Selasa, 23 Juni 2015

Mazaya Fatimah Body Butter dan Raihana Body Cologne

Salah satu cara mensyukuri pemberian Allah Swt terhadap tubuh kita adalah dengan merawatnya. Apalagi yang namanya perempuan yang sudah menjadi istri seseorang itu wajib merawat tubuh, karena kita harus tampil cantik dan menyenangkan di mata suami.


Banyak produk perawatan tubuh yang beredar di masyarakat, tapi sama seperti halnya pada makanan, umat muslim juga harus memilih produk yang halal dan thoyyib (baik). Bahan-bahan pembuatan kosmetik itu ada kalanya menggunakan bahan yang diharamkan dalam agama Islam, seperti mengandung turunan babi. 

Syukur Alhamdulillah, semakin banyak saja perusahaan kosmetik yang membuat produk-produk kosmetik halal dan thoyyib, salah satunya Mazaya Cosmetik. Saya mendapatkan paket Mazaya Fatimah Body Butter dan Raihana Body Cologne yang sesuai sekali dengan kebutuhan saya.


Mazaya Fatimah Body Butter
Kulit tubuh saya tergolong kering, terutama di musim kemarau seperti sekarang ini. Kulit jadi pecah-pecah dan rasanya tidak enak, kadang sakit juga saking keringnya. Selain diminimalisir dengan minum air putih dan jus buah, saya beruntung sekali dipertemukan dengan Body Butter dari Mazaya ini yang melembabkan kulit tanpa terasa berminyak. Begitu dipakai, langsung terserap dengan baik ke dalam kulit dan tidak lengket. Bisa tahan seharian, lho. Walaupun sudah terbasuh air wudhu, kulit masih terasa lembabnya. 








Mazaya Raihana Body Cologne
Cuaca panas juga menyebabkan pengeluaran keringat menjadi berlebih, apalagi saya pakai jilbab. Otomatis, keringat menumpuk dan bisa menyebabkan bau badan. Sadar diri dong, tidak enak kalau suami mencium bau keringat istrinya. "Bau" lho ya, bukan "Wangi." Kalau wangi sih tidak apa-apa, kalau bau? Raihana Body Cologne ini wanginya segar sekali, tidak berlebihan. Suami pun makin senang dekat-dekat istrinya hehehe... 



ASUS ZenPower Credit Card, Powerbank Seukuran Kartu Kredit

Sejak menjadi blogger, saya jadi suka foto-foto. Sebab, katanya, postingan blog yang nggak ada fotonya itu sama dengan hoax. Tadinya saya nggak begitu suka foto-foto. Koleksi foto saat anak-anak masih bayi pun sedikit. Malah adik-adik saya yang suka foto-foto bayi. Nah, begitu aktif ngeblog, eh saya jadi rajin amat  ya foto-foto. Apa aja difoto. Ya anak-anak, pemandangan, makanan,  apalagi kalau sedang jalan-jalan. Semua ponsel yang ada di rumah harus dibawa supaya bisa foto-foto dari pergi sampai pulang.


Lho? Kok pake bawa semua ponsel? Saya punya kamera digital, tapi nggak tau kenapa lebih senang foto pake kamera ponsel. Mungkin supaya lebih praktis bawa-bawanya, bisa foto sekaligus pakai fitur lainnya. Yang jadi masalah, baterai ponsel saya cepat habis karena sering dibuat main gems sama anak-anak. Belum lagi kami juga sering pakai ponsel untuk baca-baca sosmed dan berita online yang menghabiskan baterai. Banyak momen yang terlewatkan karena nggak bisa difoto gara-gara baterai ponsel habis dan nggak nemu kontak listrik karena sedang di perjalanan. 

