Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Desember 2015

Menulis Novel Pernikahan

Menulis novel bertema pernikahan agaknya mulai menjadi spesialisasi saya seiring dengan bertambahnya kedewasaan (cieeh.. merasa sudah dewasa...). Gaya menulis dan tema yang diambil memang terus mengikuti perkembangan zaman, walaupun pada tahun 2014 saya malah menerbitkan tiga novel remaja berjudul "Dag, Dig, Dugderan, Brisbane, dan Aku Juliet." Saat ini saya sedang menulis novel pernikahan yang murni romantis sambil belajar memunculkan sisi romantis yang tidak hambar. Maklum, novel romance saya, "Aku, Juliet" dikritik oleh seorang peresensi karena kurang ada sentuhan fisik di antara tokoh-tokohnya. Berhubung tokoh-tokoh novel tersebut masih SMA, saya memang takut-takut memasukkan sentuhan fisik di antara mereka. Kalau di novel yang sedang saya tulis ini, sudah pasti ada sentuhan fisiknya, karena tokoh utamanya adalah sepasang suami istri. 


Menulis novel pernikahan bagi saya sendiri bukan lagi hal yang tabu mengingat saya sudah menikah, jadi ada pengalaman dong hehehe.... Beberapa waktu lalu, ada seorang teman novelis yang mencermati kemunculan novel-novel pernikahan yang ditulis oleh penulis jomblo, alias belum menikah. Tidak boleh? Ya, tentu saja boleh, itu berarti imajinasi si penulis sangat luas sehingga bisa membayangkan kehidupan pernikahan meskipun belum menjalaninya. Nah, kalau penulis yang masih jomblo sudah bisa menulis novel bertema pernikahan, mengapa saya tidak? Anehnya, memang saya sendiri merasakan imajinasi mengenai pernikahan itu lebih besar saat belum menikah dibandingkan setelah menikah. Duh, jangan-jangan.... Sebenarnya sih karena saya agak khawatir nantinya kelepasan memasukkan pengalaman pribadi dengan suami, ahahah.... 

Walaupun menikah selama sembilan tahun, saya belum pernah menuliskan sedikit pun pengalaman menikah dengan suami ke dalam novel-novel saya. Novel "Cinderella Syndrome" itu ditulis sebelum menikah dan isinya tentang kegalauan-kegalauan para jomblo (perempuan) yang sibuk mencari jodoh sesuai keinginan. Ada memang satu tokoh yang sifat dan karakternya mirip saya, yaitu Violet, seorang penulis yang takut bepergian jauh, tapi hanya karakternya lho yang mirip. Kisah hidupnya tidak. Novel "Perjanjian yang Kuat" juga masih bercerita tentang kegalauan seorang lajang berusia di atas 30-an dalam menanti jodoh. Kisah itu juga bukan kisah saya, melainkan kisah titipan seorang teman yang sudah lama ingin dituliskan ke dalam sebuah novel. 

Novel pernikahan lainnya adalah "Surga yang Terlarang," itu juga saya tulis setelah menikah tapi sama sekali tidak berisi pengalaman pernikahan saya dan suami. Oya, sebelumnya juga saya menulis "Jean Sofia" yang bertema pernikahan beda agama dan tentu saja bukan dari pengalaman saya dan suami. Jadi memang saya benar-benar belum pernah memasukkan pengalaman pernikahan saya dan suami ke dalam novel-novel saya. Terus, kapan dong? Apa pengalaman pernikahan kami nggak ada manis-manisnya? Ada, dong... tapi saya tulis di buku nonfiksi pernikahan hehehe... Tunggu saja tanggal mainnya, ya. Insya Allah kalau jadi diterbitkan, akan muncul di bulan Februari. 

Apa sih yang bisa dijual dari sebuah novel pernikahan sehingga genre ini memiliki kesempatan untuk diterbitkan? 

