang mengandung aspartame dan pengawet, mendingan dikasih susu kental manis cokelat dengan es batu. Pasti mereka suka. 

Masalahnya ya itu, kita membutuhkan pembuka kaleng untuk membuka kaleng susu kental manis. Bisa juga pakai pisau, lalu digetok dengan batu, hehehe…. Pagi hari saat sedang terburu-buru berangkat ke sekolah dan belum punya pembuka kaleng, kerepotan pun meraja. Saya pernah marah-marah sendiri di dapur karena kesulitan membuka kaleng susu kental manis, sementara jam dinding bergerak cepat. Anak-anak nggak boleh terlambat berangkat ke sekolah. 

“Aaaah! Kenapa sih susah bangeeet?” gerutu saya, setengah berteriak. Suami pun datang membantu.
“Pelan-pelan dan jangan marah-marah. Sini….” Suami mengambil alih pisau, “pegangin kalengnya,” katanya memberi intruksi. Kami pun bekerjasama dalam misi membuka kaleng susu kental manis! Hadeeeu…. Berasa repot, yak?


Alhamdulillah, inovasi terbaru dari susu kental manis Frisian Flag telah membebaskan ibu-ibu dari kerepotan membuka kaleng! Yap, tanggal 6 Oktober 2015 lalu, saya bersama Kumpulan Emak Blogger, diundang untuk mencoba kemudahan membuka kaleng susu kental manis Frisian Flag yang baru di #FFCafe FX Sudirman, Jakarta. Peluncurannya sendiri diadakan keesokan harinya, 7 Oktober 2015, dihadiri oleh Eksekutif Frisian Flag Indonesia Bapak Jan Wagenaar, Operation Director Bapak Patrick Van Der Aa, Consumer Marketing Director Ibu Sri Megawati, Human Resource & Corporate Affairs Director Bapak Maurits Klavert, Presiden Director, Bapak Rivanda Idiyanto, Sales Director, dan Bapak Tom van der Lee, Finance Director. 
 
Launching kaleng baru SKM Frisian Flag, foto: Frisian Flag

FF Café atau Frisian Flag Café berkonsep pop-up café, ditujukan untuk keluarga yang ingin menikmati kebersamaan dengan sajian makanan dan minuman berbasis susu. Pengunjung bisa datang dari tanggal 5 sampai 11 Oktober 2015 dan mendapatkan makanan-minuman gratis sambil ramah tamah dengan artis-artis ternama. Gratis? Iyaaaa! Tinggal ngetweet atau instagram saja kalau kita sudah ada di sana, lalu tunjukkan fotonya ke pramusaji, langsung deh dapat makanan dan minuman gratis. Tanggal 6 Oktober itu, artis yang datang adalah Wulan Guritno. Hasyeeek… saya berkesempatan juga foto-foto dengan Mbak Wulan yang cantik. 

Bersama Wulan Guritno, foto: Rinrin Indrianie
Nuansa biru memenuhi FF Café dari luar sampai ke dalam. Bukan hanya mendapatkan makanan dan minuman gratis, kami juga menyaksikan Wulan Guritno dan para bartender meracik minuman ala café dengan bahan dasar utama susu kental manis Frisian Flag rasa cokelat, vanilla, dan gold. Yang menyenangkan, tentu saja karena untuk membuka kaleng susu bendera itu hanya tinggal: Klik, Tarik, Tuang! Praktis sekali. Ada enam resep minuman ala café yang bisa kita praktekkan di rumah, jadi nggak bingung lagi kalau mau kasih minuman bergizi untuk keluarga, karena di dalamnya mengandung susu bendera aneka rasa. Diantaranya: Frisian Chocomint Mojito-Ice Shaken, Frisian Blended Matcha Latte (cold) dan Frisian Matcha Latte (hot), Frisian Milk Choco Rum (tapi ini rumnya nggak pake alkohol lho ya), Frisian Spices Latte, Frisian Chillhood Crumbs, dan Frisian Gold Chocorock-Ice Blender. 

