Kamis, 12 Februari 2015

Cara Menerbitkan Buku untuk Pemula

3 novel baruku


Berhubung ada giveaway dari blog Cokelat Gosong yang  temanya sangat “gue banget”, maka saya akan kembali menuliskan pengalaman menjadi penulis pemula. Sebenarnya saya sudah sering menuliskan pengalaman menjadi penulis, terutama di dalam blog ini. Saat ini sudah ada lebih dari 20 buku solo (novel dan nonfiksi) saya yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Seperti penulis lainnya, saya juga pernah menjadi penulis pemula. Penulis yang memulai langkah dari nol, baik itu dalam hal menulis maupun menerbitkan buku. Bahkan saya pernah berada di titik nol itu dua kali. Pertama, ketika belum menerbitkan buku sama sekali. Kedua, ketika sempat berhenti menulis selama tiga tahun (karena menikah dan mengurus bayi), lalu bangkit kembali.


Menjadi penulis pemula itu memang pahit tapi manis. Pahitnya, naskah ditolak terus oleh penerbit. Manisnya, semangat menulis menggebu-gebu, tanpa memikirkan apakah buku akan laris, menjadi terkenal, fenomenal, dan sebagainya. Menulis tanpa beban. Beda ya kalau sudah pernah menerbitkan buku dan mendapatkan komentar dari pembaca (apalagi komentar pedas), mau nulis se-kata dua kata saja sudah takut salah, hihihihi….. Lalu,  bagaimana akhirnya naskah saya bisa diterbitkan?

Mengikuti perlombaan menulis
Naskah saya ditolak terus, hanya cerpen saja yang bisa sesekali dimuat di majalah. Naskah pertama saya ditolak oleh penerbit yang mana editornya itu teman saya juga. Bayangkan! Harusnya sebagai teman, dia tidak menolak naskah saya, hahahaha…. Syukurlah, saya move on, lalu mengirimkan naskah tersebut ke sebuah lomba menulis novel yang diadakan penerbit yang lebih besar daripada penerbit tempat teman saya bekerja itu. Tak disangka, novel saya justru jadi pemenang kedua! Sejak itu saya yakin, naskah ditolak di satu penerbit, belum tentu ditolak juga di penerbit lain. Itulah langkah pertama saya menerbitkan buku. Gelar juara dua itu memuluskan langkah berikutnya, karena sudah ada penghargaan menulis yang saya terima.

Mengikuti selera penerbit
Seorang penulis harus rajin membaca, baik itu membaca buku maupun tren penerbitan. Caranya? Rajin ke toko buku atau melihat-lihat situs toko buku online. Cermati juga sosial media para penerbit, buku-buku apa yang mereka terbitkan. Akan lebih bagus kalau membeli bukunya juga. Sebagai informasi, persaingan buku fiksi sangat ketat karena banyaknya jumlah penulis fiksi tapi pembacanya tidak lebih banyak daripada buku nonfiksi. Naskah fiksi yang diprioritaskan untuk diterbitkan adalah novel, sedangkan kumcer (kumpulan cerita pendek) hanya untuk penulis yang sudah punya nama, fans, atau menjamin bisa menjual bukunya sejumlah eksemplar tertentu. Naskah yang berpeluang besar untuk diterbitkan sekalipun itu ditulis oleh penulis pemula adalah naskah nonfiksi populer dan agama.

Mengikuti perkembangan sosial media
Kini ada kecenderungan penerbit memprioritaskan penulis yang aktif di sosial media, misalnya dengan jumlah follower twitter, blog, instagram, dan sebagainya di atas 1.000, sehingga ada jaminan bukunya laris karena penulisnya rajin berpromosi di sosial media. Jadi, jangan malas-malas mengoptimalkan jejaring sosialmu, siapa tahu nanti ada penerbit yang melirik.

Self Publishing? Why Not?
Katanya, Cokelat Gosong mau menerbitkan bukunya melalui self publishing. Self publishing ini ada dua: menerbitkan buku sendiri (produksi dan jual sendiri) atau pakai jasa perusahaan self publishing (dibantu proses produksi dengan biaya terjangkau). Biasanya penulis yang modalnya terbatas, menggunakan jasa perusahaan self publishing dengan proses produksi POD (print on demand, dicetak bila ada pesanan). Kalau punya modal besar, lebih baik cetak sendiri, biaya kurang lebih Rp 11 juta-an, lalu kerjasama dengan distributor buku untuk memasarkan bukunya. Pengalaman saya menggunakan jasa self publishing dengan sistem POD, yah dapat capeknya saja hehehe…. Royalti belum nyicipin sedikit pun, konon jumlah royalti belum mencukupi untuk dikirim padahal saya berhasil jual ratusan eksemplar. Sudah begitu, saya hanya dapat 10% royalty, padahal biaya produksi dari saya. Mending cetak sendiri, saya dapat 100% royalti. Itulah kenapa, sekarang saya tidak pernah lagi memakai jasa self publishing. Saya berusaha menerbitkan buku di penerbit mayor, karena lebih jelas keuntungannya. Saya berusaha menembus penerbit besar karena mereka amanah dalam memberikan hak-hak penulis. 