Romantisme pernikahan: Kisah cinta itu tak ada habisnya dibahas dan dinikmati. Secara naluri, setiap manusia memang menyukai kisah cinta. Romantisme pernikahan adalah bagian kehidupan yang menarik, apalagi bila seorang penulis mampu membuat pembaca ikut tersenyum, tersipu, dan berbahagia dengan kehidupan romantis tokoh-tokoh di dalam novel tersebut. Akan tetapi, romantisme ini bagi saya pribadi, jangan sampai jatuh ke dalam adegan-adegan sexy yang memancing imajinasi pembaca untuk membayangkan hal yang tidak-tidak. Romantisme bisa dibangun melalui adegan-adegan sederhana, seperti membelai rambut, mencium dahi, berpegangan tangan, kata-kata yang romantis, bahkan sekadar pandangan mata di antara kedua tokohnya. Penulis harus mampu membuat pembaca berdesir.

Dramatisasi pernikahan: Kehidupan pernikahan tak selalu mulus, malah seringkali menimbulkan konflik yang luar biasa, seperti: perbedaan prinsip, tidak memiliki anak, perselingkuhan, perbedaan agama, dan sebagainya. Sayangnya, banyak penulis novel pernikahan yang mengangkat tema yang itu-itu saja. Kemampuan penulis untuk mengaduk emosi pembaca melalui totalitas tokoh-tokohnya dalam berkonflik adalah nilai jual yang tinggi untuk sebuah novel pernikahan. Biasanya, pembaca suka dengan cerita yang mengharubiru dan bikin mewek.

Pesona Tokoh-tokohnya: Walaupun kedua tokohnya sudah menikah, daya tarik mereka tetap dapat membius pembaca. Contoh saja, novel kehidupan "Syah Jahan dan Mumtaz Mahal" sang pendiri Taj Mahal. Tokoh Syah Jahan yang gagah dan Mumtaz Mahal yang cantik membuat pembaca masuk ke dalam ceritanya. 

Komedi Pernikahan: Eit, jangan salah! Novel pernikahan tidak selalu yang mewek-mewek dan banyak drama. Novel pernikahan yang lucu juga disukai oleh pembaca, misalnya mengangkat konflik yang antimainstream, biasa tapi nggak biasa, dan bisa bikin pembaca tertawa. Contohnya, suami istri yang baru menikah, rebutan tempat tidur karena yang satu nggak bisa tidur tanpa pakai kelambu, satunya lagi merasa risih tidur di dalam kelambu. Eh, kok saya jadi kepikiran ya pengen nulis cerita kayak gitu? Hahaha....

Ya udahlah, jangan cuma diomongin, buruan ditulis deh novelnya....

Kamis, 17 Desember 2015

[Foto Buku] Menjadi Ibu Rumah Tangga Bahagia

Ketika keinginan untuk mengeluh itu datang, ingatlah bahwa pekerjaanmu itu diganjari pahala jihad....

Asma bin Yazid bertanya, "Wahai Rasulullah... Allah mengutusmu untuk seluruh kaum laki-laki dan wanita. Adapun kami kaum wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki dan kami adalah tempat menyalurkan syahwatnya. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi, kaum lelaki mendapatkan keutamaan melebihi kami dengan salat Jumat, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka, apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapatkan?"

Rasulullah menjawab, "Kembalilah wahai Asma dan beritahukan kepada para wanita di belakangmu, bahwa perlakuan baik mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapatkan keridhoan suaminya, dan ketundukannya untuk senantiasa menaati suaminya, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan, yang dikerjakan oleh kaum laki-laki."
( HR. Muslim) 


Benar kan, pekerjaan rumah tangga itu sangat berat?  Saya merasakannya sendiri setelah menikah dan punya anak. Kalau sebelum menikah, hanya kadang-kadang saja saya melakukan pekerjaan rumah tangga. Nyuci baju, dicuciin. Nyuci piring, dicuciin lagi. Mau makan, udah tersedia di lemari makan. Nyapu, ngepel, beres-beres? Kadang-kadang aja, malah jaraaaaaang. Soalnya dari kecil sampai lulus kuliah, saya selalu dilayani pembantu rumah tangga yang ada di rumah orang tua. Pernah sih nggak pakai pembantu, tapi kami melakukan pekerjaan rumah tangga itu bersama-sama. Saya punya dua adik perempuan (yang satu waktu itu belum lahir). Kami bagi-bagi tugas deh. Kami cuma dapat satu tugas aja kok. Itupun hanya sebentar, karena biasanya nggak lama kemudian, mama saya udah dapat pembantu baru. 