Wulan Guritno membuat minuman dari SKM Frisian Flag

Pada hari itu, bartender menguji coba resep Frisian Chocomint Mojito-Ice Shaken. Minuman itu juga yang saya pilih saat mendapatkan minuman gratis setelah ngetweet. Rasa mintnya dingin-dingin gimana gitu, saya sempat berpikir minuman itu mengandung alkohol, tapi ternyata semua minuman yang disajikan itu TIDAK MENGANDUNG ALKOHOL. So, resepnya boleh diujicoba di rumah ya, Buu…. Untuk resep Frisian Chocomint Mojito, intip baik-baik yah: 

Sajian siang yang maknyus: Frisian Mojito dan donat toping SKM FF

Bahan-bahan:
50 gr/ ml SKM Frisian Flag Coklat
20 ml Mint Mojito syrup (bisa dibeli terpisah, non alkohol)
100 ml air dingin
120 ml air soda
Es batu secukupnya
Grass Jelly (agar-agar, tergantung selera)
Untuk penyajian satu gelas ukuran 12 oz (350 ml) 

Cara membuat:
Potong grass jelly/ agar-agar dalam bentuk kecil atau gunakan parutan, masukkan ke dalam dasar gelas.
Tuangkan 50 gr SKM Frisian Flag Coklat, 100 ml air dingin, 20 ml Mint Mojito Syrup, dan es batu secukupnya hingga 230 ml ke dalam shaker, kemudian kocok hingga merata.
Tuangkan ke dalam gelas sajian berisi grass jelly/ agar-agar, kemudian tambahkan 120 ml air soda hingga penuh.
Berikan hiasan daun mint di atas minuman. 

Alhamdulillah, segar sekali siang-siang panas-panas (maklum, Jakarta), minum ini jadi hilang semua gerahnya. Apalagi udara di dalam FF Café juga adem. Selain mendapatkan minuman, saya juga bisa mengambil donat dengan toping susu bendera putih dan cokelat. Saya pilih toping putih. Donatnya juga enak, empuk. Setelah itu, bersama Kumpulan Emak Blogger, kami mendengarkan kicauan dari MC yang gaul dan kocak, Mbak Tyas Putri, dan sambutan dari Bapak Rays Michael. Tak ketinggalan Ketua KEB, Mak Sumarti Saelan yang kalem. Acara berlangsung ramai diselingi games-games, seperti tantangan membuat Frisian Chomint Mojito oleh Emak Blogger, pemenangnya mendapatkan voucher MAP RP 200.000! Lalu, ada juga tantangan membuat puisi yang disambut oleh Mak Tanti Amelia dan mendapatkan voucher MAP Rp 100.000. Terakhir, kami meluncur ke Wall of Buzz dan mencoba kemudahan dari Klik, Tarik, Tuang, lalu memberikan testimoni.

MC Tyas Putri dan Bapak Rays Michael, perwakilan Frisian Flag

Mak Sumarti Saelan dari KEB


Kemudahan Klik, Tarik, Tuang membuat saya langsung mempraktekkannya di rumah. Kebetulan masih ada susu bendera Gold, dari kemarin-kemarin saya mau membuat es krim untuk anak-anak. Mumpung sedang rajin, saya siapkan bahan-bahan membuat es krim.


Bahan-bahan: 
SKM Frisian Flag Gold (bisa diganti dengan yang putih) 1 kaleng
150 ml santan, bisa memakai santan kemasan 65 ml (dua buah)
1 gelas gula pasir (bisa ditambah sesuai selera)
10 sendok makan Tepung Maizena
1 sachet Vanili
1 sendok teh garam
Pewarna makanan yang dibolehkan
8 gelas air (pakai kaleng bekas SKM)
1 sendok makan SP, ditim bersama air 2 sendok makan

Cara membuatnya:
Campur semua bahan, kecuali SKM dan SP, masak di dalam panci sampai mengental. Dinginkan. Setelah dingin dan mengental, kocok bersama SKM. Taruh adunan di freezer ssampai setengah beku, lalu kocok lagi dengan memasukkan SP sedikit demi sedikit. Kocok selama 25 menit. Adonan akan berkembang menjadi tiga kali lipat. Kemudian, pisahkan adonan dan beri warna. Saya memberi tiga warna: hijau, merah, dan cokelat. Masukkan ke dalam cup dan dinginkan sampai beku. Saat memakannya, bisa ditambahkan toping SKM Frisian Flag Cokelat. Hmmm… yummy…..! 


