Kamis, 19 November 2015

Bakmi Apin Sukajadi Bandung, Tandas dalam Sekejap

Bakmi Apin, Sukajadi, Bandung
Assalamu'alaikum. Selamat malam, semuanyaaa! Alhamdulillah, dapat kesempatan ngeblog lagi setelah menyelesaikan berbagai tugas prioritas. Setelah diselingi cerita lain, saya mau putar balik ke cerita jalan-jalan Bandung, sebulan yang lalu. Soalnya, memang masih ada beberapa cerita yang belum diterbitkan di blog ini, hehehe.... Waktunya itu lho, susah banget membaginya. Badan sudah tepar duluan karena pekerjaan rumah tangga yang nggak ada habisnya dan pekerjaan menulis lainnya. 


Oke, deh... sebelumnya kan saya cerita jalan-jalan ke Mall Paris Van Java. Setelah jalan-jalan itu, kami mampir ke Bakmi Apin untuk makan siang sekaligus malam. Jiyaaah, kasihan banget ya, baru sempat makan. Makanya, judul tulisan ini sesuai banget: Tandas dalam Sekejap. Selain karena memang lapar, bakminya juga enak kok. Restoran Bakmi ini adanya masih di sekitar jalan Sukajadi, Bandung. Tempatnya luas dan nyaman. Ismail yang sudah tertidur sejak di mobil, nggak mau turun. Ya sudah, kami jadi hanya makan berempat. Eh, tapi Sidiq sudah nggak mau makan karena sudah makan Pizza. Saya hanya pesan dua porsi untuk saya dan suami. 





Sambil menunggu bakminya siap, saya mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran yang agak sepi. Restorannya bersih sekali. Di depan restoran tadi saya sudah melihat ada logo halalnya. Pelayannya juga ada yang berjilbab. Saya pesan mie kuah dengan bakso, sedangkan suami pesan mie goreng. Per porsi Rp 30.000. Harga yang wajar sih untuk restoran yang berlokasi di tengah kota. Suami pesan teh manis, eh pesannya kebanyakan, sampai lima gelas! Hehehe.... Kembung, deh. 

Pesanan saya

Pesanan suami

Tak berapa lama, pesanan kami pun datang. Anak-anak makan baksonya saja, karena mereka kelihatan sudah lelah. Saya makan bakminya, wuiiih... rasanya enaaak.... Mienya gurih, kaldunya sangat terasa. Taburan daging ayamnya itu lho, sedap sekali. Baksonya juga terasa banget daging sapinya. Alhamdulillah, sampai nggak terasa tahu-tahu sudah habis. Pengennya sih nambah lagi, tapi karena teh manisnya kebanyakan, jadi saya kenyang minum teh manis. Suami juga sudah kenyang. Alhasil, kami nggak makan lagi di hotel. Keputusan untuk nggak makan malam lagi, agaknya sedikit saya sesalkan karena jam sembilan malam, saya sudah merasa lapar lagi hehehe.... Sepertinya aroma dan rasa Bakmi Apin masih terus mengikuti saya. Semoga kapan-kapan bisa mampir lagi.

Foto sambil menunggu bakminya siap













Selasa, 17 November 2015

Makin Cerdas Gunakan Obat dengan Ikut GeMa CerMat



Masyarakat cerdas gunakan obat

Assalamu’alaikum. Alhamdulillah, pagi ini saya masih melihat matahari bersinar cerah meskipun sedikit mendung tapi tak ada tanda-tanda hujan. Justru enak ya cuacanya, adem. Bulan November ini, kita sudah memasuki musim penghujan. Memang agak telat beberapa bulan. Biasanya bulan September sudah hujan, konon karena ada El Nino yang menahan hujan. Yang penting kita sudah diberikan hujan lagi, daripada tidak hujan sama sekali. 


Omong-omong tentang hujan, saya khususnya sebagai ibu mesti siap-siap karena musim hujan itu sering membawa penyakit flu, batuk, pilek, dan diare. Saya masih punya tiga anak kecil-kecil yang harus dijaga benar kesehatannya. Dulu kami sering ke dokter anak hanya untuk mengobati penyakit-penyakit langganan tersebut. Ada rumah sakit yang baru dibuka, antriannya masih sedikit. Setelah beberapa tahun berdiri, hiyaa ampuuun…. Mau datang pagi, siang, bahkan malam, tetap saja antrinya berjam-jam. Anaknya keburu rewel. Saya lihat, memang antrian di dokter anak itu paling panjang dibandingkan dengan spesialis lain. Sekarang kalau sakitnya belum parah, saya belum ke dokter. Apalagi hanya batuk, pilek, dan demam. Diobati dulu di rumah. Setelah tiga hari belum sembuh dan sakitnya masih parah, baru deh dibawa ke dokter.  