Setelah menikah? OH MY GOD! Saya harus mengerjakan semuanya SENDIRIAN! Suami saya belum mau membayar pembantu saat kami baru menikah. Ya iyalaah, ngapain juga bayar pembantu, kan belum ada anak. Kami juga belum punya mesin cuci, jadilah saya nyuci jongkok. Saat usia kandungan empat bulan, saya dilarang Bidan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat-berat karena kandungannya sering kontraksi. Khawatir keguguran. Suami pun membantu mencuci sampai kandungan saya sudah kuat. Maklum deh, saya dan suami memulai berumahtangga dari NOL, dan kami bukan anak Presiden apalagi orang penting. Kami hanya punya rumah tipe 21 yang hampir hancur, karena baru ditempati setelah lima tahun dibangun. Suami  membelinya sebelum menikah. Udah punya rumah aja udah bagus yah, tapi kondisinya mengenaskan deh. Kayaknya cuma saya yang mau tinggal di rumah seperti itu. Atapnya sudah bolong sehingga sering bocor, kamar mandinya jadi sarang laba-laba (pernah ada laba-laba gedeee banget), temboknya belum diplester (masih batako, booo!), minim fasilitas (jauh banget dari warnet), dan banyak lagi deh penderitaan yang harus saya rasakan #lebay. Sekarang rumahnya udah mendingan, karena suami merenovasinya setiap tahun demi kebahagiaan istri dan anak-anak hehe....

Suami meminta saya di rumah saja, alias keluar dari pekerjaan, kecuali saya bisa mendapatkan pekerjaan yang memberikan gaji di atas semua pengeluaran (transportasi dan makan). Kenapa? Pekerjaan saya memang gajinya seuprit, masih mending upah buruh deh. Setelah saya hitung-hitung, memang sih gaji yang saya terima bakalan habis untuk transport dan makan siang di kantor. Yah, nggak ada artinya. Saya juga belum hamil setelah empat bulan menikah. Suami pikir saya kecapean kerja. Jadi, alasan saya untuk keluar dari pekerjaan itu sangat kuat. Oke, deh, saya sudah di rumah, lalu apa? Ya ampuuuun... berada di rumah terus-menerus itu sangat membosankan! Apalagi ditambah dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang nggak ada habisnya.

Kemudian, dua anak saya lahir berturut-turut dengan hanya selisih setahun. Tiga tahun kemudian, adiknya lahir lagi. Sampai sekarang, saya masih mengasuh tiga anak di bawah usia 10 tahun yang repotnya astaghfirullah. Setelah punya anak pertama, suami mau membayar pembantu, tapi ya itu, pembantu datang dan pergi. Maksudnya, kadang ada pembantu, kadang enggak. Dan sekarang saya kembali nggak pakai pembantu, karena si Bibi hamil dan nggak boleh kerja keras. Terasa sekali beratnya, badan saya kayak pintu yang mau lepas engselnya. Pegal-pegal nggak habis-habis. Itu pekerjaan rumah tangga kok kayak nggak ada habisnya yah. Pusing saya. 

Kalau ngomongin soal galau dan pengen kerja lagi di kantor mah sampai tahun keempat pernikahan, saya masih pengen kerja di kantor. Saya pernah nekat ikutan tes CPNS, padahal anak-anak masih umur  empat dan tiga tahun. Saya nggak punya pembantu rumah tangga, terus siapa yang nanti jagain anak-anak? Ah, saya nggak pikirin! Pokoknya, saya mau kerja! Lebih enak kerja di kantor dapat gaji, daripada di rumah mengurus anak-anak dan nggak dibayar. Di kantor, saya bisa duduk santai depan komputer tanpa perlu mendengar tangisan dan teriakan anak-anak. Pengalaman saya sih begitu waktu ngantor dulu. Beda ya kalau kerja lapangan. Eh, ternyata saya nggak lulus. Lalu saya berpikir, yah mungkin memang maunya Allah Swt begini, saya tetap di rumah, mengurus anak-anak. Mungkin juga suami lebih ridho saya di rumah, walaupun dia mengizinkan saya ikut tes CPNS (bisa aja itu cuma di mulut). Sejak itu, saya nggak kepikiran lagi mau kerja di kantor dan berusaha menciptakan pekerjaan dari dalam rumah. 