Nah, untuk bisa menembus penerbit mayor itu, penulis harus berusaha keras menulis naskah yang berkualitas dan menjual. Untuk penulis pemula, jika ingin menulis fiksi, tulislah novel lalu ikutkan ke lomba menulis novel. Peluang lebih besar bila menulis nonfiksi yang bermanfaat untuk pembaca (berupa buku panduan, terutama panduan bisnis dan industri kreatif). Penerbitan buku kini sudah masuk ke industri kreatif, jadi bolehlah menulis dengan tema “How to be a Writer.” Sepengetahuan saya, sudah banyak buku sejenis, karena itu bila ingin menerbitkan buku yang mirip, buat tema yang lebih spesifik dan menarik, misalnya:

“Bagaimana menerbitkan bukumu dan mendapatkan penghasilan puluhan juta dari menulis?”

Siapa contoh penulis yang bisa dijadikan inspirasi? Raditya Dika, misalnya, yang bukunya terjual sembilan ribu eksemplar di minggu pertama.

Jadi nggak sabar nunggu buku Cokelat Gosongterbit, nih hehehe….
                                                     

*762 kata


Selasa, 10 Februari 2015

Dua Mimpi, Dua Realisasi

Pizza pertama saya, bentuknya masih
harus disempurnakan :D
Apa mimpi yang akan diwujudkan dalam waktu dekat? Wah, susah nih. Terlalu banyak mimpi dan nggak yakin apakah bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Namanya juga mimpi, letaknya di awang-awang dan hanya ada saat tidur. Begitu bangun, hilang lagi mimpinya, hihihi….


Seorang teman pernah menyatakan rasa irinya kepada saya karena saya masih bisa menulis dan ngeblog di sela-sela mengurus rumah tangga dan mengasuh anak-anak. Dia tidak tahu, bahwa saya juga memendam rasa iri kepadanya karena dia bisa memasak makanan apa pun dan membuat kue-kue yang cantik. Saya menulis tapi tidak bisa memasak makanan enak, apalagi kue-kue yang cantik. Saya pernah bertekad tidak akan memasak kue lagi, gara-gara kue yang saya buat itu keras dan tidak enak. Saya sudah mencoba puluhan kali, tapi tak juga bisa membuat kue yang enak dilihat dan dimakan. Saya iri sekali kepada ibu-ibu yang jago memasak dan membuat kue. Sementara itu, ibu-ibu lain malah iri kepada saya karena saya bisa menulis.

Barangkali, itu mengapa kita harus mensyukuri keadaan diri kita apa pun adanya. Sebab, apa yang kita miliki itu bisa jadi masih menjadi mimpi orang lain, sedangkan apa yang orang lain miliki  barangkali itulah yang kita mimpikan. Ya, saya bermimpi bisa membuat kue untuk anak-anak saya. Minimal, untuk anak-anak saya. Saya belum berani bermimpi bisa menjadi pengusaha kue.

Awal tahun ini, saya mulai berani membuat kue di luar kue bolu. Dulu saya kadang-kadang bikin kue untuk anak-anak tapi kuenya itu-itu saja, yaitu kue bolu, hihihi…. Bolunya juga kadang sukses, kadang gagal total. Gagalnya itu karena bantet, terlalu keras, terlalu lembek, terlalu manis sampai rasanya jadi pahit, atau malah nggak ada rasanya. Wah, parah. Kalau sudah gagal, biasanya bolu itu saya telan sendiri, hiks….

Saya sudah punya beberapa buku resep hadiah dari sebuah penerbit, tapi nggak pernah saya coba. Bagi saya, membaca buku resep itu seperti membaca rumus Matematika. Sulit dan memusingkan. Entahlah, 350 gram terigu, ½ sdt garam, ¼ merica, dan lain-lain, itu membuat kepala saya pusing tujuh keliling. Makanya kenapa bolu saya gagal, karena saya jarang pakai resep hahahahaha…. Saya takar-takar sendiri saja. Saya juga malas mencari bahan-bahan kue yang susah. Saya hanya menggunakan bahan yang dijual di warung,  ya gimana mau bagus hasilnya? Paling-paling di warung itu hanya ada telur, terigu, margarin, dan gula.

Untuk mewujudkan mimpi membuat kue itulah, saya mulai membuka buku resep yang sudah lecek karena dibolak-balik anak-anak. Iya, anak-anak suka membuka buku resep itu hanya untuk menunjukkan ke saya, “aku mau ini, Ma!” tapi mamanya nggak bisa bikinnya, hiks…. Saya ingin membahagiakan anak-anak dengan membuat kue yang mereka inginkan. Yang pertama adalah Pizza. Anak-anak suka banget makan Pizza dan sudah ada resepnya di buku itu. Saya coba dengan bahan yang ada, disertai perasaan takut gagal. Ah, kalau belum mencoba, mana tahu gagal?