Bukan hanya karena antrian yang panjang itu yang membuat kami (saya dan suami) meminimalisir pergi ke dokter, tapi juga bertambahnya pengetahuan mengenai obat dan penyakit. Hal yang sama saya dapatkan dalam Talkshow “Cerdas Menggunakan Obat” yang diadakan oleh GeMa CerMat (Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat) dalam acara Pameran Pembangunan Kesehatan 2015 di Hall C1-C2, JIExpo, Kemayoran Jakarta, tanggal 14 November 2015 lalu. 

foto dulu sebelum masuk
GeMa CerMat adalah upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui rangkaian kegiatan untuk mewujudkan kepedulian, kesadaran, pemahaman, dan keterampilan masyarakat dalam menggunakan obat secara tepat dan benar. Ini sesuai dengan strategi pembangunan kesehatan yang dituangkan dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 (Kepmenkes No. HK.02.02/MENKES/52/2015), diantaranya meningkatkan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di bidang farmasi, yaitu dengan meningkatkan pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional di fasilitas kesehatan.

Pada Pameran Pembangunan Kesehatan itu, kita dapat menjumpai berbagai stand kesehatan sesuai spesialisasinya, ada dari RS. Bhakti Husada, Kebidanan, Perkembangan Anak, dan lain-lain.  Saya hanya sempat mampir ke tiga stand tersebut, karena langsung mengikuti acara Talkshow. Di stand RS. Bhakti Husada, saya sempat mengikuti kuis mengenai narkoba. Cukup menambah pengetahuan kita. Di stand Perkembangan Anak, saya menanyakan soal anak kedua saya yang susah diajari membaca, usianya sudah 7 tahun. Sayangnya, si mbaknya kurang bisa menjawab pertanyaan, hanya menyuruh saya untuk menghubungi nomor konsultasi yang ada di brosur. Dia mengatakan kemungkinan Dislexia, tapi tetap harus diperiksa dulu oleh ahlinya. 

Demo membuat jamu
Talkshow dimulai pukul 10.00 WIB dan dibuka dengan demo membuat jamu oleh kru Kampung Djamoe Organic bentukan Ibu Dr. Martha Tilaar, seorang pengusaha jamu dan kosmetik herbal yang sangat tersohor. Kampung Djamoe Organic yang berlokasi di pusat industri Cikarang, Bekasi itu aktif mengedukasi pengunjung mengenai jamu-jamu herbal yang bermanfaat untuk kesehatan. Dalam demo kemarin, kami disuguhi dua resep membuat jamu, diantaranya untuk menurunkan kolesterol. Resepnya mudah saja, hanya dengan memblender  buah mangga, jeruk nipis, jahe, dan daun jati belanda. Saya pun mencicipinya dan rasanya enak. 

Ini dia jamu menurunkan kolesterol
Kurang lebih setengah jam kemudian, Mira Sahid selaku perwakilan dari GeMa CerMat pun menaiki panggung dan membuka acara beserta dua orang narasumber: Dr. Purnamawati Sp.A(K), pendiri Yayasan Orang Tua Peduli (YOP), anggota Komite Pengendalian Anti Mikroba Kemenkes RI, dan Dr. Azizahwati, Apt, Ketua Umum Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DKI Jakarta dan Praktisi Farmasi Komunitas. 

Mira Sahid, Dr. Azizah Wati, Dr. Purnamawati
Narasumber pertama, Dr. Purnamawati Sp.A(K) menjelaskan mengenai penyakit-penyakit langganan yang tidak memerlukan obat, yaitu flu, batuk, pilek, muntah, dan diare. Kalau kita ke dokter anak, pasti dikasih antibiotic untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut. Padahal, penyakit-penyakit tersebut tidak memerlukan antibiotic, malah tidak perlu obat. Pada umumnya, bisa sembuh sendiri. Untuk diare, obatnya cukup dengan oralit. Kalau kita terbiasa minum antibiotic, bakteri akan resisten (kebal) terhadapnya, bahkan bisa mematikan bakteri yang baik.

Pernah dengar kan yang namanya bakteri dan virus? Apa persamaan keduanya? Ada yang menjawab, keduanya sama-sama makhluk hidup. Memang, keduanya hidup, tapi ternyata virus bukan mahkluk hidup karena tidak dapat membiakkan diri. Bakteri adalah makhluk hidup, karena jumlahnya bisa bertambah. Bakteri itu ada yang baik dan yang jahat. Bakteri baik justru bermanfaat untuk pertahanan diri. Penyakit yang selama ini sering mampir, seperti batuk, muntah, diare, dan panas, itu sebenarnya itu pertahanan diri. Saat batuk, artinya tubuh sedang membersihkan paru-paru. Jika tubuh demam (panas), berarti dia sedang melawan bakteri jahat dengan memanaskannya. Contohnya, kita mematikan kuman di air (supaya bisa diminum), dengan memanaskannya (memasaknya). Kalau muntah dan diare, artinya tubuh sedang membuang racun. 