Maklumlah, saya kan blogger amatiran. Belum punya kamera DSLR yang canggih ituh. Doain yah biar cepet punya, hehe.... Alhamdulillah, terkadang doa di dalam hati aja bisa terkabul lho, terlebih di bulan Ramadan ini. Saya terpikir ingin punya Powerbank, buat ngecas hape itu. Hanya selang beberapa minggu dari memikirkan si Powerbank, eh Mas ASUS ZenPower Credit Card Size 10050mAh menyambangi rumah saya. Senengnya bukan kepalang. 

Ukuran Powerbank ini memang hanya seukuran kartu kredit (90,5 mm x 59 mm x 22 mm), jadi bisa dimasukin ke dalam pouch kosmetik, nggak  makan tempat. Beratnya hanya kurang lebih 215 gram. Pilihan warnanya juga banyak banget, yang bisa dipilih sesuai dengan kepribadianmu. Ada biru, putih, abu-abu, hitam, merah jambu, bahkan emas. Menggunakan baterai lithium-ion isi ulang, dengan waktu pengisian daya 6 jam (kabel standar DC 5V/2A) atau 9 jam (kabel standar DC 5V/1A). Harga di pasaran Rp 269.900.

Keberadaan Powerbank ini bikin kegiatan eksis makin lancar. Buka sosmed, berita digital, sampe foto-foto via ponsel pun nggak takut lagi kehabisan baterai tapi nggak nemu kontak listrik. Tinggal cas aja powerbanknya saat masih di rumah atau di tempat yang ada kontak listriknya, setelah itu baru diisikan ke hape kalau baterai hapenya habis. Kapasitasnya yang besar: 10050mAh memungkinkan pengecasan hingga 2-3 kali. Kekurangannya, ukurannya memang seukuran kartu kredit, tapi tebal, jadi agak mengganggu kalau dimasukin ke saku kemeja. Maunya sih bisa lebih tipis lagi, biar nggak kelihatan menggelembung di kantong.

Insya Allah, pulang kampung nanti nggak bosan di perjalanan karena baterai hape bisa terisi penuh berkat ASUS ZenPower Credit Card Size 10050mAh ini.

Senin, 22 Juni 2015

Renungan Ramadan: Jangan Nyinyir!

Alhamdulillah, saya memiliki Al Quran yang ada terjemahan dalam bahasa Indonesianya. Jadi, setiap membaca Al Quran, saya bisa sekaligus mengetahui artinya. Bulan Ramadan ini, amalan ibadah kita akan dilipatgandakan pahalanya seperti amalan 1000 bulan. Sejak kecil, orangtua saya selalu mengajarkan untuk berlomba-lomba mengkhatamkan Al Quran. Biar makin mantap belajar Al Qurannya, saya mau membagikan terjemahan dari satu ayat Al Quran yang sudah saya baca, disertai ulasannya menurut saya. 


"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) itu lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita-wanita lainnya, boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan memanggil dengan panggilan yang buruk. Seburuk-buruk nama (panggilan) ialah yang fasik (jelek) sesudah iman. Dan siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang yang zalim. (Al Quran Surat Al Hujurat: 11) 

Subhanallah, saya seperti diingatkan lagi ketika membaca surat ini. Allah Swt melarang kita saling menghina, mengolok-olok, mencela, dan menjelek-jelekkan orang lain. Itulah salah satu akhlak Islam. Jadi, tidak benar kalau Islam itu identik dengan kekerasan, karena untuk urusan "lidah" pun, Allah Swt menyuruh kita agar menjaganya dengan tidak mengeluarkan kata-kata kotor dan keji, apalagi bila sampai melukai hati orang lain. Boleh jadi, orang yang kita hina (olok-olok) itu lebih baik daripada kita. Di zaman sekarang, kata "olok-olok" itu lebih beken dengan sebutan "nyinyir."