Alhamdulillah, ternyata percobaan pertama saya cukup sukses! Anak-anak suka memakan pizza buatan saya. Saya sudah berhasil menaklukkan ketakutan. Selanjutnya, saya ingin membuat Cup Cake. Masalahnya, saya harus membeli cetakan dan kertas Cup Cakenya dulu. Mudah-mudahan saya bisa mewujudkannya bulan depan.

Selain bermimpi bisa membuat kue, saya juga bermimpi membuat sekolah menulis novel secara online yang professional. Maksudnya, berbayar. Sudah lama saya berpikir ke sana, tapi masih kurang percaya diri. Siapa saya berani-beraninya membuat sekolah menulis novel, berbayar pula! Keberanian itu muncul karena ada beberapa pembaca yang ingin berguru kepada saya, tapi saya memiliki keterbatasan waktu. Untuk menulis saja, saya harus kucing-kucingan dengan anak-anak.  Dengan berbayar, guru dan murid juga bisa lebih saling menghargai. Guru menghargai murid dengan memberikan ilmunya secara sungguh-sungguh, murid pun menghargai gurunya dengan benar-benar mengerjakan tugas yang diberikan, toh dia sudah mengeluarkan uang. Sayang kan, sudah bayar tapi nggak serius belajar.

Saya menggandeng seorang novelis yang sudah menerbitkan belasan buku dan memenangkan berbagai perlombaan menulis novel, Riawani Elyta. Seharusnya sekolah menulis novel itu sudah diluncurkan bulan Januari yang lalu, kemudian mundur ke Februari, tapi sepertinya akan mundur lagi. Semoga bulan Maret 2015 sudah bisa dimulai, karena kami masih menggodok modul pembelajarannya. Maklum, sekolahnya serius nih, jadi modulnya harus digarap dengan sungguh-sungguh. Targetnya, semua murid bisa menulis novel, menyelesaikan novel yang mandeg, bahkan menerbitkan novel mereka di penerbit-penerbit terkenal, terutama penerbit yang sudah menerbitkan novel saya dan Riawani Elyta. Tertarik? Siap-siap daftar ya, hehehe….. 

*710 kata










Sabtu, 31 Januari 2015

Rejeki pada Ayat Pertama Surat Al Ikhlash

Kemarin ketika menjemput anak kedua pulang dari sekolah, saya sempat mendengarkan cerita ibu-ibu yang juga sedang menunggui anaknya. Katanya, suaminya melarang jalan-jalan jauh naik motor ke arah Depok dan sekitarnya (kami tinggal di Citayam, pinggiran Depok, Jawa Barat). Biasanya, ibu itu memang sering jalan-jalan naik motor sekadar makan bakso atau belanja kecil-kecilan. Dikira si ibu, suaminya melarang karena khawatir uang belanja jebol, ternyata... "Di Depok sedang ada banyak begal. Nggak malam, nggak siang." 


Semalam, saya baru mendengar cerita komplitnya dari suami. Memang benar, di Depok sedang ada banyak begal atau perampok. Mereka menghadang di jalanan dan nggak segan-segan melukai serta membunuh orang. Sudah ada dua pengendara motor yang meninggal dibegal di Jalan Juanda dan Margonda. Sedangkan yang terluka tak terhitung jumlahnya. Malah ada pengendara motor yang pulang ke rumah dengan clurit di punggungnya karena dia diclurit tapi masih bisa menyelamatkan diri. Mengerikan sekali! 

Apakah zaman semakin susah sehingga perampok makin brutal? Atau  penegak keamanan (Polisi dan lain-lain) sudah tak peduli? Tak mau mengamankan jalanan? Pejabat-pejabat nyenyak tidur? Memang, sejak kenaikan BBM (yang kemudian diturunkan lagi), harga-harga barang melonjak. BBM turun, tapi harga barang masih naik. Tapi, apa begitu caranya mencari nafkah sampai menghilangkan nyawa orang lain?? Yang dihilangkan nyawanya itu juga para pencari nafkah: bapak-bapak yang sedang mencari uang untuk keluarganya. Padahal, kalau kita taat dan beriman kepada Allah Swt, insya Allah rejeki dicukupkan. 

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membaca Qul-huw-Allahu-ahad setiap akan memasuki rumah, Allah akan menjauhkannya dari kemiskinan." (HR. Thabrani) 

Ayat pertama surat Al Ikhlash menyimpan keajaiban bagi siapa saja yang percaya dan yakin. Tentu saja, saat mengucapkannya kita harus yakin bahwa Allah akan memberikan rejeki yang berkah dan cukup kepada kita dan keluarga kita, diiringi dengan mencari nafkah yang halal. 