Pekerjaan rumah tangga yang paling berat adalah menyetrika. Setrikaan numpuk terus, padahal udah saya setrika tiap dua hari sekali. Kalau nggak disetrika, nggak enak  karena lembab. Sekarang kan sering hujan, jadi mataharinya sedikit. Baju kantor suami dan sekolah anak-anak itu prioritas utama untuk disetrika. Belum lagi waktu nyetrika itu nggak cukup dua jam. Awal-awal nggak ada pembantu, saya sempat mandeg menulis dan ngeblog karena nggak ada waktu. Ngeblognya seminggu sekali, malah sering ketinggalan ikut lomba karena nggak sempat mikir. Sekalinya ikutan, eh nggak menang, wkwkwk... Apes banget, yaah... Apa boleh buat, today, this is my destiny! Saya yakin semua ibu yang nggak punya pembantu, juga merasakannya. 

Pekerjaan rumah tangga ini kan nggak dibayar. Udah gitu, untuk mengerjakannya membuat saya kehilangan banyak waktu untuk bekerja (nulis, ngeblog) yang memungkinkan saya mendapatkan penghasilan tambahan. Kemarin ada sih yang nawarin pembantu lagi, tapi katanya orangnya sering pinjam uang. Bukan apa-apa, pembantu yang lama pun masih meninggalkan utang. Saya juga nggak mudah cocok dengan pembantu rumah tangga. Si Bibi yang kemarin itu satu-satunya yang cocok dari beberapa orang yang pernah kerja dengan saya. Saya juga malas mengajari dari awal, karena setiap pembantu itu perlu dikasihtahu lagi. Misalnya, gimana pakai mesin cuci, nyapunya mulai dari mana, gimana melipat setrikaan, nyuci piring yang bersih, dan sebagainya. Urusan setrikaan, ada lho pembantu yang asal melipat, kayak nggak pernah kerja. Bukannya rapi, malah berantakan. Mending saya kerjain sendiri deh, biar cape tapi puas hehehe.....

Sejak nggak ada si bibi, saya juga jadi nggak bisa ke mana-mana di hari kerja, padahal sebelumnya saya udah bisa ikut kegiatan blogger di hari kerja. Saya harus di rumah menunggui anak-anak, karena usia mereka masih kecil dan belum ditinggal. Maka, saya bersyukur sekali, Asma bin Yazid pernah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Apa pahala yang diterima oleh seorang ibu rumah tangga yang gerak langkahnya terbatas karena terkurung di dalam rumah dan harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang melelahkan? Ternyata, pahalanya sama dengan berjihad! Berjihad itu berperang di jalan Allah, yang mana berperang itu membutuhkan pengorbanan jiwa dan raga. Hadist di atas adalah hiburan buat saya saat sedang dirundung kesedihan dan kekesalan karena masih saja melakukan pekerjaan yang bagi sebagian orang "tidak ada artinya" ini. Jadi, mengapa kita nggak bisa menjadi ibu rumah tangga yang bahagia? Dapat pahala jihad, lho! Tahu nggak pahala jihad itu apa? Masuk surga tanpa dihisab. Ya, tapi itu kalau kita ikhlas dan nggak ngeluh hehehe....


Selasa, 08 Desember 2015

[Foto Buku] Surga yang Terlarang

Seringkali cinta datang hanya untuk mengajari kita kesabaran dalam menanti cinta yang sesungguhnya. Kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, hingga bertahun-tahun untuk mengharapkannya, tetapi orang lain yang menyematkan cincin ke jari manis kita. Ketahuilah, itu bukan kesalahan. Sebab, cinta yang sejati bukan surga yang terlarang. 


Beberapa kali saya mendapatkan curahan hati seorang wanita yang membandingkan suaminya dengan lelaki di masa lalu. Mengapa suaminya tak sesempurna lelaki di masa lalunya?  