Baca lagi ayat di atas, ada titik tekan pada siapa ayat ini ditujukan. Siapa? WANITA. Yap, wanita. Mengapa wanita? Jawabannya mudah saja. Wanita memang paling demen nyinyir. Bagaimana dengan saya? Saya juga wanita dan saya manusia biasa yang sering khilaf. Walaupun saya sudah membaca ayat ini sejak duduk di bangku SMP, terkadang lidah saya pun masih kerap nyinyir. Kalau ngomong face to face, saya malah bisa mengendalikan nyinyir, karena saya aslinya pendiam. Pergaulan di sosmed itu tantangan tersendiri untuk menahan diri dari nyinyir. Bukan tidak sedikit saya terjatuh juga ke dalam nyinyir. Nyinyir-nyinyir di status facebook dan twitter, terutama. 

Itu kenapa dalam dunia sosmed, ada sebutan yang namanya "MOM WAR." Yang masih gadis, ternyata ada yang belum kenal apa itu Mom War. Ya, itulah perang ibu-ibu di sosmed, dalam segala hal. Akhirnya, jatuh ke dalam nyinyir. Merasa menjadi ibu yang lebih baik daripada ibu-ibu lainnya. Nyinyir itu asal katanya "mencibir" atau "nyibir." Soalnya kalau lagi nyinyir, bibir kita maju beberapa senti, ya toh? Wanita memang asal penciptaannya itu suka berbicara dan cerewet. Jadi, semakin jelas mengapa ayat tersebut  menekankan pada wanita. Mari kita istighfar sama-sama. Itulah gunanya membaca Al Quran, kita jadi sering diingatkan. Kalau lupa, ya diingatkan lagi. Untuk mengurangi nyinyir, sudah beberapa bulan ini saya tidak memakai internet di ponsel lagi. Lho?

Iya, saya hanya pakai internet di laptop. Kalau mau internetan, harus buka laptop dulu. Ribet kan? Belum lagi, saya pilih kuota terbatas. Nggak bisa sering internetan juga. Lain halnya kalau bisa internetan di ponsel. Sebentar-sebentar buka sosmed, update status, atau komentarin status-status orang sesukanya. Belum ditambah dengan mengeluh ini-itu. Seakan hidup ini nggak ada yang beres. Daripada buka sosmed, mending buka Al Quran aja yang diseringin, lebih adem dan menjawab setiap permasalahan. So,  nasihat ini untuk saya juga, karena membuka Al Quran itu memang tidak semenarik membuka sosmed, itulah godaannya. 

Nyinyir di sosmed, juga kerap disebut dengan Cyber Bullying, terutama kalau nyinyirnya langsung ke orang yang bersangkutan. Tidak sedikit berita-berita bunuh diri gara-gara dibully di sosmed. Dihina dan dicaci oleh penghuni jagad sosmed. Kalau nggak salah, ada artis Korea atau Tiongkok gitu yang bunuh diri karena cyber bullying. Sekarang kan mudah saja mau ngomentarin artis, karena mereka punya akun di sosmed. Saya pun kerap menghela napas setiap membaca komentar-komentar mengenai artis tertentu. Ternyata jari lebih ganas daripada lidah. 

Mari kita istighfar lagi, dan semoga bulan Ramadan ini dapat membuat kita menjadi lebih baik lagi dalam bersikap dan bertutur kata. Aamiin....





49-11:

Minggu, 21 Juni 2015

Memajukan UKM bersama Tokopedia



Sabtu, 30 Mei 2015, saya menghadiri undangan Temu Blogger Tokopedia yang diadakan di Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat. Saya mendaftar melalui Kumpulan Emak-emak Blogger  (KEB) dan itu pertama kalinya saya datang ke acara Blogger atas nama KEB. Sudah lama sebenarnya saya mau ikut acara-acara blogger gathering, tapi ada syaratnya: harus akhir pekan dan lokasinya mudah dijangkau. Hari kerja, saya nggak bisa ke mana-mana karena harus menunggui anak-anak. Maklum, nggak punya pengasuh anak. Lokasinya juga harus mudah dijangkau, karena saya suka nyasar *nyasar kok suka. Kebetulan acara Temu Blogger Tokopedia itu diadakan di dekat kantor suami saya, jadi saya sudah tahu rutenya, hihihi….