Si bibi juga cerita kepada saya, ada seorang pencuri mesin air di kampungnya yang meninggal ketika sedang mencuri. Rupanya mesin air itu dialiri listrik oleh pemiliknya, sehingga siapa yang menyentuhnya akan tersetrum. Naudzulillahimindzalik... Meninggal saat sedang melakukan perbuatan jahat? Semoga kita dijauhkan dari tindakan mencari rejeki yang tidak halal. Aamiin...

Jumat, 30 Januari 2015

Tak Ada Itik yang Buruk Rupa

Masa sih saya jelek? :D

Demi  memberikan inspirasi dan motivasi kepada pembaca , saya terpaksa mengingat-ingat lagi masa-masa kelam dalam hidup saya yang sudah lama saya kubur. Bagian mana dari hidup saya yang tragis, pernah membuat saya  terpuruk, dan bisa diangkat ke dalam tulisan ini? Sampai beberapa minggu, saya masih belum menemukannya, karena rasanya hidup saya baik-baik saja. Kemudian saya teringat, oh ya, sewaktu kecil dulu, saya  pernah ingin bunuh diri. Ya, Anda tidak salah baca. Usia saya masih belasan tahun ketika memiliki keinginan itu. Barangkali, jika saja saya jadi bunuh diri, kasus saya sama dengan anak SMP yang bunuh diri di dalam lemari pakaiannya itu.


Saya menganggap masa kecil saya sebagai bagian dari kehidupan yang kelam. Saya ingat di usia 3 atau 4 tahun, saya adalah seorang gadis kecil yang lucu. Setiap kumpul keluarga besar, semua meminta saya bernyanyi dan berceloteh karena saya cerewet dan pemberani. Saya juga masih ingat celetukan seorang bulek (tante) saya mengenai betapa lucu dan cerewetnya saya. Semua memberikan tepuk tangan ketika saya berdiri di atas meja dan bernyanyi. Sayangnya, keberanian dan rasa percaya diri saya musnah saat saya duduk di kelas 1 SD. Mama saya nekat memasukkan saya ke SD, daripada di rumah tidak ada yang menjaga karena beliau harus bekerja, padahal usia saya belum cukup. Saya tidak masuk TK dulu, karena kondisi ekonomi keluarga sangat pas-pasan. Pada zaman itu, masuk TK masih sebuah kemewahan. Hanya anak-anak orang kaya yang bisa masuk TK. Akibatnya, saya menjadi salah satu anak yang belum bisa membaca. Saya pun menjadi bulan-bulanan guru kelas 1 SD karena susah diajarkan membaca.

Guru kelas 1 SD itu sering menghujani paha saya dengan cubitan sampai biru. Mama saya bertanya, “kenapa pahanya biru?” saya jawab, “dicubit Bu Guru.” Mama geram, tapi saya tetap sekolah di sana dan ibu guru tak pernah jera mencubit. Saya mendapatkan rangking kedua dari belakang. Mama sudah bilang agar saya tidak perlu dinaikkan kelas, karena usia juga belum cukup, tapi saya tetap dinaikkan. Saya kembali menjadi anak paling bodoh di kelas dan mendapatkan bullyingdari guru dan teman-teman sekelas. Itulah  yang kemudian membuat saya menjadi anak yang rendah diri, penakut, tidak menghargai diri sendiri, tidak percaya bahwa saya punya kelebihan, dan sempat  terpikir untuk bunuh diri.

Semua orang menyebut saya, “bodoh, jelek, dan sebutan-sebutan negatif lainnya. Saya percaya bahwa diri saya memang seperti itulah. Saya dendam kepada semua orang. Saya marah kepada Tuhan. Dan saya terpikir untuk mengakhiri hidup. Untung saja, saya penakut. Saya sudah nyaris menggoreskan nadi dengan silet, sebagaimana yang saya lihat di televisi, tapi saya takut kesakitan. Saya berusaha menghadapi hidup, meskipun bullying terus berlangsung sampai saya lulus SD. Saya bahkan pernah disetrap di depan kelas dengan satu kaki diangkat ke atas, lalu teman-teman sekelas melempari saya dengan kertas dan benda-benda lain. Belum puas menghukum, Pak Guru juga menghujani saya dengan tamparan, pukulan, dan cubitan. Saat saya kuliah, saya mendengar Pak Guru itu sudah berpulang ke akhirat, dan saya bersyukur dia mati muda. Ternyata saya masih menyimpan dendam itu sampai  bertahun-tahun kemudian.