Lalu, pertanyaan itu saya kembalikan kepada si penanya. Mengapa dulu memilih suaminya jika ingatannya masih berpusat kepada lelaki di masa lalu? Janganlah membiarkan hatimu diisi oleh surga yang terlarang. Bersihkanlah hatimu dari cinta masa lalu yang tertinggal. Belum tentu kau akan bahagia bila ditakdirkan bersanding dengan lelaki masa lalumu. Lupakanlah cinta yang tak pernah ada, sebab takdirmu adalah menjalani apa yang ada.




Minggu, 29 November 2015

[Foto Buku] Cinderella dan Diapers

Ketika kau menikah dan punya anak kecil.. Kau butuh kopi dan diapers... Sebab, Cinderella dengan sepatu kacanya hanya ada di negeri dongeng.... 


Apa yang kaupikirkan ketika seorang pangeran datang menjemputmu dan mendudukkanmu di singasana meskipun hanya satu hari? Layaknya seorang Cinderella, kau berpikir hari-harimu akan dipenuhi dengan pesta, gaun indah, dan sepatu dari kaca. Benarkah? Nyatanya, yang sebagian besar terjadi adalah seorang Cinderella kembali menjadi Upik Abu, setelah pesta itu usai. Mengenakan celemek, menenteng sapu dan pel, memasak hidangan hari itu, dan setelah para kurcaci lahir, ia harus menyiapkan diapers kalau tidak mau lantainya dikotori oleh isi perut mereka. 

Cinderella, kau hanya ada di negeri dongeng. Namun, banyak gadis yang tak dapat melepaskan diri dari bayanganmu. Mereka tak tahu bahwa tak semua gadis ditakdirkan menjadi Cinderella, menikah dengan pangeran, dan tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan si Upik Abu. Mereka tak tahu bahwa kopi yang dulu diminum untuk kesenangan, kelak akan diminum untuk melepaskan sedikit rasa stress. Terutama setelah melihat kotoran dan air kencing si kecil berceceran di lantai rumah, karena si Upik Abu terlupa memakaikan diapers. Dan barangkali, kau perlu membaca buku ini demi membuat sudut bibirmu sedikit melengkung. Setidaknya, bibirmu masih bisa tersenyum, karena bahagia itu sederhana, selama masih ada kopi, diapers, dan novel. 



Selasa, 16 Desember 2014

Hujan, Cinta, dan Cerita tentang Kita


www.enjoypic.com

Deras.
Camar segera berlari ke pelataran sebuah rumah yang pintunya masih tertutup. Ia berlindung di teras rumah itu, berharap si empunya tak mengusirnya apabila sudah keluar rumah. Dilihatnya lantai teras rumah itu yang terkotori jejak sepatunya. Ia jadi tak enak hati, tapi apa boleh buat. Sementara hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, justru semakin deras, disertai petir menggelegar. Ia menggigil dan memeluk tubuhnya. Rasa dingin masih menghinggapinya sekalipun sudah memakai baju hangat di luar baju seragamnya.