Disambut dengan Goodiebag
Alhamdulillah, di sana saya bisa ketemu dengan Emak-emak Blogger yang selama ini hanya saya sambangi blognya. Beberapa saya sapa, lainnya nggak saya sapa karena takut salah. Ada untungnya juga lho kalau sering memajang foto wajah kita di facebook dan blog, pas kopdar gitu, saya lebih mudah mengenali dan menyapa. Emak-emak blogger yang saya sapa duluan, diantaranya: Lidya Fitrian, Evrina Budiastuti, Caroline Adenan, Bunda Yati Rachmat, Melly Feyadin, Suriya Riza (Echa), dan lain-lain. Ada juga yang ragu-ragu mau saya sapa, seperti Mak Ermayani Novia dan Mia Fauzia. Duo emak itu saya liatin  terus, tapi ragu mau menyapa hihihi…. Takut salah orang. 

Foto milik: Arin Murtiyarini
“Sudah cek Tokopedia?”

Ingat nggak iklan itu? Iklannya familiar banget di teve lho. Yap, Tokopedia adalah salah satu Online Market Place di Indonesia, semacam pasar online tempat kumpul para penjual online. Visinya adalah membangun Indonesia yang lebih baik melalui internet. Seperti yang kita ketahui, saat ini E-Commerce di Indonesia telah semakin berkembang seiring dengan meluasnya pemakaian internet. Transaksi jual  beli pun bisa dilakukan melalui internet. Nah, Tokopedia ingin menjembatani transaksi jual beli itu, terutama menjadi wadah bagi para pengusaha UKM  (Usaha Kecil Menengah) agar produknya semakin dikenal di seantero Indonesia, bahkan dunia. Coba kalau hanya dijual di toko fisik, ya hanya warga di sekitar toko itu yang beli, kan?

Banyak dapat ilmu di sini

Dari acara ini, saya jadi tahu bahwa pemakaian domain pribadi itu untuk meningkatkan kepercayaan pembaca terhadap tulisan di blog kita. Dipikir-pikir ada benernya juga ya. Kalau lagi googling, nyari info ini itu, saya sendiri lebih percaya informasi dari blog berbayar daripada blog gratisan.


Testimoni blogger yang bekerjasama dengan Tokopedia
Wah, senengnya ikut acara kayak gini, karena memperbanyak ilmu dan kesempatan memperoleh penghasilan dari ngeblog. Pulangnya, ditraktir minum kopi pula sama Mak Nunung Yuni, dan kongko-kongko bareng Mbak Arin Murtiyarini juga. Serasa me time ala emak-emak. Mudah-mudahan kapan-kapan saya bisa ikut acara kayak gini lagi, aamiin…. Yuk, semangat ngeblog!

Selasa, 16 Juni 2015

Marhaban ya Ramadan: Resolusi Ramadan Tahun Ini

Insya Allah, besok kita sudah memasuki bulan Ramadan. Semoga kita bisa menjalaninya dengan sukses dan lancar, kembali menjadi suci. Menjalankan ibadah puasa adalah sungguh teramat berat, karena kita harus menahan seluruh hawa nafsu. Tak hanya makan dan minum, tapi juga marah, dengki, iri, sedih, dan sebagainya. Sebagai ibu dengan tiga anak-anak usia balita yang sedang liburan (otomatis semuanya ada di rumah), emosi saya akan benar-benar ditempa di bulan Ramadan ini. Saat haus dan lapar, saya harus menghadapi kelakuan tiga anak yang sering bikin pusing kepala. Semoga Allah memudahkan saya menjalankan ibadah puasa. 


Dunia maya juga sering menjadi ujian keimanan. Kalau di dunia nyata sih bisa diatur, karena saya jarang bergaul dengan ibu-ibu tetangga, jadi tidak pernah berkelahi hehe.... Nah, di dunia maya ini justru emosi harus bisa ditata. Lho? Kenapa bisa sampai emosi, Mpok? Ya, terkadang status-status facebook itu memancing emosi, lho, tentang apa saja. Dari mulai personal sampai isu-isu yang sedang hangat. Sayang banget puasanya kalau sampai terpancing emosi dari status orang-orang dunia maya. 