Apa beda bakteri dan virus?
Nah, itu dia mengapa penyakit-penyakit langganan itu sesungguhnya tidak perlu obat antibiotik, kecuali kalau sudah mengeluarkan darah. Bagaimana cara mengatasinya? Cukup dengan istirahat, banyak minum, minum Paracetamol (itupun jika tubuh sudah tidak terasa nyaman) saat demam dan sakit kepala, matikan AC, jangan minum antibiotic, dan jangan menulari orang lain (gunakan masker, cuci tangan dengan sabun, menutup mulut saat batuk). Agar tidak mudah sakit, caranya dengan makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, cuci tangan dengan sabun, imunisasi lengkap, dan berolahraga. 

Penggunaan antibiotic yang berlebihan itu ternyata justru bisa menambah sakit dan bahkan menyebabkan kematian! Duh, ngeri ya. Jadi, sudah paham kan, sekarang tidak perlu sebentar-sebentar ke rumah sakit sampai antri berjam-jam. Kalau penyakitnya ringan, tidak perlu obat. Parasetamol juga hanya diminum saat tubuh sudah terasa tidak nyaman. Kalau baru panas-panas sedikit, jangan diminum dulu. Biasanya, tubuh mulai terasa tidak nyaman saat suhu tubuh sudah mencapai 39 derajat Celsius. Cara untuk menurunkan panas yang paling mudah, tanpa obat, ya dengan mengompres air hangat dan minum yang banyak. 

Caranya gampang!
Selanjutnya, Dr. Azizah Wati, Apt, menjelaskan tentang macam-macam obat dengan memanggil beberapa peserta ke depan. Mereka diberikan obat-obatan yang biasa didapatkan di apotek. Perhatikan logonya, ternyata logonya berbeda-beda lho. Ada yang warnanya biru, hijau, dan merah. Logo merah itu berarti obat keras dan mengandung antibiotic. Penggunaannya harus dengan resep dokter. Ingat, yah, lebih baik membeli obat di apotek daripada di warung! Kalau di apotek, kita bisa tanya ke apoteker mengenai manfaat obat tersebut. Selain itu, penyimpanannya juga lebih higienis dan kadaluarsanya pun diperhatikan. Coba kalau di warung, sering kali disimpan sekenanya, juga tidak diperhatikan kadaluarsanya. Sedangkan logo biru dan hijau dapat dibeli bebas, tapi logo biru harus menaati aturan pakainya.

Dr. Azizah juga memberikan tips menyimpan obat, yaitu di dalam kotak obat (tempat penyimpanan khusus), atau di dalam toples yang bersih. Jangan bercampur dengan benda-benda lain yang bukan obat. Hindari juga terkena sinar matahari langsung, karena itu dapat merusak obat. Biarpun tanggal kadaluarsanya masih lama, obat bisa rusak kalau penyimpanannya tidak benar. Cara meminum obat pun bukan hanya sehari tiga kali atau dua kali, tapi jarak waktunya harus sama. Misalnya, setiap enam jam sekali. Sedangkan kalau malam, tidak mengapa jaraknya lebih lama, karena mekanisme tubuh melambat saat tidur. 

Dengan adanya talkshow ini, diharapkan kita menjadi lebih cerdas dalam menggunakan obat, terutama antibiotic. Jangan sampai kita yang tadinya mau sembuh, eh malah sakit gara-gara kebanyakan minum antibiotic. Acara juga diisi dengan kuis-kuis menarik berhadiah merchandise.  Asyiknya, yang dapat hadiah. Kemudian, ditutup dengan perkenalan Gema Cermat dari Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian, Drs. Bayu Teja Muliawan, Apt, M.Pfarm dan foto-foto bersama narasumber dan Ibu Maura Linda Sitanggang, PhD, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat kesehatan (Dirjen Binfar dan Alkes).


Alhamdulillah, senang sekali, dengan mengikuti acara ini, saya jadi tahu cara cerdas menggunakan obat. 

Blogger GeMa CerMat dan Ibu Maura Linda Sitanggang, PhD.

Kamis, 12 November 2015

Food Combining Itu Gampang dengan Pakai Aplikasi Ini!



Food Combining?! Oh, tidaaaak! Setiap hari di linimasa facebook saya, pasti ada saja teman facebook yang memposting menu makanan mereka yang katanya sih Food Combining. Entah mengapa, kebanyakan menunya itu kalau nggak sayur ya buah. Apakah Food Combining itu hanya buah dan sayur? Saya sebenarnya sudah tahu tentang Food Combing dari zaman kuliah dan masih langsing. Seorang teman kuliah, mengajak saya menerapkan pola makan itu. Katanya, dimulai dengan tiga hari pertama, detoksifikasi minum jus buah saja. Maksudnya?! Ya, itu, selama tiga hari pertama, kita hanya minum jus buah. Awalnya sih diare, tapi itu artinya tubuh sedang membuang racun. Setelah tiga hari, baru deh dimulai pola makan Food Combining sesuai rumus yang dijelaskan di dalam buku panduannya, ditulis oleh Andang W. Gunawan.