“Hmmm.. yang mau ikut MOS, datang terlambat.”
Sebuah suara datang dari arah samping. Camar menoleh dan matanya menangkap sosok seorang cowok dengan seragam putih abu-abu. Duh! Senior! Seragam mereka bisa dibedakan karena Camar masih mengenakan seragam SMP.
“Eh, Kakak...” Camar menundukkan kepala, sikapnya itu mengundang tawa rekan bicaranya.
“Tenang saja. Aku gak ikut mlonco kamu, kok. Kamu calon anak SMA Juventia, ya? Aku dari SMA Eleazar.”
“Oh… ternyata Kakak siswa SMA Eleazar…” Camar baru ngeh ketika cowok itu memperlihatkan badge nama yang tertempel di lengan seragam sebelah kanannya. “Kok Kakak tahu kalau aku calon anak SMA Juventia?”
“Ya, tahu…. Di sekolahku, calon siswa SMA Eleazar memakai topi koran warna-warni. Topi itu pasti basah sekarang. Zaman sudah jauh berubah, tapi gaya mlonconya masih sama.” cowok itu tertawa kecil.
Kulit cokelat, hidung mancung, rambut ikal, bibir tipis, dan sebuah lesung pipi di pipi kiri. Topi merah yang dikenakannya sedikit basah. Gambaran rekan bicaranya tersimpan di dalam memori otak Camar. Cukup tampan.
“Kalau aku disuruh pakai caping petani, tapi baru besok dipakainya. Harusnya hari ini gak telat kalau gak hujan,” Camar membela diri. Ia menampakkan raut wajah gelisah. Ia masih harus berjalan beberapa kilometer untuk mencapai sekolahnya. Sementara jarum jam di tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh. Terlambat. Beberapa anak sekolah berseragam SMP seperti dirinya terlihat memaksakan diri menerobos linangan air hujan. Bibirnya gemetar, tak kuat menahan udara dingin, sebab sebagian rok dan bajunya basah terkena air hujan.
Cowok di sebelahnya menampakkan raut wajah peduli. Seakan memahami kecemasan yang sedang menghinggapi gadis di sebelahnya itu, ia mengeluarkan kata-kata penghiburan.
“Jangan khawatir. Banyak yang terlambat juga, kok.”
“Apa aku terobos juga hujan itu ya?” Camar mulai berpikir nekat. Ia tak membawa baju ganti. Jika memaksakan diri menerobos hujan, pakaiannya akan basah kuyup.
“Tidak perlu. Sebentar lagi reda,” cowok itu memandang hujan. Camar melihat tetesan air hujan menjatuhi pucuk hidungnya yang mancung. (halaman 10-12)
Penggalan kisah di atas ada dalam novel “Aku, Juliet” karya saya yang diterbitkan oleh Penerbit Moka. Hujan memang mendatangkan inspirasi. Tak sedikit penulis yang menjadikan hujan sebagai tema di dalam novelnya. Walaupun tema novel saya itu  bukan tentang hujan, tetapi ada adegan berteduh dari hujan. Bagi saya, hujan itu romantis. Sebuah novel romantis, tak lengkap rasanya bila tak ada adegan “hujan-hujanan.”
Saya mau buka rahasia mengenai adegan di atas. Adegan itu bukan sekadar imajinasi, lho, melainkan memang pernah terjadi. Kisahnya tidak benar-benar sama, ehm… tapi romantismenya cukup mendekatilah ahahaha…. Saat itu kelas 2 SMA, saya turun dari angkot sepulang sekolah. Hujan turun amat deras, sehingga berteduhlah saya di depan sebuah rumah yang kosong. Saya melihat dirinya juga berdiri di depan rumah itu, menyunggingkan sedikit senyum, lalu kami berteduh berdua.
Dag, dig, dug… jiwa muda bergejolak. Saya memperhatikan tetesan hujan jatuh ke pucuk hidungnya yang mancung. Tak ada banyak kata yang kami ucapkan, karena saya memutuskan untuk segera naik ojek, sedangkan dia jalan kaki :D (kalau mau romantis, mestinya saya juga jalan kaki bersama dia ya, rumah kami hanya terpaut beberapa rumah).  Lagipula, dia memang seorang pendiam. Tak seperti adegan di atas, kami hanya bertukar sapa.
“Hai, La….”
“Eh, kamu….” (namanya saya rahasiakan saja, deh).
Namanya juga novelis. Bertahun kemudian, sepotong adegan saat berteduh dari hujan itu menjelma menjadi bagian di dalam novel, dengan banyak kata berhamburan dari kedua tokohnya: Camar dan Abby. Eh, terus.. terus… si dia itu gimana jadinya? Ngomong-ngomong, dia itu siapa sih?
Dia itu… ehm… rahasia deh, ah. Hanya satu dari laki-laki yang pernah memberikan inspirasi untuk dijadikan potongan adegan di dalam novel saya kok, hehehehe…. Barangkali pernah ada sepotong hati saya pernah singgah di hatinya, tetapi semua itu kini hanya menjadi kenangan dan bagian dalam novel saya. Seorang novelis dan hujan adalah pasangan serasi untuk merangkai kata-kata dan mengabadikannya ke dalam sebuah kisah penuh imajinasi. Setiap tetesan hujan yang turun ibarat tetesan ide yang datang dari langit. Sebab, hujan adalah wujud cinta Tuhan kepada kita. Dan sambil memandangi tetesannya, kisah cinta dapat terangkai sempurna melalui goresan pena kita.
Terima kasih hujan, yang telah melengkapi kisah di dalam novel saya itu melalui sepotong adegan di bawah hujan.