Membuat es krim sendiri ini insya Allah lebih terjamin ya Bu, karena kita mengetahui bahan-bahan pembuatnya. Kalau beli, kita nggak tahu pedagang memasukkan bahan apa. Yang pasti, dengan adanya kemudahan Klik, Tarik, Tuang dari SKM Frisian Flag, pekerjaan saya dalam menyediakan makanan dan minuman untuk anak-anak pun jadi lebih mudah. Nggak heran,  susu bendera Frisian Flag sudah dipercaya oleh masyarakat Indonesia selama lebih 90 tahun! 

Informasi lebih lanjut, bisa langsung ke sini ya:
FB           :http://www.facebook.com/frisianflagindo
twitter     :@susu_bendera
IG           : @frisian.flag

Rabu, 07 Oktober 2015

Khalisa Lip Balm, Kunci Indah Senyuman


Tersenyumlah, agar harimu lebih ceria

Manis Wajahmu Kulihat di Sana
Apa Rahsia yang Tersirat
Tapi Zahirnya Dapat Kulihat
Mesra Wajahmu dengan Senyuman
Senyuman... Senyuman
Senyum Tanda Mesra
Senyum Tanda Sayang
Senyumlah Sedekah yang Paling Mudah
Senyum di Waktu Susah Tanda Ketabahan
Senyuman Itu Tanda Keimanan
Senyumlah… Senyumlah… Senyumlah… Senyumlah….

Hati yang Gundah Terasa Senang

Bila Melihat Senyum Hatikan Tenang
Tapi Senyumlah Seikhlas Hati
Senyuman dari Hati Jatuh ke Hati
Senyumlah… Senyumlah… Senyumlah…
Seperti Rasulullah Senyumnya Bersinar dengan Cahaya
Senyumlah Kita Hanya kerana Allah
Itulah Senyuman Bersedekah
Senyumlah… Senyumlah… Senyumlah… Senyumlah….
Itulah Sedekah yang Paling Mudah
Tiada Terasa Terhutang Budi
Ikat Persahabatan antara Kita
Tapi Senyum Jangan Disalahguna
Senyumlah… Senyumlah… Senyumlah… Senyumlah….

Masih ingat nasyid di atas? Yap, itu adalah nasyid yang pernah populer dulu, dibawakan oleh Raihan, munsyid asal Malaysia. Lagunya riang dan penuh ikon senyum. Melihat video klipnya, tanpa sadar kita bisa ikut tersenyum. Bahagianya menjadi seorang muslim, bahkan seulas senyum pun bernilai sedekah. Jadi, alasan apa lagi yang membuat kita enggan tersenyum? 

Dari Abu Dzar ra, dia berkata, Rasulullah Sa bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu,” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Subhanallah, yaa…. Di dalam Islam, tersenyum saja mendapatkan pahala sedekah. Jadi, sedekah itu nggak susah, salah satunya dengan senyum. Mengapa senyum? Karena senyum bisa membuat hati kita dan orang lain yang melihatnya ikut bahagia. Siapa sih orang yang nggak suka dikasih senyum? Asal senyumnya bukan dengan maksud terselubung, misal: “senyum mau nyopet.” Senyum-senyum, nggak tahunya dompet hilang. Senyumlah karena Allah, niscaya hati akan senantiasa bahagia.

Omong-omong tentang senyum, ada lho orang yang susah senyum atau dikaruniai wajah yang terlihat seperti cemberuuut terus, padahal hatinya bisa jadi baik. Sebutan “jutek, judes, sangar, sinis” acap kali dilayangkan kepada orang-orang yang susah senyum. Percaya atau nggak, saya pernah dijuluki seperti itu. Hiikkkksss…. Mungkin sudah bawaan muka saya ya, kelihatannya jutek dan judes. Saya harus sering tersenyum supaya orang-orang nggak takut pada pandangan pertama. 

Eh, nggak percaya? Pernah ada yang ngomong gini ke saya, “Sebenarnya sih aku mau nyapa kamu, tapi kamu kelihatannya judes banget.” Aduh, duh, duh… nggak segitunya juga, kali. Kalau ada yang menyapa, pasti saya kasih senyum kok hehe…. Makanya, sekarang ini saya berusaha kasih senyum duluan atau minimal kasih wajah ramah setiap bertemu orang. 

