Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Desember 2015

Menulis Novel Pernikahan

Menulis novel bertema pernikahan agaknya mulai menjadi spesialisasi saya seiring dengan bertambahnya kedewasaan (cieeh.. merasa sudah dewasa...). Gaya menulis dan tema yang diambil memang terus mengikuti perkembangan zaman, walaupun pada tahun 2014 saya malah menerbitkan tiga novel remaja berjudul "Dag, Dig, Dugderan, Brisbane, dan Aku Juliet." Saat ini saya sedang menulis novel pernikahan yang murni romantis sambil belajar memunculkan sisi romantis yang tidak hambar. Maklum, novel romance saya, "Aku, Juliet" dikritik oleh seorang peresensi karena kurang ada sentuhan fisik di antara tokoh-tokohnya. Berhubung tokoh-tokoh novel tersebut masih SMA, saya memang takut-takut memasukkan sentuhan fisik di antara mereka. Kalau di novel yang sedang saya tulis ini, sudah pasti ada sentuhan fisiknya, karena tokoh utamanya adalah sepasang suami istri. 


Menulis novel pernikahan bagi saya sendiri bukan lagi hal yang tabu mengingat saya sudah menikah, jadi ada pengalaman dong hehehe.... Beberapa waktu lalu, ada seorang teman novelis yang mencermati kemunculan novel-novel pernikahan yang ditulis oleh penulis jomblo, alias belum menikah. Tidak boleh? Ya, tentu saja boleh, itu berarti imajinasi si penulis sangat luas sehingga bisa membayangkan kehidupan pernikahan meskipun belum menjalaninya. Nah, kalau penulis yang masih jomblo sudah bisa menulis novel bertema pernikahan, mengapa saya tidak? Anehnya, memang saya sendiri merasakan imajinasi mengenai pernikahan itu lebih besar saat belum menikah dibandingkan setelah menikah. Duh, jangan-jangan.... Sebenarnya sih karena saya agak khawatir nantinya kelepasan memasukkan pengalaman pribadi dengan suami, ahahah.... 

Walaupun menikah selama sembilan tahun, saya belum pernah menuliskan sedikit pun pengalaman menikah dengan suami ke dalam novel-novel saya. Novel "Cinderella Syndrome" itu ditulis sebelum menikah dan isinya tentang kegalauan-kegalauan para jomblo (perempuan) yang sibuk mencari jodoh sesuai keinginan. Ada memang satu tokoh yang sifat dan karakternya mirip saya, yaitu Violet, seorang penulis yang takut bepergian jauh, tapi hanya karakternya lho yang mirip. Kisah hidupnya tidak. Novel "Perjanjian yang Kuat" juga masih bercerita tentang kegalauan seorang lajang berusia di atas 30-an dalam menanti jodoh. Kisah itu juga bukan kisah saya, melainkan kisah titipan seorang teman yang sudah lama ingin dituliskan ke dalam sebuah novel. 

Novel pernikahan lainnya adalah "Surga yang Terlarang," itu juga saya tulis setelah menikah tapi sama sekali tidak berisi pengalaman pernikahan saya dan suami. Oya, sebelumnya juga saya menulis "Jean Sofia" yang bertema pernikahan beda agama dan tentu saja bukan dari pengalaman saya dan suami. Jadi memang saya benar-benar belum pernah memasukkan pengalaman pernikahan saya dan suami ke dalam novel-novel saya. Terus, kapan dong? Apa pengalaman pernikahan kami nggak ada manis-manisnya? Ada, dong... tapi saya tulis di buku nonfiksi pernikahan hehehe... Tunggu saja tanggal mainnya, ya. Insya Allah kalau jadi diterbitkan, akan muncul di bulan Februari. 

Apa sih yang bisa dijual dari sebuah novel pernikahan sehingga genre ini memiliki kesempatan untuk diterbitkan? 