Ketika mendengar penjelasan teman saya itu, saya langsung EMOH! Aje gile, minum jus buah selama tiga hari? Nggak makan apa-apa lagi? Nggak kebayang laparnya. Maklum, si Ratu Makan. Untungnya, saya tetap langsing. E ciyeee…. Kata teman saya, FC itu nggak hanya untuk melangsingkan, tapi juga mengobati dan mencegah berbagai penyakit. Ah, syudahlah, saya nggak mau minum jus buah saja selama tiga hari pertama. Kemudian saya lulus kuliah, bekerja, menikah, punya anak, dan berat badan bertambah 20 kilogram lebih. Oh, my God

Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu Food Combining ngetren lagi, disosialisasikan kembali oleh Erikar Lebang. Orang-orang pun berbondong-bondong mempraktekkannya dan memamerkannya di sosial media. Ya, seperti itulah, rata-rata memposting sarapan buah dan sayur mereka hari itu, seolah-olah FC itu hanya buah dan sayur. Ada pula yang mencampur buah dan sayur, dijus yah. Saya belum mencoba sih, tapi katanya enak. Sayur seperti Brokoli dan Sawi yang biasanya dimasak jadi Capcay, ini mah dijus mentah dan diminum. 


Saya mulai terpikir ikut-ikutan. Pertama, supaya langsing kembali seperti waktu masih muda. Kedua, supaya sehat. Semakin tua, penyakit semakin mudah datang. Pola makan saya masih berantakan. Makan nggak sesuai waktu (menunggu lapar) dan makan apa aja yang ada. Ditambah lagi, saya jarang makan buah! Sejak kecil, orangtua nggak membiasakan makan buah. Kalau ada buah-buahan kiriman orang, pasti deh membusuk karena nggak dimakan. Sayang banget, ya…. Itu kenapa orangtua harus membiasakan makan buah sejak anak-anak masih kecil, karena kebiasaan itu akan dibawa terus sampai mereka besar. 

Alhamdulilah, saya menikah dengan laki-laki yang suka makan buah. Di dalam keluarganya, buah-buahan selalu ada di meja makan, tapi cara makannya bukan FC ya. Buah-buahan dimakan sebagai penutup makan besar. Setelah makan nasi dan lauk pauknya, dilanjut dengan makan buah. Itu artinya, semuanya masuk, ya karbohidrat, protein, vitamin, halah! Setidaknya, saya mulai terbiasa makan buah walaupun pola makannya masih sembarangan. 

Beberapa waktu lalu, saya sudah mencoba FC kecil-kecilan. Pagi hari dibuka dengan air jeruk nipis hangat, lalu sarapan buah. Siang hari, saya coba makan menu karbohidrat dan sayur atau sayur dan protein hewani. Kemudian, menjelang sore, saya makan kudapan buah lagi. Malamnya, makan dengan menu seperti siang hari. Aduh, rasanya seperti sedang berpuasa. Lapar terus, hehe…. Belum lagi, ribetnya menentukan menu. Saya kebingungan besok menunya apa, besoknya lagi apa, dan seterusnya. Akhirnya, saya balik lagi ke pola makan sembarangan, dan hasilnya… badan terasa berat, asam lambung pun meningkat. Padahal, saya sudah banyak makan dan apa saja dimakan, lah kok perut merintih-rintih seperti terkena magh. 

Install aplikasinya di Play Store
Syukurlah, saat sedang berselancar di internet, saya menemukan aplikasi Food Combing Itu Gampang yang dipublikasikan oleh Mizan Apps (MAP). Wow! Ini nih aplikasi yang saya cari! Segera saja saya unduh di Play Store (gratis, lho!), dan langsung saya utak-atik. Ahaaaayy! Ini dia aplikasi yang bikin FC jadi mudah! Seperti apa sih aplikasinya?

Ada beberapa menu, yaitu: Kiat, Diari, Buku, Pengaturan, Akuan, Tentang. Nah, saya coba klik Kiat, dan di situ terbukalah informasi yang selama ini kita nggak tahu bahwasanya makan buah itu dilakukan dalam keadaan perut kosong dan nggak boleh makan buah sesudah makan. Wah! Beda banget ya dengan omongan orang-orang zaman dulu, dilarang makan buah saat perut kosong, nanti bisa diare. Sayangnya, kiatnya baru segitu, mestinya ditambahin lagi info-info lain berkaitan dengan FC. Eh, info lengkapnya bisa dibaca di bukunya, “Food Combining Itu Gampang” karya Erikar Lebang. 