Kuncinya senyum itu ada di hati dan di bibir. Hati yang sedang senang, pasti senyum akan merekah. Nggak ada angin, nggak ada hujan, senyum saja terus. Tapi, sebenarnya urusan hati ini bisa dilatih kok. Walaupun hati sedang sedih, kita bisa tetap tersenyum. Lah, bagaimana caranya? Caranya ya selalu merasa bahagia walaupun hati sedang gundah. Kan disebutkan juga dalam lirik lagu di atas: “Senyum di waktu susah, tanda ketabahan.” Artinya, mau sedang susah atau senang, kita tetap harus tersenyum, karena sesungguhnya kesusahan dan kesenangan itu misteri hidup yang hanya Allah saja yang tahu. Bisa saja di balik kesusahan kita ada kesenangan. Siapa yang tahu juga di balik kesenangan kita ada kesusahan? Jadi, tetaplah tersenyum walaupun sedang susah. Nggak enak kan kalau kesedihan dan kekesalan kita menular ke orang lain gara-gara kita nggak senyum? 

Saya dan Khalisa
Bagaimana dengan bibir? Hm, ini dia masalahnya. Sejak remaja, bibir saya ini cenderung pecah-pecah sampai terkelupas. Rasanya perih, dong. Untuk mengatasinya, selain rajin minum air putih dan makan buah, saya juga menggunakan Khalisa Lip Balm. Sudah tahu Khalisa Lip Balm, belum? Kalau belum, nih saya kasih tahu: 
 
Halal
Kehalalan ini harusnya jadi prioritas nomor satu dalam memilih pelembab bibir. Mengapa? Ya, karena dioleskan di bibir dan sudah pasti akan terjilat oleh lidah. Saat kita menjilat bibir, makan, dan minum, sering kali pelembab di bibir itu akan ikut tertelan. Nah, kalau terbuat dari bahan yang haram, sama saja dengan makan makanan haram dong. Sebagai muslimah, tentunya kita wajib berhati-hati terhadap kehalalan makanan yang masuk ke dalam perut. Khalisa Lip Balm sudah mendapatkan sertifikat halal dari LPPOM MUI. Insya Allah nggak diragukan lagi kehalalannya ya. Kita jadi lebih tenang memakainya. Nggak khawatir tertelan saat sedang menjilat bibir, makan, dan minum. 

Melembabkan Bibir
Pelembab bibir tentu saja berfungsi untuk melembabkan supaya bibir nggak kering dan pecah-pecah. Khalisa Lip Balm mengandung Beeswax, Shea Butter, dan Olive Oil yang berfungsi melembabkan bibir agar senantiasa lembut, halus, dan cantik. Beeswax atau lilin lebah adalah produk yang terbuat dari sarang lebah madu dan lebah lainnya. Beeswax bermanfaat untuk kesehatan dan kecantikan. Diantaranya dapat menjaga kelembaban bibir, sehingga mengobati masalah bibir pecah-pecah dan kering. 

Uji coba Khalisa Lip Balm
Shea Butter adalah ekstrak buah pohon Shea. Bermanfaat juga untuk melembabkan kulit kering dan mengobati berbagai permasalahan kulit, juga mengandung anti bacterial dan tabir surya. Buah pohon Shea ini menyerupai buah Plum dan baru akan berbuah ketika pohonnya berumur 20 tahun, lalu berbuah lebat setelah berumur 45 tahun. Di Indonesia, tentu saja kita nggak pernah menemukan pohon Shea, karena hanya dibudidayakan di Afrika Barat dan Afrika Timur. Shea Butter juga bermanfaat untuk mengobati berbagai masalah kulit, termasuk kulit kering. Kalau dioleskan ke bibir, tentunya dapat mencegah bibir kering dan pecah-pecah. 

Olive Oil atau minyak zaitun, kalau yang ini, kita pasti sudah kenal sekali ya. Berasal dari Mesir dan memiliki banyak kegunaan, selain untuk memasak. Untuk kulit, Olive Oil dapat melembabkan dan mengobati kulit kering serta mencegah penuaan dini. Sangat bermanfaat untuk melembabkan bibir yang kering dan pecah-pecah. 