Romantisme pernikahan: Kisah cinta itu tak ada habisnya dibahas dan dinikmati. Secara naluri, setiap manusia memang menyukai kisah cinta. Romantisme pernikahan adalah bagian kehidupan yang menarik, apalagi bila seorang penulis mampu membuat pembaca ikut tersenyum, tersipu, dan berbahagia dengan kehidupan romantis tokoh-tokoh di dalam novel tersebut. Akan tetapi, romantisme ini bagi saya pribadi, jangan sampai jatuh ke dalam adegan-adegan sexy yang memancing imajinasi pembaca untuk membayangkan hal yang tidak-tidak. Romantisme bisa dibangun melalui adegan-adegan sederhana, seperti membelai rambut, mencium dahi, berpegangan tangan, kata-kata yang romantis, bahkan sekadar pandangan mata di antara kedua tokohnya. Penulis harus mampu membuat pembaca berdesir.

Dramatisasi pernikahan: Kehidupan pernikahan tak selalu mulus, malah seringkali menimbulkan konflik yang luar biasa, seperti: perbedaan prinsip, tidak memiliki anak, perselingkuhan, perbedaan agama, dan sebagainya. Sayangnya, banyak penulis novel pernikahan yang mengangkat tema yang itu-itu saja. Kemampuan penulis untuk mengaduk emosi pembaca melalui totalitas tokoh-tokohnya dalam berkonflik adalah nilai jual yang tinggi untuk sebuah novel pernikahan. Biasanya, pembaca suka dengan cerita yang mengharubiru dan bikin mewek.

Pesona Tokoh-tokohnya: Walaupun kedua tokohnya sudah menikah, daya tarik mereka tetap dapat membius pembaca. Contoh saja, novel kehidupan "Syah Jahan dan Mumtaz Mahal" sang pendiri Taj Mahal. Tokoh Syah Jahan yang gagah dan Mumtaz Mahal yang cantik membuat pembaca masuk ke dalam ceritanya. 

Komedi Pernikahan: Eit, jangan salah! Novel pernikahan tidak selalu yang mewek-mewek dan banyak drama. Novel pernikahan yang lucu juga disukai oleh pembaca, misalnya mengangkat konflik yang antimainstream, biasa tapi nggak biasa, dan bisa bikin pembaca tertawa. Contohnya, suami istri yang baru menikah, rebutan tempat tidur karena yang satu nggak bisa tidur tanpa pakai kelambu, satunya lagi merasa risih tidur di dalam kelambu. Eh, kok saya jadi kepikiran ya pengen nulis cerita kayak gitu? Hahaha....

Ya udahlah, jangan cuma diomongin, buruan ditulis deh novelnya....

Minggu, 29 November 2015

[Foto Buku] Cinderella dan Diapers

Ketika kau menikah dan punya anak kecil.. Kau butuh kopi dan diapers... Sebab, Cinderella dengan sepatu kacanya hanya ada di negeri dongeng.... 


Apa yang kaupikirkan ketika seorang pangeran datang menjemputmu dan mendudukkanmu di singasana meskipun hanya satu hari? Layaknya seorang Cinderella, kau berpikir hari-harimu akan dipenuhi dengan pesta, gaun indah, dan sepatu dari kaca. Benarkah? Nyatanya, yang sebagian besar terjadi adalah seorang Cinderella kembali menjadi Upik Abu, setelah pesta itu usai. Mengenakan celemek, menenteng sapu dan pel, memasak hidangan hari itu, dan setelah para kurcaci lahir, ia harus menyiapkan diapers kalau tidak mau lantainya dikotori oleh isi perut mereka. 

Cinderella, kau hanya ada di negeri dongeng. Namun, banyak gadis yang tak dapat melepaskan diri dari bayanganmu. Mereka tak tahu bahwa tak semua gadis ditakdirkan menjadi Cinderella, menikah dengan pangeran, dan tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan si Upik Abu. Mereka tak tahu bahwa kopi yang dulu diminum untuk kesenangan, kelak akan diminum untuk melepaskan sedikit rasa stress. Terutama setelah melihat kotoran dan air kencing si kecil berceceran di lantai rumah, karena si Upik Abu terlupa memakaikan diapers. Dan barangkali, kau perlu membaca buku ini demi membuat sudut bibirmu sedikit melengkung. Setidaknya, bibirmu masih bisa tersenyum, karena bahagia itu sederhana, selama masih ada kopi, diapers, dan novel. 