Menu Aplikasi
Kemudian di menu Akuan, kita bisa mengetahui siapa saja yang bekerjasama membuat aplikasi ini, dari mulai Produser, Koordinator Produser, Konseptor, UI Desainer, Programmer, dan Penulisnya. Tentu saja penulisnya ya Erikar Lebang, yang terkenal getol mengampanyekan FC. 

Yang paling asyik itu Diari makannya. Di situ sudah ada kolom-kolom kosong selama sebulan yang bisa kita isi dengan rencana menu harian. Menunya pun sudah disiapkan, kita tinggal pilih. Pagi hari dimulai dengan Jeniper (jeruk nipis peras), lalu sarapan buah (bisa buah potong maupun jus), kemudian menu makan siang (tanda hijau berarti boleh dipilih, tanda merah berarti tidak boleh dipilih), kudapan sore, dan terakhir makan malam.

Diari makan yang bisa dipilih

Cara membuat Jeniper

Enaknya sarapan dengan jus mangga :D

Naaah.. untuk menu makan siang dan malamnya itu kan biasanya kita bingung menentukan menunya. Kita tinggal pilih, mau menu karbohidrat atau protein? Untuk makan siang, saya pilih menu protein. Lalu, ditampilkanlah pilihan menu protein, dan saya pilih Ayam dan Brokoli. Itu dia kuncinya, dalam rumus FC, protein hewani nggak boleh dicampur dengan karbohidrat, seperti nasi. Teman makannya harus sayuran. Enaknya lagi, menu-menu yang ditampilkan itu adalah menu keseharian yang mudah didapat, jadi bisa diikuti. 

Brokoli dan Ayam
Kudapan sorenya disesuaikan dengan menu makan siangnya. Berhubung siangnya saya sudah makan dengan menu protein, jadi kudapan sorenya saya pilih alpukat saja. Alpukat kan bikin kenyang, apalagi kalau minumnya satu teko hehe…. Alpukatnya dibikin jus, gitu. Wih, sedaaap…

Kudapan sorenya pilih alpukat
Lalu, makan malamnya, saya pilih menu karbohidrat, yaitu Nasi dan Kubis (Bunga Kol). Rumusnya masih sama, karbohidrat nggak boleh dicampur dengan protein hewani. Nasi dan sayur sudah cukup mengenyangkan. Untuk menu-menu hari berikutnya, sistemnya sama. Kita bisa merancang menunya sampai sebulan supaya nggak bosan. Untuk melengkapi pengetahuan, ya sekalian saja baca bukunya yang sudah diterbitkan oleh Qanita Mizan.

Ini dia menu makan saya satu hari!
Aiiih… FC jadi gampang banget ya dengan aplikasi ini. Aplikasi ini akan diluncurkan besok Jumat, 13 November di Kinokuniya, Plaza Senayan Jakarta, pukul 15.00-17.00 WIB. Kalau ada waktu, datang saja. Lumayan kan bisa dapat informasi penting tentang FC. Kalau mau serius FC, unduh pula aplikasinya, setelah itu dipraktekkan. Saya sendiri baru mau mulai nih setelah ketemu aplikasi ini. Semoga saja  bisa konsisten, kalau menu-menunya sudah ditentukan begini kan enak. Semangaaat! 



Selasa, 10 November 2015

Paris Van Java, Mall Bergaya Eropa

Assalamu'alaikum. Kangen ngeblog nih! Dua bulan ini (November dan Desember) sedang fokus menulis buku, alhasil blog terbengkalai. Rencana mau ikut lomba-lomba blog pun banyak yang gagal, karena prioritas menulis naskah buku yang deadline Desember. Kecuali reportase even, terpaksa harus diikuti karena sudah diundang kan hehe.... Terakhir serius ikutan lomba itu saat sedang di Bandung, liburan bersama keluarga. Menginap di hotel deJava Sukajadi Bandung, yang lokasinya berhadapan dengan Mall Paris Van Java. Bisa ditebak kan, saya pasti jalan-jalan juga ke mall itu. 


Saat akan menuju ke lokasi hotel, kami sudah melewati mall itu. Suami sudah antusias menunjuk-nunjuk ke arah bangunan mall, "Itu Mall Paris Van Java. Nanti tinggal nyebrang aja ke sana." Saya melihat bangunan mall itu, yang sepertinya kecil. Halamannya luas sekali dan bangunannya tidak bertingkat seperti mall-mall lain. Di sampingnya juga sedang ada renovasi, jadi saya pikir mallnya belum jadi. "Ah, kayaknya nggak menarik," kata saya. 

Menuju pintu masuk Mall

Besoknya, kami benar-benar mengunjungi mall itu sekadar jalan-jalan. Enak kan tinggal nyebrang. Ternyata apa yang ada di pikiran saya berbeda! Mall itu sangat besar, hanya besarnya ke samping bukan ke atas. Lapangannya luaaaas.. kemudian kami bingung mencari jalan masuknya. Suami sih sudah duluan ke sana, dia bilang, "Mallnya membingungkan. Nggak jelas gimana konsepnya." Halah! Kok ada mall membingungkan? Mungkin karena desainnya berbeda dengan mall-mall lainnya. 