Mengandung SPF 25
Khalisa Lip Balm mengandung SPF 25 yang berfungsi sebagai tabir surya untuk melindungi bibir dari paparan sinar ultraviolet. Sinar ultraviolet sebenarnya bermanfaat bagi tubuh asal nggak berlebihan dan  di bawah jam 9 pagi, karena dapat membentuk vitamin D sehingga tulang nggak keropos dan membentuk melanin agar kulit menjadi berwarna dan lebih tahan terhadap paparan sinar matahari, serta mampu membunuh bakteri jahat penyebab penyakit jamur. Namun, bila berlebihan, paparan sinar ultraviolet (UVA, UVB, UVC) dapat menyebabkan kulit terbakar, menimbulkan kerusakan kulit, dan penuaan dini. Yang terburuk adalah terkena penyakit kanker kulit. Naudzubillahimindzalik… Siapa yang mau, ya?

Mengapa harus pakai Khalisa?
Masalahnya, setiap hari, kita yang sering beraktivitas di luar rumah, mau nggak mau akan bersentuhan dengan sinar matahari. Alhamdulillah, dengan mengenakan busana muslimah, paparan sinar matahari itu bisa sedikit berkurang, apalagi kalau ditambah dengan pakai payung. Bagaimana dengan bibir? Berhubung wajah nggak ditutupi, otomatis bibir pun dengan gampangnya terpapar oleh sinar matahari. Hayooo… Siapa yang bibirnya kehitaman? Banyak sekali muslimah yang mengalami masalah dengan bibir hitam. 

Tabir surya atau sunscreen efektif melindungi kulit dari sinar matahari. Ketika memilih tabir surya, kita harus memperhatikan nilai Sun Protecting Factor (SPF) pada setiap produk, yang menunjukkan kekuatan tabir surya dalam melindungi kulit. Semakin tinggi nilai SPF-nya, maka kulit akan semakin terlindungi. Khalisa Lip Balm mengandung SPF 25, yang berarti cukup tinggi manfaatnya untuk melindungi kulit. Jadi, insya Allah Khalisa Lip Balm dapat melindungi bibir kita dari paparan sinar ultraviolet yang berbahaya. 

Mengandung Vitamin E
Nah, ini dia kandungan Khalisa Lip Balm yang nggak kalah bagus: Vitamin E. Sudah tahu dong gunanya untuk apa? Salah satunya untuk melindungi dari paparan sinar ultraviolet dan mencegah kerusakan kulit dari polusi dan radikal bebas.

Subhanallah, Khalisa Lip Balm benar-benar paket komplit untuk produk pelembab bibir yang tepat bagi kita.  Khalisa Lip Balm adalah salah satu produk unggulan dari PT Rohto Industries. Ada empat warna yang bisa dipilih, yaitu Khalisa Red Cherry Peppermint, Khalisa Pink Bubble Gum, Khalisa Peach Karamel, dan Khalisa Pure Vanilla Honey. Kalau saya pakai yang warna Peach, karena lebih cocok saja dipadankan dengan warna kulit saya. 

Sedia Khalisa saat bepergian
Bila kita sering beraktivitas di luar rumah, jangan lupa masukkan Khalisa Lip Balm ke dalam tas kita ya. Pelembab bibir nggak cukup dioleskan sekali. Kalau sudah hilang, oleskan lagi. Warnanya natural, sehingga dandanan kita nggak terlihat berlebihan kok. Biasanya, saya membawa Khalisa di dalam tas bersama benda-benda lain yang penting untuk dibawa, seperti dompet, handphone, serta buku. Khalisa Lip Balm menambah kepercayaan diri saya saat tersenyum. Nggak salah deh kalau Khalisa Lip Balm dapat melembabkan dan mewarnai tulusnya senyummu.  


https://www.facebook.com/notes/khalisa-indonesia/term-condition-khalisa-blog-competition/709717902467356


Minggu, 04 Oktober 2015

Menciptakan Peluang Baru dengan Menulis di Blog



Assalamu’alaikum. Sebenarnya dari awal bulan September sudah mau menuliskan tentang ini, tapi nggak sempet-sempet karena ada banyak lomba blog (jiyaaah….). Alhamdulillah, di awal bulan September, blog saya –akhirnya—mendapatkan anugerah “Blog of The Month” dari Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB). Jujur aja ya, siapa sih blogger yang nggak seneng dapat award begitu? Apalagi dari komunitas kece yang namanya sudah kondang. Saya juga sudah mengharapkannya dari sejak awardnya bernama Emak of the Month, karena saya sudah bergabung dengan KEB dari tahun pertama. Ternyata malah jodohnya di tahun ketiga.