Beberapa resolusi saya di bulan Ramadan ini (semoga dapat dijalankan dengan baik):
  • Membimbing anak-anak berpuasa untuk pertama kalinya, pasti ini butuh kesabaran juga dari orangtuanya. 
  • Lebih fokus di dunia nyata dengan membimbing anak-anak belajar. Sebulan liburan, kalau tidak belajar, bisa-bisa lupa lagi ilmunya. Belajar yang paling utama itu untuk anak pertama adalah membaca dongeng, salat, dan menghapal Juz 30, sedangkan anak kedua difokuskan belajar membaca karena mau masuk SD. 
  • Memperbanyak volume ibadah yang selama ini irit banget, terutama salat sunah dan tilawah. Otomatis, jadwal menulis akan berkurang. Saya sih inginnya tidak terlalu ngoyo mengikuti lomba blog untuk sebulan ke depan. Masa sudah ngos-ngosan selama 11 bulan, 1 bulan saja tidak bisa fokus ibadah? 
  • Memperbaiki akhlak, terutama akhlak kepada suami. Lebih maksimal lagi menyenangkan hati suami. Misalnya, menyambut kepulangan suami dari kantor (jadi, selama ini?? :D). 
  • Lebih pemurah lagi dalam berzakat, sedekah, dan infak. 
Semoga resolusi Ramadan saya dapat tercapai, aamiin.....

Terkhusus untuk pembaca blog ini, jika saya pernah menuliskan kata-kata di blog ini yang membuat Anda marah, sebal, terhina, tersinggung, dan sebagainya, mohon dimaafkan setulus-tulusnya yaa... Jika Allah saja mengampuni segala dosa manusia, mengapa manusia tidak? Semoga Allah menempatkan kita di surga-Nya, bertetangga dengan para Nabi-Nya. Aamiin...

Minggu, 14 Juni 2015

Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba untuk Indonesia Emas 2045



http://bnnpaceh.com/
Rehabilitasi 100.000 penyalahguna narkoba adalah salah satu cara untuk mengatasi dampak narkoba terhadap generasi muda. Baru-baru ini, Presiden Jokowi menjatuhkan eksekusi mati kepada para pengedar narkoba. Langkah berani yang patut diacungi jempol, mengingat bahwa pengedar narkoba telah membunuh ribuan anak bangsa dan membuat ribuan yang lain terperangkap dalam jerat narkoba. Semoga saja dengan hukuman mati yang sungguh-sungguh dilaksanakan kepada para pengedar narkoba itu, kelak mereka akan pikir-pikir lagi ketika hendak memasarkan narkoba ke Indonesia. 


Penegakan hukum kepada para pengedar narkoba memang harus sungguh-sungguh. Pengalaman membuktikan, para pengedar narkoba tidak bertobat meskipun sudah dijatuhi hukuman mati seumur hidup. Mereka bahkan masih berjualan narkoba di dalam lapas dengan dibantu oknum-oknum penjaga penjara. Narkoba membuat kecanduan, tak hanya pemakai tapi juga pengedar. Harga jualnya yang sangat tinggi dapat membuat pengedarnya menjadi kaya raya. Saya setuju dengan hukuman mati untuk para pengedar narkoba. 

Mengapa tidak? Pembunuh berencana dan sadis saja dapat dikenakan hukuman mati, apalagi pengedar narkoba yang membunuh ribuan orang. Mereka memang tidak menggunakan senjata tajam, seperti golok dan parang, tetapi senjata biologis berupa narkoba. Senjata itu justru lebih berbahaya karena menyerang tanpa sadar dan bersifat massif. Korbannya tak tanggung-tanggung. Presiden Jokowi menyebutkan, setiap harinya rata-rata lima puluh orang anak bangsa meninggal karena narkoba. Alasan kemanusiaan rasanya tak pantas diajukan untuk para pengedar narkoba agar bebas dari hukuman mati. Nyawa lima orang anak bangsa lebih berharga daripada nyawa satu orang pengedar narkoba.  