Jalan masuk ke dalam mall itu memang misterius. Outlet-outletnya berjajar di muka mall, dari mulai Starbuck, Burger King, Domino;s Pizza, Carrefour, dan sebagainya. Nah, jalan masuk ke mallnya itu di mana? Ya, kan biasanya outlet-outlet itu adanya di dalam mall, lah kok itu di luar. Kami kan mau jalan-jalan ke mallnya, bukan langsung masuk ke dalam outlet-outlet itu.  


Akhirnya, kami coba susuri pelataran outlet-outlet itu. Dari hasil googling, saya baru tahu deh kalau konsep mall ini adalah Open Air (terbuka). Jadi, outlet-outletnya memang sebagian ada di luar, mirip bazaar pameran. Uniknya, bangunan-bangunannya itu cantik-cantik, bergaya Eropa. Serasa sedang jalan-jalan di Inggris nih, huehehehe..... Sebelum mulai jalan-jalan, anak-anak (terutama Ismail) minta makan dulu. Ya sudah, kami cari tempat makan dan di sana ada banyak tempat makan dari makanan lokal sampai internasional. 

Seperti Bazaar

Setelah makan, kami kembali menjelajahi mall tersebut. Banyak brand-brand terkenal yang membuka outletnya, bahkan ada brand Victoria Secret juga, dengan konsep bangunan Victoria. Ah, kalau gitu mah nggak usah ke Inggris deh. Ke Mall Paris Van Java saja sudah berasa seperti di Inggris. Dibuat foto-foto pernikahan juga oke, asal izin dulu sama pemilik outletnya. Cakep-cakep sih bangunannya. Sampai kita lupa belanja, alias cuma lihat-lihat hihihi.... 

Makan dulu di Domino's
Domino'snya kereen...

Ternyata, mall ini juga ada pintu masuknya, hanya tersembunyi di dalam ya. Kami sampai naik lift dua kali bolak-balik, saking bingungnya turun di mana. Saya lupa ada berapa lantai, tapi kami coba naik ke lantai terakhir, eh kosong melompong. Turun lagi ke bawah, deh. Dalam perjalanan itu, sampailah kami di tempat parkirnya yang tersembunyi dan sepiiii... Saya mau foto parkirannya, tapi gelap euy. Tadinya saya mau belanja dulu di Daily Foodhall, eh tapi kok jalan keluarnya jauh juga dari parkiran. Ya iyalah, kan outletnya ada di luar semua (hanya sebagian kecil di dalam). Ya sudah deh, langsung masuk ke mobil dan pulang. Eh, balik ke hotel, maksudnya :D Katanya tinggal nyebrang, kok mobilnya ada di parkiran mall? Iya, setelah salat Jumat, suami menaruh mobilnya di parkiran Mall, lalu jalan kaki ke hotel menjemput kami, gitu.

Sabtu, 07 November 2015

Menyusuri Sudut-sudut Unik Jakarta dan Beristirahat di Hotel Grand Zuri BSD



Grand Zuri BSD, Feels Like Home

Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi, ketika aku bersiap meninggalkan rumah dan semua isinya, tetapi sayang, anakku yang terkecil menyadari ibunya akan pergi. Dia memegangiku terus, meskipun ayahnya sudah mengajaknya jalan-jalan naik motor. Aku khawatir tidak tiba di Stasiun Citayam tepat waktu, sehingga terpaksa aku meninggalkannya dalam keadaan menangis kencang. Ternyata aku memang terlambat lima belas menit, jadi tidak bisa naik di kereta yang sama dengan kedua temanku. Untunglah keretaku berada di belakang kereta mereka, sehingga kami tiba di Stasiun tujuan dalam waktu berdekatan. 


Aku akan ke Jakarta. Lagi. Hari itu Sabtu, 24 Oktober 2015. Aku sudah membuat janji dengan kedua temanku, Evrina dan Melly, tapi mereka naik dari Stasiun Bojonggede. Kami akan menghadiri undangan dari Jakarta Corners yang bertempat di Hotel Grand Zuri, Bumi Serpong Damai. Lho, katanya Jakarta? BSD kan Tangerang Selatan? Ya, setidaknya aku harus transit dulu di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, lalu naik kereta lagi ke arah Serpong. Jakarta akan menjadi tempat transit sebelum melanjutkan ke tempat tujuan yang sebenarnya.