Di situ juga kadang saya merasa bersyukur karena baru dapat awardnya sekarang. Coba kalau di tahun pertama, belum pantes kan ya, masih anak bawang. Sekarang pun saya masih harus banyak belajar, karena modal saya ngeblog ini “hanya” nulis. Saya belum pandai mengutak-atik blog dari segi teknisnya. Bahkan, mengganti header blog saja nunggu dapat gratisan dulu dari Mbak Fardelyn Hacky, hehehehe…. Ya, gimana dong, belum ada modal buat bayar Web Desain yang konon bayarannya dari RP 500 ribu sampai sekian. Ganti ke domain pribadi saja baru kurang lebih dua bulan lalu.  Jadi, sungguh saya berterimakasih kepada KEB karena sudah menjatuhkan award itu kepada saya. Tentunya banyak emak lain yang pantas menyandangnya.

Apa sih alasannya KEB memberikan award itu ke saya? Ngeblog aja belum becus. Kalau menurut penerawangan saya, kayaknya sih karena saya rutin ngeblog. Biarpun “bodoh”, nulis saja terus. Saya juga cukup sering menang lomba blog dan selain itu saya masih menulis buku. Makmin KEB “mungkin” menganggap itu “wow”, dan lagi saya punya tiga anak kecil-kecil tanpa bantuan pengasuh anak. Kapan nulisnya? Bagaimana cerita di balik postingan blog saya? 

Kemarin, saya ketemu dengan sahabat yang sudah bersahabat dengan saya dari sejak saya masih menjadi penulis pemula, Kanianingsih. Yap, Kania ini menyertai saya saat baru merintis karier di dunia kepenulisan. Saat ngobrol-ngobrol itu, Kania sempat menyinggung soal lomba-lomba blog, lalu saya cerita deh tentang ngeblog ala saya. Saya bisa bertemu lagi dengan Kania juga karena sama-sama menghadiri sebuah acara blogger. Begini ceritanya:

Saya: “Sebenarnya aku tuh ngeblog cuma untuk bertahan. Supaya aku tetap nulis dan kualitas tulisanku nggak merosot gara-gara aku nggak nulis-nulis.”
Kania: “Masa sih? Udah eksis gitu kok masih bilang ngeblognya cuma untuk bertahan?”
Saya: “Eksis apa? Belum fullini eksisnya. Aku nulis tuh sesempatnya aja kok. Nggak ngoyo. Ikut lomba juga seikutnya, tapi ya itu entah kenapa Alhamdulillah kadang menang juga. Ikut even-even blogger juga sebulan sekali. Nanti insya Allah makin eksis kalau anak-anak udah masuk SD semua, hehehe….”

Saya dan Kania berjumpa lagi setelah menjadi blogger :-)
Mau percaya atau enggak, kenyataannya memang begitu. Saat kelahiran anak ketiga, saya sempat terpikir mau berhenti menulis dan ngeblog karena saya kira saya nggak bakal bisa nulis lagi sambil mengasuh bayi dan dua anak balita. Kemudian, si sulung dan si tengah masuk SD, saya makin harus fokus mengajari mereka. Saya sempat merasa bersalah karena sibuk menulis dan kurang perhatian ke anak-anak. Anak-anak memang bersama saya 24 jam, tapi saya sambi dengan mengetik. 