Saya juga masih ingat ucapan seorang guru di SMA yang menyebut saya, “jelek.” Astaga, apakah benar saya jelek? Kepercayaan diri saya kembali terjun bebas, setelah sebelumnya saya yakin wajah saya cukup menarik dengan adanya beberapa cowok yang naksir. Ternyata masih ada yang menyebut saya “jelek.” Barangkali, saya memang jelek. Suatu ketika, Pak Guru di SMA itu mendapatkan kecelakaan. Saya ikut menengok beliau ke rumahnya bersama teman-teman sekelas. Anehnya, begitu bertemu saya, Pak Guru bilang, “eh, ternyata kamu cakep juga, ya….” Entah, apakah ucapannya itu karena beliau merasa punya salah kepada saya?

Percayalah. Ucapan-ucapan buruk kepada seseorang dapat menghancurkan kepercayaan diri orang itu, walaupun kita ucapkan kepada anak-anak. Jangan mengira anak-anak belum dapat menyerap ejekan dan hinaan itu. Mereka menyimpannya di dalam kepala dan membuatnya kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri. Lalu, bagaimana saya bisa mencintai dan berdamai dengan diri sendiri? Mensyukuri keberadaan diri saya? Semua bermula dari pertemuan saya dengan seorang rekan sekantor, di usia 23 tahun. Rekan kerja saya itu memiliki tinggi tubuh hanya 90 cm, yah seukuran anak kecil. Dia memiliki kelainan genetis. Bukan itu saja. Keluarganya juga tak ada yang normal. Kedua kakaknya divonis gangguan jiwa, akibat gangguan jin-jin yang disimpan bapaknya di dalam keris pusaka. Setelah bapaknya meninggal, keris-keris itu tak dimandikan sehingga jin-jin di dalamnya marah dan mengganggu kedua kakaknya. Hanya teman saya itu yang selamat, karena keimanannya sangat kuat. Dia rajin beribadah.

Kondisi saya masih lebih baik. Ukuran tubuh saya normal, bahkan walaupun ada yang pernah mengejek saya “jelek,” toh buktinya pernah ada cowok yang menyatakan cintanya kepada saya. Sedangkan teman saya itu, sampai usianya 35 pun, dia belum menikah. Saat itu usia saya 22 dan dia 35. Dan sampai kini pun (usianya 42 tahun), dia belum juga menikah. Keluarga saya juga normal, tidak ada yang terkena gangguan jiwa. Ayah saya memang galak, tapi tidak mengoleksi keris yang kemudian mengganggu anak-anak. Kehidupan saya masih jauh lebih baik daripada teman saya, tapi kenapa teman saya itu LEBIH PERCAYA DIRI daripada saya?

Ya, dia tak pernah memusingkan ukuran tubuhnya yang seperti anak-anak. Suaranya keras dan mantap bila berbicara. Dia percaya diri dan yakin ketika diminta menjadi pembicara maupun pendongeng (karena dia seorang sukarelawan di sebuah rumah baca). Dia-lah yang mengajari saya tentang berdamai dengan diri sendiri dan mencintai kehidupan yang dianugerahkan kepada kita.

Pertama, mensyukuri pemberian Allah kepada kita, apa pun itu. Sebab, tak ada pemberian-Nya yang buruk. Semuanya baik, bila kita mampu melihatnya dengan MATA CINTA. Di hadapan cinta, tak ada yang buruk. Semua akan terlihat sempurna dan baik. Coba saja bila kita sedang jatuh cinta kepada seseorang, kita akan melihat orang itu sangat sempurna. Tak ada cacatnya. Begitulah seharusnya kita memandang kehidupan. Anugerah dan musibah sama-sama disyukuri, karena keduanya menyimpan kebaikan.

Kedua, memaafkan kesalahan orang lain kepada kita, walaupun orang itu tidak meminta maaf. Memaafkan itu tidak mudah, walaupun kita sangat ingin memaafkan. Akan tetapi, kedamaian hati hanya bisa didapatkan dengan memaafkan. Sesungguhnya, memaafkan bukanlah untuk kebaikan orang yang menzalimi kita, tapi untuk kebaikan diri kita sendiri. 

Ketiga, melupakan kesalahan orang lain. Rupanya saya tidak benar-benar bisa menerapkan hal ini, karena toh saya masih ingat kesalahan-kesalahan guru-guru di SD dulu. Barangkali karena kesalahan itu dilakukan sebelum saya mendapatkan pemahaman soal melupakan kesalahan. Akan tetapi, di masa sekarang ini, saya secara otomatis melupakan kesalahan orang lain dengan menyibukkan pikiran, memikirkan hal-hal yang baik-baik.

Keempat, mendata kebaikan-kebaikan yang telah kita terima di dalam hidup kita, sekecil apa pun itu, meyakini bahwa kebaikan yang kita terima lebih banyak daripada keburukan.\

Suami saya adalah salah seorang yang telah memberikan keyakinan bahwa saya juga patut dicintai, saya tidak buruk, dan kehadiran saya sangat dibutuhkan. Lamarannya meyakinkan saya bahwa ada seorang lelaki yang mencintai saya. Kehadiran anak-anak dalam rumah tangga kami, semakin membuat saya merasa berharga sebagai ibu yang dibutuhkan oleh mereka. Anak-anak adalah teman saya yang paling setia, karena mereka tak mau kehilangan saya. Mereka memiliki cinta yang paling tulus.