Selasa, 16 Desember 2014

Hujan, Cinta, dan Cerita tentang Kita


www.enjoypic.com

Deras.
Camar segera berlari ke pelataran sebuah rumah yang pintunya masih tertutup. Ia berlindung di teras rumah itu, berharap si empunya tak mengusirnya apabila sudah keluar rumah. Dilihatnya lantai teras rumah itu yang terkotori jejak sepatunya. Ia jadi tak enak hati, tapi apa boleh buat. Sementara hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, justru semakin deras, disertai petir menggelegar. Ia menggigil dan memeluk tubuhnya. Rasa dingin masih menghinggapinya sekalipun sudah memakai baju hangat di luar baju seragamnya.


“Hmmm.. yang mau ikut MOS, datang terlambat.”
Sebuah suara datang dari arah samping. Camar menoleh dan matanya menangkap sosok seorang cowok dengan seragam putih abu-abu. Duh! Senior! Seragam mereka bisa dibedakan karena Camar masih mengenakan seragam SMP.
“Eh, Kakak...” Camar menundukkan kepala, sikapnya itu mengundang tawa rekan bicaranya.
“Tenang saja. Aku gak ikut mlonco kamu, kok. Kamu calon anak SMA Juventia, ya? Aku dari SMA Eleazar.”
“Oh… ternyata Kakak siswa SMA Eleazar…” Camar baru ngeh ketika cowok itu memperlihatkan badge nama yang tertempel di lengan seragam sebelah kanannya. “Kok Kakak tahu kalau aku calon anak SMA Juventia?”
“Ya, tahu…. Di sekolahku, calon siswa SMA Eleazar memakai topi koran warna-warni. Topi itu pasti basah sekarang. Zaman sudah jauh berubah, tapi gaya mlonconya masih sama.” cowok itu tertawa kecil.
Kulit cokelat, hidung mancung, rambut ikal, bibir tipis, dan sebuah lesung pipi di pipi kiri. Topi merah yang dikenakannya sedikit basah. Gambaran rekan bicaranya tersimpan di dalam memori otak Camar. Cukup tampan.
“Kalau aku disuruh pakai caping petani, tapi baru besok dipakainya. Harusnya hari ini gak telat kalau gak hujan,” Camar membela diri. Ia menampakkan raut wajah gelisah. Ia masih harus berjalan beberapa kilometer untuk mencapai sekolahnya. Sementara jarum jam di tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh. Terlambat. Beberapa anak sekolah berseragam SMP seperti dirinya terlihat memaksakan diri menerobos linangan air hujan. Bibirnya gemetar, tak kuat menahan udara dingin, sebab sebagian rok dan bajunya basah terkena air hujan.
Cowok di sebelahnya menampakkan raut wajah peduli. Seakan memahami kecemasan yang sedang menghinggapi gadis di sebelahnya itu, ia mengeluarkan kata-kata penghiburan.
“Jangan khawatir. Banyak yang terlambat juga, kok.”
“Apa aku terobos juga hujan itu ya?” Camar mulai berpikir nekat. Ia tak membawa baju ganti. Jika memaksakan diri menerobos hujan, pakaiannya akan basah kuyup.
“Tidak perlu. Sebentar lagi reda,” cowok itu memandang hujan. Camar melihat tetesan air hujan menjatuhi pucuk hidungnya yang mancung. (halaman 10-12)
Penggalan kisah di atas ada dalam novel “Aku, Juliet” karya saya yang diterbitkan oleh Penerbit Moka. Hujan memang mendatangkan inspirasi. Tak sedikit penulis yang menjadikan hujan sebagai tema di dalam novelnya. Walaupun tema novel saya itu  bukan tentang hujan, tetapi ada adegan berteduh dari hujan. Bagi saya, hujan itu romantis. Sebuah novel romantis, tak lengkap rasanya bila tak ada adegan “hujan-hujanan.”
Saya mau buka rahasia mengenai adegan di atas. Adegan itu bukan sekadar imajinasi, lho, melainkan memang pernah terjadi. Kisahnya tidak benar-benar sama, ehm… tapi romantismenya cukup mendekatilah ahahaha…. Saat itu kelas 2 SMA, saya turun dari angkot sepulang sekolah. Hujan turun amat deras, sehingga berteduhlah saya di depan sebuah rumah yang kosong. Saya melihat dirinya juga berdiri di depan rumah itu, menyunggingkan sedikit senyum, lalu kami berteduh berdua.
Dag, dig, dug… jiwa muda bergejolak. Saya memperhatikan tetesan hujan jatuh ke pucuk hidungnya yang mancung. Tak ada banyak kata yang kami ucapkan, karena saya memutuskan untuk segera naik ojek, sedangkan dia jalan kaki :D (kalau mau romantis, mestinya saya juga jalan kaki bersama dia ya, rumah kami hanya terpaut beberapa rumah).  Lagipula, dia memang seorang pendiam. Tak seperti adegan di atas, kami hanya bertukar sapa.
“Hai, La….”
“Eh, kamu….” (namanya saya rahasiakan saja, deh).
Namanya juga novelis. Bertahun kemudian, sepotong adegan saat berteduh dari hujan itu menjelma menjadi bagian di dalam novel, dengan banyak kata berhamburan dari kedua tokohnya: Camar dan Abby. Eh, terus.. terus… si dia itu gimana jadinya? Ngomong-ngomong, dia itu siapa sih?
Dia itu… ehm… rahasia deh, ah. Hanya satu dari laki-laki yang pernah memberikan inspirasi untuk dijadikan potongan adegan di dalam novel saya kok, hehehehe…. Barangkali pernah ada sepotong hati saya pernah singgah di hatinya, tetapi semua itu kini hanya menjadi kenangan dan bagian dalam novel saya. Seorang novelis dan hujan adalah pasangan serasi untuk merangkai kata-kata dan mengabadikannya ke dalam sebuah kisah penuh imajinasi. Setiap tetesan hujan yang turun ibarat tetesan ide yang datang dari langit. Sebab, hujan adalah wujud cinta Tuhan kepada kita. Dan sambil memandangi tetesannya, kisah cinta dapat terangkai sempurna melalui goresan pena kita.
Terima kasih hujan, yang telah melengkapi kisah di dalam novel saya itu melalui sepotong adegan di bawah hujan.

