Saya inginnya jadi ibu yang fokus mendidik mereka, mengajari tentang apa saja, mengajak bermain, dan sebagainya.  Bukan ibu yang saat anaknya bermain, eh ibunya sibuk mengetik. Saat nggak fokus begitu, ada saja yang terjadi. Terutama, saya lelah harus tegang urat leher karena kesal. Pas lagi enak-enaknya ngetik, anak-anak menginterupsi. Entah si kecil pipis, kakak-kakaknya minta makan, kakak-adik berantem,  dan sebagainya. Saya bermain bersama anak-anak, tapi pikiran entah ke mana dan tangan nggak lepas dari gadget. Sampai anak-anak pernah ngomong, “Mama main hape terus….” 

Oke, sip. Saya putuskan untuk berhenti internetan via hape. Saya harus fokus ke anak-anak. Sudah lama  saya berhenti internetan via hape. Saya akan menulis semampu saya, sekadar untuk bertahan. Itulah tekad saya, setidaknya sampai anak-anak melewati usia emasnya. Dan ternyata, sungguh nggak disangka, saat kita berhenti mengejar sesuatu, sesuatu itu justru mengejar kita. Cerita di balik postingan blog saya itu sederhana saja. Saya menulis ketika anak-anak sedang sekolah atau sedang tidur. Kadang-kadang memang saya curi-curi waktu saat anak-anak sedang bermain, tapi itu hanya sesekali, nggak setiap hari seperti dulu.  

Biasanya, saya menulis pada waktu dini hari. Bukan begadang lho ya. Begadang itu nggak bagus. Saya tidur saat anak-anak tidur, jam 8, 9, 10 malam. Amat jarang saya tidur di atas jam 12. Nanti bangun lagi jam 1, 2, 3 pagi, lalu menulis. Saya sengaja isi kuota internet 2 GB untuk siang hari dan 12 GB untuk malam hari (jam 1 sampai 7 pagi). Otomatis, malam hari banyak banget ya kuotanya. Terdorong semangat internetan malam hari, saya bisa bangun di jam-jam itu. Sebelum menulis, salat Tahajud dulu supaya dilancarkan pikirannya oleh Allah.  Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan satu sampai tiga postingan. 

Salah satu hadiah lomba blog yang saya terima
Itupun nggak setiap hari bisa bangun. Kalau anak-anak sedang molor jam tidurnya, otomatis saya jadi susah bangun juga pada waktu dini hari. Saya sih nothing to lose saja. Memang, ada banyak lomba blog yang terlewatkan. Kalau diperhatikan, saya juga lebih sering ikutan menjelang DL, karena memang baru sempat menulis. Prinsip saya sederhana. Kalau rejeki, pasti Allah kasih jalan. Misalnya, walaupun kita nggak punya waktu nulis, tapi kalau hadiah lomba blog itu sudah jadi milik kita, dan kita memang niat mau ikutan, Allah akan kasih jalan untuk ikutan lomba itu. Sudah beberapa kali terbukti sama saya. Makanya, saya nggak neko-neko pengen nulis kayak si A atau B atau C yang postingan blognya keren-keren, nggak hanya tulisannya tapi juga gambarnya.

Untuk bisa bikin gambar ilustrasi di blog yang keren itu kan butuh skill dan waktu yang banyak. Bagi saya, yang penting untuk saat ini saya masih bisa konsisten menulis. Insya Allah, nanti ada waktunya saya punya kesempatan meningkatkan kemampuan ngeblog, di saat anak-anak sudah nggak mau mengekori ibunya terus. Ada sih usaha untuk meningkatkan kemampuan ngeblog dengan memperbaiki kualitas foto, baik itu menggunakan kamera hape yang lebih bagus dan diedit dengan aplikasi-aplikasi. Berkah ngeblog juga yang membuat saya bisa memiliki ponsel dengan kamera yang lebih baik dan perlahan belajar menggunakan aplikasi-aplikasi. 

Saya sering memfoto anak-anak untuk pendukung tulisan di blog, sampai-sampai mereka bosan hehehe… Kadang mereka suka rela difoto, bahkan menawarkan diri. “Mah, foto dulu, Mah…..” Si kecil malah keranjingan difoto, kalau ada tempat-tempat dengan latar yang bagus, dia minta difoto. Ya ampuun.. mirip mamanya banget xixix…. Tapi, kalau lagi males difoto, susah sekali mengambil gambarnya. Ya, namanya juga model gratisan. 