Saya, Rina Susanti, Nunung Yuni
Benarkah Jakarta hanya tempat transit? Setidaknya begitulah penuturan Donna Imelda, salah satu pemrakarsa situs www.jakartacorners.com, saat memberikan sambutan di acara Blogger Gathering “Telisik Unik Sudut Jakarta” di Hotel Grand Zuri BSD. Situs Jakarta Corners dibuat dengan tujuan untuk mempopulerkan sudut-sudut unik di Jakarta yang bisa dijelajahi sebagai salah satu tempat wisata. Jakarta sebagai tempat wisata, selama ini orang hanya tahu Dufan, Ancol, Ragunan, Taman Mini, dan taman bermain lainnya. Keenam kontributor Jakarta Corners adalah Donna Imelda, Dewi Rieka, Evi Indrawanto, Katerina Es, Salman Faris, dan Shinta Ries, berkomitmen menuliskan obyek-obyek wisata menarik di Jakarta yang selama ini belum banyak diinformasikan, misalnya saja: Kota Tua, Museum, Taman-taman Kota, Gedung-gedung Bersejarah, Kampung Betawi Condet, dan sebagainya. Dengan demikian, nantinya para wisatawan yang ingin berwisata ke Jakarta, bisa mencari informasi dulu di situs Jakarta Corners, sudut-sudut menarik yang bisa dikunjungi. 

Kontributor JC: Donna, Shinta, Katerina, Evi
Tak hanya Jakarta, Jakarta Corners juga akan menginformasikan tempat-tempat wisata yang menarik di sekitar Jakarta (Tangerang, Bekasi, Bogor), dan terbagi ke dalam lima kategori utama: Culinary, Festival, Heritage, Human Interest, dan Event. Bagi yang penasaran sudut-sudut unik apa yang ada di Jakarta, silakan membaca-baca situs Jakarta Corners. Aku pun jadi tertarik ingin mengelilingi Jakarta, tak hanya tempat-tempat yang sudah biasa kukunjungi. 

Jakarta adalah rumahku. Sebagian kenangan masa kecilku tertinggal di Jakarta, tetapi bukan di tempat-tempat wisata yang banyak dikunjungi orang itu. Aku justru belum pernah ke tempat-tempat itu, kecuali Taman Mini Indonesia Indah. Jakarta yang kukunjungi adalah gang-gang sempit, pasar-pasar dengan semua aktivitasnya, orang-orang dengan bahasa Betawi tulen, jalan-jalan padat dengan trotoar yang disesaki pedagang kaki lima, rumah-rumah yang berimpitan dengan alunan musik dangdut yang keluar dari jendela, serta makanan-makanan khasnya dari nasi uduk, kue lopis, kue gemblong, ketoprak, dan kerak telor yang dibawa calon suami saat hendak meminangku. 

Ayahku adalah orang Jakarta asli dan keluarga besar ayahku tinggal di salah satu perkampungan Betawi yang bersebelahan dengan gedung-gedung tinggi. Sampai sekarang, perkampungan itu masih ada meskipun sudah ditawar berkali-kali oleh pengembang untuk digusur dan diganti dengan deretan apartemen atau perkantoran atau mal-mal mewah yang sudah memenuhi Jakarta. Jakarta yang kurasakan adalah seperti yang terekam dalam video yang ditayangkan oleh pembicara utama dalam talkshow ini: Teguh Sudarisman, seorang travel Writer and Photographer, Editor in-Chief of Kalstar inflight Magazine, Author of Travel Writer Diaries, yang catatan-catatan perjalanannya sudah dimuat di berbagai media nasional dan internasional. 

Teguh Sudarisman dan MC Arie Pitax
Ketika aku menyaksikan videonya, seperti kembali ke saat sebelum kakiku memasuki hotel bintang empat, Grand Zuri. Suasana stasiun, pasar, pedagang kaki lima, laju kendaraan umum, adalah hal yang mudah kutemukan saat menyusuri sudut-sudut Jakarta. Namun, baru di Talkshow ini aku mengetahui bahwa hal-hal tersebut dapat kutuliskan menjadi artikel-artikel perjalanan yang dapat dimuat di berbagai media. Dari satu perjalanan, aku bisa menulis banyak artikel: kulinernya, tempat wisatanya, even yang ada di tempat itu, sejarah bangunannya, orang-orang yang ditemui di jalan, transportasi yang digunakan, akomodasi yang digunakan, dan sebagainya. Wow, luar biasa! Jujur, aku baru tahu lho kalau hal-hal yang kuanggap kecil itu juga bisa dituangkan ke dalam tulisan. 

Teguh Sudarisman juga memberikan tips prioritas pengiriman tulisan, yaitu: reportase lengkapnya dikirim ke media nasional, reportase yang tidak terlalu lengkap bisa dikirim ke media online. Pertimbangkan juga untuk mengirim ke media internasional. Bila tidak dimuat di semua media tersebut, baru dimasukkan ke BLOG. Bila blog kita sering memperbarui tulisan, maka akan bisa menjaring iklan dari sponsor atau dimintai untuk mereview produk milik sponsor. Produk apa yang direview? Bisa jadi, salah satunya adalah HOTEL.