Pernah, seorang saudara saya berkata (setelah bertahun-tahun tak pernah bertemu saya), “Nggak nyangka ya kamu bisa nikah juga. Padahal, dulu itu item, jelek. Mana suaminya cakep. Anaknya juga cakep.”

Alhamdulillah…. Allah Mahaadil. Allah tidak tidur. Di mata Allah, tidak ada ciptaan-Nya yang jelek. Semuanya bagus, karena Dia yang menciptakan. Kita saja (manusia) yang suka memandang rendah orang lain. Saya yakin, kebahagiaan yang saya dapatkan saat ini adalah berkah kehidupan di masa lampau yang berhasil saya lewati dengan keyakinan. Karena, (satu poin lagi),

Kelima, yakinlah bahwa Allah senantiasa ada di sisi kita dan menolong kita melewati setiap masa sulit.

 Tak ada itik yang buruk rupa. Jika kamu melihat ada itik yang buruk rupa, barangkali kamu harus pakai kacamata atau kacamatamu harus diganti. 



Kamis, 22 Januari 2015

Kado Terindah untuk Seseorang yang Menyebut Saya"Pelit"

Sepatu yang ungu untuk adik saya :-)
Jadi anak pertama itu ada enak, ada nggak enaknya. Enaknya, selalu dapat barang-barang yang baru: baju, buku, sepeda, meja belajar, dan sebagainya. Kata orang, "Masa anak pertama dikasih barang bekas?" Otomatis, orangtua pun berusaha memberikan barang baru untuk putra/ putri pertamanya, walaupun nggak selalu begitu. Nggak heran, adik-adik saya kerap melontarkan kata-kata yang bernada iri, terutama ketika ibu kami masih hidup, "Ah, Mbak mah enak, mau apa-apa, pasti dibeliin Mamah. Kalau kita cuman dapat bekasnya." Hihihi..... 


Nggak enaknya? Ya, gantian deh anak pertama harus "ngasih" ke adik-adiknya, apalagi kan kebanyakan anak pertama itu lebih dulu mentas dan sukses (walaupun ada beberapa kasus yang kebalikannya). Lebih dulu lulus, lebih dulu nikah, lebih dulu lahiran anak, lebih dulu ngawinin anak, dan sebagainya. Nah, pas anak pertama nikah, adik-adiknya masih sekolah. Ya, masa adik-adiknya ngasih kado? Begitu juga pas anak pertama melahirkan, adik-adiknya belum juga kerja. Masa mau kasih kado? Nasib... nasib.... Tapi, nggak begitu kalau adik-adiknya yang menikah dan melahirkan. Anak pertama  pasti akan kasih kado untuk para keponakannya itu, hahahaha.... 

Udahlah selalu ngasih ke adik-adik, gimana nggak pahit coba ya pas dengar salah satu adiknya nyeplos, "Ah, Mbak mah pelit." Maksudnya, disebut pelit itu bukan karena nggak ngasih, tapi nggak sering ngasih! Catat: SERING. Jadi, sebagai kakak, harus diingat nih agar sering-sering ngasih ke adik-adiknya. Cakep deh kalau adiknya ada sembilan, dijamin rambutnya cepat ubanan kayak ayah saya, haghaghag.... Serius ini mah, nggak bohong. Ayah saya anak pertama dari 10 bersaudara, dan saya anak pertama dari 4 bersaudara. Ayah saya pernah menjadi tulang punggung untuk adik-adiknya. Syukurlah, karena adik saya perempuan semua dan sudah menikah, jadi sudah ditanggung oleh suami masing-masing. Tinggal si bungsu aja yang masih sekolah dan masih sering "minta-minta." Termasuk, dia itu yang nyebut saya "pelit," bwahahahaha.... 

Saya dan si bontot
Dalam rangka menghapus imej pelit itulah, pas kemarin saya pesan sepatu, saya inget adik saya dong. Saya pesankan dua sepatu. Berhubung sepatunya itu handmade, dibuat berdasarkan pesanan, adik saya bisa memilih model yang diinginkan. Ukurannya juga ngukur sendiri. Ternyata dia percaya dengan model yang saya pilihkan. Ya sudah, saya pilihkan model yang kira-kira dia suka, karena dia suka warna ungu. Nggak berapa  lama, pesanan sepatu pun datang. Wuiih, cepet banget dari sejak saya order sampai ke rumah hanya butuh waktu seminggu. Oh, pantes pakai jasa pengiriman yang sudah terpercaya itu lho. Saya foto dan kirim fotonya via BBM. Sepatunya nanti menyusul kalau saya sudah ke rumah orangtua, karena adik saya masih tinggal dengan orangtua kami. 