Untuk ide postingan, bisa dari mana saja, terutama dari lomba blog. APAAH? Iya, soalnya aktivitas menulis ini sudah saya jadikan profesi. Profesi ya harus menghasilkan. Saya menulis bukan hanya untuk iseng-iseng, karena nggak ada kerjaan, tapi menulis ini adalah pekerjaan saya. Makanya saya banyak menulis untuk lomba blog. Lain ya kalau orang sudah punya profesi lain yang menghasilkan (PNS atau karyawan swasta), mereka ngeblog untuk senang-senang saja atau berbagi. Itu bagus juga, tapi yang ngeblog untuk ikut lomba pun bukan berarti nggak bagus dan nggak mau berbagi. Tulisan buat lomba juga bisa untuk berbagi. Misalnya, lomba review gadget terbaru. Tulisannya itu kan bisa jadi informasi juga untuk pembaca yang mau beli gadget baru. 

Kadang-kadang saya juga nulis gratisan, alias bukan untuk lomba atau review berbayar. Apalagi kalau saya baru mendapatkan inspirasi, seperti tulisan saya yang berjudul “From Allah to Allah:Rezeki itu Milik Allah.” Saya nggak nyangka tulisan itu langsung ngehits dan banyak dibagikan, terutama di whatsapp. Waduuuh… saya sempat khawatir juga lho, karena tulisan itu kan terinspirasi dari seorang ustazah yang menggantikan tugas ustazah saya saat mengisi pengajian di rumah saya. Gimana coba kalau teman-teman saya juga membaca tulisan itu? Saya kan nggak minta izin sama ustazah tersebut untuk membagikan ceritanya di blog, toh saya nggak sebut nama dan identitasnya. Saya hanya terinspirasi dan ingin membaginya ke pembaca. 

TERNYATA…. Seorang teman mengaji saya juga membagikan cerita itu di WA! Aaargggh… rasanya mau tenggelam di dalam tanah. Tapi.. eh, dia membagikan cerita itu tanpa tahu kalau penulisnya adalah saya! Memang, di WA, BBM, dan facebook, cerita itu dibagikan tanpa link blognya. Walaupun akhirnya ada juga teman saya yang sadar kalau penulisnya itu saya, syukur Alhamdulillah saya nggak digugat sama yang empunya cerita, hehe…. Saya rasa, kalau cerita itu memang bagus dan menginspirasi, kita pasti dengan senang hati membaginya ke orang lain, bukan?

Ikut lomba blog, bagi saya adalah salah satu jalan untuk menciptakan peluang. Menjadi ibu rumahan bukan berarti nggak bisa punya penghasilan. Saya sudah merasakan banyak manfaat dari mengikuti lomba blog, bukan semata mendapatkan hadiah tapi juga jaringan, pertemanan, kemampuan ngeblog yang terus bertambah, kemampuan menulis yang meningkat, trafik blog meningkat, dan sebagainya. Jadi, kenapa harus gengsi mengikuti lomba blog? Saya suka heran dengan orang yang gengsian. Sepengetahuan saya, sifat gengsian itu menghambat langkah kita. Sama halnya dengan berwirausaha. Banyak orang yang rela menganggur daripada berjualan gorengan di pinggir jalan, padahal pedagang gorengan itu penghasilan bersihnya minimal Rp 300.000 per hari. Itupun sebelum ganti presiden dan dolar melambung. Saya nggak asal ngomong lho, tapi berdasarkan cerita adik saya yang pernah mengalihkan modal dagangnya ke pedagang gorengan. 

Setelah trafik blog meningkat, dengan sendirinya kita mendapatkan Job Review. Walaupun saya belum mendapatkan job review dengan nominal besar, tapi buat saya sih asyik-asyik saja bisa dapat barang gratisan atau voucher makan gratis. Sampai hari ini saya masih sering ikut lomba blog, karena saya belum pernah dapat hadiah puluhan juta dan liburan ke luar negeri (jadi target saya itu, hihihi…..). Buat kamu yang masih bingung mau nulis apa, ciptakan peluangmu dengan mengikuti lomba blog. Kalah menang nggak masalah. Kecewa sehari, lalu ikut lagi. Suatu hari nanti insya Allah kamu pasti bakal ngerasain seperti saya, kecanduan ikut lomba blog.