Hotel Grand Zuri BSD
Saat sedang berwisata, satu hal yang tak boleh dilupakan adalah akomodasi atau tempat menginap, bukan? Di Indonesia terdapat tak kurang dari 10.151 hotel, dan 570 di antaranya terdapat di Jakarta. Jika digabungkan dengan hotel yang ada di sekitar Jakarta (Tangerang, Bekasi, Bogor), jumlahnya menjadi 728 hotel. Luar biasa, kita tak perlu khawatir lagi mencari tempat menginap di Jakarta ketika bepergian. Dan tempat menginap yang paling nyaman adalah yang rasanya seperti di rumah sendiri, Feels Like Home.  

Bagiku sendiri, menginap di hotel berbintang lebih dari Feels Like Home, tapi Feels Like Heaven. Maklumlah, di rumahku belum ada AC, Shower buat mandi, kasur busa yang empuk, dan wifi 24 jam. Bagi Blogger yang suka bepergian dan menginap di hotel, jangan lupa untuk mereview hotelnya pula, kata Pak Teguh. Bisa jadi nantinya kita mendapatkan tawaran menginap gratis dari hotel yang sudah kita review atau yang belum. Atau, kita juga bisa menawarkan blog kita kepada pihak marketing hotel yang bersangkutan, bahwa kita ingin mereview hotelnya. Kirimkan saja surat penawaran kerjasama mereview hotel tersebut melalui surat elektronik ke bagian marketing hotelnya. Kalau diterima, Alhamdulillah. Kalau didiamkan atau ditolak, cari hotel yang lain. 

Hotel Grand Zuri BSD
Hotel Grand Zuri BSD adalah salah satu dari hotel berbintang tersebut, yang layak dijadikan tempat menginap saat mengunjungi Jakarta dan sekitarnya. Beralamat di Jalan Pahlawan Seribu Kav. Ocean Walk Blok CBD Lot. 6 BSD City, Serpong-Tangerang Selatan, hotel ini dapat ditempuh dengan hanya sekitar 35 menit perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Sebagai hotel bintang 4 (banyak kan bintangnya), lokasi hotel Grand Zuri dikelilingi oleh berbagai fasilitas hiburan dan belanja. Ada Masjid Al-Adzom, Ocean Park Water Adventure, Modern Land Lake, Cup Island (Pulau Cangkir), Bandung Sengego, Mall Teras Kota BSD, Mall Alam Sutra Living World, Masjid 1001 Pintu, dan The Breeze. Untuk bapak-bapak yang suka bermain golf, hotel Grand Zuri ini juga berdekatan dengan lapangan golf.

Tak hanya sebagai tempat menginap saat berwisata, hotel Grand Zuri juga bisa dijadikan tempat pertemuan, rapat-rapat perusahaan, pernikahan, atau mengadakan seminar dan talkshow seperti yang Jakarta Corners, karena tersedia pula 8 Function Room, yang dapat menampung hingga 250 orang. Aku pun diajak melihat-lihat fasilitas kamar dan lain-lain di hotel Grand Zuri ini. Dengan moto: We Know How to Please You, Hotel Grand Zuri BSD berusaha melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya. Rasanya tak sabar ingin menginap di sana, meski hanya semalam. 

Hotel Grand Zuri BSD, Feels Like Home

Jenis kamar di hotel Grand Zuri ini ada 5, yaitu Superior (115 kamar), Deluxe (2 kamar), Executive (8 kamar), Junior Suite (6 kamar), dan Presidential Suite (1 kamar). Ke semuanya memiliki fasilitas kamar, umumnya: bar mini, fasilitas membuat kopi dan teh, AC, Wifi, tempat tidur berkualitas yang super nyaman, lemari pakaian, jaringan telepon, safe deposit box, dan lain-lain. Kita juga bisa menggunakan fasilitas Sauna (Fitnes, Kolam Renang, dan SPA dengan biaya tambahan), Cerenti Restaurant yang menyediakan beraneka ragam menu yang enak, dan Zuri Lounge untuk menghabiskan waktu bersama teman sambil mendengarkan musik. 

Suasana makan siang di Cerinti Restaurant
Akhirnya, saat makan siang, aku pun bisa menyicipi beraneka menu hidangan makan siang di Hotel Grand Zuri yang amat memanjakan lidah. Dari mulai nasi goreng, tempe mendoan, ayam banana, sampai hidangan penutupnya yang super lezat. Jika saja bukan karena ingat diet, sudah kusantap semuanya. Terima kasih untuk Jakarta Corners yang sudah membawaku pulang ke rumah. Menyusuri sudut-sudut unik Jakarta dan beristirahat di Hotel Grand Zuri BSD. 

Salah satu dessert Cerenti Restaurant yang masih terkenang di lidah


Blogger Gathering bersama Jakarta Corners dan Hotel Grand Zuri BSD