Rabu, 12 November 2014

Testimoni Pembaca Novel Aku, Juliet (2)

Alhamdulillah, dapat testimoni lagi dari pembaca novel Aku, Juliet. Jujur, seneng banget dan menambah motivasi menulis. Saya pikir novel saya nggak ada yang baca, eh ternyata ada ehehehe.... Agak-agak underestimate, soalnya teman-teman di facebook dan twitter sedikit banget yang bilang udah baca Aku, Juliet bwahahaha.... Nah, kalo yang ini kayaknya nggak berteman di facebook atau twitter, karena dia mengirim imel ke saya. 



Novel Aku, Juliet memang bacaan anak remaja dan awam (maksudnya, pembaca yang baru mulai membaca novel dan lebih suka membaca novel yang ringan). Seperti masa saya SMA dulu, saya juga sukanya baca novel yang ringan-ringan. Novel yang terlalu banyak deskripsi dan narasi, saya lewati aja narasinya soalnya bikin capek dan kening berkerut-kerut. Dulu lebih suka baca novel yang banyak dialog. Lebih parah lagi, lebih seneng baca komik karena banyak gambarnya. Sepertinya, pembaca novel Aku, Juliet ini pun demikian, karena novelnya memang banyak gambarnya. Mudah-mudahan setelah ini, dia jadi suka baca novel ya....

tersedia di Indomaret lhoo! 

Jangan takut novelmu nggak ada yang baca. Setiap novel, pasti punya pembacanya sendiri kok *kata-kata ini sebenarnya untuk menghibur diri sendiri :D.