Sejujurnya, saya was-was bagaimana tanggapan si bontot yang fashionable itu. Dia lumayan melek fashion dan sangat pemilih. Kalau dia nggak suka dengan sepatu, baju, aksesoris apa pun yang diberikan ke dia, dia pasti nggak bakal mau pakai. Dibiarkan teronggok di lemari sampai ada yang mengadopsi. Dan, begitu saya kirim BBM, dia cepat membalas, "Mauuuuuu...!" Semangat banget ya, sampe berentet gitu huruf "U" nya. Minggu lalu, saya sudah ke rumah orangtua dan memberikan sepatu itu kepada adik saya. Dia terlihat antusias, langsung dicoba, "Ini buat Echa? Makasih ya, Mbak Elaaaa...." katanya, kesenangan. 

Alhamdulillah, saya pun mesem-mesem, sambil berharap semoga dia nggak lagi-lagi nyebut saya "pelit," huhuhu..... Sepanjang ingatan saya, itulah kado terindah yang pernah saya berikan kepada seseorang yang menyebut saya "pelit." Walaupun tentu saja saya sering memberikannya kado, hehehehe.... 






Senin, 05 Januari 2015

#1Day1Dream: Traveling ke Macau

Melanjutkan sehari satu mimpi, hari ini mimpi saya bertambah lagi, yaitu ingin traveling ke Macau! Ini gara-gara beberapa waktu lalu ada lomba blog "Why, Macau" dan salah satu pemenangnya adalah Una alias Sitti Rasuna yang menuliskan pengalamannya selama berada di Macau. Membaca cerita Una bikin saya pingin ke Macau. Dari situ pula, saya jadi punya ide menulis novel yang settingnya di Macau. 


Dulu banget, saya pernah punya ide cerita novel yang settingnya di Cina. Novelnya belum ditulis sama sekali, tapi idenya masih terngiang-ngiang. Kenapa Cina? Itu gara-gara tren film Mandarin yang membersamai saya melewati masa remaja, ahahaha.... Nah, sekarang saya mau coba menggarap ide novel itu, tapi di mana ya settingnya? Kalau di Beijing, sudah ada beberapa penulis yang menggarapnya, sebut saja: Ninit Yunita dalam "Kukejar Cinta Sampai ke Negeri Cina," Asma Nadia dalam "Assalamualaikum, Beijing," dan Riawani Elyta dalam "First Time in Beijing." Jadi, kalau settingnya Beijing, terlalu mainstream.

Setelah ada pengumuman lomba blog "Why, Macau" itu, saya jadi punya ide. Aha! Di Macau aja deh settingnya! Kayaknya belum ada novel karya penulis Indonesia yang setting di Macau. Apalagi saya punya referensi pengalaman beberapa blogger yang sudah ke sana, salah satunya ya si Una. Kalau butuh pendalaman, tinggal inbox aja si Una hihihi... Tapi jangan berharap saya bisa menyelesaikan novel ini dalam waktu cepat yah, karena lagi malas-malasan nulis novel. 

Supaya lebih menjiwai lagi, memang ada baiknya sih saya pergi juga ke Macau. Bagaimana caranya? Entahlah. Barangkali dengan ikut lomba blog berhadiah traveling ke Macau, seperti Una. Itu kalau ada. Kalau nggak ada? Ya, masih berdoa saja semoga kesampaian. Siapa tahu ada penyedia paket perjalanan yang mau ngajak saya jalan-jalan gratis ke Macau #jiyaaah.... 

Menulis novel dengan setting di luar negeri bukan pertama kalinya buat saya. Yang pertama itu novel Brisbane, sudah diterbitkan oleh DAR! Mizan. Saya belum pernah ke Brisbane (berharap banget ada yang ngajakin), tapi untuk mendukung cerita, saya mewawancarai teman-teman yang pernah tinggal ke sana. Kenapa settingnya harus di luar negeri? Nggak harus juga sih, karena belasan novel saya yang lain itu justru settingnya di dalam negeri. Kenapa di luar negeri? Ya, bagi saya sendiri, bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang negara-negara lain, karena saya jadi banyak bertanya ke narasumber atau internet. Bagi pembaca pun, mereka mendapatkan informasi tentang negara lain setelah membaca novel saya. Nggak ada salahnya kan kita memiliki referensi pengetahuan tentang kekayaan alam, budaya, dan adat istiadat negara lain? 