Salah seorang teman saya di Sekolah Dasar, sebut saja namanya Wawan, terkena dampak narkoba. Wawan adalah anak kedua dari tujuh bersaudara dan tinggal persis di sebelah rumah saya. Saat saya masih SMA, tetangga-tetangga ramai membicarakan Wawan yang tertangkap basah mencuri televisi di rumah tetangga. Wawan dipenjarakan pada usia remaja. Asalannya mencuri televisi adalah untuk membeli narkoba, karena Wawan sudah kecanduan narkoba. Orangtua Wawan yang seorang guru juga mengalami kebangkrutan gara-gara hartanya habis dikuras Wawan untuk membeli narkoba. Mereka pun menjual rumah di samping rumah orangtua saya itu, dan pindah ke kampung yang harga rumahnya lebih murah. Mereka juga malu karena anaknya terjerat narkoba. Narkoba dapat menyerang siapa saja, sekalipun orang itu adalah anak seorang guru yang notabene seorang pendidik.

Saya tidak tahu bagaimana kabar Wawan lagi, tetapi cerita mengenai dampak narkoba kembali saya dapatkan dari seorang teman yang kini masih berjuang mencari rezeki demi melunasi utang orangtuanya. Utang yang muncul karena perilaku kakaknya yang kecanduan narkoba. Akibat anaknya kecanduan narkoba, ibunya pun meninggal karena serangan jantung. Kakaknya menjalani rehabilitasi untuk menghilangkan kecanduan, tapi tidak berhasil dengan mudah. Godaan untuk memakai narkoba masih terus menghantui. Teman saya harus bekerja keras untuk melunasi utang orangtuanya yang mencapai ratusan juta.  Lihatlah, dampak narkoba bukan hanya menimpa pada si pemakai tapi juga keluarganya. Dampak narkoba itu luas, sangat luas. 

Seorang teman saya pun terpaksa pindah ke kampung, karena kota tempatnya tinggal selama tujuh tahun di Jakarta telah menjadi sarang narkoba. Tetangga kanan kirinya adalah pemakai narkoba. Narkoba tak dianggap sebagai barang haram, melainkan seperti cemilan sehari-hari. Teman saya sudah terbiasa melihat tetangganya menyuntikkan narkoba di depan rumah dengan santai dan tanpa beban. Memakai narkoba itu pun diturunkan dari kakek ke anak lalu ke cucu dan seterusnya. Entah mengapa bisa sampai begitu. Dalam seminggu, sudah tidak aneh melayat ke rumah tetangga yang meninggal karena over dosis. Naudzubillahimindzalik. Jika tak ada penegakan hukum yang tegas kepada para pengedar narkoba, maka tak akan heran lagi bila kelak seluruh penduduk Indonesia menjadi terbiasa memakai narkoba. 

Para bandar dan pengedar narkoba memang patut diukum mati, tetapi para penyalahguna narkoba sebaiknya direhabilitasi. Mereka bisa jadi adalah ayah dari anak yang masih kecil-kecil, ibu yang menjadi tulang punggung keluarga, anak semata wayang dari orangtua yang penuh pengharapan, bahkan seorang pengajar di sebuah perguruan tinggi ternama. Sebab, narkoba tak memilih korban. Siapa saja bisa terkena. Hasil survey nasional tahun 2015, terdapat 12.044 atau 33 orang setiap harinya yang meninggal karena penyalahgunaan narkoba. 