Entah kenapa setelah novel Brisbane terbit, beberapa teman di facebook seolah menyindir-nyindir di status mereka tentang novel bersetting luar negeri. Intinya, kenapa sih penulis Indonesia nggak nulis novel yang setting dalam negeri aja? Hal-hal seperti itu, kadang membuat saya sensi dan jadi ingin nutup facebook hehehehe.... Aneh sekali, karena yang nyetatus itu justru lebih banyak membaca novel-novel luar negeri. Giliran saya yang nulis, kenapa disindir gitu? Eh, memangnya dia nyindir saya? Nggak tahu sih, ini mah saya aja yang sensi. Ya udahlah, tahun baru jangan dibuka dengan sensi-sensian :P 

Why, Macau? Dari cerita teman-teman blogger yang sudah ke sana, Macau itu memiliki budaya dan tradisi perpaduan Asia-Eropa, karena pernah dijajah Portugis. Sebagian besar bangunannya berbentuk bangunan Eropa yang indah dan eksotis. Bahasa yang digunakannya juga antara Cina dan Spanyol. Penduduknya jelas berdarah Tionghoa. Terus, ada makanan yang namanya Egg Tart. Hmm... melihat fotonya bikin liur saya ngeces. Enak banget kelihatannya. Sementara ini cuman bisa ngiri sama Una. Mudah-mudahan saya bisa traveling ke sana juga. Aamiin....


Tersedia di toko buku. Harga Rp 49 Ribu
















Minggu, 04 Januari 2015

#1Day1Dream: Novel Difilmkan

Assalamualaikum, holaaa.... akhirnya bisa buka laptop lagi setelah mengalahkan rasa malas karena masih aura liburan. Anak-anak dan suami nyantai di rumah, masa mamanya kerja? Hehehe.... Ceritanya mau ikutan posting 1 Day 1 Dream yang diadakan oleh komunitas blogger Kancut, tapi berhubung saya tidak bergabung dengan komunitas itu, jadi saya ikut-ikutan saja nih tanpa dimaksudkan  untuk ikut berebut hadiahnya. 


Seru juga ngomongin mimpi, apalagi kalau satu hari satu mimpi. Belakangan ini, marak film-film Indonesia yang diangkat dari novel, sebut saja "Kukejar Kau Sampai ke Negeri Cina" yang diangkat dari novel Ninit Yunita, "Strawberry Surprise" dari novel Dessi P, "Merry Riana the Movie" dari buku Sejuta Dollar-nya Merry Riana, dan yang ramai banget di timeline, "Assalamu'alaikum, Beijing" dari novel Asma Nadia. Keren banget ya mereka itu. Saya juga punya mimpi memfilmkan novel-novel saya. Walaupun tidak semuanya, setidaknya ada di antara novel saya yang difilmkan. 

Malah, sebenarnya dulu itu saya ingin bikin film, bukan menulis novel. Berhubung menjadi sineas lebih berliku-liku jalannya, saya pun memilih menjadi novelis. Mimpi untuk memfilmkan novel masih belum kabur. Insya Allah, bila Allah meridai, pasti ada jalan. Hm, di antara semua novel yang sudah diterbitkan, yang paling ingin difilmkan adalah Dag, Dig, Dugderan. Kenapa? Menurut saya sendiri sih, novel yang baru saja diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama itu memiliki ide cerita yang berbeda dibandingkan novel remaja lainnya. Kisahnya bukan seputar cinta-cintaan, berlatarbelakang budaya Semarang yang kental, karakter tokoh-tokohnya yang kuat, dan memotivasi para remaja. 

Seandainya difilmkan, kira-kira sutradara yang cocok itu Garin Nugroho atau Hanung Bramantyo, tsaaaah... Namanya juga bermimpi, boleh dong ya... Kenapa harus mereka? Karena mereka sering membuat film dengan muatan inspirasi dan lokalitas yang kental. Sutradara-sutradara muda lainnya, saya kurang begitu kenal. *siapa tahu postingan blog ini dibaca oleh mereka atau orang-orang yang kenal mereka, xixixixi.... 

Novel Dag, Dig, Dugderan bersetting di Semarang, dengan mengangkat festival Dugderan yang diadakan setiap menjelang Ramadhan di Semarang sebagai simbol kerukunan tiga etnis besar di sana: Jawa, Arab, dan Tionghoa. Ketiga etnis tersebut terwakili oleh tiga tokoh utama di dalam novel ini: Sri, Farah, dan Eileen, tiga remaja SMA yang bertarung dalam Olimpiade Sains Nasional. Sementara banyak remaja di negeri ini disibukkan oleh cinta, ketiga tokoh dalam novel Dag, Dig, Dugderan lebih fokus pada cita-cita. 

Saya berharap banyak remaja yang membaca novel ini, dan semoga menginspirasi. Jika difilmkan, tentu pesan-pesannya juga akan lebih banyak menjangkau penonton atau orang-orang yang malas membaca bukunya. Aamiiin..... Ini mimpi pertama saya di tahun 2015. Mimpi selanjutnya, tunggu postingan berikutnya yaa :D 

Tersedia di toko buku. Rp 43.000