Badan Narkotika Nasional (BNN) menggelar program rehabilitasi gratis bagi para pecandu narkoba yang dilaksanakan mulai tanggal 6 April 2015. Targetnya, tahun ini dapat merehabilitasi 100 ribu penyalahguna narkoba. Aceh, sebagai provinsi yang mendapatkan julukan sebagai Serambi Mekkah, ternyata juga tidak luput dari peredaran narkoba. Dari data BNN Aceh, terdapat 6000-7000 pecandu narkoba yang harus direhabilitasi, sedangkan kuota yang diberikan oleh BNN hanya 1.400. Itu berarti, para pecandu narkoba harus menjalani rehabilitasi secara swadaya (mandiri), yang mana sebagian besar dari mereka tidak memiliki kemampuan secara finansial.  Terutama mereka yang tinggal di desa-desa dan jauh dari fasilitas kesehatan.

Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah telah mendeklarasikan Gerakan Nasional Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Nakoba di halaman kantor Gubernur Aceh, pada tanggal 6 April 2015, demi mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045. BNN Provinsi Aceh memprakarsai dan memfasilitasi kegiatan tersebut. Kegiatan itu memang sangat penting, mengingat pada tahun 2014, diperkirakan penyalahguna narkoba mencapai 4 juta jiwa dari total penduduk Indonesia dan merugikan negara sebanyak 63, 1 triliyun. Program rehabilitasi akan disebar ke seluruh puskesmas dan rumah sakit.  

Rehabilitasi 100.000 penyahguna narkoba memang sangat penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah mencegah agar kita tidak terkena dampak narkoba. Beberapa hal yang bisa kita lakukan agar tidak terkena dampak narkoba, diantaranya:

  1. Mendekatkan diri dan keluarga kepada Allah SWT: Di dalam agama Islam, khususnya, kita dilarang menyakiti diri sendiri. Menyalahgunakan narkoba (memakai narkoba tanpa ada kepentingan medis) adalah tindakan menyakiti diri sendiri. Apabila kebutuhan akan narkoba itu tidak terpenuhi, kita akan terkena sakaw yang konon sangat menyakitkan. Jika keluarga sudah didekatkan dengan nilai-nilai agama sejak dini, insya Allah bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah terkena penyalahgunaan narkoba. 
  2. Menjalin komunikasi yang erat di antara anggota keluarga: Orangtua adalah guru pertama bagi anak-anaknya, sebab orangtualah yang mestinya memiliki lebih banyak waktu bersama dengan anak-anaknya. Dari kebersamaan itu, orangtua bisa memasukkan pendidikan-pendidikan moral dan akhlak, termasuk pengetahuan mengenai bahaya pemakaian narkoba. Anak-anak juga membutuhkan kehangatan dan kasih sayang orangtua agar tidak mencarinya di tempat lain, misalnya dengan menggunakan narkoba. Rasa kesepian seringkali  membuat anak mencari obat yang bisa menghilangkan kegalauan. Sayangnya, narkoba adalah obat yang bisa membuat pemakainya “FLY” atau merasa terbang dan lupa akan kesedihan-kesedihannya. 
  3. Hati-hati dalam bergaul: “Bergaul dengan minyak wangi, maka akan ketularan wanginya. Bergaul dengan tukang ikan, maka akan ketularan bau amisnya.” Kalimat itu ada benarnya. Kita memang harus memilih-milih teman dalam bergaul, terutama mereka yang dapat memberikan dampak negatif kepada kita. Bukan berarti kita tidak boleh bergaul dengan penyalahguna narkoba, tetapi berhati-hatilah dalam bergaul, jangan sampai kita ikut terjemurus menjadi pemakai narkoba. 
  4. Ikut kampanye Say No pada Narkoba: Saya menulis tentang narkoba di blog ini, salah satunya untuk ikut serta mengampanyekan gerakan anti narkoba. Semoga dengan tulisan saya ini, makin banyak orang yang tercerahkan bahwasanya narkoba benar-benar harus dijauhi karena dapat merusak diri sendiri dan merugikan orang lain. 


Semoga Indonesia dapat terbebas dari narkoba untuk Indonesia Emas tahun 2045.


http://blog.bnnpaceh.com/syarat-ketentuan/


Sumber referensi: